Kecerdasan Buatan Tantangan dan Kesempatan Generasi Milenial

 Kecerdasan Buatan Tantangan dan Kesempatan Generasi Milenial

BEKASI – Banyak orang memperkirakan pada saat teknologi kecerdasan buatan sudah matang maka akan banyak sekali lapangan kerja yang hilang — tergantikan oleh robot-robot. Namun ada juga suara lain yang menyatkan justru ‘meledaknya’ kecerdasan buatan akan membuka banyak sekali lapangan kerja baru bagi manusia tentunya.

Bisa dikatakan semua orang sepakat bahwa Kecerdasan Buatan membuka cakrawala baru dalam kehidupan kita, termasuk kesempatan-kesempatan yang tidak pernah dipikirkan orang. Semua juga setuju bahwa lapangan kerja di masa depan dengan penerapan kecerdasan buatan, yang masif, akan sangat berbeda dari saat sekarang.

Dari kubu optimis, diwakili oleh laporan Gartner 2017 (Gartner.com), yang meneliti 1.000 perusahaan, menyimpulkan sistem kecerdasan buatan akan menciptakan lapangan kerja baru di 80% organisasi yang menerapkannya. Laporan ini juga memprediksi kecerdasan buatan akan menciptakan lebih dari 500.000 lapangan kerja baru dalam waktu tiga tahun ke depan, yang memberi kesempatan bagi tenaga kerja trampil.

Namun memang ada catatan penting bagi generasi milenial. Ketika ekonomi dunia makin cepat menerapkan teknologi kecerdasan maka kompetisi untuk mengisi lapangan kerja, dengan ketrampilan khusus, makin ketat. Karena itu, sangatlah penting bagi generasi milenial memperlengkapi diri dengan ketrampilan yang cocok untuk bekerja bersama teknologi baru ini.

Demikian juga perusahaan-perusahaan, yang menerapkan kecerdasan buatan, makin lama makin meningkatkan kapasitas kecedasan buatannya — agar tetap kompetitif di dunia. Efeknya, permintaan akan tenaga kerja trampil pada tingkat yang lebih tinggi dibidang ini makin besar.

Disisi lain, pekerja dengan ketrampilan rendah akan tersingkir. Mereka digantikan oleh robot atau mesin otomatis, yang dikendalikan oleh komputer dengan kemampuan kecerdasan buatan.

Kubu pesimis berpandangan semua pekerjaan akan digantikan oleh robot berkecerdasan buatan. Menurut mereka generasi milenial akan sangat terancam oleh teknologi kecerdasan buatan, ada 37% milenial akan kehilangan pekerjaan. Bahkan ada yang memperkirakan setengah lapangan kerja, hari ini, akan diotomatisasi pada tahun 2055 atau bisa lebih cepat 20 tahun.

Lalu bagaimana generasi milenial menjawab tantangan ini. Secara umum kita bisa memprediksi bahwa pekerjaan yang dilakukan rutin dan berulang akan jadi pekerjaan yang digantikan oleh robot — kasir misalnya. Ini artinya, milenial yang mengembangkan kemampuan beradaptasi untuk menyelesaikan masalah dan melakukan pengambilan keputusan akan memiliki kesempatan jauh lebih baik untuk tetap bekerjasama dengan kecerdasan buatan di posisi senior.

Kubu pesimis juga menyatakan kelebihan tenaga kerja tidak terelakkan dalam dunia kerja, yang dikuasai oleh kecerdasan buatan. Karena itu dibutuhkan pandangan baru mengenai peran manusia kerja di masyarakat. Jika mesin mampu melakukan fungsi kerja kognitif dengan berhasil —- selama ini kecerdasan buatan pada tingkat ini belum berhasil dicapai. Jika sudah tercapai, maka tidak ada lapangan kerja yang aman — bagi manusia.

Sebuah percobaan sedang dilakukan di Finlandia, pemerintah memberi ‘dana kehidupan’ bagi semua warganegara untuk tetap bisa hidup secara baik. Dana ini diberikan jika mereka tidak memperoleh pekerjaan.

Secara umum, kecerdasan buatan masih dalam tahap sangat awal dan belum diadopsi secara massal. Misalnya, mobil ‘outopilot’ belumlah benar-benar ada, jika ada maka seluruh supir taksi harus mencari pekerjaan lain. Selain itu, arah perkembangan teknologi kecerdasan buatan masih sukar diprediksi.

Skenario paling dekat adalah posisi ditengah antara kubu optimis dan pesimis. Perekonomian di masa depan akan didominasi oleh pekerja yang berketrampilan tinggi, terlatih dengan baik, dan mampu beradaptasi, serta bekerja bersama mesin-mesin yang cerdas.

Karena itulah, generasi milenial perlu mencermati perkembangan ini, mengambil inisiatif, dan melengkapi diri dengan ketrampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi evolusi ekonomi menuju kecerdasan buatan.

 

Sumber informasi: medium.com

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.