Menunggu Antrean ke Liang Lahat

 Menunggu Antrean ke Liang Lahat

Ilustrasi– Kematian karena Covid 19— foto jakartaglobe.id/Yudha Baskoro

JAYAKARTA NEWS– Mencari jalan ke pemakaman ? Bukan. Ini bukan hendak ziarah kubur, tapi tepatnya membawa pulang jenazah lalu menguburkannya. Ternyata tidak mudah. Bukan karena si jenazah wafat disebabkan Covid 19, melainkan situasi pandemi yang kian masif dan menelan banyak korban.

Pasien yang memerlukan perawatan dan masuk UGD antre, dan setelah mati pun harus antre menunggu pemakaman. Inilah korban virus corona belakangan ini. Situasi yang merepotkan sekaligus mengharukan ini dialami keluarga besar Eddy Koko, wartawan senior yang dikenal pula sebagai tukang reparasi piano.

Sabtu sore (3/7) pekan lalu, awal diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), ia dapat kabar duka. Kakak ipar yang baik hati, Endang Sahidi (66) warga perumahan Reni Jaya, Pamulang Timur, Tangerang meninggal dunia. Sahidi ini dekat dengan adik-adik iparnya. Akrab dan banyak membantu.

Eddy bingung, harus bagaimana karena meninggalnya kakak Sahidi adalah corona. Ini berdasarkan cerita keponakannya atau anak Sahidi, Angga (34). “Tadi dibawa ke rumah sakit, Om “.
“Kamu yang bawa? Pakai apa?”

“Mobil pribadi. Kami basah kuyup karena pakai jas hujan. Gak ada alat pelindung diri.”

Angga dan kedua adiknya, bertiga bawa Papanya ke rumah sakit tapi meninggal dalam perjalanan. Lalu terus saja ke rumah sakit.

Namun urusan mulai rumit. Usai maghrib, kata Eddy, saya kontak ponakan. Jawabannya, belum ada kejelasan.

Ternyata dibawa ke rumah sakit Tangerang, sementara domisili korban Tangerang Selatan. Secara prosedur Tangerang Selatan yang berwenang.

Eddy kemudian telepon Satgas Covid Tangsel. Tidak ada respon. Via WA juga tidak dijawab. Sabtu malam pukul 20.00 belum ada kejelasan.

Eddy terpaksa “buka jaringan” bagaimana caranya supaya bisa mengetuk kantor Satgas Covid Tangsel? Dibantu teman-teman dari anggota DPRD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tangsel, Ferdiansyah dan Alex Prabu ada titik terang.

Mereka berhasil kontak langsung Ketua Satgas Covid Tangsel. Laporan diterima. Mohon sabar. Sebab ini delapan korban belum tertangani. Antre, katanya.

Sinyal baik ini, Eddy sampaikan ke ke ponakan. Kita sudah ada kontak dengan Satgas bahkan Dinkes Tangsel. Tapi harap maklum kondisi memang sedang tidak normal. Ada delapan jenazah antre diurus. Bukan antre dimakamkan. Armada dan tenaga terbatas. Mereka juga lelah.

Eddy menenangkan keponakannya; “Kalau ditunggu belum ada kejelasan. Sebaiknya kalian pulang, mandi, makan, tidur. Besok pagi kembali urus jenazah. Tinggalkan jenazah tidak masalah. Toh memang sudah tidak boleh mendekat. Otoritas sudah ada pada rumah sakit. Keluarga tidak punya wewenang lagi. Kita ikuti aturan, jangan membantah. Mereka sudah lelah, “

Akhirnya tiga keponakan Eddy pulang ke rumah meninggalkan jenazah Papanya.
“Saya terus berkoordinasi dengan teman PSI Tangsel, “ ujar Edy lagi.

Minggu pagi Eddy pantau terus dari meja kerjanya di rumah. Semua pergerakan dipantau. Di sisi lain ia tetap menenangkan keluarga almarhum, mbakyunya sendiri dan ketiga anaknya, agar mereka bersabar.

“Sabar, sabar. Saya mengingatkan semua keluarga agar bersabar. Semua ingin segera tapi kondisi berbeda, “

Minggu, pukul 13.00 diinformasikan Gugus Tugas Covid Tangsel sudah mau bergerak hendak membawa jenazah tapi rumah sakit belum siap.

Kenapa? Ternyata terjadi penumpukan korban di rumah sakit sehingga giliran belum sampai pada penanganan iparku Sahidi (alm).

Angan dan pikiran Eddy terbelah lagi, ingin menenangkan keluarga almarhum . “ Sabar ya….! Tidak mungkin rumah sakit simpan jenazah. Pasti ingin segera dikeluarkan juga. Jadi kita sabar saja, mengalah.”

“ Ok Om, “ jawab keponakanku serempak.

Benar. Sejam kemudian, pukul 14.00 jenazah sudah siap boleh dibawa ke pemakaman. Sudah terbungkus dalam peti terbalut kain putih. Tapi, ada kendala. Problem kebalik, giliran Gugus Tangsel kehabisan armada.

Eddy kembali menghibur keluarga. “Sabar. Kita sewa ambulans pun percuma. Mau dibawa kemana? Kuburannya juga belum siap karena di sana antre. Juga rumah sakit pasti tidak izinkan. Melanggar prosedur. Sabar ya !”

Pukul 15.00 dapat info kemungkinan pukul lima petang jenazah dijemput. Ok, ditunggu. Namun Eddy terus koordinasi dengan teman PSI Tangsel. Saling melaporkan pekembangan. Di sana juga menginformasikan bahwa memang terjadi kepadatan penanganan korban Covid di Tangsel.

Tidak apa. Kami tunggu hanya itu yang bisa disampaikan pihaknya.

Pukul 18.00 dikabarkan armada ambulans Gugus Tugas Covid Tangsel meluncur jemput jenazah Sahidi ke RSUD Tangerang untuk dibawa ke pemakaman di Desa Jombang, Tangsel.
Lega. Rasanya 99 persen ritual pemakaman selesai.

Pukul 20.19 jenazah sudah sampai di pemakaman. Tapi, lagi-lagi harus antre karena masih ada empat di depan belum diturunkan dari ambulans untuk dimakamkan.

Sabar, sabar, dan sabar. Agaknya hanya itu yang diperlukan.

Di sini, manusia terasa benar-benar berada di titik nol. Kami tak berdaya

Sekitar pukul 10 malam masuk pesan ke WA: Alhamdulillah, Papa sudah dimakamkan. Saya tidak segera menjawab karena haru. Terlalu trenyuh. Air mata pun menetes.
Beberapa menit kemudian saya menjawab;.

“Papamu orang baik. Om banyak kenangan manis bersamanya. Sekarang ikhlaskan dan pulang. Mandi, makan, istirahat dan berdoa.”

Begitulah. Beberapa saat Eddy pun tercenung. Pemandangan yang terus membayang, dan tentu bagi keluarganya, dan mungkin orang lain yang kebetulan menyaksikan adalah antrean jenazah yang akan dikuburkan. Menungu antrean ke liang lahat……!.

Salam dan hormat kami pada tenaga kesehatan, Satgas, penggali kubur/ petugas pemakaman. Allah membalas jasamu. Terima kasih untuk teman PSI Tangsel. Salam Sehat untuk semuanya. iswati

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *