Kolaborasi Yogya-Solo di Kampung Edukasi Watulumbung

 Kolaborasi Yogya-Solo di Kampung Edukasi Watulumbung
Meritz Hindra (sutradara) sedang membahas naskah Mangir. Mbah Boy (paling kanan mengenakan kain sarung) mengamati. (foto: ist)

Jayakarta News – Ini bukan objek wisata! Ini Kampung Edukasi Watulumbung! Begitu kerap kali Mbah Boy menegaskan. Bisa jadi, Mbah Boy terbilang manusia idealis. Tinggal dan mengelola bukit Watulumbung, di kawasan Parangtritis, Yogyakarta, boleh dikata ia mulai dari titik nol.

Dengan telaten Mbah Boy membangun Kampung Edukasi Watulumbung, dari “bukan apa-apa” menjadi icon yang menambah keistimewaan Yogya. Dari yang sepi, adem ayem kadyo siniram banyu wayu sewindu, menjadi kampung pegunungan yang tak pernah sepi dari kiprah kreatif.

Tak terhitung event yang sudah dirancang Mbah Boy. Tak heran jika Kampung Edukasi Watulumbung lekas viral, tidak saja di tengah masyarakat Yogya, tetapi juga masyarakat Ibukota dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan manca negara. Tak terhitung public figure dan sosialita Yogya bahkan nasional, hadir di Watulumbung. Tidak saja hadir, tetapi juga berkegiatan di sana.

Sekian lama tak berkunjung ke Watulumbung, sudah begitu banyak larik aktivitas berlalu, dan hanya menyisakan jejak-jejak penyesalan karena tak bisa menyaksikan dari jarak paling dekat. Beruntung, kunjungan terakhir masih diizinkan menyaksikan sebuah proses kreatif yang dahsyat. Sebuah gawe akbar prakarsa Mbah Boy yang gemar sarungan itu.

Kampung Edukasi Watulumbung sedang menyiapkan gelar Drama Sastra Orkestra Naskah Mangir, karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satu karya Pulau Buru yang banyak mendapat pujian itu, bukanlah karya sembarangan. Bahasanya sangat “nyastra”, banyak idiom tersemat dalam dialog-dialog yang bernas. “Ini naskah berat!” ujar Meritz Hindra, sang sutradara, suatu hari.

Teaterawan kawakan jebolan Teater Alam Yogyakarta itu, mencoba menyelami naskah Mangir sedalam-dalamnya. Lebih dari itu, ia pun berusaha menerjemahkan kepercayaan Mbah Boy yang mendaulatnya menjadi sutradara naskah ini.

Sore hari di Watulumbung. Nyaris tiada angin berhembus tanpa menyeret kabar tentang Mangir. (foto: ist)

Seperti dikemukakan Mbah Boy, pertunjukan ini nantinya dikemas secara kreatif dan bersifat rekreatif oleh seniman-seniman Solo dan Yogyakarta dengan latar belakang berbagai disiplin ilmu-seni. Ada yang berangkat dari Seni Tari, Seni Rupa (Lukis), Musik, Teater, dan Ketoprak. Semua diramu dalam tafsir naskah Mangir sebagai suguhan budaya yang akan dipentaskan akhir tahun.

“Ya, pementasan ini akan menandai akhir tahun 2019. Pentas akan digelar di Panggung Budaya Kampung Edukasi Watulumbung, tanggal 30 dan 31 Desember 2019, pukul 16.00 sampai 18.00,” ujar Mbah Boy kepada Jayakarta News, media partner pentas Mangir.

Mbah Boy (sarungan) berfoto di Kampung Edukasi Watulumbung, bersama kerabat dan mitra di depan patung Garuda Pancasila karya master pematung Yusman. (foto: ist)

Kemitraan Unik

Filosofi “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” termasuk yang disemai di Kampung Edukasi Watulumbung. Baik dalam hal “sesrawungan” antara pengelola dengan para tamu, maupun antara tamu satu dan tamu lainnya. Nilai-nilai gotong royong yang digali dan disemai Bung Karno, sejatinya telah mengejawantah dalam denyut aktivitas keseharian. Tak terkecuali ketika pentas Drama Sastra Orkestra Naskah Mangir ini dirancang.

Lagi-lagi, kearifan lokal ditunjukkan Mbah Boy dalam menjalin kemitraan yang terbilang unik. Lewat tembung leluhur Jawa: gepok senggol-gethok tular, satu per satu para mitra bersinergi nyengkuyung pentas Mangir.

Satu per satu organisasi maupun perorangan menjalin kemitraan sinergis. Mereka antara lain Lions Club Puspita Mataram Yogyakarta, Sanggar Bambu, Javanologi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Silatnas Raja dan Sultan Nusantara, Watulumbung Culture Resort, Studio Yusman, dan Gandung Pardiman Center. “Semua bersatu-padu dan bersepakat mewujudkan penyelenggaraan tafsir naskah Mangir di Kampung Edukasi Watulumbung, sesuai kapasitas masing-masing,” ujar Mbah Boy mantap.

***

DRAMA SASTRA ORKESTRA – NASKAH MANGIR

Karya PRAMOEDYA ANANTA TOER

Setelah Majapahit runtuh pada 1527, Jawa kacau balau dan bermandi darah. Kekuasaan tak berpusat, tersebar praktis di seluruh kadipaten, kabupaten, bahkan desa. Perang terus terjadi untuk memperebutkan penguasa tunggal. Permata-permata kesenian, baik di bidang sastra, musik, dan arsitektur tidak lagi ditemukan. Selama hampir satu abad Jawa dikungkung oleh pemerintah teror (schrikbewind), yang berpolakan tujuan menghalalkan cara.

Salah satu bentuk pemerintahan teror itu diungkapkan secara jernih dalam naskah Mangir. Panembahan Senopati, raja Mataram kurun 1575-1607, yang bercita-cita menjadi penguasa tunggal, menundukkan perlawanan gigih penduduk Desa Mangir. Wanabaya atau Ki Ageng Mangir, pemimpin desa yang letaknya kurang-lebih 20 km barat daya ibukota Mataram, dirayu putri kesayangan. Senapati dijebak, dan kemudian dibunuh dalam sebuah pertemuan keluarga.

Desain Produksi : Mbah Boy Watu Lumbung

Tim Kreatif : Dedek Wahyudi, Meritz Hindra, Prof. Sahid Teguh Wijaya Klowor Waldiyono, ST Wiyono Eskar, Totok Buchori.

Produser : Yani Sapto Hoedoyo, Yusman S.Sn, Muhammad Rifai, Sulistyowati Quen, Dr. Yeyen Maryani

Associated Produser : Suryandoro S.Sn

Musik Orkestra : Dedek Gamelan Orkestra

Para Pemeran : Djoko Pekik, BRM Suryo Triyono, Prof. Sahid Teguh Wijaya, Liek Suyanto, Totok Buchori, Adhi Trilaksono, Marsha, YM Upulato Benni Ahmad Samusamu, Nano Asmorodono, Ahmad Masih, Hemmi Setyawan, Imam Supriyanto, Pungki Purbowo, Arko Kilat Kusumo Ningrat, Ahmad Diponegoro, Kangmas Gan.

Produksi : Sinema Sakini

Supporting : Keraton Kasunanan Surakarta, Lions Club Puspita Mataram Yogyakarta, Sanggar Bambu, Javanologi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Silatnas Raja Dan Sultan Nusantara, Studio Yusman, Gandung Pardiman Center, Watu Lumbung Culture Resort. Banjar TV, Plataran Djoko Pekik, Joos.Co, Titiktemu.id, Javanologi Universitas Sebelas Maret, JayakartaNews.com. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *