Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XI Diluncurkan

 Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XI Diluncurkan

Wartawan, insan film dan pejabat Direktorat PMMB Kemdikbudristek yang hadir dalam peluncuran FFWI. (foto : FFWI)

JAYAKARTA NEWS – Karakter wartawan harus independen, kritis dan peka. Wartawan selalu dibutuhkan dalam industri perfilman Indonesia, baik tulisan maupun kritiknya. Dan peranan itu tampak dari zaman ke zaman.

Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru (PMMB)

Demikian sambutan Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru (PMMB), Ahmad Mahendra ketika meluncurkan Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) ke XI di Jakarta, secara virtual, Rabu (7/7). “Kita semua mengakui FFWI akan memperlihatkan komitmen wartawan terhadap perfilman Indonesia,” tegas Ahmad Mahendra dengan wajah berseri-seri.

Menengok sejarah film Indonesia, keterlibatan dan kiprah wartawan dalam setiap festival film sudah lama. Di awal dibukanya bioskop pertama di Jakarta, peranan wartawan tidak bisa dilupakan. Seorang wartawan dan tentara bernama Usmar Ismail memelopori pembuatan film nasional yang seluruh pemainnya adalah orang Indonesia dan cerita yang divisualkan berpijak di bumi Nusantara.

Lewat film pertamanya yang bertajuk ‘Long March’, Usmar Ismail digelari Bapak Perfilman Indonesia. Tak ayal dari masa Revolusi, masa kebangkitan film Indonesia sampai masa sulit pandemi (dengan ditutupnya bioskop di seluruh Indonesia), film Indonesia terus diproduksi.

Logo FFWI XI

Kiwari, sistem digital dan peralatan syuting serba canggih, film Indonesia terus melaju pesat, baik di dalam negeri maupun di banyak ajang festival bergengsi di negara manca. Dan wartawan Indonesia tak kurang pula peranan dan sepak terjangnya ikut mewarnai sejarah film Indonesia, baik sebagai produser, sutradara, penulis skenario, maupun pemain. Yang terbanyak tentu saja wartawan sebagai pewarta dan kritikus.

Sejak Festival Film Indonesia (FFI) pertama tahun 1955, wartawan sudah ikut berpartisipasi. Memasuki era Orde Baru di tahun 1970, PWI Jaya memelopori pemilihan Best Actor dan Best Actrees pilihan wartawan hingga enam kali. Tahun 2006 dan 2007, dihelat Festival Film Jakarta atas inisiatif Jak TV bekerjasama dengan dua tabloid yang seluruh jurinya adalah wartawan.

Tahun 2016 dan 2017, digelar Usmar Ismail Awards (UIA) di Jakarta dan sekali lagi, seluruh jurinya wartawan. Tiga tahun kemudian, tepatnya 2021, baru diselenggarakan festival film yang semua jurinya wartawan. Namanya Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI). Mirip Golden Globe di Amerika.

Wina Armada, Ketua FFWI XI

“Semangat dan roh wartawan kita adopsi. Dan ini menjadi bagian sejarah tak terpisahkan dalam penyelenggaraan FFWI,” ujar Wina Armada Sukardi selaku Ketua FFWI XI. Penggagas dan wartawan senior ini menambahkan, FFWI adalah kesinambungan dari festival film yang ada di Indonesia.

“Wartawan adalah wakil dari sejuta mata publik. Dalam menjalankan tugas, wartawan enggak perlu disensor dan dihalangi serta dilindungi hukum, ” urai Wina Armada lagi. Sebaliknya, 35 wartawan yang jadi juri FFWI tak perlu minta izin ke produser.

“Film yang akan dinilai telah diputar di bioskop umum dan tayang di OTT (Over The Top,” pungkas Wina Armada yang juga Ketua Tim 7 sebagai pelaksana FFWI ke XI. Penganugerahan pemenang FFWI ke XI yang dihelat oleh Tim 7 dan Direktorat PMMB Kemdikbudristek serta didukung MIKTI ini akan digelar tanggal 28 Oktober 2021 di Jakarta, bertepatan Hari Sumpah Pemuda. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *