Apa yang Dapat Dipelajari dari Kisah Gracia Billy Mambrasar

 Apa yang Dapat Dipelajari dari Kisah Gracia Billy Mambrasar

Said Achmad Kabiru Rafiie bersama Gracia Billy Mambrasar, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia, di depan Masjid Raya Baiuturrahman – Land Mark Provinsi Aceh. (foto: istimewa)

Oleh Said Achmad Kabiru Rafiie

Terlahir dari keluarga sederhana kepulauan Yapen, Provinsi Papua tidak menjadikan cita-cita seorang pemuda bernama Gracia Billy Mambrasar surut dan menyerah dengan keadaan. Pemuda yang akrab dipanggil dengan nama ‘Billy’, hijrah dari papua ke Bandung untuk menempuh pendidikan  di Institute Teknologi Bandung (ITB) dan tamat 2008 dari ITB sebuah Institute prestius yang sangat terkenal di Indonesia tempat Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno menempuh pendidikanya.  

Saat akan menempuh pendidikan Master di Australia, saya mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan Gracia Billy Mambrasar, pemuda dari Papua yang pembawannya selalu aktif dan menciptakan hal-hal baru.

Kami dipertemukan di Pre Departure Training IALF yang diselengarakan Australian Development Scholarship (ADS) 2012. Selama melanjutkan pendidikan Master di Australian National University (ANU), Gracia Billy Mambrasar mendapatkan beberapa penghargaan prestisius di antaranya Student of the Year, VC Chancellor Special Commendation 2015.

Setelah menamatkan Master of Bussiness Administration, Gracia Billy Mambrasar juga berkesempatan kuliah di Universitas Terbaik Dunia, Oxford University Inggris dengan beasiswa LPDP 2017. Sejak perkenalan singkat di Jakarta tersebut, sebuah cerita yang berlanjut ketika Gracia Billy Mambrasar dipercayakan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Staf Khusus Presiden dari kalangan millennial. Sederatan prestasi dan keaktifan di bidang sosial pendidikan menjadikan Gracia Billy Mambrasar 1 dari 7 staf khusus Presiden dari kalangan millenial.

Sebuah tugas yang berat nan mulia untuk membawa aspirasi lebih dari 60 juta millenial Indonesia, agar suaranya dapat didengar dan tersampaikan kepada Presiden. Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menyebutkan angka 23,9% dari jumlah penduduk Indonesia 265 juta jiwa dikategorikan millenial, mereka yang berusia (20-34 tahun).

Pertemuan yang terjadi 2012, berlanjut saat Gracia Billy Mambrasar dalam kapasitas sebagai Staf Khusus Presiden Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Meulaboh 9 Desember 2019 lalu.

Ketika Gracia Billy Mambrasar pertama sekali menginjakkan kaki di Meulaboh Bumi Teuku Umar, Aceh Barat, saya sangat berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena perjalanan ke Meulaboh ditempuh dengan jalan darat sekitar 5 jam dari Banda Aceh tanpa kendala.

Satu hal yang tidak berubah dari Gracia Billy Mambrasar yang saya kenal 7 tahun silam yaitu sifatnya yang humble dan apa adanya serta sangat bersemangat dalam menceritakan hal-hal yang menginspirasi. Saat berada di Meulaboh, Aceh Barat, kedatangannya diterima secara langsung oleh Bupati Aceh Barat dan para Muspida daerah Aceh Barat.

Said Achmad Kabiru Rafiie bersama Gracia Billy Mambrasar, di depan Masjid Raya Baiuturrahman, Banda Aceh. (foto: istimewa)

Kemudian kegiatan dilanjutkan ke Universitas Negeri paling ujung barat Indonesia, Universitas Teuku Umar yang dinegerikan pada 2014, Gracia Billy Mambrasar memberikan motivasi dan kuliah kepemimpinan kepada 300 mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU). Kuliah umum tersebut disambut antusias para mahasiswa-wi. Mereka sangat terkesima dengan kisah Gracia Billy Mambrasar yang mampu meraih pendidikan tinggi walaupun berasal dari keluarga kurang mampu.

Acara berlanjut dengan kunjungan ke-2 Sekolah Dasar (SD) di Kota Meulaboh serta melakukan interaksi dengan para siswa dan mengajukan session tanya jawab serta dialog dengan para dewan guru. Para siswa yang berani tampil menjawab pertanyaan, mendapatkan tas dan seperangkat alat tulis.

Kegiatan lain di Meulaboh, dilanjutkan diskusi bersama para millenial lintas sektoral di Aceh Barat di sebuh cafe serta deklarasi pertama Millenial Cinta NKRI. Para peserta yang hadir, terdiri dari tokoh millenial yang menduduki jabatan ketua DPRK, Anggota DPR Aceh dan Kota, Ketua Kepemudaan KNPI, LSM dan dari tokoh ulama. Pada hari yang sama, meresmikan Rumah Bahasa di Global Institut sebuah program bersama alumni LPDP dan Australia. Dalam peresmian ini, Gracia Billy Mambrasar turut berdialog dalam Bahasa Inggris dengan siswa Global Institut.

Siswa yang masih usia belia 7-9 tahun sangat akrab dalam berdialog dan berdiskusi dan mereka mendapatkan hadiah tas dan kamus Bahasa Inggris sebagai kenang-kenangan dari Staf Khusus Presiden. Kegiatan diakhiri dengan mengunjungi Cafe UMKM yang menghasilkan kopi khas Meulaboh.

Dari pertemuan singkat ini, saya menyimpulkan tiga hal yang dapat dipelajari dari sosok Gracia Billy Mambrasar yaitu 1. Humble, saya melihat sejak pertama bertemu 2012 hingga bertemu kembali di 2019 tidak ada yang berubah dalam melayani setiap orang, siapa pun dan dari mana pun, sama perlakuannya, 2. Bekerja keras untuk meraih mimpi, saya melihat sosok Gracia Billy Mambrasar, sebagai sosok yang persisten dan tidak gampang menyerah untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya walaupun terlahir dari keluarga miskin. Hal ini bukan alasan untuk maju dan meraih cita-cita  dan Gracia Billy Mambrasar percaya akan dorongan semesta akan bersama untuk membantu mewujudkannya, 3. Selalu memberikan kontribusi positif bagi umat manusia, saya melihat Gracia Billy Mambrasar tidak pernah lelah menyebarkan kebaikan melalui Social Entrepreneur Kitong Bisa yang dia kelola, memberikan manfaat kepada masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa membedakan agama dan suku bangsa. Sebagai orang yang pernah mengenal Gracia Billy Mambrasar, dia selalu mengatakan dan berpesan untuk menyelesaikan masalah dengan soft approach mencari win-win solution.

Tiga hal tersebut yang dapat dipelajari dan diambil pembelajaran dari sosok Gracia Billy Mambrasar, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia. (*)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *