Santri Keracunan MBG Dijenguk Gubernur Khofifah di RSI Siti Hajar Sidoarjo

SIDOARJO, JAYAKARTA NEWS – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjenguk  para santri yang diduga korban keracunan di RSI Siti Hajar di Kabupaten Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).

Satu per satu, Gubernur Khofifah mengecek kondisi para pasien yang tengah menjalani perawatan. Lewat dialog tersebut, ia memastikan para korban mendapatkan penanganan terbaik.

Kepada seluruh korban baik yang mendapatkan perawatan di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya maupun di pesantren, Gubernur mendoakan agar semua kembali sehat.

Dan kepada pihak-pihak yang telah memberikan perawatan para korban, Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

“Anak-anak yang dirawat juga mudah-mudahan terus sehat, semua rumah sakit yang memberikan penanganan kami menyampaikan terima kasih,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengajak semua pihak untuk terus berbenah dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ditegaskannya, program inisiasi Presiden Prabowo Subianto tersebut sejatinya memiliki tujuan yang sangat strategis untuk memperbaiki kualitas gizi generasi penerus bangsa melalui penyediaan makanan bergizi pada siswa dan juga santri.

“Jadi memang kita harus terus berbenah, semua lini harus melakukan monitoring dan pengawasan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN tetapi juga kepada SPPG setempat,” katanya.

Ia menyampaikan dalam implementasinya, program prioritas nasional ini memang membutuhkan pengelolaan manajemen dan pengawasan yang cermat. Mulai dari bahan makanan yang digunakan hingga tersaji kepada penerima manfaat.

Pemilihan bahan makanan, pengolahan, distribusi hingga tersaji pada penerima manfaat harus dilakukan perhitungan yang tepat agar makanan tetap dalam kondisi yang aman dan sehat  saat dikonsumsi.

“Ini kasusnya dimasak bersama dengan format yang sama. Yang pengirimannya relatif lebih awal itu aman. Tapi yang pengirimannya terlambat ini yang kemudian menjadikan masalah,” ungkapnya.

Perbedaan waktu distribusi bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya masalah. Hal ini karena setiap makanan yang dimasak juga memiliki batas waktu konsumsi yang aman.

“Bedanya adalah pada masa pengiriman dari SPPG itu ke titik penerima manfaat, jadi kalau selesai dimasak jam 5 kemudian jam 7 diantar jam 10 sudah bisa dimanfaatkan oleh penerima manfaat ini semua aman,” katanya.

Gubernur Khofifah juga menuturkan korban yang diduga keracunan ini mendapatkan suplai makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama yaitu dari SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.

SPPG tersebut menyalurkannya ke 18 unit penerima manfaat salah satunya ke santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Sidoarjo.

“Saya tanya ada Kadinkes, ada Kakankemenag yang mendapatkan manfaat dari SPPG yang sama itu ada 18 unit, dari 18 unit yang lain relatif semua berjalan baik,” terangnya.

“Tapi kemudian adabyang dikirimnya baru jam 11 atau jam 11 lebih, dan dikonsumsi jam 12.30 sampai jam 1 inilah yang kemudian ditemukan ada masalah,” imbuhnya.

Diketahui di RSI Siti Hajar Kabupaten Sidoarjo saat ini, Kamis (3/8)  terdapat 27 pasien yang sedang dalam perawatan. Dari 27 pasien tersebut 24 diantaranya dinyatakan sehat dan dapat kembali pulang hari ini, sementara 3 pasien sisanya masih dalam observasi dari dokter dan pihak rumah sakit. Jika sore ini sudah baik maka semua bisa pulang hari ini.

“Dari 27 itu, 24 insyaallah clear pagi ini bisa pulang, yang 3 nunggu observasi lagi, tapi mudah-mudahan sore juga bisa pulang jadi Insya Allah mereka sudah dalam kondisi baik,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa pasien yang dirawat di RSI Siti Hajar mengaku mengalami mual dan pusing. Mereka baru diperbolehkan meninggalkan rumah sakit apabila keluhan tersebut sudah tidak rasakan oleh pasien.

“Saya tanya kepada pasien mual dan pusing sudah tidak ada tapi yang Insya Allah sudah clear bisa pulang pagi ini 24 dari 27 pasien,” tegasnya.

Sebelumnya pada Selasa (1/9)sebanyak 664 korban diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Korban terbanyak dari Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Sidoarjo.

Selain Ponpes Manba’ul Hikam, terdapat 18 lembaga pendidikan lain di hari yang sama yakni sejak Selasa (1/9) sore. Sejumlah satuan pendidikan lain mengalami kejadian serupa dan seluruhnya memiliki kesamaan yakni menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (1/9).

Per tgl 02 September 2026 Jam 22.00 WIB diperoleh data total 664 pasien korban yang mendapatkan perawatan medis baik di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya dan di pesantren.

Dari jumlah itu sebanyak 77 pasien diantaranya sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit, 581 pasien rawat jalan, dan 6 pasien dalam observasi.

Keseluruhan korban mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan antara lain RSUD N.T. Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, RS Anwar Medika, RS Assakinah Medika, PKM Porong, RS Rahman Rahim, Puskesmas Tanggulangin, Bidan Praktik Mandiri, Dokter Praktik Mandiri, dan pengobatan di Pesantren. 

Sementara itu Priani (43) Ibu dari salah satu pasien atas nama Muhammad Zaidan Maulana kelas XII Madrasah Aliyah menyampaikan terima kasih dan bahagia atas perhatian yang diberikan Gubernur Khofifah kepada putranya. Ia berharap kejadian ini menjadi yang terakhir dan tidak terjadi kembali.

“Alhamdulillaah saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah atas perhatiannya terhadap anak-anak yang tertimpa musibah, senanglah kami dapat perhatian dari pemimpin Jawa Timur, mudah-mudahan jangan terulang lagi, ini yang terakhir,” ucapnya.***poedji

Angin Kencang Terjang Wilayah Sidoarjo, BPBD Jatim Respon Cepat Serahkan Bantuan kepada Warga

SIDOARJO, JAYAKARTA NEWS— Angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sidoarjo, Minggu (4/2), langsung direspon cepat Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto.

Bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Tim Bidang Rekonstruksi & Rehabilitasi (RR), Kalaksa Gatot Soebroto langsung mengunjungi lokasi kejadian di Desa Kedungwonokerto Kec. Prambon dan menyerahkan sejumlah bantuan kepada warga terdampak, Senin pagi (5/2).

Selain meninjau sejumlah rumah warga terdampak, Kalaksa BPBD Gatot Soebroto juga meninjau sejumlah fasum yang mengalami kerusakan, di antaranya, Musholla Waqaf Al-Hijrah di Dusun Tanggungan Barat Desa Kedungwonokerto dan SDN Kedungwonokerto di lokasi setempat.

Dalam kesempatan ini, Tim BPBD Jatim juga menyerahkan sejumlah bantuan di antaranya, bantuan terpal sebanyak 60 pcs, sekop 12 unit, cangkul 5 unit dan sejumlah bantuan permakanan.

“Kita juga akan memberikan bantuan material untuk musholla dan sekolah yang terdampak, juga rumah milik warga disabilitas,” terang Kalaksa Gatot Soebroto.

Rumah disabilitas yang dimaksud adalah rumah Halim, warga yang tinggal di RT 5 RW 4 Desa Kedungwonokerto.

Sementara, bencana angin kencang yang terjadi Minggu sore (4/2), juga mengakibatkan seorang warga meninggal dunia atas nama Nur Kholilah (54), dua warga mengalami luka sedang, dan 21 rumah mengalami rusak ringan.

Berdasar assessment sementara BPBD Jatim bersama BPBD Kabupaten Sidoarjo, secara komulatif, kerusakan rumah di sejumlah desa di Kecamatan Prambon mencapai sebanyak 129 unit.

Selain di Prambon, kejadian angin kencang juga terjadi di wilayah lain, seperti, di Kecamatan Krian, Balongbendo dan Kecamatan Tarik, dengan dampak keseluruhan mengakibatkan 225 unit rumah mengalami rusak ringan.*** poedji

Resepsi Puncak Satu Abad NU Jadi Berkah Bagi Ratusan PKL di Sekitar GOR

SIDOARJO, JAYAKARTA NEWS– Resepsi  Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Gelanggang Olahraga (GOR) Delta Sidoarjo menjadi berkah tersendiri bagi ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL). Pedagang seperti nasi bungkus, minuman ringan, peci serta baju takwa khas NU ini, laris manis diserbu pembeli.  

Para PKL yang juga berasal dari dan luar Sidoarjo ini, tersebar di alun-alun hingga jalur-jalur perkampungan dengan radius satu kilo meter di sekitaran GOR Delta Sidoarjo.

Salah satu yang merasakan adalah Husain, pedagang peci yang mangkal tak jauh dari pintu utama stadion. Lelaki paruh baya ini mengaku, sejak empat hari berdagang mampu meraup pendapatan hingga jutaan rupiah.

“Alhamdulillah omzet penjualan cukup meningkat dibanding hari biasa bahkan dibanding Minggu sekalipun,” katanya Selasa (7/2).

Husain mengaku seringkali berjualan di berbagai event. Namun, Resepsi Puncak Satu Abad NU ini benar-benar berbeda, karena yang datang bukan hanya masyarakat Sidoarjo saja, tetapi dari seluruh wilayah Jawa Timur, bahkan ada yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia.

“Sejak Sabtu saya sudah bedagang di lokasi ini, harga dagangan saya seperti kaos, peci, dan baju takwa sangat terjangkau mulai dari Rp35 ribu hingga Rp120 ribu,” tuturnya.

Hal senada juga diakui pedagang nasi bungkus dan minuman ringan di perumahan Pondok Jati, yang sengaja memanfaatkan momen seratus tahun sekali ini, untuk meraup rejeki.

“Saya tahu kalau banyak panitia dan simpatisan NU membagikan nasi bungkus dan air mineral gratis, tapi saya yakin masih bisa mendapatkan rejeki, alhamdulillah dagangan saya laris manis,” ungkap Wati sambil tersenyum.

Pada Selasa hari ini saja, Wati mengaku mampu menjual lebih dari 100 gelas kopi dan teh manis, serta 60 nasi bungkus. “Itu belum termasuk keripik dan roti bakar, kalau di rupiahkan sejak pagi hingga siang tadi, saya dapat uang lebih dari satu juta,” tuturnya.

Sebelumnnya, Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali memperbolehkan PKL, termasuk pedagang di sekitaran kawasan GOR Delta Sidoarjo beraktivitas. Selain agar perekonomian tetap jalan, keberadaan para pedagang itu juga dibutuhkan ribuan warga nahdliyin yang bakal memadati Sidoarjo.

“Kita telah melakukan sosialisasi kepada teman-teman penggerak ekonomi di sekitar GOR untuk tetap buka walaupun malam. Keberadaan mereka akan membantu para tamu yang hadir untuk dapat menikmati produk-produk Sidoarjo,” kata
Ahmad Muhdlor.

Setelah pembukaan yang dilakukan Presiden RI Joko Widodo di pagi hari,  pada Selasa siang hingga sore hari, akan ada penampilan Karnaval Nusantara dan Nahdlatul Tujjar Fest. Karnaval tersebut menampilkan puluhan jenis tarian.

Sejumlah jalan yang akan dilalui adalah Jalan Cokronegoro, Jalan Sultan Agung, Jalan Teuku Umar, Jalan Pahlawan dan berakhir di GOR Delta Sidoarjo.

Acara Karnaval Nusantara akan dibuka Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali. Adapun Nahdlatul Tujjar akan dihadiri sejumlah menteri seperti Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Pada malam hari bakal disajikan hiburan rakyat. Sejumlah artis dalam dan luar negeri akan ikut meramaikan antara lain Slank yang akan berkolaborasi dengan Ikatan Seni Hadrah Indonesia dan Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas.

Kemudian ada Raja Dangdut Rhoma Irama yang akan berkolaborasi dengan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf dan Maher Zain yang akan berkolaborasi dengan Menteri BUMN Erick Thohir. Duet Cak Lonton dengan Akbar akan memandu acara ini. (poedji)

Kampung Logam Ngingas Sidoarjo Menggeliat Lagi

SIDOARJO, JAYAKARTA NEWS–Suara logam yang beradu dengan alat pemotong di Desa Ngingas, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, sudah berbunyi kembali. Sempat lama “membisu”. Persisnya sejak pandemi Covid-19 melanda tanah air.

Hampir dua tahun suara tang..tang..tang itu jarang terdengar. Imbas pandemi memang menaklukan semua sektor, sehingga usaha apa saja bisa dikatakan kembang kempis berkepanjangan. Pengrajin besi yang membuka usaha di kampung logam banyak yang tidak kuat menahan perusahaan akibat terbebani pembelian bahan baku yang naik tajam dan pemberian honor pegawainya.

Beban berat terutama dialami oleh UMKM yang memproduksi barang karena mengandalkan pemasaran. Jadi kalau pemasarannya tidak jalan tentu produk yang dihasilkan tidak bisa dijual.

Beda dengan perusahaan yang mengutamakan jasa karena produknya sesuai pesanan. Dan rata-rata mereka mempunyai langganan tetap. Hal inilah yang membuat perusahaan masih bisa hidup walau pandemi berlangsung. “Jeritan” UMKM tersebut dikemukakan oleh Kepala Desa Sami’an kepada Jayakartanews.com saat ditemui di kantor Desa Ngingas belum lama ini.

Menurut dia pandemi membuat sebagian warga khususnya yang bekerja di sektor kerajinan logam, harus memutar otak bagaimana bisa eksis menerima kenyataan tersebut. Pihaknya mengakui sangat berat beban yang dipikul para pengrajin. “Tapi Alhamdulillah tetap hidup walau dengan segala cara,” katanya sembari menambahkan saat ini mereka mulai bangkit.

Salah satu pekerja melakukan aktivitas di kawasan kampung logam (foto:poedji)

Dalam pada itu Sekdes Syamsul Huda yang mendampingi Kepala Desa, mengatakan ada sekitar 320 pengrajin besi yang ada di wilayah Ngingas. Produksi yang dihasilkan juga bermacam-macam seperti alat pertamanan, alat rumah tangga, peralatan listrik dan semua yang terkait dengan logam ada disini.

Ia juga merasa lega karena UMKM di desanya sudah mulai menggeliat dan bangkit kembali dari keterpurukan. Hal itu bisa dilihat sepanjang jalan sekitar Ngingas yang ada perusahaan besi sudah ramai yang datang dan pegawainya mulai bekerja.

Sementara itu menurut Syamsul Anam, pengrajin yang memproduksi spare part kendaraan bermotor melalui perusahaannya Aji Batara Perkasa(ABP) mulanya tidak terpikirkan pandemi bisa membuat “terjun bebas” usahanya.

“Pandemi membuat usahanya sulit bergerak karena barang tidak bisa dijual sementara harga bahan baku melonjak tinggi,” tuturnya kepada penulis.

Anam yang asli Ngingas mengakui sudah menekuni usahanya hampir 20 tahun dan berjalan baik bahkan maju karena produksinya bisa dikirim ke seluruh kota di Indonesia. Tapi begitu pandemi melanda secara perlahan usahanya menurun. Bahkan penurunan produksi itu membuat pihaknya harua putar otak mensiasati bagaimana peruaahaan tetap jalan.

“Saya dengan terpaksa membuat aturan karyawan masuk 3 hari dan 3 hari di rumah karena untuk mengatur perputaran uang yang masuk dan keluar,” katanya.

Sekarang lanjut dia, aturan tersebut sudah tidak diterapkan lagi dengan perkembangan ekonomi yang mulai baik.

“Saya optimis ke depan akan bertambah baik lagi karena pandemi sudah mulai menurun,” tandasnya sembari menambahkan walau keuntungan sangat jauh dari biasa pihaknya tetap bertahan sampai kondisi normal kembali.

Dalam pada itu pengrajin lain, Zainuddin yang memproduksi tenda mengatakan hal yang sama. “Saya juga mengalami apa yang dialami penrajin lain yakni terpuruk karena pandemi,” tegasnya. Tapi pihaknya beruntung dalam situasi terjepit ada pemesanan tenda yang lumayan banyak. Tenda-tenda itu dipesan untuk tempat petugas saat menyekat dijalan-jalan yang sudah ditentukan.

Namun stok besi yang ada habis karena untuk beli bahannya kesulitan karena banyak penyekatan dan juga harganya cukup tinggi. Untuk itulah ia memakai stok yang ada hingga habis.

Sekarang dia memulai perjalanan baru untuk memproduksi tenda walau terbatas tidak seperti dulu. “Yang pesan dulu dari berbagai daerah sampai keluar Jawa,” kata Zainuddin.

Sementara itu Yoyo, pengrajin potong plat yang dihubungi terpisah menyebut pihaknya juga terkena imbas pandemi tetapi tidak begitu hebat seperti teman-temannya yang menawarkan produlsi. “Saya punya langganan tetap dan sebagian baru, datang untuk urusan potong mempotong plat dan sekaligus membentuknya,” tuturnya.

Bahkan sekarang ini pihaknya sudah merasa normal kembali. “Semoga situasi ini terus dipertahankan dengan tidak ada pandemi dan juga ekonomi Indonesia semakin baik,” harapnya.

Menuju Desa Wisata Edukatif

Melihat situasi ekonomi Desa Ngingas yang semakin membaik ada keinginan dari pejabat desa dan juga warga untuk membuat desanya menjadi “Desa Wisata Edukatif”.

Gayung bersambut karena UMKM yang ada disana setuju akan rencana tersebut. Salah satunya adalah Syamsul yang mengatakan pihaknya sebagai obyek dalam rencana itu mendukung sepenuhnya.

Keinginan itu tersendiri tercetus dengan banyaknya kunjungan tamu khususnya para pelajar dari Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) ke Desa Ngingas. Mereka tidak saja datang dari wilayah Jatim saja tetapi juga dari luar Jatim seperti Jateng.

Kedatangan mereka akan disambut dengan aparat desa dan diarahkan ke Balai Desa untuk diberi penjelasan tentang profil desa.

Baru setelah itu rombongan pelajar akan diajak keliling melihat UMKM yang banyak bertebaran dan akan dilihat sesuai bidang yang menjadi pilihan para pelajar.

Desa Ngingas yang luasnya 198 hektar itu sebagian warganya bekerja sebagai pengrajin dan itu sudah turun temurun mengingat lahan disana tidak cocok dijadikan lahan pertanian.

Jumlah penduduknya dikisaran 14.000 tidak ada yang jadi petani. Warga disana bekerja sebagai pengrajin, swasta dan ada PNS atau karyawan swasta.

Menurut Sami’an selaku Kepala Desa dalam waktu dekat ini akan mensosialisasikan rencana desa yang menjadi Desa Wisata Edukatif.

“Langkah awal kami akan meminta para UMKM memberikan kaos kepada para pegawai yang di belakangnya ada tulisan Desa Wisata Edukatif. Kaos itu dipakai 3 hari sekali sekaligus memviralkan rencana desa,” katanya.

Kalau semuanya berjalan dengan baik pihaknya akan melaunching rencana itu dengan mengundang Bupati atau Gubernur Jatim. (poedji)

Dari Pagerngumbuk untuk Indonesia Emas

JAYAKARTA NEWS— Warung kopi yang  dilengkapi fasilitas Wi-Fi di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo acap dikunjungi anak-anak muda tanggung, seusia SMP. Kadang masih dengan seragam sekolahnya, biru putih.  Juga yang lebih senior, pelajar SMA/ SMK dengan uniform-nya, abu-abu-putih. Jelang petang baru pulang. Kadang saat adzan mahgrib mereka masih nongkrong di sana.

Di Warnet pun tak jauh beda. Di warung internet ini banyak anak SD bermain game online. Mereka tampak asyik sekali dengan permainannya.  Keasyikan semacam itu tidak hanya mengepung desa Pagerngumbuk. Desa-desa tetangga juga seperti dirasuki  “kegilaan” serupa pada internet. 

Ternyata “kegilaan” anak-anak tersebut berkebalikan dengan apa yang dirasa  Achmad Irfandi (28), pemuda  desa setempat.  Ia disergap kegelisahan melihat anak-anak berbetah-betah di warnet,  juga di warung-warung ber-Wi-Fi dengan telepon pintarnya, gadget atau gawai.  

Di puncak kegalauannya itu ia  dihujani rasa gemas, dibelit kecemasan  dan  ingin meronta. Pokoknya khawatir banget, katanya. Letupan-letupan pertanyaan bermunculan di benaknya. Mengapa orangtua mereka diam saja ? Apakah mereka tahu?  Apakah mereka mengira anak-anak mereka sedang belajar kelompok? Mengapa masyarakat juga cuek?  Mengapa  ini dibiarkan? Akan seperti apa Indonesia nanti kalau anak-anak keranjingan gadget seperti itu?

Kalau pun anak-anak itu  di rumah, kata Irfandi, aktivitasnya  banyak  bermain gadjet juga. Nonton youtube, bermain game, dan pelbagai komunikasi lewat media  sosial (medsos).

“Musholah jadi sepi. Waktunya ngaji ga ngaji. Waktunya belajar bermain, “  ujar  Irfandi menuturkan kegalauannya kepada jayakartanews, Jumat (24/12) pekan lalu.

Bermain gamelan di Kampung Lali Gadget

Klimaks kegalaunya itulah,  sarjana pendidikan   lulusan Universitas Negeri Surabaya 2016 ini  bertekad mendirikan suatu wadah kegiatan bagi anak-anak  agar tidak kecanduan gadjet. Itulah latar dia membentuk Kampung Lali Gadget (KLG) di desanya pada 11 April 2018 lalu.  Tujuannya sederhana,  Kampung Lali (lupa: Jawa) Gadget  adalah suatu wadah kegiatan untuk mengimbangi anak-anak dari  kecanduan gadjet.   

Menurut Irfandi, sang penggagas,  Kampung Lali Gadget merupakan sebuah program edukasi inovatif yang bertujuan untuk mengurangi kecanduan gawai pada anak. Kampung Lali Gadget  juga merupakan sebuah arena atau lingkungan bermain yang ramah anak.

Lingkungannya cukup adem. Di bawah rumpun pohon bambu rindang atau biasa disebut  barongan. Juga di bawah pepohonan yang rindang lainnya.  Di area milik warga setempat yang cukup luas inilah anak-anak diajak bermain dengan permainan tradisional, seperti gobak sodor, enggrang, kasti, dan lain-lain. Kadang bermain gamelan, wayang kulit di teras atau di halaman rumah warga. 

Kampung Lali Gadget bukan sebuah program yang menjauhkan anak-anak dari gawai  atau telepon pintar tersebut, namun lebih kepada mengimbangi penggunaan gawai pada anak dengan permainan tradisional.

“Kita tidak bisa ya melawan teknologi, tapi yang kita lakukan  mengimbangi. Memanfaatkan teknologi itu secara bijak. Jadi tidak menghilangkan teknologi tapi lebih pada  aspek-aspek pengembangan diri mereka, “ ujar Irfandi, Duta Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur 2017 ini.

Permainan tradisional di Kampung Lali Gadget

Irfandi,  pecinta dunia anak-anak dan selalu tertarik pada permasalahan pendidikan anak-anak, bertekad hendak mengembalikan anak-anak pada dunianya, dengan pijakan budaya kita. Menerapkan sosialisasi secara nyata, bukan selalu lewat medsos. Bersosialisasi dengan lingkungannya, bermain dengan teman-temannya,  bergembira dengan  permainan tradisional sekaligus mengembangkan folklor dan nilai-nilai budaya lokal yang penuh kearifan.

Konsen dia pada pendidikan, khususnya anak-anak merupakan  hal yang semestinya, aku Irfandi. Karena selain minat, dunia pendidikan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Juga merupakan   dasar atau pondasi bagi pemikiran dan penanaman nilai-nilai seseorang, lebih-lebih di saat masih anak-anak. Hal ini pula yang jadi pijakannya membentuk KLG.  

Pendidikan itu baginya adalah momentum menanamkan hal hal baik pada diri manusia. Pada anak anak adalah momen tepat sebelum mereka terpapar banyak hal negatif dalam kehidupan ini.

“Pendidikan adalah upaya perubahan. Mengubah dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dari yang tidak berkarakter menjadi berkarakter, “  ujar Irfandi.

Senada dengan pandangannya,  pernyataan tokoh berikut juga menegaskan  bahwa “Pendidikan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini,” kata Malcolm tokoh muslim Afrika-Amerika, pejuang hak asasi manusia.

Dan Irfandi, ingin turut ambil bagian mempersiapkan dan mewarnai masa depan anak-anak itu yang selaras dengan akar budayanya,  kearifan lokalnya, seperti nilai-nilai gotong royong, musyawarah, dan lainnya. Ia juga berusaha sedini mungkin memperkenalkan anak-anak  untuk mencintai bahkan gandrung pada literasi, membaca dan menulis.  Karena itu literasi ini termasuk juga dalam kegiatan KLG.  

Dari proses pendidikan dan pengajaran yang kita alami, kata Irfandi, esensinya belum kita dapatkan secara maksimal pada pendidikan formal kita saat ini. Kita sepertinya lebih  diajak untuk menghafal dan berkompetisi. Lalu ditentukan nilainya, rangking ke berapa, IPK berapa, ujian, dsb

Esensi yang diharapkan tentu kecerdasan dan penalaran, kepekaan sosial dan insan yang berkarakter lebih baik. “Kita hampir tidak pernah diajarkan berkolaborasi dan berkontribusi terhadap perubahan peradaban dunia, “  tutur Irfandi yang telah menyelesaikan pendidikan Strata 2 (2021) pada Jurusan yang sama dengan Strata 1 yakni Bahasa dan Satra Indonesia di Universitas Negeri Surabaya.

Mewariskan Budaya dan Karifan Lokal

Irfandi pemuda kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur 12 Mei 1993 ini menyadari betapa melesatnya teknologi telekomunikasi, informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa perubahan besar dalam peradaban dunia. Dan produk teknologi itu sampai kepada kita dalam bentuk gadjet atau gawai. Telepon pintar itu membuka cakrawala luas  jagat ini,  namun menurutnya,  keberadaannya belum  ditangkap secara tangkas dan bijak.

Achmad Irfandi, pendiri Kampung Lali Gadget

Kemudian banyak orang mengatakan,  dunia dalam genggaman. Atau dunia dalam saku kita. Dengan gawai itu  setiap orang berpeluang untuk tahu, melihat dan mengunduh khasanah pengetahuan dan informasi penting lainnya.  Namun fenomena dan realita yang dilihat Irfandi di desanya dan desa-desa sekitarnya, sangat merisaukannya. Mungkin ini juga terjadi di banyak tempat. Sisi negatif dari kegandrungan yang berlebihan pada penggunaan gadjet.

Anak-anak  yang kecanduan gadjet tampak lebih akrab dengan teman-teman sosialnya di jagat maya itu, tapi kurang bergaul dengan teman-teman di lingkungannya, dengan teman-teman tetangganya sendiri. Kadang  anak-anak juga  acuh tak acuh untuk menyapa teman-temannya itu.

“Menyapanya di medsos.  Ketika nge-chat orang kadang kurang  sopan, ga pakai salam, ga pakai assalamualaikum, tapi pakai…..,ping,….. ping! Gitu, “ujarnya menirukan bahasa sapa kalangan mileneal.

Sebagai founder, dengan membentuk  KLG ada titik yang ingin disasar sebagai tujuan besarnya yakni   Masyarakat Indonesia yang bijak menggunakan gadjet,  Mewariskan  budaya dan kearifan lokal Indonesia pada generasi emas, serta Terbentuknya generasi emas yang tidak bisa didekte teknologi, namunmenguasai  atau mengendalikan teknologi.

Adapun  tujuan spesifiknya Irfandi merincinya dalam beberapa target,  meliputi ;

a. Mengurangi ketergantungan gawai pada anak

b. Mengurangi efek negatif penggunaan gawai yang berlebihan pada anak (game online, media sosial, youtube, dll)

c. Mengajarkan permainan tradisional, seni budaya, kearifan lokal, kuliner, dan

sebagainya pada anak-anak

d. Mengangkat iklim literasi (budaya  baca tulis) di masyarakat, terutama anak-anak

e. Mengurangi paparan informasi bohong (hoax) yang hadir dalam media sosial

f. Mengangkat potensi desa menjadi desa edukasi (pengubahan mindset) dan

berdampak  pada pariwisata sehingga  mampu mengangkat perekonomian masyarakat

g. Memantik inovasi dan aktivitas pemuda di desa-desa secara kreatif

h. Memberi pemahaman orang tua tentang pengasuhan di era teknologi gawai

i.  Membentuk kampung ramah anak

j.  Meningkatkan kesadaran masyarakat akan besarnya  resiko kecanduan gawai

Bukan Hanya Anak-anak

Menurut Irfandi, putra dari  Khoiril Anam dan  Siti Mas’udah ini,  bukan hanya anak-anak sebenarnya yang  sering kebablasan dalam penggunaan  gadjet. Penyakit kecanduan gadjet ini juga menimpa orang dewasa, lalu nilai-nilai pun pudar dan kadang hilang. Kalau dulu orang menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah. Sekarang  dengan sindiran-sindiran di medsos, sehingga tidak menyelesaikan masalah. Bahkan muncul masalah baru.

Segala isu di muka bumi ini tampaknya bisa dilihat lewat internet kita.  Dari isu yang biasa-biasa saja hingga yang luar biasa. Dari yang atraktif hingga yang sensitif. Dari yang sekadar mbanyol (ngelawak)  hingga yang konyol. Dari petuah yang bikin pikiran segar hingga hal-hal yang sangat vulgar. Dan tak ketinggalan  informasi atau pesan-pesan yang sakral hingga  profan.

Termasuk yang miris dan nggegirisi, kata Irfandi, adalah berita atau  “atraksi” pornografi dan kekerasan.  Semua bisa diakses dengan mudah bahkan oleh anak-anak. Pada  genggamannya. Dari saku atau dari tasnya. Pintu internet kita benar-benar terbuka.

Ia  mengaku  belum   memahami mekanisme saluran internet kita. Mungkin para pakar atau otoritas bidang TIK yang bisa menjelaskan. Tapi berdasarkan pengalamannya,  kontrol sensor untuk internet kita lemah.

“Buktinya banyak anak yang bisa akses pornografi atau terpapar iklan dewasa pada ponselnya, “ ucap Irfandi lagi.

Fenomena itu menambah galau Irfandi sehingga untuk membentuk dan merealisasikan kegiatan-kegiatan KLG  kala itu – hampir empat tahun silam tak bisa dibendung lagi. Selain itu, ada satu arah yang dia pikirkan jauh ke depan. Bagaimana Indonesia nanti jika  keranjingan anak-anak terhadap gadjet seperti itu?  Bukankah anak-anak yang sekarang kecanduan gadjet itu pada 2045 nanti akan menjadi penerus bangsa ? Pemimpin bangsa ?

Karena itu, dalam kiprah KLG, kata Irfandi,   Indonesia Emas nanti jadi target limit awalnya.  Ia ingin ikut mewarnai wajah Indoesia di usia emas itu dari khasanah budaya, potensi, dan nilai-nilai Indonesia sendiri. Indonesia gemilang dan sejahtera namun dalam corak karakter ke-Indonesia-an sejati.

Apa yang dicetuskan Irfandi  tentang KLG pada April 2018, ternyata juga menjadi kerisauan China.  Dalam sebuah artikel di Harian Kompas 20 September 2021 menyebutkan,  Ambisi Xi Jinping mewujudkan China yang sejahtera, berkeadilan, dan menjunjung tinggi nilai sosialisme Partai Komunis China mulai merambah ke dunia internet. Sebelumnya, pemerintah membatasi akses informasi masyarakat terhadap konten sensitif, seperti isu Xinjiang, Tibet, dan demokrasi di Hong Kong. Baru-baru ini, giliran industri game daring, pengimbas atau influencer, dan warganet yang menjadi sasaran.

Pesan Partai Komunis China (PKC) ialah segala sesuatu yang diproduksi atau disebarluaskan di China wajib menjunjung nilai-nilai budaya China kontemporer. Apabila ada produk, kegiatan, ataupun layanan yang tidak menganut nilai tersebut, pemerintah akan bertindak tegas.

Di bagian lain disebutkan, …. kantor berita Xinhua menerbitkan tajuk rencana yang menuduh game daring sebagai candu spiritual. Alasannya, tua-muda masyarakat China keranjingan bermain game daring sehingga lupa waktu. Akibatnya, rakyat lupa nilai-nilai PKC, yakni bekerja keras dan berkontribusi pada pembangunan nasional.

Langkah Kecil Berjejaring

Irfandi, kelahiran 12 Mei 1993  yang masih tergolong pemuda  mileneal,  turut bergegas ingin menyelamatkan anak-anak dari kecanduan gadjet yang disebutnya sebagai langkah kecilnya. Langkah kecil itu dimulai di kampung halamannya,  Desa Pagerngumbuk dengan membentuk KLG. Namun kini langkah kecilnya itu bersama komuntas pemuda  terus melebarkan jejaring dan berkolaborasi dengan daerah lain di luar Sidoarjo.

Yang belum lama dilakukan adalah berkolaborasi dalam kegiatan literasi dengan komunitas penggiat literasi di Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang,  dan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Bermain di sawah

KLG telah berhasil mewujudkan kampung ramah anak. Pagerngumbuk dipandang sebagai desa yang menjadi pusat kegiatan anak-anak. Menghidupkan permainan tradisional dan upaya pelestarikan budaya lokal. Menyemarakkan kegiatan literasi di kalagan anak-anak.

Berkat inisiatif dan inovasinya membentuk KLG, pada tahun 2021 ini Achmad Irfandi, warga  Dusun  Bendet RT 02/03, Desa Pagerngumbuk,

Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jatim  mendapat penghargaan Satu Indonesia Award dari Astra  untuk kategori Pendidikan

Ia tergolong pemuda aktif. Kegiatan organisasi, pengabdian dan capaiannya antara lain :  Ketua Komunitas Wonoayu Kreatif  2017 – sekarang, Penulis buku BDBA SMPN 10 Muara Teweh, Barito Utara, Kalteng 2016,  Founder Gerakan Darjoisme (2017),  Founder Program Kampung Lali Gadget (2018),  Pengurus KPOTI Jawa Timur 2019,  Duta Pemuda Indonesia Provinsi Jawa Timur 2017,  Ketua DPC PPMI Kabupaten Sidoarjo (2018),  Sekretaris BUMDES Pagerngumbuk (2018),  Anggota Rotaract Club Of Sidoarjo, Rotary D3420 Indonesia (2019),  Pemuda pelopor Sidoarjo Bidang Pendidikan 2017 & 2018,  Pemuda Pelopor Jatim Bidang Pendidikan 2019 – 2020,  Co Founder Lintas Komunitas dan OKP Kab Sidoarjo (2018),  Humas Yayasan Rehabilitasi Korban Narkoba Jatim 2020,  Penyusun Materi Pembinaan Organisasi Kesiswaan Kemendikbud 2020

Kecanduan Gadjet Juga Spesifik

Bagaimana KLG memulai  kiprahnya? Tentu tidak mudah.  Ketika memulai menerapkan kegiatan seperti yang tercermin dari tujuan spesifik KLG, Irfandi  menggandeng teman-teman komunitas. Mulai komunitas kepanduan, literasi, komunitas budaya, dan teman-teman yang memiliki kepedulian sama terhadap dunia anak-anak terutama terkait pendidikan.

“Jadi kami tidak menggandeng warga lokal dulu, tapi justru teman-teman komunitas dari luar desa  bahkan di luar kabupaten, “ paparnya.  Karena strateginya, kata sulung dari 3 bersaudara ini, orang itu butuh bukti dulu, tidak langsung diajak merintis dari awal. Itu akan susah, dan tidak akan nyambung pemikirannya. Maka kami gandeng komunitas dari luar untuk merintis.

Kesulitan ketika memulai  ya pasti  dana, lalu sumber daya manusia (SDM). Tenaga, itu yang  susah. Kendala besarnya adalah mindset masyarakat yang masih mendewakan gadjet sebagai  kebutuhan pengasuhan anak

“Alhamdulillah,  sekarang warga mulai sadar dan ikut-ikut kontribusi, “ jelas Irfandi. Kontribusi warga diantaranya  merelakan lahan, kebun, halaman rumah , dan  ada juga teras rumahnya dimanfaatkan untuk kegiatan KLG.

Respon yang tumbuh dari warga, dari masyarakat sekitar dipandang bisa lebih  mengakar. Ia yakin suatu kegiatan, suatu pergerakan yang tumbuh dari bawah itu punya nyawa beneran. Kalau tumbuh dari kebijakan, dari program ya nyawanya dari anggaran. Ga ada anggaran ga jalan.

KLG kemudian menggeliat menjadi arena bermain anak, mereka bisa bergembira dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Di area itu bisa tereksplor permainan tradisional seperti bermain dakon, gobak sodor, kasti, dan lain-lain. Juga bermain wayang, berlatih gamelan.

Menurutnya, segala kegiatan yang dilakukan didanai secara  swadaya, dengan iuran , donasi masyarakat sekitar, dan hasil jualan. KLG jualan produk mainan, dan sekarang  juga jualan jasa riset pengembangan desa

Ia memang memerlukan dukungan pemerintah, tapi bukan anggaran.   “Kami ingin  mengganggu kebijakan (pemerintah), “ tuturnya.  Mengganggu yang dimaksud adalah intervensi agar Pemkab Sidoarjo bisa membuat kebijakan  yang  mengarah pada penyelesaian masalah, seperti  problem kecanduan gadjet ini. Menurut Irfandi,  kecanduan gadjet problem spesifik juga seperti narkoba, juga kekerasa anak.

Ia sudah membaca Raperda Kabupaten Sidoarjo. Memang diakui, banyak hal spesifik yang dibahas, misalnya menyasar anak-anak dengan HIV/ AIDS,  menyasar anak-anak korban nakoba,  anak-anak korban kekerasan seksual. Tapi, Raperda itu belum menyasar bagaimana mengatasi/ mengamankan anak-anak dari internet, mengamankan anak-anak dari media sosial, dari kecanduan game online.

 Kalau maunya spesifik,   saya kira ini juga spesiafik. Sudah terjadi banyak korban, ini juga berdampak pada  kekerasan, pada pornografi, pada narkoba. Kalau mau dirunut, kata Irfandi bersemangat, ya dari internet. Kenapa dampak internet ini tidak diperdulikan untuk masuk dalam Raperda, untuk UU Perlindungan Anak. Justru ini hulunya. Mereka tampaknya belum memikirkan itu. Dipikir internet itu positif terus dan bermanfaat terus.

“Dalam Raperda yang saya baca, masalah kecanduan anak pada gadjet itu tidak ada. Padahal ini problem juga. Hampir setiap keluarga, anak-anaknya kecanduan gadjet, “ ujarnya menandaskan..

Irfandi sudah melakukan pendekatan dengan  Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan  Masyarakat  Kelurahan (P3A dan PMK) Kab. Sidoarjo  untuk intervensi Raperda Kabupaten Layak Anak. Sebab, kata Irfandi, Sidoarjo itu sudah dinobatkan sebagai kabupaten layak anak tingkat menengah. Namun kekerasan masih sering terjadi. Kasus yang mencabuli anak-anak itu masih banyak. Lalu, dengan “intervensi” itu ia berharap Pemkab tidak hanya  responsif ketika terjadi kasus, tapi segera  mengupayakan  langkah preventifnya. Itulah jurus intervensi KLG.

Salah satunya, menurut Irfandi,  ya Pemkab membangun pusat-pusat edukasi anak, membangun pusat-pusat kesibukan anak, membangun pusat-pusat perlindungan anak yang banyak di kampung-kampung di Sidoarjo ini. Kita mau intervensi itu supaya Dinas P3A dan PMK  membangun kampung-kampung layak anak.

“Tapi kita kasih contoh dulu ya melalui kegiatan KLG ini. Kita kasih contoh dengan  beberapa kampung yang kita dorong menjadi kampung yang ramah anak, “  ujar Irfandi. Hingga kini  ada 10 kampung di Kecamatan Wonoayu  yang berjejaring dengan Desa Pagerngumbuk untuk menjadi kampung ramah anak.  “Nanti kita tunjukkan. Artinya, kita tidak minta anggaran. Tapi kita ingin intervensi kebijakan, “  tegasnya pula. .

“Ini lho, kami yang swadaya bisa  mengadakan kampung ramah anak. Dan Pemkab yang didukung anggaran tentu lebih mampu membuat kegiatan atau menyediakan sarana yang jauh lebih baik. Taman-taman bermain yang layak anak, lingkungan yang ramah anak “ tukasnya. 

Jadi Perhatian

Meski dianggap pelan tapi langkah KLG di  Pagerngumbuk yang berpenduduk 2.968 jiwa (2020) akhirnya menjadi perhatian publik sebagai kampung ramah anak, tempat kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak.

“Kami senang kalau makin banyak orang yang terinspirasi mau bergerak di Sidoarjo. Itu yang saya lihat. Kegelisahan banyak orang itu terwakili. Ada yang mau mencoba menyelesaikan permasalahan itu, “ ujarnya.

Kalau dari sisi ekonomi, UMKM mulai tumbuh di sekitar tempat kami Minimal di saat ada event warga memanfaatkan peluang untuk berjualan. Sedangkan dari segi budaya jelas ada upaya pelestarian.

Dari 10 objek pemajuan kebudayaan, KLG mewakili dua objek yaitu pelestarian permainan rakyat dan olahraga tradisional, termasuk folklor karena  permainan tradisional juga termasuk folklor.

Dukungan masyarakat dirasa menjadi energi untuk terus  mengembangkan KLG. Pak RW yang merupakan tokoh masyarakat setempat sangat mendukung sejak awal. Pemerintah desa pun mendukung dalam bentuk perizinan dan kadang juga meminjamkan alat-alat seperti sound system. Dan belakangan dirasa makin lengkap karena Pak RT-nya  juga  mendukung.

Tahun lalu, kata Irfandi, dua kandidat Bupati berkenan mengunjungi Pagerngumbuk jelang Pilkada di Kabupaten Sidoarjo. Tak ketinggalan juga dukungan wakil rakyat atas kegiatan-kegiatan KLG, meski sifatnya normatif.   Dan tentu dukungan media massa,  baik lokal maupun nasional  acap mempublikasikan kegiatan-kegiatan KLG ini.

Kiprah KLG tidak cukup di situ. Menjadikan desanya sebagai kampung ramah anak, pusat kegiatan anak. Dari permainan hingga literasi dan pelestarian budaya. Mimpi-mimpi atau gagasan pun akhirnya  bekembang. 

“Kami ingin membentuk suatu entitas pendidikan dimana anak-anak bisa  belajar langsung dari alam, dari kondisi nyata, dari desa. Membuat sekolah berbasis desa, kemudian membentuk jejaring para penggerak, minimal di seluruh Kabupaten Sidoarjo, “.

Pada peringatan Indonesia emas nanti,  2045, targetnya ada 100 ribu penggerak di kabupaten Sidoarjo. Nah itu tentu memerlukan strategi bagaimana menumbuhkan banyak penggerak yang tersebar di desa-desa yang jumlahnya 253 desa di Kabupaten  Sidoarjo.

Sekarang baru 15 orang pemuda, usianya 20-an tahun. Kadang jika ada kesibukan dan bersamaan dengan kegiatan lain, dengan  5 orang pemuda pun kegiatan KLG tetap jalan. Dan setiap event besar yang rutin diadakan tiap 2 bulan sekali, setidaknya melibatkan 3-5 komunitas. Misalnya pertandingan dolanan anak, dan lainnya.  “Dengan tiga komunitas pun kegiatan tetap meriah, “ ujar Irfandi. Dan masyarakat bisa menyaksikan sendiri.

Ya, kita boleh bangga dan tersenyum atas langkah-langkah KLG. Terselip harapan besar karena yang bergerak dalam kegiatan KLG ini anak-anak muda, dipelopori pemuda  pula yang bergegas turut menyiapkan Indonesia Emas.  Energi Pemuda dikenal dahsyat, penuh vitalitas. Kita ingat jargon Bung Karno;  Beri aku 1000 orang tua, aku runtuhkan  Mahameru. Tapi beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia.***iswati

Uji Coba Perdana Tol KLBM, Masyarakat Gratis Melewati 2 Minggu

JAYAKARTA NEWS——- Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa secara perdana telah melakukan uji coba operasional Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM) dengan melakukan tapping kartu tol elektronik di Gerbang Tol Cerme, Gresik, Sabtu (28/11) pagi. Uji coba ini sendiri sengaja dilakukan untuk memastikan layanan Tol operasional KLBM mulai beroperasi.

Tol KLBM yang pembangunannya dimulai sejak tahun 2017 tersebut berjarak 29 KM. Selama dua minggu terhitung hari ini, masyarakat sudah bisa menggunakan Tol KLBM ini secara gratis.

Tak hanya tapping perdana, Gubernur Khofifah yang didampingi Dirut PT. Waskita Bumi Wira (WBW) Herwidiakto, Kepala BPJT Danang Parikesit dan beberapa Kepala OPD terkait di lingkup Pemprov Jatim juga mengecek langsung kondisi Jalan Tol KLBM mulai dari Gerbang Tol Cerme hingga Pintu Tol Legundi. Kemudian rombongan Gubernur Khofifah putar balik menuju ke Pintu Tol Bunder Gresik.

Seusai melakukan tapping perdana, orang nomor satu di Jatim ini menjelaskan, Tol KLBM telah mulai dioperasikan untuk masyarakat umum. Dimana, sesuai dengan SK Menteri PUPR, dua minggu pertama ini semua masyarakat diberikan kesempatan melewati Tol KLBM secara gratis.

“Alhamdulillah, mulai hari ini atas izin Allah kita mulai operasikan Tol KLBM sepanjang 29 Km. Kita akan melihat progres finalisasinya. Di Km 13 akan disiapkan rest area. Format desain rest area cukup unik. Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat yang besar bagi seluruh layanan publik,” jelasnya.

Menurut Khofifah, Tol KLBM ini menjadi solusi efektif bagi konektivitas di Jatim khususnya ring satu industri di Jatim. Pihaknya pun menyampaikan, bahwa tol ini akan berkelanjutan sampai Manyar-Tuban. Konektivitas di antara titik-titik strategis di Jatim, terutama di sentra-sentra industri ring 1 butuh percepatan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi.

Dengan demikian operasionalisasi tol ini, lanjut Khofifah, menjadi titik penting untuk meningkatkan layanan publik kepada masyarakat terutama kaitannya dengan transportasi publik.

“Tidak hanya untuk masyarakat Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo dan Gresik, tetapi semua yang berkaitan dengan public transportation yang bisa kita maksimalkan efsiensi efektivitasnya. Utamanya, untuk membangun konektivitas sentra-sentra industri di Sidoarjo – Mojokerto-Gresik,” pungkas gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Sementara itu, Dirut PT. WBW Herwidiakto mengatakan, setelah dua minggu uji coba, rencananya biaya tol akan dikenakan sekitar Rp. 29.000 untuk jarak tempuh 29 Km. Harga tersebut dinilai lebih murah daripada operasional kendaraan logistik.

“Itu secara technical pasti lebih murah dari operasional kendaraan logistik. Baik dari sisi waktu, BBM, dan penggunaan mesin,” lanjutnya.

Terkait konektivitas Tol Surabaya-Mojokerto dengan Tol KLBM, ia menjelaskan, Tol Surabaya-Mojokerto masih lewat atas. Saat ini sedang dibangun dua ramp untuk konektivitas Mojokerto ke Krian-Legundi-Bunder, serta dari Krian-Legundi-Bunder ke Mojokerto. (poedji)

Keprihatinan Via Vallen Saat Kunjungi Dusun Terpencil di Sidoarjo

Via Vallen–foto instagram viavallen

JAYAKARTA NEWS—Meski  sudah menjadi penyanyi  terkenal seantero  negeri, namun  Via Vallen tidak lupa daerah asalnya, Sidoarjo, Jawa Timur. Berbagai undangan untuk manggung di daerahnya, ia berusaha penuhi. Manggung sekaligus pulang kampung bertemu dengan orangtua, keluarga juga orang-orang dekatnya yang selama ini menyokong kariernya di dunia hiburan.

Nah yang baru-baru ini  yang dilakukannya adalah mengunjungi Dusun Pucukan, daerah terpencil di Sidoarjo. Menurut Via sebagaimana dipaparkannya dalam di intagram miliknya, untuk mencapai tempat itu selain jalur darat dia juga harus melewati sunggai. “Dusun Pucukan wilayah terpencil di Sidoarjo. Untuk menuju tempat ini, selain menggunakan jalur darat, kami juga harus melewati sungai menggunakan perahu kurang lebih PP 3 jam,” tuturnya.

Instagram Via Vallen

Dulu, lanjut gadis kelahiran Surabaya Oktober 1991, mereka yang sudah tua lahir dan besar di dusun ini  hidup dengan fasilitas yang terbatas, tanpa listrik. Baru tahun 2015 listrik masuk dusun ini. Tanah yang mereka tempati bukan lah milik mereka melainkan milik pemerintah.

“Untuk mereka yang masih bersekolah harus menggunakan perahu untuk menuju sekolah. Karena, sudah 2 tahun ini jembatan yang menjadi akses mereka ke sekolah dan tempat lainnya, rusak. Kata mereka, selama ini sering diadakan pengukuran untuk pembuatan jembatan baru. Namun sudah 2 tahun ini belum terealisasi juga,” kata pedangdut yang mendapat julukan ‘Ratu Pop Koplo, ini.

Menurut Via, sebenarnya dia sudah menawarkan untuk membantu pembangunan jembatan baru tapi RW setempat memintanya untuk menunggu. “Saya sudah menawarkan bantuan untuk jembatan baru buat mereka, tapi kata pak RW tunggu dulu, karena baru-baru  ini banyak calon-calon wakil rakyat yang sudah datang ke dusun mereka untuk menjanjikan pembuatan jembatan baru,” jelasnya.
Warga berharap agar mereka yang berjanji membantu pembuatan jembatan baru segera merealisasikan janjinya. “Mereka (warga) Cuma ingin jembatan baru agar lebih mudah beraktivitas,” tandas Via.***ebn

Pencegahan Aksi Teror Lone Wolf Lebih Sulit

Polisi memasang police line di Rusunawa Wonocolo Taman, Sidoarjo, menyusul terjadinya ledakan bom pada sekitar pukul 21.10 WIB , Minggu (213/5/2018).

 

PUSAT  Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ), menyampaikan keprihatinan dan rasa duka yang mendalam terhadap para korban serangan teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.
“Kami mengutuk keras serangan  teror di beberapa Gereja di Surabaya dan Sidoarjo,” kata peneliti Puskamnas UBJ, Ali Asghar.
Ali mengungkapkan, serangan teror di Surabaya dan Sidoarjo menggambarkan adanya  tren evolusi terorisme yangg bergerak ke arah self-organizing terrorism (lone wolf). Para teroris bergerak secara otonom, dimana pelaku  dapatmembentuk jejaring/komunitas baru dengan mandiri, tanpa harus menyatakan afiliasi terhadap organisasi atau jejaring besar yang ada,  seperti ISIS atau Al-Qaeda.
Dia menilai, upaya pencegahan  aksi serangan teroris yang menggunakan metode lone wolf  lebih sulit. Masalahnya,  pelaku mengunakan media sosial sebagai sistem komunikasi, dimana mereka menggunakan  enskripsi yang ketat dan susah dilacak. “Oleh karena itu, diperlukan kerjasama semua komponen masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan aparat keamanan,” katanya.
Ali juga mendesak pemerintah  segera menyelesaikan pembahasan draft RUU terorisme, dengan tetap berpedoman pada pendekatan Criminal Justice System. UU tersebut harus memberikan penguatan fungsi intelijen kepolisian untuk bisa menindak para pekaku terorisme sebelum melakukan aksi.
Yang tidak kalah pentingnya, Ali menambahkan,  di tahun politik ini, perlu kesadaran para  elite politik untuk tidak mengumbar narasi-narasi kebencian berbasis agama.  “Itu  hanya akan memberi ruang terhadap aksi-aksi intoleransi yang berujung pada tindakan radikalisme dan terorisme,” tandasnya.