Lezatnya Ayam Ingkung, Semilirnya Angin Gunung

 Lezatnya Ayam Ingkung, Semilirnya Angin Gunung
Paket ayam ingkung di Resto & Kopi “Kandang Ingkung”, Jlitengan, Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta. (foto: ist)

Jayakarta News – Pernahkah Anda ditanya, “Kapan terakhir ke Yogya?” Jangan heran. Itu adalah pertanyaan up date. Kota Gudeg itu, memiliki geliat perubahan yang konstan. Informasi dan pengetahuan tentang Yogya beberapa bulan kemarin, dijamin tidak akan up-date hari ini.

Contoh, di bidang kuliner. Meski tak kurang-kurang referensi tempat kuliner yang lezat, cozy, eksotik dan entah apa lagi julukannya, dijamin tidak akan valid beberapa bulan ke depan. Begitulah pesatnya perkembangan pariwisata Yogya, dengan segala pernak-pernik penunjangnya.

“Demam ayam ingkung”, adalah tren yang terbilang masih baru. Sejatinya, resto yang menspesialisasikan diri pada sajian menu ayam ingkung, sudah ada dari dulu. Tak jauh dari kampus ISI Yogyakarta di Jalan Prangtritis, bercokol Warung Pohon Omah Sawah, yang terkenal dengan menu ayam ingkungnya.

Bedanya, beberapa bulan terakhir, pertumbuhan resto ayam ingkung bak tumbuhnya cendawan di musim hujan. Sejauh yang beredar di media sosial, maupun dari bincang-ringan antar-teman, belum ada satu pun yang kecewa dengan cita-rasanya.

Sedikit keluhan hanya pada aspek harga dan jarak. Maklumlah, sekali pesan ayam ingkung, harganya sekitar Rp 150.000. Tapi tunggu dulu. Ayam ingkung adalah satu ekor ayam jago dengan umur tertentu yang dimasak bumbu lengkap. Rasanya sangat gurih. Satu porsi ayam ingkung utuh, sangat mengenyangkan untuk disantap berdua. Cukup juga untuk bertiga. Kepepetnya, bisa berempat. Itu artinya, soal harga memang menjadi relatif.

Suasana resto “Kandang Ingkung” yang sejuk. (foto: roso daras)
Dua sudut resto “Kandang Ingkung”. Tempat sejuk, indah, nyaman, dengan harga yang lebih murah dibanding resto ayam ingkung lain. (foto: roso daras)

Salah satu resto ayam ingkung yang belakangan viral di Yogya adalah Kandang Ingkung. Lokasinya sekitar 10 kilometer ke arah barat kota Yogyakarta, tepatnya di Jlitengan, Balecatur, Gamping, Kabupaten Sleman. Tak jauh dari jalan negara Yogya – Wates. Lebih mudah dicari menggunakan aplikasi waze atau google-map.

Banyak spot kuliner berwajah “ndeso” di Yogya, tetapi Kandang Ingkung menjanjikan “ndeso” yang sejuk. Maklum, posisinya nangkring di atas pegunungan. Benar, di daerah ini memang membujur dari timur ke barat gunung gamping (karst) yang dicatat wikipedia sudah berusia 50 juta tahun. Dulunya gunung gamping menjulang tinggi, tetapi kini tinggal gundukan pegunungan karena penambangan.

Lokasi Kandang Ingkung sendiri dikelilingi pepohonan rimbun. Ada pohon jati, ada pohon bambu, dan aneka pohon keras lainnya. Bangunan-bangunan yang tersebar di antara rerimbunan pepohonan adalah bangunan rumah kayu kuno. Bahkan ada juga yang bekas kandang. Satu-satunya bangunan yang relatif baru adalah sebentuk limasan yang menampung tak kurang dari 50 tempat duduk. Cocok untuk santap bersama keluarga besar, atau untuk rapat dan kumpul teman sambil “ngingkung”.

Sedangkan di antara bangunan satu dan lainnya, juga disediakan meja dan kursi kayu bagi yang ingin menyantap ayam ingkung di udara bebas, serasa di tengah hutan. Pendek kata jauh dari kesan bangunan modern. Kandang Ingkung Resto benar-benar menyajikan nuansa “ndeso” pegunungan yang sejuk dengan hembusan angin yang semilir.

Ada kalanya, tempat saja tidak cukup. Lokasi, arsitek, lansekap, dan pernak-pernik tempat yang indah dan sejuk sejatinya hanya dikonsumsi oleh mata dan dan tubuh. Ada kalanya pula, kenyamanan mata dan tubuh, bukanlah sang penentu. Sang penentu dalam hal urusan kuliner adalah lidah si indra perasa.

Tempat boleh saja sejuk dan indah, tetapi jika menu yang tersaji tidak berkenan di lidah, niscaya berat kaki untuk kembali. Meski tak jarang, rasa yang cocok di lidah, bukan jaminan niat untuk kembali jika tempatnya tidak indah dan menyenangkan.

Resto & Kopi Kandang Ingkung adalah perpaduan keduanya. Tempat dan menu sama-sama enak. Indikasi sederhananya adalah, usai makan di sini, akan muncul suara hati, “kapan-kapan saya akan ke sini lagi…..”

Ada juga menu ayam ingkung potong. Disajikan per porsi untuk satu orang. Pilihannya ingkung original dan ingkung goreng. Sama enaknya. (foto: roso daras)

Bukan saja karena enak tempat dan enak rasa, tetapi juga enak di dompet. Dibandingkan dengan resto ingkung yang lain di tlatah Yogya, bisa dibilang, harga paket ayam ingkung di sini relatif lebih murah, yakni Rp 130.000. Seperti disinggung di atas, paket ini sangat kenyang untuk dimakan berdua, sangat cukup dimakan bertiga, bahkan bisa juga dimakan berempat. Selain satu ekor ayam ingkung utuh, paket ini juga dilengkapi nasi gurih, sayur jantung pisang, dan sambal.

Bagaimana jika ingin mencoba menu yang lain? Ada. Bahkan, di sini, ada paket potongan ayam ingkung. Harganya cukup murah, Rp 35.000, disajikan lengkap dengan nasi, sayur jantung pisang, dan sambal.

Menu ayam ingkung adalah menu spesial resto ini. Meski, masih banyak menu lain sebagai variasi. Ada ingkung bebek, ada garang asem, bahkan mangut lele dan lain-lain. Semua serba tradisional. Bahkan menu garang asem, sangat spesial karena dimasak di dalam batang bambu.

Di luar semua itu, ada satu lagi yang ikonik, yakni coffee corner-nya. Pengunjung dipersilakan datang ke pojok kopi, dan menyeduh kopi sendiri. Gratis. Kopinya enak, diseduh air panas yang dididihkan dengan kayu bakar.

Ihwal kayu bakar, ini yang patut dicatat. Semua masakan di sini, dimasak menggunakan tungku dengan pemanas kayu bakar. Anda tentu sepakat, masakan yang dimasak dengan kayu bakar, memiliki tekstur rasa lebih tebal. Yang enak menjadi sangat enak. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *