Protes Budaya dari Yogya

 Protes Budaya dari Yogya
Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantara. Kanan: Lestanta Budiman yang akrab disapa Lobo. (ist)

Pepatah Jawa menyebutkan, “Ajining diri soko lathi. Ajining rogo soko busono. Ajining bangsa soko budoyo”. Terjemahanya kurang lebih, “harga diri seseorang dari tutur kata (lathi = lidah), harga diri seseorang dari cara berbusana, harga diri bangsa dari budayanya.”

Dalam banyak hal, pepatah itu ada benarnya. Jepang, Cina, misalnya, adalah dua negara besar yang sangat memegang kuat budaya. Indonesia? Negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Negara dan bangsa dengan nilai-nilai kearifan lokal yang berlimpah.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada percikan. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di pantai selatan Yogyakarta. Sekelompok anggota masyarakat membubarkan ritual “Labuhan” atau “Larungan” oleh para nelayan setempat. Ritual tersebut adalah tradisi turun-temurun sebagai perwujudan suka cita atas hasil tangkapan ikan yang didapat.

Terlabih, tradisi “Larungan” memiliki filosofi membuang segala hal buruk. Kegiatan itu juga dimaksudkan sebagai wujud terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memberi sedekah kepada para penghuni laut dan alam semesta.

Sehubungan hal itut, Gerakan Masyarakat Yogyakarta Anti Intoleran (Gemayomi) akan memprakarsai acara Labuhan sekaligus sedekah laut bersama Aliansi Masyarakat Pelestari Budaya pada hari Kamis 25 Oktober 2018 di Parangkusumo, pesisir Selatan Kab. Bantul, Yogyakarta.

Menurut Ki Ageng Agung Jati yang akan memimpin gelar Mantra Luhur Budaya Nusantara, kegiatan yang akan dilaksanakan merupakan perwujudan doa, harapan, serta bentuk kepedulian atas apa yang sedang terjadi di negeri ini. Ia menambahkan, menjelang Pemilu Serentak 2019, telah banyak rentetan peristiwa yang menggores luka kehidupan berbangsa. “Saya percaya, semua anak negeri mengidamkan perdamaian, mengidamkan negara yang “tata titi tentrem”.

Ki Ageng Agung Jati menegaskan, budaya Jawa tidak mengajarkan pemaksaan kehendak. Sebaliknya, budaya Jawa mengajarkan “asah-asih-asuh”. “Jadi jelas, aksi pembubaran oleh sekelompok orang terhadap kaum nelayan yang tengah melakukan ritual Labuhan beberapa waktu lalu di Yogya, sangat disesalkan,” ujarnya, prihatin.

Sedangkan Ketua Pelaksana, Lestanta Budiman atau lebih dikenal dengan Lobo menyampaikan kepada Jayakartanews, bahwa Gelar Mantra Luhur ini merupakan aksi “Protes Budaya” dari Yogya. Sebuah protes atas aksi pemaksaan kehendak oleh kelompok tertentu kepada masyarakat nelayan yang sedang mengadakan acara syukuran atas hasil lautnya dengan Labuhan.

Selain itu, kegiatan Labuhan dibarengi Mantra Luhur Budaya Nusantara itu juga sekaligus menjadi doa bersama, untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Panitia dan peserta mendoakan agar bangsa ini lepas dari segala kebencian antarsaudara sebangsa, setanah-air. “Jangan ada lagi pemaksaan kehendak di negeri ini, apalagi kalau dari latar belakang keyakinan yang berbeda,” ujar Lobo.

Lobo menambahkan, tidak boleh lagi terjadi intimidasi serta gangguan terhadap tradiis dan budaya negeri pada umumnya, budaya Jawa pada khususnya, apalagi jika sampai terjadi tindak kekerasan. Untuk itu pada acara nanti, panitia Labuhan akan mendatangi Polda DIY untuk menyatakan Pernyataan Sikap Gemayomi, serta menuntut aparat menindak tegas serta mengusut kejadian di  pantai baru Samas, Yogyakarta. Selain itu, mereka juga merencanakan sowan ke Keraton sebagai simbol kawula yang mengadu dan memohon keadilan kepada rajanya. (gde mahesa)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *