Cerita tentang Bom-Bom Nuklir yang Hilang dan Belum Ditemukan

 Cerita tentang Bom-Bom Nuklir yang Hilang dan Belum Ditemukan

Ilustrasi/foto: pixabay, pexels.com

JAYAKARTA NEWS – 17 Januari 1966, sekitar pukul 10.30, nelayan Spanyol melihat sebuah parasut dengan sebuah barang tergantung di bawahnya yang berwarna putih jatuh dari langit dan dengan senyap lenyap ditelan Laut Alboran.

Pada saat yang sama, di desa nelayan Palomares, penduduk melihat, pemandangan yang berbeda di langit. Dua bola api besar mengarah ke tempat mereka. Dalam hitungan detik, desa kecil itu hancur, bangunan roboh dan banyak yang meninggal.

Beberapa minggu kemudian, Philip Meyer, yang bekerja sebagai ahli penjinakan bom di Fasilitas Angkatan Laut Sihonella, di Sisilia timur,  menerima pesan ada situasi darurat, yang harus dirahasiakan, di Spanyol.

Misi itu seharusnya rahasia, “Sepertinya memalukan. Seharusnya rahasia, tapi teman-teman saya sudah tahu kenapa saya dipanggil,” tukas Meyers.

Selama berminggu-minggu, media massa dunia melaporkan ada kecelakaan besar, dua pesawat militer AS B28 bertabrakan di udara sehingga empat bom thermonuklir bertebaran di Paloares. Tiga bom berhasil ditemukan di darat. Tapi ada satu yang tenggelam di lepas pantai Laut Mediterania. Saat itu, operasi dilancarkan untuk menemukan bom nukir berkekuatan 1,1 megaton atau setara dengan 1.100.000 ton TNT.

Namun insiden Palomares bukanlah satu-satunya peristiwa ketika bom nuklir “hilang”. Setidaknya terjadi 32 insiden sejak 1950, yang disebut “Broken Arrow” —- saat alat peledak yang mampu meratakan dunia itu hilang. Tentu saja pada sebagian besar kasus, bom-bom itu ditemukan kembali. Tapi ada tiga bom yang hilang sampai sekarang dan bisa saja sedang tergeletak di rawa, di dasar laut, di hutan, atau di tempat lain di dunia ini.

“Kita tahu soal kasus Amerika,” tutur Jeffrey Lewis, direktur East Asia Non-proliferation Program di James Martin Center for Non-Proliferation Studies, California. Dia menjelaskan daftar bom, yang pernah hilang dan ditemukan atau tidak, tersedia sejak Departemen Pertahanan AS mempublikasikannya tahun 1980-an.

Banyak bom nuklir jatuh, tidak sengaja dan tidak meledak tentunya, terjadi pada era Perang Dingin. Saat itu, terjadi MAD (Mutual Assured Destruction) atau Amerika dan Soviet sangat menyadari kalau terjadi perang nuklir maka kedua negara bisa dipastikan hancur. Karena situasi ini, sejumlah bom nuklir selalu berada di pesawat yang terus terbang selama era 1960 – 1968. Kala itu, disebut Operasi Chrome Dome.

“Tapi kita tidak tahu banyak mengenai negara lain. Kami tidak tahu (apa yang terjadi dengan bom-bom nuklir yang mungkin jatuh tidak disengaja) tentang Inggris, Peranci, atau Rusia, atau Tiongkok. Jadi, bisa dikatakan, tidak pernah ada catatan pasti mengenai ini,” imbuh Lewis.

Disisi lain, catatan mengenai arsenal nuklir Uni Soviet agak kurang jelas. Hanya ada perkiraan Soviet memiliki sekitar 45.000 senjata nuklir pada tahun 1986. Kemudian, ada laporan tentang hilangnya bom nuklir dan tidak pernah berhasil ditemukan kembali.

Tapi tidak seperti insiden AS, hilangnya nuklir Soviet seluruhnya terjadi di kapal selam dan kalaupun lokasinya diketahui bom nuklir itu tidak bisa diangkat dari dasar laut karena terlalu dalam.

Misalnya; tanggal 8 April 1970 lalu, kebakaran menyebar melalui sistem AC di kapal selam nuklir Soviet, K-8, ketika menyelam di Bay of Biscay di lepas pantai Spanyol dan Perancis. Kawasan ini terkenal dengan badai lautnya dan banyak kapal tenggelam. Kapal selam K-8 mengangkut 4 (empat) torpedo nuklir ketika tenggelam.

Kejadian lain, di tahun 1968, K-129, sebuah kapal selam Soviet lainnya, secara misterius tenggelam di Lautan Pasifik di dekat Kepualain Hawaii. Kapal membawa tiga rudal nuklir. Amerika, yang belakangan tahu, berusaha mengangkat kapal selam bersama rudal nuklirnya —- tapi gagal. Sampai hari ini, rudal nuklir itu masih tergolek di dasar laut.

Kadang-kadang ada laporan upaya serius pencarian bom. Tahun 1998 lalu, seorang pensiunan militer, bersama isterinya, berusaha mencari sebuah bom yang jatuh di dekat Pulau Tybee, negara bagian Georgia, pada tahun 1958.

Mereka mewawancarai pilot, yang menjatuhkan bom, dan pihak-pihak yang pernah mencarinya puluhan tahun lalu. Mereka menggunakan peralatan deteksi radiasi, yang diikatkan di kapal motor, mencari di sekitar wilayah teluk Wassaw Sound di Lautan Atlantik.

Satu hari, mereka menemukan di tempat, yang ditunjukkan pilot, ada lonjakan radiasi sampai 10 kali lipat. Pemerintah langsung mengirimkan tim untuk menyelidikinya. Tapi sayang, ternyata kenaikan radiasi ini diakibatkan oleh mineral-mineral di dasar laut. Bom-nya masih hilang.

Sejauh ini, Amerika kehilangan tiga bom hydrogen dan Soviet sejumlah torpedo nuklir di laut. Ada pertanyaan masih terus menggantung, kenapa senjata nuklir ini belum ditemukan? Apakah ada kemungkinan akan meledak? Dan Apakah satu waktu nanti bisa diangkat kembali dan diamankan?***sumber: BBC.com/leo

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.