Dalang Setan dalam Kenangan

 Dalang Setan dalam Kenangan

Catatan Ign Gunarto

Ign Gunarto

JAYAKARTA NEWS – Wafatnya dalang kondang, Ki Manteb Sudarsono (72) Jumat (2/7/2021) pekan lalu, menyisakan kenangan panjang. Sepanjang karier dalang “Oye” di jagad pakeliran.

Ki Manteb sejak kecil sudah laris mendalang. Selain belajar dari ayahnya juga belajar mendalang dari para seniornya, antara lain, Ki Narto Sabdo (1972), dan Ki Sudarman Gondodarsono, yang di dunia pedalangan dikenal sebagai ahli sabet, pada tahun 1974.

Sebagaimana diketahui, era 1970 dam 1980, dunia pedalangan didominasi hanya beberapa dalang, terutama Ki Narto Sabdo yang meninggal tahun 1985 dan Ki Anom Suroto. Kedua dalang kondang ini memiliki ciri khas masing-masing, Ki Narto Sabdo dikenal ahlinya seni dramatisasi, sementara Kii Anom Suroto dikenal ahli dalam olah suara. Ki Manteb memilih jalur lain yakni mahir dalam dalam sabetan wayang hingga akhir hayatnya.

Sebagai dalang, Ki Manteb Sudarsono bukan hanya dikenal di Jawa Tengah dan sekitarnya, tapi juga secara nasional. Ki Manteb yang kini berdomisili di Dusun Sekiteran, Kelurahan  Doplang, Kecamatan Karangpandang, Kabupaten Karang Anyar ini mendapat julukan dalang setan dari penggemarnya, berkat keterampilannya dalam memainkan wayang.

Penggemarnya menilai sabetan wayang Ki Manteb sebenarnya telah diteruskan oleh dalang Ki Seno Nugroho, yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Sebagaimana diketahui, Ki Seno Nugroho, juga telah meninggal pada 2 November 2020 karena serangan jantung.

Bagi Ki Manteb, dunia pewayangan bukal hal yang asing. Pasalnya, sejak lahir di lingkungan keluarga akrab dengan wayang. Pasalnya, ayah Ki Manteb yakni Ki Hardjo Brahim juga seorang dalang kondang pasa eranya. Sejak kecil Ki Manteb diajak ayahnya ikut mendalang di berbagai pertunjukan.

Tecatat, pada 4-5 September 2004, Ki Manteb Sudarsono membuat rekor mendalang selama 24 jam tanpa henti, dengan lakon Barataydha, bertempat di RRI Semarang. Saat itu, Ki Manteb mendapatkan rekor MURI pentas wayang kulit terlama.

Di dunia pedalangan, Ki Manteb selama ini juga dikenal sebagai pelopor perpaduan seni pedalangan dengan peralatan musik modern. Manakala kendang (perkusi Jawa) tidak mampu membuat efek gebukan yang membahana, maka sebuah bass-drum pun diusung ke atas panggung. Ia akan meledakkan dentuman-dentuman suara drum yang menggelegar, bahkan menenggelamkan suawa kendang besar.

Alhasil, setiap pertunjukan Ki Manteb, selalu mengesankan sesuatu yang spektakuler. Selain sabetan yang sangat menghibur berkat keterampilan tangan dala, “olah sabet”, iringan gamelan yang ditingkah bass-drum dan simbal, membuat klop. Penonton puas dan merasa terhibur.

Jika ada dalang yang berani “menerobos” kekakuan seni pedalangan, maka yang harus disebut pertama kali harus nama Ki Manteb Sudarsono. Ki Manteb berhasil memadukan unsur-unsur modern dalam seni pedalangan, yang kelak disempurnakan oleh alm Ki Seno Nugroho.

Selamat Jalan Ki Manteb

Menurut seorang rekan Ki Manteb Sudarsono, Sugeng Nugroho, sebagaimana dilansir TribunSolo.com, dalang kelahiran Palur, Mojolaban, Sukoharjo, 31 Agustus 1948 ini dimakamkan secara protokol kesehatan tak jauh dari rumahnya di Dusun Sekiteran, Kelurahan Doplang, Kecamatan Karanngpandan, Kabupaten Karang Anyar.

Ade Irawan, keponakannya menceritakan, Ki Manteb Sudarsono meninggal setelah pentas dari Jakarta. Sekembali dari dari Jakarta, Ki Manteb masih menerima tawaran pentas streaming live.

Ade menambahkan, setelah itu Ki Manteb jatuh sakit. Setelah dipanggilkan dokter, Ki Manteb sempat diinfus selama dua hari di rumah. Diketahui, hasil Swab Antigen Ki Manteb positif terpapar Covid 19. Kondisi bertambah parah, karena penyakit paru-paru yang diderita Ki Manteb, sejak beberapa waktu lalu.

Selamat jalan jalan dalang “Setan” Ki Manteb Sudarsono. Namamu abadi. Seabadi doa pecinta wayang untuk Ki Manteb Sudarsono abadi “swargo jati”. (*)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *