Memajukan Pariwisata Bersama GIPI

 Memajukan Pariwisata Bersama GIPI
Ketua GIPI Kepri Periode 2018-2023 Tupa Simanjuntak

Kepengurusan Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) periode 2018-2023 di Kepulauan Riau (Kepri) telah resmi dibentuk pada 12 Oktober 2018. Kepengurusan itu juga sudah dikukuhkan oleh Gubernur Kepri, H. Nurdin Basirun. Sesuai amanat UU Kepariwisataan No. 10 Tahun 2009 , bahwa untuk pengembangan dunia usaha pariwisata yang kompetitif, dibentuk satu wadah yang dinamakan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia.

UU itu memerintahkan pemerintah untuk membentuk Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI). Karenanya, kepengurusan GIPI setidaknya harus hadir di setiap provinsi  untuk bekerja sama-sama dengan pemerintah pusat maupun daerah membangun kepariwisataan daerahnya.

“Yang tergabung dalam keanggotaan GIPI itu terdiri dari asosiasi-asosiasi pariwisata seperti ASITA, PHRI, HPI, ASPPI dan lainnya, setelah bergabung nanti bersama-sama dengan pemerintah daerah dan pusat di Kementrian Pariwisata (Kemenpar) untuk membangun potensi kepariwisataan yang ada di daerah tersebut ataupun memperbaiki koordinasi-koordinasi yang ada, yang mana selama ini kan sendiri-sendiri, sehingga koordinasi tidak terjalin dengan baik akhirnya segala macam program yang diciptakan bagimana pun kurang berjalan dengan baik, intinya GIPI harus hadir sebagai untuk memperbaiki suatu koordinasi yang ada,” ujar Ketua GIPI Kepri Tupa Simanjuntak yang alumni BPLP angkatan kedua 1995, di Hotel Achmad Tahir, Kampus Poltekpar Medan, beberapa waktu lalu.

Setelah dilantik GIPI men-sosialisasikan keberadaannya, sebab masih banyak orang-orang yang belum mengerti, dan juga industri belum paham apa itu GIPI. Dalam satu bulan pertama melakukan audiensi, kemudian  menginformasikan bahwa GIPI sudah terbentuk dan menjelaskan tugas-tugas dari GIPI ke unsur-unsur Muspida pemerintahan daerah Kepri.

Dilanjutkan, “Jika kita berbicara Kepri apapun kegiatan-kegiatan pemerintah daerah langsung bekerjasama dengan GIPI, untuk mengsukseskan agenda yang dimiliki pemerintah setempat, seperti even, kegiatan-kegiatan dan sosialisasi pariwisata, maka GIPI siap menjadi pasangannnya untuk mempercepat soiasilisasikan apa aturan dari pemerintah daerah mengenai kepariwisataan,” jelas Tupa yang juga Ketua PHRI Batam.

GIPI juga turut dalam pengembangan destinasi, SDM pariwisata, juga sudah bekerjasama dengan industri lainnya, contohnya gipi sudah menandatangani MoU dengan BPJS Ketenagakerjaan Batam, apa yang akan dibuat oleh GIPI? Pertama akan membantu BPJS mensosialisasikan tentang pentingnya memiliki BPJS Ketenagakerjaan, baik mandiri maupun yang punya perusahaan kepada industri pariwisata contohnya restoran-restoran masih banyak yang karyawannnya diikut sertakan, itu akan kita sosialisasikan. Terus GIPI memiliki program pengembangan destinasi, BPJS juga memiliki program yang sama seperti menciptakan pasar sadar.

Apa itu pasar sadar, pasar sadar adalah seluruh pelaku-pelaku pasar sudah sadar memiliki BPJS, apa dalamnya kita hubungkan dengan kepariwisataan, contoh pasar wisata sadar, akan waktu dekat diimplementasikan di Kota Batam.

Kemudian GIPI juga sudah menandatangani kerjasama dengan Telkomsel, tujuannya untuk memberikan salah satu kenyamanan kepada para wisatawan dalam sisi informasi. Jadi GIPI memebuat Tourist Information Cantre (TIC), itu didukung penuh oleh telkomsel di pintu-pintu masuk wisatawan yang ada di Batam, misalkan dari pelabuhan di terminal ferry dan GIPI hanya baru bangun tiga sementara terminal pelabuhan ferry Batam ada 6.

Itu disupport penuh oleh telkomsel, tempat disediakan, pengadaannya juga, lantas apa yang gipi harus dukung? Kan ada program telkomsel seperti kartu tourist, pada saat wisman atau mancanegara masuk ke Kepri jadi GIPI bisa menawarkan kartu perdana tourist dengan best passport jadi wisman bisa menggunakan dengan 5G kuatonya, bisa  menelpon 200 menit telepon ke negarnya dan 200 kali sms. Dan program lain juga seperti ticash industri-industri KEPRI seperti restauran, hotel bagus dengan menggunakan ticash sehingga untuk tourist jadi mudah tidak perlu ke money changer.

Dan Tupa menjelaskan kepada Jayakartanews.com kedatangan ke Poltekpar Medan ini diundang oleh pihak Kampus Poltekpar Medan, sebagai narasumber atau juga pemberi motivasi kepada mahasiswa-wi yang ada di Poltekpar Medan ini.

Bagaimana persiapan mahasiswa-wi nanti pada saat lulus yang akan terjun ke dunia industri, jadi perlu dibimbing dalam sisi bagaimana caranya untuk meniti karirnya.

“Jadi mahasiswa-wi Poltekpar Medan bisa kita salurkan dalam dua bagian yaitu pertama bagaimana dia meniti karir dan kedua bagaimana dia menciptakan peluang usaha,” jelas Tupa

Lanjutnya lagi untuk bersaing ada hal perlu diketahui, tidak mungkin mau bersaing tetapi tidak dikenal. Dan itu bisa diambil atau dikutip dari strategi kementerian pariwisata, dalam memasarkan pariwisatanya, yang dikenal dengan BAS (Branding, Advertising, Selling).

Pertama kali mahasiswa-wi dari kampus Poltekpar Medan ini harus melakukan Branding, Branding apa? Branding terhadap kampusnya, terhadap dirinya sendiri. Untuk branding gampang tidak perlu susah-susah, misalnya dari Media Sosial (sosmed) contohnya mahasiswa-wi sudah harus sadar bagaimana memposting tentang informasi-informasi postif dari pada kampusnya, kegiatannya, kemudian apa tujuannya menimba ilmu di kampus Poltekpar ini, dan apa tujuannya pertama pada saat mau masuk ke Poltekpar Medan.

Membranding itu wajib, dimana tempat menimba ilmu, dan itu akan  diketahui orang, sehingga akan merekomendasikan posisi branding pribadinya. Jadi dengan seperti itu orang sudah mengenal.

Yang kedua adalah Advertaising, kampus harus melakukannya contoh bisa dilihat misalnya kampus itu harus ada plangnya, itu yang paling minimum, kemudian program-program kampus itu harus ada sosialisasinya, bisa dalam bentuk spanduk atau bennner, baliho, player dan brosur.

Dan yang terakhir Selling, sudah ter-branding, ter-advertaising dan akhirnya siap selling, perlu diketahui tanpa melakukan branding dan advertaising, itu akan  susah selling. Sehingga hasil selling kampus Poltekpar Medan akan lebih banyak lagi mahasiwa-wi nya yang akan mendaftar tiap tahun, kemudian terus berkembang dan juga akan banyak tersalurkan di industri.

Kemudian Tupa Simanjutak berharap dan menyarankan juga,  tidak usah malu untuk menjiplak atau mencontoh cara orang benar dan tepat, seperti ada program orang tua asuh, bagaimana itu kita aplikasikan ke alumni Poltekpar Medan, ataupun BPLP ataupun Akpar Medan.

“Jadilah orang tua asuh bagi mahsiswa-wi yang baru akan masuk kedunia industri, contoh kita senior sudah mapan di industri, bisa menghimbau ke kampus untuk menginformasikan jika industri yang dia kelola bisa menerima baik itu mulai dari On The Job Trainning ataupun menjadi karyawan, dari situlah bisa dilihat kekuatan alumni dan nanti itu akhirnya akan membawa kebaikan untuk kampus Poltekpar Sendiri karena ketika testimoni dari alumnus-alumnus yang sudah tersalurkan itu dahsyat untuk meningkatkan jumlah minat dari pada calon-calon mahasiswa-wi yang akan mau mendaftar,” jelas pria yang selalu tampil dengan rapi itu. (monang sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *