Siapkan Buku ‘Tafsir KUHP Baru’ di Tengah Kelahiran Cucu

 Siapkan Buku ‘Tafsir KUHP Baru’ di Tengah Kelahiran Cucu

Kiri: Wina Armada dan cucu ke 3 yang baru lahir (foto : Wasa). Kanan: Wina Armada dan cucu 1 dan 2, kembar (foto Amalia)

JAYAKARTA NEWS – Kelahiran cucu ke tiga enggak bisa diganggu gugat. Dari sejak lahir, dibesuk dan ditemani di Mandaya Royal Hospital, wartawan yang ahli hukum pers dan kode etik jurnalistik Wina Arnada Sukardi, SH tak pernah lepas dari laptop.

“Ini perlu kontinuitas. Saya sedang menulis dan merampungkan buku ‘Tafsir KUHP baru (UU No 1 tahun 2023)’ setebal 600 – 700 halaman. Alhamdullilah terbit tahun ini,” ujar Wina Armada yang diberi ucapan selamat oleh sobat-sobatnya sesama wartawan dan advokat di grup WA-nya.

Cucu ketiganya diberi nama Kanaka Armada Dwinanto, lahir dari pasangan Ryan dan Fath Sukardi.

Meski KUHP baru akan diberlakukan tiga tahun lagi, namun Wina Armada harus berkejaran dengan waktu ditengah kesibukannya sebagai wartawan senior dan advokat di Dewan Pers, PWI Pusat dan Ketua Pelaksana Festival Film Wartawan (FFWI) ke XIII tahun 2023.

Terlebih lagi, ditengah kontroversi dan polemik ramai yang mencuat di media masa maupun dalam forum diskusi, setidaknya buku KUHP tulisan Wina Armada dapat menjadi pendingin dan solusi yang tepat bagi tegaknya supremasii hukum di negara kita.

Dalam artikel brrjudul ‘Dibuang di UU Pers, Dipungut di KUHP’, Wina Armada mempermasalahkan pasal-pasal karet yang sudah ‘dibuang’ Pemerintah dan DPR, kini malah ‘dipungut’ kembali oleh Pemerintah dan DPR.

“Aneh bin ajaib. Pasal-pasal karet tersebut malah dimasukkan menjadi rumusan hukum positif dalam KUHP baru. Apakah dimasukkannya rumusan yang enggak pernah dibuat dalam proses membahas UI  Pers ini sebuah ‘kemajuan’ ataukah ‘kemunduran’ ?,” tanya Wina Armada.

Di sisi lain, sebagai pengamat dan kritikus film, Wina Armada juga lebih memperjelas karakter Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) yang berbeda dengan festival film lainnya. “Terus terang, proses pembentukan FFWI belum sampai pada taraf yang ajeg. FFWI masih terus berkembang  dan mencari jati dirinya sendiri yang utuh,” ungkap Wina Armada yang pernah menggaet piala Mitra sebagai penulis kritik film terbaik.

“Banyak pihak ingin membuat festival film hanya ikut-ikutan belaka dan redundant (pengulangan) dari festival film yang sudah ada. Bagi yang ingin serius membuat festival film lainnya, perlu dipikirkan celah perbedaan apa dengan festival film yang sudah ada. Harus dicari dasar perbedaan yang signifikan,” saran Wina Armada.

Banyaknya festival film memberikan banyak manfaat jika berbagai festival itu mengandung perbedaan. “Jika tidak, banyaknya festival film tetap saja hanya memberikan efek nada tunggal buat perfilman nasional,” pungkas Wina Armada yang baru saja menerima penghargaan pengabdian seumur hidup (lifetime achievement award) dalam FFWI XII tahun 2022. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.