Saminten, Pandang tak Jemu

 Saminten, Pandang tak Jemu

Gang Saminten III, hijau, rapi, bersih. Siapa pun memandang tak kan jemu. (foto: melva tobing)

Jayakarta News – Ibarat wanita, Saminten terlihat segar dan elok. Berseri dan memikat. Siapa pun tak jemu memandang dan berlama-lama dengannya. Apa daya, Saminten, hanyalah nama jalan, bahkan lebih pas disebut gang. Jalan Saminten III, tepatnya.

Bentang jalan perkampungan sepanjang 100 meter dan lebar tiga meter, melewati 32 rumah berjajar berhadap-hadapan. Bisa dibilang permukiman padat. Nyaris tak ada celah di antara rumah yang satu dan lainnya.  

Saminten menjadi istimewa karena suasana yang ijo-royo-royo, penuh tetumbuhan di kiri-kanannya. Tiada rumah tanpa tanaman.

Bukan hanya itu. Samiten juga sangat bersih. Tidak ada sampah tercecer. Semua tampak rapi dan resik. Sepanjang jalan, terdapat enam pergola tanaman menjadikan Saminten kian teduh. 

Jl. Saminten III lebih dikenal dengan Gang Toga. (foto: melva tobing

Menyusuri Saminten III, seolah menyusuri taman firdaus. Padahal, gang ini berada di tengah kota yang begitu bising, padat, dengan udara yang tak bersahabat. Ia adalah satu di antara tujuh nama gang yang sama: Saminten I sampai dengan VII. Ketujuh jalan ini berada di lingkungan RW 16, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukamajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Saminten III nan elok itu berada di RT 6. Di situ tinggal Dwi Hastuti (68). Dialah sang pelopor “kecantikan” Saminten III. Berkat dia pula, RW 16 disebut juga RW Hijau. Untuk mendapatkan predikat itu, sejatinya Dwi Hastuti sudah melewati sebuah perjalanan panjang, melewati bentang kesabaran.

Ibu empat anak ini, mulai tinggal di Saminten III sejak tahun 1980. Itu artinya sudah 38 tahun ia tinggal di situ. Rumah yang ditempatinya itu tipe 21 yang berdiri di atas lahan 90 meter persegi. Dulu, tempat itu sangat gersang dan pengap.

Dwi Hastuti, Ketua PKK RW 16, penggiat lingkungan yang memungkinkan RW 16 menjadi RW Hijau seperti sekarang. (foto: melva tobing)

Sehari-hari, Dwi Hastuti adalah seorang guru di SD Pancoran, Jakarta Selatan. Jarak tempat tinggal ke SD tempat ia mengajar, sekitar 25 km. Tahun 80-an, sarana transportasi sangat terbatas. Tak heran jika saat itu Dwi merasa tak ubahnya seorang transmigran.

Perjalanan jauh yang melelahkan, memunculkan ide Dwi Hastuti untuk menciptakan suasana rumah yang lebih nyaman. Ia pun mengawali dengan menanam tanaman hias di dalam pot. Satu pot menjadi dua pot. Dua pot menjadi tiga pot. “Lama-lama saya merasakan ada suasana yang berbeda. Mata lebih sejuk rasanya menatap tanaman yang menghijau, lalu saya teruskan menjadi gerakan penghijauan di kampung padat yang gersang itu,” kata Dwi saat dijumpai Jayakarta News, medio Desember 2019.

Kegiatan mengajak masyarakat mengikuti jejaknya untuk menanam tanaman, menemukan salurannya tatkala nenek lima cucu ini didapuk menjadi Ketua PKK, tahun 2000-an. “Kami membuat program penghijauan di lingkungan RW, dengan target tiap rumah setidaknya mempunyai 20 pot tanaman. Hasilnya luar biasa. Kampung menjadi hijau dan lingkungan terasa lebih segar,” kisahnya.

Lamat-lamat, kecantikan Saminten III mulai menggema, dan hinggap di telinga para pejabat di Pemerintah Kota Depok. Lalu, RW 16 ditunjuk mewakili Kota Depok mengikuti lomba “Hatinya PKK” tingkat Provinsi Jawa Barat, tahun 2011. Hasilnya? Gagal menyabet predikat juara.

Baru tahun berikutnya, 2012, RW 16 yang kembali mewakili Depok, berhasil menyabet Juara 2. Bahkan tahun berikutnya, 2013, berhasil meraih predikat Juara I. 

“Tahun 2012 saya pensiun jadi guru, jadi punya waktu lebih banyak untuk menghijaukan lingkungan, hingga akhirnya berhasil juara pertama. Waktu luang saya maksimalkan untuk memotivasi para tetangga dan menambahkan kreasi-kreasi indah lain,” tuturnya.

Predikat juara “Hatinya” (Halaman Asri Tertib Indah dan Nyaman) PKK tingkat provinsi, menjadikan RW 16 makin populer. “Setelah keberhasilan itu, banyak juga sih stasiun televisi yang meliput ke kampung kami,” ujarnya sumringah. Di antaranya Kompas TV, Net TV, TV One, juga MNC TV.

Mengilas-balik pengalaman menjadikan kampungnya menjadi hijau, membuat hidup Dwi lebih colorful. Bayangkan, tidak sedikit warga yang menolak mentah-mentah ajakan menanam pohon. Ada yang berdalih halamannya sempit. Ada yang beralasan tidak hobi. Ada pula yang menjadikan “sibuk” sebagai alasan penolakan.

Dwi tidak pernah memaksakan. Meski begitu, ia juga tidak menyerah. Mulailah ia menyinggung tentang betapa oksigen itu adalah hakikat kehidupan. Tanpa oksigen manusia lemas dan mati. Dwi kemudian merangkai pemahaman itu dengan bahasa yang tertib, runtut, halus, dan mengena. Ihwal kepiawaian yang satu ini, rasanya tak perlu disangsikan. Bukankah ia seorang guru?

“Tapi yang terpenting adalah keteladanan. Kita jangan menyuruh tetapi tidak memberi contoh,” kata Dwi seraya menunjuk pot-pot tanaman yang ada di teras rumahnya, baik tanaman hias maupun tanaman obat.

Nah, melalui tanaman obat, Dwi menjadi lebih percaya diri meyakinkan para tetangga yang semula menolak. Misalnya, merekomendasikan tanaman obat yang ada di teras rumahnya, untuk mengobati beberapa penyakit ringan yang diidap tetangga. Faedah ini pun dengan cepat menyebar ke seantero kampung.

Lalu, tanaman obat pun ia jadikan tanaman inti penghijauan di Saminten III. Tak heran jika kemudian gang itu lantas disebut gang “toga” (tanaman obat keluarga).

Menjadikan Saminten Gang Toga, diawali tahun 2014, saat pihak Kecamatan Sukmajaya meminta RW 16 ikut lomba Tanaman Obat Keluarga tingkat Kotamadya. Syaratnya, harus ada 50 jenis tanaman obat, tujuh di antaranya tanaman obat wajib.

Di antara tujuh tanaman wajib, hanya satu yang tidak ada: Jati Belanda. Dengan kekurangan itu, Gang Toga Saminten menyabet juara 2.

Prestasi itu kian melecut Dwi untuk mencari lebih banyak jenis tanaman obat. Kini, tak kurang dari 75 jenis tanaman obat ada di Jalan Saminten. “Tanaman sirih merah, di rumah saya ada delapan pot. Banyak yang minta untuk obat batuk. Lalu ada juga Kajibeling, Binahong, Sambung Nyawa, Kumis Kucing, Jati Belanda, Handelem, Jinten, Kembang Telang, Daun Salam, Kelor, Kunyit, dan lainnya,” papar Dwi.

Kini, tanaman obat itu sungguh dirasakan manfaatnya. Contoh, jika ada ibu-ibu terkena pisau saat merajang bumbu di dapur, tidak lagi beli obat merah, tetapi cukup diobati dengan daun sambung nyawa. Lalu kalau terkena panas, diobati daun binahong. Kalau batuk, minum rebusan sirih merah,” ujarnya seraya menambahkan, “daun sambung nyawa juga bisa dibuat peyek. Rasanya enak.”

Anak-anak PAUD Pelangi, Kampung Berseri binaan Astra, berfoto bersama para guru. (foto: istimewa)

Dipinang Astra

Sukses Saminten ternyata mendatangkan “rezeki nomplok”. Tahun 2015, perusahaan multi nasional PT Astra Internasional, “meminang” kampung ini masuk program “Kampung Berseri Astra” (KBA). Resmi menjadi KBA Depok sejak 27 Februari 2015, maka Astra pun menjalankan program 4 pilarnya.  “Masuknya Astra bagi saya sangat membantu meningkatkan potensi kami apalagi dengan program empat pilar,” kisah Dwi Hastuti mengenai hubungan “mesra” RW 16 dan PT Astra Internasional. 

Kehadiran Astra dengan program 4 pilarnya: Pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan benar-benar membuat masyarakat RW 16 “naik kelas”. Di bidang pendidikan, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) “Pelangi” kini sudah berkanopi. Perlengkapan belajar-mengajarnya pun lebih memadai.

Di bidang kesehatan, kini kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) juga lebih aktif. Diukur dari paramter apa pun, kehadiran Kampung Berseri Astra menjadikan masyarakat RW 16 menjadi lebih sehat.

Kiri: Kegiatan rutin Posyandu di lingkungan RW 16. Kanan: Pemeriksaan dasar untuk orang tua dengan peralatan kesehatan dari Astra. (foto: istimewa)
Kegiatan di Bank Sampah, nasabah bank sampah menyetorkan sampah berupa plastik, karton dan koran di dalam kantong yang sudah tersedia. (foto: istimewa)

Di bidang lingkungan, Astra mewujudkan gapura hijau. Gapura yang rimbun dengan tanaman obat. Juga penanaman pohon pucuk merah menambah sejuk suasana. Masih terkait lingkungan, KBA juga menghadirkan bank sampah, tempat penampungan air hujan (PAH), tempat cuci tangan, tong komposter, tempat air beras, dan lain-lain. Sedangkan di bidang kewirausahaan, Astra melatih keterampilan ibu-ibu dan anak.

Kini, seperti halnya kemarin dan lusa, dapat dipastikan geliat kehidupan masyarakat RW 16, Kelurahan Baktijaya, Kecamatan Sukamaja, Kota Depok itu lebih hidup dan berseri-seri. Sehari-hari, ada saja warga yang berinisiatif melakukan perawatan tanaman.

Seperti siang itu, terlihat beberapa pria sedang merapikan tanaman di salah satu pergola yang terpasang di jalan. Salah satunya adalah Hardjito, suami Dwi Hastuti sang pelopor. Dia sedang merapihkan tanaman anggur di pergola. “Biasanya sampah tanaman dicincang, dimasukan tong dan dibuat kompos. Suami saya juga penggiat lingkungan, dia ketularan saya,” ujar Dwi sambil tertawa kecil.

Sampah di tempat ini dipilah menjadi tiga. Ada sampah plastik, karton dan koran yang disetorkan ke bank sampah. Ada sampah yang tidak bisa didaur ulang dan diangkut tukang sampah seminggu 3 kali untuk dibuang ke TPS kelurahan. Serta sampah organik berupa daun-daunan, kulit buah, dan sisa sayur. Sampah ini dikumpulkan di ember khusus dan diambil oleh petugas dari DKP seminggu tiga kali, untuk dibuat pupuk dan pakan maggot (larva). Tak pelak, tempat ini sangat bersih.

Tak jauh dari tempat Hardjito bekerja, tampak Sumarno, Ketua RW 16  sedang mencangkul di satu lahan kecil. Rupanya, dia sedang mempersiapkan media tanam untuk beberapa tanaman anyar. Dengan semangat, dia membuat sendiri media tanam untuk cabe dan jahe merah yang ditanam di lahan kosong yang tidak begitu besar. “Ini lahan kosong milik orang yang tidak ditempati,” ujarnya. 

Lingkungan semakin menarik karena bukan hanya dipenuhi tanaman, tapi juga hiasan mural yaitu lukisan di dinding atau di jalan. Mural tersebar di beberapa gang, seperti di Saminten I, Saminten VI, Jelutung I dan Jelutung IV.

Kiri, Hardjito sedang merawat tanaman anggur. Kanan: Sumarno, Ketua RW 16. (foto: melva tobing)
Kiri: Lukisan mural yang acap dijadikan ajang selfie. Kanan: warga menghias jalan dengan mengecat. (foto: istimewa)

Sesuai Cita-cita Astra

Bagi Astra sendiri, KBA Depok adalah KBA berprestasi. Ini pengakuan Astra yang tertuang dalam buku panduan Kampung Berseri Astra.

Keberhasilan kampung ini sejalan dengan cita-cita “Sang Tokoh” Astra, William Soerjadjaja, yaitu sejahtera bersama bangsa. Sebagaimana dikatakan Kristanto, Sekretaris Pengurus Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim, bahwa perusahaan ini tidak sekadar mencari uang.

“Perusahaan ini harus berkontribusi kepada bangsa dan negara. Sejahtera bersama bangsa dan negara  diwujudkan dalam filosofi Catur Dharma. Dimana dharma pertama adalah menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” papar Kristanto kepada Jayakarta News. Hal itu yang mendasari Astra menjalankan KBA.

KBA telah diterapkan Astra sejak 2013. Perusahaan ini berkomitmen mengembangkan program Kampung Berseri Astra, yakni sebuah kampung dengan lingkungan yang berseri dan hijau serta masyarakat yang sehat, cerdas, dan produktif. “Hal ini mewakili implementasi dari 4 pilar Corporate Social Responsibility (CSR) Astra yaitu Pendidikan, Lingkungan, Kesehatan dan Kewirausahaan,” papar Kristanto. 

Melalui KBA, masyarakat dan perusahaan dapat bersama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. “Sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah KBA,” ujarnya. Bagi Astra, KBA Depok saat ini telah menjadi KBA yang berkembang pesat sehingga memberikan dampak positif kepada masyarakat, baik dari sisi lingkungan, kesehatan, kewirausahaan dan pendidikan.

Pendidikan, juga menjadi perhatian bagi KBA Depok. Terbukti dengan diberikannya Beasiswa Lestari bagi 33 anak sekolah di lingkungan RW 16. “Syaratnya adalah anak yatim, tidak mampu, anak piatu, dan berprestasi,” jelas Dwi Hastuti. Beasiswa Lestari adalah beasiswa yang berkesinambungan. “Dari SD lanjut SMP, terus SMA baik negeri ataupun swasta. Setelah SMA, bisa dilanjutkan kalau diterima di PTN. Kalau kuliah swasta atau malah bekerja, beasiswa tidak dilanjutkan,” tambahnya.

Ira Ariyanti bersama kedua anaknya penerima Beasiswa Lestari, Kifa S Putri kelas 2 SMP dan Rafa kelas 6 SD. (foto: istimewa)

Seperti yang diakui Ira Ariyanti (40), janda beranak dua, beasiswa untuk kedua anaknya itu sangat membantu. Anak pertamanya Kifa Salsabila Putri kelas 2 SMP dan yang kedua, Rafa Taufikurahman kelas 6 SD, mendapatkan beasiswa sejak 2017. Wanita yang sehari-hari berjualan pakaian ini berharap agar anaknya dapat terus dibantu dalam pendidikan hingga jenjang tinggi.

Begitu juga Selvy Herawaty (41), kedua anaknya mendapatkan beasiswa untuk tingkat SMA, yaitu Delvin dan Farhan. “Saya sangat terbantu dengan beasiswa ini. Saya bersyukur sekali,” ujar Selvy yang sehari-harinya berdagang di rumah.

Sesuai target yang ditetapkan, kini KBA Depok telah mencapai tahapan Utama. Satu tahapan lagi, RW Hijau ini akan mencapai tahapan tertinggi, yaitu: Kencana. Bintang Kencana hanya dapat diperoleh, jika RW tersebut mampu menjadikan RW lain di sekitarnya, menjadi seperti lingkungannya sendiri.

Tentu saja, RW 16 berharap dapat mencapai Bintang Kencana. “Kami berusaha dapat menjadi inspirasi bagi RW lain. Tentu dengan memajukan dan mengupayakan perbaikan di empat bidang, baik pendidikan, lingkungan, kesehatan dan kewirausahaan,” ujar Ketua RW Hijau, Sumarno mantap. (Melva Tobing)  

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *