Kisah Peter A. Rohi “Tidak Bisa ke Belakang”

 Kisah Peter A. Rohi “Tidak Bisa ke Belakang”

Peter A.Rohi di Jembatan Cihea, Cianjur. (Foto: Dokumentasi Jemmy Jehezkiel Rame)

Jayakarta News – Salah satu wartawan senior, Peter Apollonius Rohi meninggal dunia, Rabu, 10 Juni 2020 pukul 06.45 WIB di Rumah Sakit St. Vincentius A Paulo atau RKZ Surabaya. Info ini dikabarkan langsung oleh salah satu putranya, Jojo Rohi. “Pagi ini tepat jam 6:45 WIB, papaku, Peter A. Rohi, telah kembali ke pangkuan Tuhan. Jenazah masih di RKZ Surabaya. Terimakasih”, demikian tulis Jojo yang dikirimkan ke sahabat-sahabatnya.

Bagi saya, Bang Peter, demikian saya biasa memanggil, merupakan wartawan yang sangat sederhana, tapi luar biasa pengalamannya, wawasannya, penulisannya yang mendalam dan gak pernah mengenal lelah. Demikian pula, pengamalan jurnalistik Bang Peter, cukup banyak, antara lain, di Sinar Harapan (Jakarta), Pikiran Rakyat (Bandung), Memorandum (Surabaya), Suara Indonesia (Malang), Jayakarta (Jakarta), Surya (Surabaya), dan Suara Pembaruan (Jakarta).

Di Suara Pembaruan, Bang Peter pensiun dini. Tahun 1999, mantan anggota Marinir ini bergabung di Suara Bangsa, koran sore yang dirintis mantan wartawan Sinar Harapan/Suara Pembaruan Petron Curie. Di Koran Sore Suara Bangsa ini, saya mengenal dekat Bang Peter. Karena hampir tiap hari kami diskusi berbagai hal dan sering begadang di kantor, Jl Meruya, Jakarta Barat. Sebagai Redaktur Opini dan Surat Pembaca, saya sering minta masukan, terkait apa topik yang menarik untuk opini dan tajuk.

Sebagai wartawan senior, kehidupannya begitu sederhana. Betapa tidak, hampir setiap hari, sambil diskusi Bang Peter mengajak makan, tapi bukan di restoran, melainkan di warung sederhana dekat kantor. Bahkan sampai Suara Bangsa tutup, beliau tetap tinggal di kantor, karena tidak memiliki uang. Pada suatu waktu, saya telepon ke kantor Suara Bangsa dan yang menerima Bang Peter sendiri.

Gak Usah Bawa Obat

“Sehat Bang? Sehat, jawabnya pendek. Tapi, ada masalah, dah dua hari gak ke belakang. Tanpa pikir panjang, aku bilang mau ke kantor bawain obat perut. Eh Bang Peter cepat menjawab, gak usah bawa obat Mas Gun, aku gak ke belakang karena gak ada yang dikeluarin, jawab Bang Peter sambil ketawa. Maklum ketika SB tutup, tidak ada pesangon.

Peter Apollonius Rohi bersama istri semasa hidup. (Foto : Ayananews.net)

Sekitar tahun 2000-an, bersama wartawan senior Sinar Harapan lain merintis terbitnya kembali koran sore Sinar Harapan usai lengsernya pemerintahan Soeharto. Di koran Sinar Harapan yang berkantor di Tanah Abang ini, gaya hidup yang dijalani hampir sama, yakni sering bekerja hingga larut malam.

Lalu apa tanggapan rekan yang pernah satu kantor dengan Bang Pater? Mantan wartawan Sinar Harapan dan Suara Pembaruan Arif Joko Wic di FB-nya menulis, Peter A.Rohi sangat teliti dalam memilih liputan yakni apa saja yang aktual dan punya dampak besar bagi publik… serta yang bernilai kemanusiaan. Bahkan, dalam sebuah puisi, tambah Arif, penyair Eka Budianta mengabadikan sosok Peter (juga Mohtar Lubis,) dalam sajak “Tembang Wartawan” … saat Peter yang dengan gigih saat masa Orba meliput bencana kelaparan di Nusa Tenggara Timur.

Banyak rekan juga menilai Peter A. Rohi, seperti “kamus berjalan”. Sekitar tahun 2011 lalu, ketika kami kembali satu kantor di media online www.wartatv.com, Bang Peter mengusulkan dua liputan besar terkait tragedi kemanusian. Liputan pertama yakni pembantaian Rawagede di Karawang. Dalam rapat Bang Peter mengusulkan pembantaian Rawagede merupakan peristiwa penduduk Kampung Rawagede, sekarang terletak di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang, antara Karawang dan Bekasi.

Tepatnya di tahun 9 Desember 1947, sewaktu terjadi agresi militer pertama, sebanyak 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini. Bersama kameramen, Bang Peter berangkat ke desa ini untuk mewawancarai berbagai pihak, dan hasilnya dilaporkan dalam bentuk video bertajuk Tragedi Pembantaian Rawagede yang masih bisa dilihat di Youtube hingga sekarang.

Dalam rapat juga pernah mengusulkan membuat dokumentasi video di jembatan Cihea, Cianjur. Kata wartawan kelahiran Kupang, NTT, 1942 ini, di jembatan ini, Presiden Uni Soviet, Vladimir Worosilov, pada tahun 1957 lalu dicegat oleh pemberontak DI/TII. Katanya jika saat itu Presiden Uni Soviet sampai terbunuh, dipastikan PD-3 akan meledak di Indonesia. Yang tentunya Indonesia akan tercerai berai. Jawa akan dikuasai Uni Sovyet, Sumatera dikuasai Inggris, Indonesia Timur akan dikuasai Amerika. Namun saya tidak tahu nasib pemuatan video ini, karena saya tidak mengikuti pembuatan film dokumenter ini di Cianjur.

Terakhir bersama Peter A. Rohi, saya diajak bergabung di Koran Karawang-Bekasi (Karbek) bersama Mas Roso Daras, wartawan senior dan penulis buku, serta Mas Ferry Kodrat, mantan wartawan Suara Pembaruan. (ign gunarto)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *