‘Ranah 3 Warna’, Man Sabhara Zhafira

 ‘Ranah 3 Warna’, Man Sabhara Zhafira

Para pemain ‘Ranah 3 Warna’ bermasker– foto ipik

JAYAKARTA NEWS— ‘Man Jadda Wajadda’ (siapa sungguh-sungguh akan sukses ) dan ‘Man Sabhara Zhafira’ (siapa sabar akan beruntung ) sangat populer di ponpes (pondok pesantren) yang menyebar di Indonesia. Kalau kiat yang pertama ada dalam film ‘Negeri 5 Menara’, kali ini petuah ke dua dimasukkan di film sekuelnya bertajuk ‘Ranah 3 Warna’

Sebuah novel laris karya Ahmad Fuadi (wartawan Republika dan Tempo) dan kini diangkat ke film oleh sutradara Guntur Soeharyanto. Film produksi MNC Pictures ini semestinya rilis 25 Juni 2020 lalu, namun diundur karena ada pandemi Covid 19.

Para pemain hampir semuanya berusia muda, yaitu Arbani Yasiz, Amanda Rawles, Teuku Rassya, David Chalik, Donny Alamsyah, Maudy Koesnaedy, Lukman Sardi dan Asri Welas. Syuting dilakukan di Sumatera Barat, Bandung dan Belanda.

Arbani Yasiz– foto instagram

“Kisahnya tentang semangat juang dan tak mudah putus asa dari karakter Alif Fikri untuk menimba ilmu, gambaran masyarakat yang pantang menyerah dengan situasi pandemi saat ini. Ceritanya sangat sederhana dan mudah dicerna. Ini yang jadi magnet tersendiri bagi versi novelnya yang laris hingga ke mancanegara,” ujar Lukman Sardi dari MNC Pictures yang juga ikut main dalam acara ngopi sore di Taman Gazebo, Kompleks MNC Studio, Jakarta Barat, baru-baru ini.

Pemain utama pria, Arbani Yasiz (25 tahun) mengaku main dalam film ini sangat keras emosinya. “Saya dipush banget. Konflik-konfliknya juga berat,” tutur Arbani. Berat badan pun harus diturunkan.   Pas hari ke dua reading, Arbani kena cacar.

Alhasil, ia harus bed rest, dan beratnya yang semula 65 kg naik menjadi 69 kg. “Padahal, saya disarankan beratnya 62 kg. Alhamdullilah, saya bisa menurunkan berat badan jadu 60 kg,” ucap Arbani.

Selain itu, dia juga harus menguasai 4 bahasa yaitu bahasa Minang, Arab, Inggris dan Perancis.

Amanda Rawles — foto instagram

Amanda Rawles, 19 tahun juga sama. Ia yang baru pertama berjilbab di film ini mengagumi sosok fenomenal Alif Fikri  yang gigih mencapai cita-citanya. “Saya termotivasi dan terinspirasi dari film ini. Dan seusai syuting, saya melanjutkan kuliah di Australia,” imbuhnya.

Amanda kagum dengan karakter Alif dan perjuangan hidupnya dalam menggapai obsesinya. Kalau gagal, harus bangkit,   tak menyerah dan harus berani mengambil resiko. Memang, sabar tak berbatas.  Beruntung bila ikhlas. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *