Pencegahan Aksi Teror Lone Wolf Lebih Sulit

 Pencegahan Aksi Teror Lone Wolf Lebih Sulit
Polisi memasang police line di Rusunawa Wonocolo Taman, Sidoarjo, menyusul terjadinya ledakan bom pada sekitar pukul 21.10 WIB , Minggu (213/5/2018).

 

PUSAT  Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ), menyampaikan keprihatinan dan rasa duka yang mendalam terhadap para korban serangan teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.
“Kami mengutuk keras serangan  teror di beberapa Gereja di Surabaya dan Sidoarjo,” kata peneliti Puskamnas UBJ, Ali Asghar.
Ali mengungkapkan, serangan teror di Surabaya dan Sidoarjo menggambarkan adanya  tren evolusi terorisme yangg bergerak ke arah self-organizing terrorism (lone wolf). Para teroris bergerak secara otonom, dimana pelaku  dapatmembentuk jejaring/komunitas baru dengan mandiri, tanpa harus menyatakan afiliasi terhadap organisasi atau jejaring besar yang ada,  seperti ISIS atau Al-Qaeda.
Dia menilai, upaya pencegahan  aksi serangan teroris yang menggunakan metode lone wolf  lebih sulit. Masalahnya,  pelaku mengunakan media sosial sebagai sistem komunikasi, dimana mereka menggunakan  enskripsi yang ketat dan susah dilacak. “Oleh karena itu, diperlukan kerjasama semua komponen masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan aparat keamanan,” katanya.
Ali juga mendesak pemerintah  segera menyelesaikan pembahasan draft RUU terorisme, dengan tetap berpedoman pada pendekatan Criminal Justice System. UU tersebut harus memberikan penguatan fungsi intelijen kepolisian untuk bisa menindak para pekaku terorisme sebelum melakukan aksi.
Yang tidak kalah pentingnya, Ali menambahkan,  di tahun politik ini, perlu kesadaran para  elite politik untuk tidak mengumbar narasi-narasi kebencian berbasis agama.  “Itu  hanya akan memberi ruang terhadap aksi-aksi intoleransi yang berujung pada tindakan radikalisme dan terorisme,” tandasnya.
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *