Ali & Ratu Ratu Queens – Kebersamaan Indonesia di New York

 Ali & Ratu Ratu Queens – Kebersamaan Indonesia di New York

JAYAKARTA NEWS – Jika Anda tersesat dan tidak tahu apa-apa tentang suatu daerah atau negara dan bertemu orang Indonesia, pasti akan dibantu, ditolong atau ditunjukkan tempat yang akan kita tuju. Entah itu di Amerika, Belanda atau kutub utara sekalipun.

Ali (Iqbaal Ramadhan) yang baru saja tiba di New York, plonga plongo mencari ibunya yang sudah lama bekerja di kota metropolitan itu. Ini intisari film ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ yang disutradarai Lucky Kuswandi dan tayang di platform Netflix.

Entah kebetulan atau mimpi jadi kenyataan, Ali bersua dengan empat wanita migran Indonesia yang mencari penghasilan di New York di kawasan Queens. Empat tante-tante heboh nan kocak ini sungguh ramah nian.

Ditampungnya Ali di apartemen mereka dan tentu, harus bayar perbulannya. Mereka adalah Party (Nirina Zubir) the cleaning lady, Chinta yang pemijat (Happy Salma), Biyah yang fotografer paparazi (Asri Welas) dan Ance, tante seorang anak (Tika Panggabean). Sifat dan peri laku kebersamaan, kegotongroyongan dan keramahan antarsesama orang Indonesia di luar negeri segera mencuat jadi kisah menarik dari film produksi Palari Films yang berdurasi 100 menit dengan rating usia 13+ ini.

Apakah Ali ketemu ibunya, Mia (Marissa Anita) yang bekerja sebagai pelayan bar di kawasan Queens, New York. Disini permasalahan yang apik dan manis digarap Lucky Kuswandi berdasar skenario Gina S Noer (‘2 Garis Biru’ dan ‘Keluarga Cemara’), dengan lompatan ‘twist’ di sana sini yang dibalut humor dari tante-tante kocak.

Hebatnya, hiruk pikuk kota New York tidak divisualisasikan oleh juru kamera Batara Goempar di film drama komedi ini. Namun, Batara Goempar memotret suasana lain New York: gang sempit, aroma sedikit berantakan dan bau sampah berserakan. Sedangkan penduduknya sibuk berbelanja di store yang dipenuhi  aneka baju di butik ‘second hand’ murah meriah, seperti Pasar Senen atau Blok M Square di Jakarta.

Suasana tersebut dipaparkan sutradara sebagai pinggiran saja, sementara menu utama yang disuguhkan adalah masalah keluarga yang kompleks yang bisa terjadi di masa dulu maupun masa kini. Ada konflik dan kesalahpahaman dan ada pula karakter Eva (Aurora Ribero), putri tante Ance yang acap membantu Ali. Yang lebih mencuat lagi adalah pencarian jati diri seorang cowok berusia 19 tahun dari negara berkembang yang mencari ibunya ke negara maju. Emosi penonton berhasil diaduk dan dikocok penuh tawa, tangis, terkejut dan bahagia.

Yang jelas, keluarga justru segala-galanya. Hidup adalah perjuangan dan bekerja tiap hari. Selalu ada cinta, kebersamaan dan keramah-tamahan di semua sudut, di tempat yang enak kepenak hingga di tempat yang keras. Falsafah di ending film bahwa ‘keluarga yang sebenarnya ada didalam diri kita sendiri’ ciamik diselipkan Lucky Kuswandi. Dan jujur, ‘Ali & Ratu Ratu Queens’ adalah karya terbaik Lucky dibanding ‘Selamat Pagi Malam’ atau ‘Galih dan Ratna’. Kali ini, Lucky Kuswandi ‘naik kelas’ dan bravo! (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *