Launching Buku “Senja Keemasan Peter A.Rohi” Karya Amang Mawardi di PWI Jatim

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS– Acara launching buku “Senja Keemasan Peter A.Rohi” karya wartawan senior Amang Mawardi yang berlangsung Kamis(15/6) di Balai Wartawan PWI Jatim, Jl. Taman Apsari berlangsung meriah.

Yang menarik, buku ini menceritakan kisah persahabatan Amang Mawardi dan Peter A.Rohi, sesama profesi wartawan dan alumni Stikosa-AWS.

Acara tersebut juga menjadi ajang reuni para wartawan senior dan budayawan Jawa Timur, yang antusias mengikuti acara sampai selesai.

Acara launching dikemas dalam bentuk talkshow kesaksian para sahabat Peter, antara lain : Prof Dr. Hotman Siahaan, guru besar Fisip Unair, Lutfil Hakim, Ketua PWI Jatim, Henky Kurniadi, Ketua Komunitas Seni Budaya Seduluran Semanggi Suroboyo, dan Joaquim (Inyo) Rohi, putra almarhum Peter A.Rohi, yang tinggal di Moskwa, Staf Atase Pertahanan di KBRI Rusia.

Nama Peter A.Rohi, pria kelahiran NTT 14 Nopember 1942 dan wafat pada bulan Juni 2020, memang menggores kenangan emas bagi komunitas jurnalis dan budayawan.

Bukan saja karya-karya jurnalistiknya yang sering menjadi perhatian nasional, bahkan internasional . Namun juga prinsip hidupnya yang kokoh dan sangat bersahaja.

Mantan anggota KKO AL (Marinir) ini memilih berkarir sebagai wartawan, dan memperdalam ilmu jurnalistiknya di Akademi Wartawan Surabaya (sekarang Stikosa-AWS).

Tulisannya dikenal lugas, dengan investigasi yang mendalam. Di akhir masa hidupnya, Peter menjabat sebagai Redaktur Pelaksana di harian “Suara Indonesia”, setelah sebelumnya koresponden harian sore “Sinar Harapan” (kemudian berganti nama menjadi Suara Pembaruan).

Peter juga menulis banyak buku, antara lain Soekarno Sebagai Manusia, Ayah Bunda Bung Karno, Natuna Kapal Induk Amerika dan beberapa lagi. Peter juga dikenal sebagai penelusur jejak Soekarno dan salah satu tokoh yang memperjuangkan sebuah rumah di Jl. Pandean Surabaya sebagai rumah kelahiran presiden RI pertama itu.

Sebagai wartawan legendaris serta tokoh pers nasional dan dikenal baik oleh banyak tokoh nasional, ia memilih tinggal di bilangan kampung pelosok yang sempit di daerah Kampung Malang, Surabaya dan bergaul akrab dengan tetangga sebagai mana warga kampung biasa.

Kekaguman terhadap kiprah Peter A.Rohi itu menggugah kreativitas wartawan senior Amang Mawardi untuk menulis serial tulisan. “Saya mulai nulis tepat dua hari setelah Peter meninggal. Saya tulis tiap hari dan saya upload di Facebook. Dan tak terasa sudah 20 judul tulisan.

Setelah di-upload tiap hari di medsos tersebut, ternyata banyak teman dan sahabat yang meminta agar tulisan serial tersebut dibukukan” kenang Amang Mawardi , mantan wartawan harian Pos Kota, yang juga sudah menulis 17 judul buku.

Menurut Amang, buku “Senja Keemasan Peter A.Rohi” sebenarnya sudah terbit secara terbatas pada bulan Nopember 2021. Buku setebal 150 halaman ini memuat 22 artikel karya Amang Mawardi. Karena alasan pandemi Covid 19 yang berkepanjangan, buku ini baru di launching tahun ini.

Dalam pada itu Hotman Siahaan menyebut tentang pengalaman yang dialami bersama almarhum Peter.

Sebagai wartawan idealis, waktu itu Peter sangat menentang kebijakan operasi rahasia pada tahun 1980-an yang dikenal dengan istilah Petrus (penembakan misterius).

Tulisan-tulisan Peter sangat kritis menentang kebijakan memberantas premanisme di era pemerintahan Soeharto itu.

Kebiasaan Peter memang sering tidur di kantor. Saat bangun pagi, Peter menemukan bungkusan aneh di depan kantornya. Setelah dibuka isinya ternyata kepala manusia.
“Peter sangat konsisten membela kemanusiaan”, ujar guru besar Unair itu.

Sementara itu Lutfil Hakim, Peter sangat menjaga integritasnya sebagai wartawan dan sangat layak diikuti oleh generasi jurnalis sekarang yang cenderung pragmatis, malas melakukan investigasi berita.

Selain diskusi yang hangat, acara launching itu juga dimeriahkan oleh penampilan para penyanyi senior yang tergabung dalam komunitas Semanggi Suroboyo serta penampilan Besut & Rusmini oleh aktor teater ludruk Meimura. (poedji)

Kisah Peter A. Rohi “Tidak Bisa ke Belakang”

Jayakarta News – Salah satu wartawan senior, Peter Apollonius Rohi meninggal dunia, Rabu, 10 Juni 2020 pukul 06.45 WIB di Rumah Sakit St. Vincentius A Paulo atau RKZ Surabaya. Info ini dikabarkan langsung oleh salah satu putranya, Jojo Rohi. “Pagi ini tepat jam 6:45 WIB, papaku, Peter A. Rohi, telah kembali ke pangkuan Tuhan. Jenazah masih di RKZ Surabaya. Terimakasih”, demikian tulis Jojo yang dikirimkan ke sahabat-sahabatnya.

Bagi saya, Bang Peter, demikian saya biasa memanggil, merupakan wartawan yang sangat sederhana, tapi luar biasa pengalamannya, wawasannya, penulisannya yang mendalam dan gak pernah mengenal lelah. Demikian pula, pengamalan jurnalistik Bang Peter, cukup banyak, antara lain, di Sinar Harapan (Jakarta), Pikiran Rakyat (Bandung), Memorandum (Surabaya), Suara Indonesia (Malang), Jayakarta (Jakarta), Surya (Surabaya), dan Suara Pembaruan (Jakarta).

Di Suara Pembaruan, Bang Peter pensiun dini. Tahun 1999, mantan anggota Marinir ini bergabung di Suara Bangsa, koran sore yang dirintis mantan wartawan Sinar Harapan/Suara Pembaruan Petron Curie. Di Koran Sore Suara Bangsa ini, saya mengenal dekat Bang Peter. Karena hampir tiap hari kami diskusi berbagai hal dan sering begadang di kantor, Jl Meruya, Jakarta Barat. Sebagai Redaktur Opini dan Surat Pembaca, saya sering minta masukan, terkait apa topik yang menarik untuk opini dan tajuk.

Sebagai wartawan senior, kehidupannya begitu sederhana. Betapa tidak, hampir setiap hari, sambil diskusi Bang Peter mengajak makan, tapi bukan di restoran, melainkan di warung sederhana dekat kantor. Bahkan sampai Suara Bangsa tutup, beliau tetap tinggal di kantor, karena tidak memiliki uang. Pada suatu waktu, saya telepon ke kantor Suara Bangsa dan yang menerima Bang Peter sendiri.

Gak Usah Bawa Obat

“Sehat Bang? Sehat, jawabnya pendek. Tapi, ada masalah, dah dua hari gak ke belakang. Tanpa pikir panjang, aku bilang mau ke kantor bawain obat perut. Eh Bang Peter cepat menjawab, gak usah bawa obat Mas Gun, aku gak ke belakang karena gak ada yang dikeluarin, jawab Bang Peter sambil ketawa. Maklum ketika SB tutup, tidak ada pesangon.

Peter Apollonius Rohi bersama istri semasa hidup. (Foto : Ayananews.net)

Sekitar tahun 2000-an, bersama wartawan senior Sinar Harapan lain merintis terbitnya kembali koran sore Sinar Harapan usai lengsernya pemerintahan Soeharto. Di koran Sinar Harapan yang berkantor di Tanah Abang ini, gaya hidup yang dijalani hampir sama, yakni sering bekerja hingga larut malam.

Lalu apa tanggapan rekan yang pernah satu kantor dengan Bang Pater? Mantan wartawan Sinar Harapan dan Suara Pembaruan Arif Joko Wic di FB-nya menulis, Peter A.Rohi sangat teliti dalam memilih liputan yakni apa saja yang aktual dan punya dampak besar bagi publik… serta yang bernilai kemanusiaan. Bahkan, dalam sebuah puisi, tambah Arif, penyair Eka Budianta mengabadikan sosok Peter (juga Mohtar Lubis,) dalam sajak “Tembang Wartawan” … saat Peter yang dengan gigih saat masa Orba meliput bencana kelaparan di Nusa Tenggara Timur.

Banyak rekan juga menilai Peter A. Rohi, seperti “kamus berjalan”. Sekitar tahun 2011 lalu, ketika kami kembali satu kantor di media online www.wartatv.com, Bang Peter mengusulkan dua liputan besar terkait tragedi kemanusian. Liputan pertama yakni pembantaian Rawagede di Karawang. Dalam rapat Bang Peter mengusulkan pembantaian Rawagede merupakan peristiwa penduduk Kampung Rawagede, sekarang terletak di Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang, antara Karawang dan Bekasi.

Tepatnya di tahun 9 Desember 1947, sewaktu terjadi agresi militer pertama, sebanyak 431 penduduk menjadi korban pembantaian ini. Bersama kameramen, Bang Peter berangkat ke desa ini untuk mewawancarai berbagai pihak, dan hasilnya dilaporkan dalam bentuk video bertajuk Tragedi Pembantaian Rawagede yang masih bisa dilihat di Youtube hingga sekarang.

Dalam rapat juga pernah mengusulkan membuat dokumentasi video di jembatan Cihea, Cianjur. Kata wartawan kelahiran Kupang, NTT, 1942 ini, di jembatan ini, Presiden Uni Soviet, Vladimir Worosilov, pada tahun 1957 lalu dicegat oleh pemberontak DI/TII. Katanya jika saat itu Presiden Uni Soviet sampai terbunuh, dipastikan PD-3 akan meledak di Indonesia. Yang tentunya Indonesia akan tercerai berai. Jawa akan dikuasai Uni Sovyet, Sumatera dikuasai Inggris, Indonesia Timur akan dikuasai Amerika. Namun saya tidak tahu nasib pemuatan video ini, karena saya tidak mengikuti pembuatan film dokumenter ini di Cianjur.

Terakhir bersama Peter A. Rohi, saya diajak bergabung di Koran Karawang-Bekasi (Karbek) bersama Mas Roso Daras, wartawan senior dan penulis buku, serta Mas Ferry Kodrat, mantan wartawan Suara Pembaruan. (ign gunarto)

Peter Rohi hingga Memori Kelimutu

Jayakarta News – Tidak ada perasaan kaget demi mendengar berita wafatnya jurnalis senior Peter A. Rohi pagi tadi (10/6/2020) di Surabaya. Sudah beberapa waktu, Peter memilih pulang ke Surabaya dan “menghayati” sakitnya di sana. Sebelumnya, Peter masih banyak beraktivitas di Ibukota, dan pulang ke Rangkasbitung, Banten.

Yang membuat hati ini seperti tercabik-cabik adalah rasa sesal karena belum sempat berkunjung ke kediamannya di Kampung Malang, Surabaya. Mengenang perkenalan pertama dengannya 32 tahun lalu (1988) di Harian Jayakarta Jl. Otista III Jakarta Timur, sungguh bukan waktu yang singkat.

Dalam kurun tiga dasawarsa, ada begitu banyak persinggungan dengannya. Di antara sekian banyak minat yang ditekuni Peter Rohi, saya hanya intens di dua bidang saja: Jurnalistik dan Bung Karno.

Mendadak saya ingat kejadian tahun 2010. Saat itu, saya berada Malang untuk dua hari. Saya pun sempatkan ke kota Blitar untuk ziarah ke makam Bung Karno. Jarak kota Malang ke kota Blitar hanya 76 km, jadi bisa ditempuh dalam waktu sekitar dua jam saja.

Belum lima menit meninggalkan komplek pemakaman Bung Karno di Blitar, telepon bergetar… Peter A. Rohi di ujung telepon sana. Peter berkata, “Ada dua buku yang saya mau berikan ke mas Roso…. Jangan sekali-kali menulis skenario film Bung Karno sebelum baca kedua buku ini,” ujar Peter.

Beberapa waktu sebelumnya saya memang mengabarkan, ihwal permintaan sebuah PH untuk menuliskan scipt tentang Bung Karno. Saya pun melibatkan Peter. Begitulah, kami bikin janji temu keesokan harinya. Peter meluncur dari Surabaya ke Malang.

Selepas makan siang… Peter, mantan marinir, jurnalis senior, seniman, sekaligus sastrawan ini tampak memasuki halaman hotel. Rambutnya masih gondrong diikat. Ia mencangklong ransel…. “Harta karunku datang,” gumamku menyambut Peter.

Berbicaralah kami ngalor-ngidul seputar Bung Karno, seputar Soekarno Institut yang dia kelola, seputar ini dan itu…. sangat mengasyikkan. Tibalah gilirannya membuka ransel dan mengeluarkan dua buku yang ia janjikan…. Yang satu berjudul “Soekarno sebagi Manoesia” tulisan Im Yang Tjoe.

Sebuah buku biografi pertama Bung Karno yang ditulis oleh penulis Tionghoa tahun 30-an, dan diterbitkan di Solo. Buku itu mengupas masa kecil Bung Karno. Meski ditulis tahun 1933, tetapi sang penulis sudah meramalkan dalam bukunya, bahwa Sukarno akan menjadi orang besar.

Rupanya, Peter A. Rohi sempat menulis ulang buku itu. Luar biasa… tidak henti-henti saya mengucap kata “luar biasa”… dengan senangnya.

Sedangkan buku kedua ia berikan untukku berjudul “Ayah Bunda Bung Karno”, tulisan Nuriswa Ki S. Hendrowinoto, dkk. Inilah buku paling lengkap yang menguak biogradi R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, orangtua Bung Karno. Ditulis oleh seorang peneliti, melalui riset panjang dan mendalam.

Bundel “Fikiran Ra’jat” pemberian Peter A. Rohi. (foto: roso daras)

Fikiran Ra’jat

Bukan hanya itu. Suat hari Peter juga memberu bundel “Fikiran Ra’jat”. Tent seperti mendapat limpahan harta karun rasanya. Inilah media massa yang diterbitkan oleh tangan Sukarno tahun 1932, sebagai salah satu bentuk aksi menentang penjajah.

Ukurannya selebar buku tulis. Kualitas cetak, menunjukkan kemampuan cetak terbaik pada zamannya. Perwajahannya biasa-biasa untuk ukuran sekarang. Meski begitu, kehadiran “Fikiran Ra’jat” senantiasa dinanti-nanti tokoh-tokoh pergerakan di seluruh penjuru Tanah Air.

Bukan hanya itu, media ini juga menjadi salah satu media yang dikontrol sangat ketat oleh pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno sebagai ketua sidang redaksi, beberapa kali mendapat teguran akibat sajian “Fikiran Ra’jat” yang terang-terangan menentang praktik imperialisme (penjajahan) di bumi Indonesia.

Bukan hanya itu, “Fikiran Ra’jat” juga sempat diberangus oleh tangan bengis kolonialis. Yang hebat, menurut saya pribadi adalah, pada kesempatan terbit selanjutnya, Bung Karno terang-terangan menghujat aksi pemberangusan atas media yang dipimpinnya. Ia menyuarakan suara getir sebagai bangsa terjajah. Bung Karno menggerutu, ketika satu-satunya kebebasan (berbicara) pun dibungkam. Nyaris tidak ada lagi kebebasan yang tersisa sebagai bangsa yang terjajah.

Menyimak edisi demi edisi, “Fikiran Ra’jat” sungguh majalah yang sangat berbobot. Terbit mingguan dengan artikel-artikel yang luar biasa. Selain Bung Karno, tidak sedikit tokoh-tokoh pergerakan pada zaman itu, menyumbangkan tulisan. Sebagai media pergerakan, redaksi juga melayani tanya-jawab seputar politik.

Peter A. Rohi, Tito Asmarahadi, Roso Daras di situs rumah pembuangan Bung Karno di Ende, Flores. (foto: dok. roso daras)

Sebulan di Ende

Beruntung, saya selalu dipertemukan dengan Peter dalam momen-momen berkualitas. Termasuk ketika Tuhan mempertemukan kami di satu proyek, produksi film “Ketika Bung di Ende” (Cakrisma – 2013). Kami diminta menjadi konsultan skenario bersama Tito Asmarahadi. Sekitar satu bulan kami mengikuti kegiatan syuting di Ende, Flores.

Sejak kami transit di Kupang, Peter antusias mengisahkan tempat-tempat bersejarah di ibukota Provinsi NTT itu. Salah satunya adalah Tugu HAM yang dibangun sebelum PBB mendeklarasikan tentang human right. Tugu yang dikenal pula sebagai Tugu Pancasila itu, selalu menjadi tujuan Bung Karno kalau berkunjung ke sana.

“Dengan kendaraan amphibi, Bung Karno mendarat di teluk itu, lalu berjalan ke tugu ini,” kata Peter sambil menunjuk ke sebuah teluk tak jauh dari lokasi tugu bersejarah itu.

Begitu juga selama di Ende. Di luar lokasi syuting dan tempat penginapan, kami menjadikan situs rumah peninggalan Bung Karno di Ende sebagai base camp. Kami senang berlama-lama di sana. Di halaman belakang, sambil duduk di lantai dan berkisah tentang sejarah.

Jika haus, kami tinggal menimba air dari sumur dan meminumnya langsung. Kegiatan yang konon sering dilakukan Bung Karno tahun 30-an saat empat tahun hidup sebagai seorang interniran. Ia bahkan mengajak napak tilas ke pohon sukun tempat Bung Karno menggali Pancasila. Juga menapak tilas pantai Ende, tempat Bung Karno berdialog dengan nelayan.

Ketika suatu hari syuting dilakukan di Danau Kelimutu, Peter turut serta. Padahal, dokter sangat tidak merekomendasikan untuk aktivitas berat. Sebab, untuk menuju Danau Kelimutu, ada jalan mendaki yang harus ditapak. Saya sempat menawarkan diri untuk menemaninya di bawah. “Tidak, mas Roso harus melihat Danau Kelimutu. Bung Karno dulu sering ke sini. Ayo, pelan-pelan saya ikut naik,” Peter mamaksakan diri naik.

Kami jalan pelan. Apalagi saat menaiki tangga-tangga jalan yang menanjak. Tiba di satu titik, Peter menunjuk satu tebing. Tidak terlalu terjal. Ia meminta saya memangkas jalan dengan cara mendaki tebing yang tidak terlalu terjal.

Saya naik tebing itu. Tidak mudah, tetapi juga tidak harus bersusah-payah. Benar saja. Tiba di puncak tebing, mata bisa langsung menyapu danau tiga warna yang sangat indah.

Saya hendak turun kembali menemani Peter. Tetapi dia sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Saat bergabung dengan kru lain di tepian danau, saya teliti, Peter tidak ada di sana. Rupanya ia kembali ke bawah, dan menunggu di sana hingga syuting selesai.

Ia tidak mau ditemani, jika itu artinya saya kehilangan kesempatan melihat Kelimutu. Maka ia pun memaksa saya melihat Kelimutu melalui jalan pintas tadi. Saya bisa mencapai Kelimutu tanpa harus melewati jalan mendaki dan berputar. Sementara, Peter pun tidak terlalu jauh untuk kembali ke bawah.

Masih sangat banyak cerita mengesankan tentang sosok Peter A Rohi.

Biarlah sementara saya simpan, dan akan saya tulis manakala merindukanmu. Merindukan semua kebaikanmu. Merindukan semua pengetahuanmu. Merindukan semangatmu.

Selamat jalan Bung Peter, tenang-tenanglah di sisi Tuhan. (roso daras)

Peter A Rohi Patut Dicontoh Wartawan Muda

Jayakarta News – Berpulangnya wartawan senior Peter A Rohi di rumah sakit Rabu (10/6) pagi tadi mengagetkan banyak orang terutama teman karibnya yang pernah dekat dengan almarhum.

Tjuk Suwarsono, wartawan senior Surabaya Post, dalam WA grup wartawan senior menyebutkan, almarhum yang telah dianggap sebagai kakaknya adalah guru, yang mengenalkan sebuah “jurnalisme sunyi” di tengah berisik dan ingar bingar berita koran soal tetek bengek kehidupan.

Ditambahkan, almarhum semasa hidup gemar pergi ke pulau-pulau kecil sunyi, menyapa manusia yang terpental dari publikasi sekecil apa pun.

“Almarhum membawa pembacanya meresapi kehidupan serba sunyi, terpencil, terkucil, dan terhimpit,” katanya.

Dikemukakan oleh Tjuk Suwarsono, sepintas features-featuresmu dibenci para pedagang berita yang selalu bicara “nilai ekonomi” media.

Mereka alpa, media tak semata modal dan keuntungan finansial. Media wajib membisikkan suara-suara tak terdengar, dari mulut-mulut yang terkunci.

Tapi almarhum  sepertinya tak peduli, tetap meliput dengan birahi jelajah yang eksotik, menyusuri hasrat nurani kecilnya.

“Bung Peter, kami anak-anak muda jurnalisme terbuai kekaguman, dan dengan upaya keras coba menjejaki langkahmu,” tutur Tjuk.

Sementara itu wartawan senior Joni Irwansyah yang kini beralih profesi sebagai pengacara menyatakan,  almarhum Peter A Rohi adalah sosok wartawan idealis dan integritasnya patut dicontoh oleh wartawan-wartawan muda.

“Beliau wartawan yang kritis dan tidak gampang menyerah dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran,” tegasnya saat ditanya Jayakarta News siang tadi. (poedji)

Wawancara Jayakartanews dengan Roso Daras (3-Selesai)

Roso Daras dalam berbicara pada acara “Tribute to Sukarno”, di Bandung. Foto: ist

Tanggung Jawab Saya kepada Bung Karno dan Tuhan

KEBERANIAN seorang Roso Daras menafsir ajaran Sukarno, konon sempat membuat sejumlah seniornya mewanti-wanti agar tidak gegabah. Sebab, tafsir yang salah, bisa membuat pemahaman yang juga keliru. Wawancara lebih jauh, saya coba perdalam tentang masalah itu.

Mengapa Anda berani menafsir ajaran Sukarno?

Tunggu dulu… ini bukan soal berani atau takut. Ini soal seseorang yang memiliki kegelisahan pemikiran. Saya sangat percaya, memahami Sukarno tidak cukup membaca bukunya Cindy Adams. Mendalami Sukarno, tidak cukup dengan membaca buku Lambert Giebels.

Bahkan, buku-buku yang begitu banyak tentang Sukarno, mulai dari tulisan Benhard Dahm, Willem Oltmans, Antony Dake, sampai tulisan-tulisan Bung Peter A Rohi, Peter Kasendha, Aswi Warman Adam, Bagin, H.A. Notosoetardjo, dan masih banyak penulis Bung Karno lain, tidak akan pernah cukup menggambarkan sosok Sukarno seutuhnya.

Bung Karno itu ibarat ensiklopedi, yang dari huruf A sampai Z akan memunculkan profil, pemikiran, dan sejarah panjang tentang dirinya. Jika ditulis, tidak akan cukup, seribu, dua ribu, bahkan sejuta halaman buku. Tidak heran jika kemudian, hampir semua buku tentang Bung Karno, tidak ada satu pun yang bisa menampilkan potret Sukarno secara utuh, baik Sukarno sebagai manusia, maupun Sukarno sebagai pemikir, ideolog, dan negarawan.

Itukah yang menjadi modal keberanian menafsir ajaran Sukarno?

Roso Daras, menafsir kitab-kitab Bung Karno. Foto: Ist

Sekali lagi, bukan soal keberanian. Saya tambahkan begini,  setiap kitab tentang Sukarno, bisa ditafsir. Terlebih jika itu bersumber langsung dari tulisan atau buah pemikiran Sukarno. Mengapa? Karena Bung Karno sudah tidak ada, dan tidak ada lagi yang mampu menerjemahkan pemikiran Bung Karno dalam konteks kekinian.

Konteks kekinian harus saya pertegas, mengingat lebih tiga dasawarsa ajaran Sukarno dihilangkan, maka begitu sekarang bebas mengakses ajaran Sukarno, maka generasi muda sangat mungkin menjadi gagap. Bukan saja pada soal ejaan bahasa, pilihan diksi, tetapi juga dalam konteks zaman.

Bung Karno dalam tulisan-tulisannya banyak sekali merujuk tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir dunia. Jadi, belajar tentang ajaran Sukarno, artinya harus mencoba memahami pula semua sumber rujukan yang digunakan Sukarno.

Kalau soal keberanian menafsir, saya lebih suka berdalih sebagai “hak”. Hak bagi siapa pun untuk menafsir kitab Bung Karno. Pertama, kitab DBR atau kitab Bung Karno lainnya, jelas bukan kitab suci semacam Alquran. Sedangkan Alquran saja ditafsir, mengapa ajaran Sukarno tidak boleh ditafsir?

Mengapa Anda ingin membuat tafsir DBR? Ingin menjernihkan bangunan sejarah?

Idealnya gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Dalam Islam dikatakan, sebaik-baik amal ya amal jariah, di antaranya adalah ilmu yang bermanfaat. Kalau bicara ideal, saya ingin menciptakan warisan,  yakni buku tafsir tentang  ajaran Sukarno. Harapan saya tafsir itu bisa menjadi panduan/ penuntun jalan.

Saya tidak mengklaim bahwa tafsir saya paling benar. Saya pernah ditanya teman-teman yang juga menulis buku tentang Sukarno, apa hak kamu menafsir ajaran Sukarno

Saya  jawab, kebutuhan tafsir tentang ajaran Sukarno penting karena orang sekarang tidak mengerti ketika membaca DBR, sehingga ruang kebutuhan menjadi besar, dan saya mencoba mengisi kebutuhan itu. Artinya, hak menafsir tidak hanya pada saya. Bahkan saya berharap, penulis-penulis buku Sukarno kemudian juga berlomba-lomba menafsir ajaran Bung Karno. Makin banyak tafsir makin bagus. Percayalah.

Layak jika orang mempertanyakan  tekad Anda membuat tafsir DBR,  karena DBR karya besar Bung Karno.

Jangankan DBR, Quran saja banyak tafsir. Kalau saya berani buat tafsir seharusnya para akademisi, sejarawan, dan kaum intelektual lain pemerhati ajaran Bung Karno, lebih berani lagi. Setiap tafsir akan dibaca atau tidak, itu hak masyarakat. Setiap tafsir saya tentang Sukarno, setidaknya itu merupakan tekad kontribusi saya agar ajaran Sukarno dipahami oleh anak bangsanya.

Dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adams, tampak tersurat Sukarno  penganut teosofi, dan dalam dunia pemikiran dikatakan bahwa Sukarno bercakap-cakap dengan Perdana Menteri Gladstone dari  Inggris, Mazzini dari Italia, Rousseau dan Jean Jaures dari Prancis. Apa pendapat Anda tentang dimensi tersebut?

Percakapan dengan para tokoh dunia tersebut tentu melalui karyanya. Namun mungkin saja kedua dimensi itu (kebatinan) juga dilakukannya. Sejak kecil, sejak usia 15 tahun di HBS Surabaya, Sukarno sudah membaca kisah-kisah orang besar dunia. Ia juga belajar dan mengambil banyak dari keteladanan para tokoh dunia itu. Ketika ia membaca karya-karya orang besar itulah, secara tidak langsung ia sedang berdialog dengan tokoh penulis buku itu. Sukarno adalah pembaca aktif. Dalam membaca, akan terekam pandangan dan pemikiran tokoh, pada saat bersamaan, dari dalam otak dan hati Sukarno juga muncul pertanyaan-pertanyaan, bahkan mungkin gugatan-gugatan. Menurut saya, itu yang dimaksud dengan konteks pertanyaan Anda.

Melihat perjalanan hidup dan juga beberapa pendapat atau ramalannya, ada pula yang mengatakan Sukarno itu wali.

Saya tidak berpendapat dia wali atau sunan. Tapi saya katakan, Sukarno orang besar. Ciri-ciri orang besar adalah ajarannya everlasting, abadi. Orang yang menjulukinya wali tentunya memiliki catatan panjang tentang ilmu yang diturunkan dan diamalkan oleh penerusnya. Kalau orang bilang dia wali, mungkin karena dia punya level dan kualifikasi seperti wali, di mana ajarannya diamalkan sampai sekarang. Bahkan karya besarnya bernama “persatuan Indonesia” masih utuh hingga hari ini.

Tentang julukan wali mungkin karena beberapa ramalan Sukarno akhirnya terbukti. Sukarno dengan alasan-alasan ilmiahnya pernah mengatakan Indonesia akan merdeka setelah perang Asia Timur Raya, dan itu jadi kenyataan.

Apa mau dikata, Sukarno sendiri tidak terlalu mengggubris orang menilainya apa. Termasuk ketika Cindy Adams menanyakan hal itu. Sukarno bahkan menjawab, ia akan tahu perang Asia Timur Raya itu karena dia penyuka sejarah. Orang yang suka sejarah, tidak akan berdiri dalam vakum. Dari belajar sejarah itu pula, Sukarno tahu, bahwa klimaks politik dunia ketika itu akan berujung pada perang besar.

Di kesempatan lain, Bung Karno bahkan meramal tentang kebesaran Cina. Ini ada kisah ketika Jenderal Ahmad Yani mengingatkan Bung Karno agar tidak terlalu dekat dengan Cina. Alasannya, karena Cina itu komunis. Secara berseloroh Bung Karno mengatakan, “Jenderal bodoh kamu,” tangkis Sukarno. “Lihat nanti. Cina akan menjadi negara kapitalis terbesar di dunia.”. Dan hari ini kita sudah melihat ramalan Sukarno itu terjadi.

Buku biografi Sukarno terkait dengan perjuangan kemerdekaan yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan banyak dikagumi, namun mengapa di era keterbukaan ini  tidak dieksplor.

Ini perlu kesadaran dan sebuah gerakan. Jadi harus ada yang menggerakkan. Penggerak paling efektif adalah kebijakan pemerintah. Selama pemerintah tidak menggerakkan, ya tidak akan terjadi gerakan untuk uri-uri ajaran Sukarno. Gerakan itu sifatnya masif, dan kesadaran sifatnya individual. Kalau saya sekarang menguri-uri ajaran Sukarno supaya kita kembali menghidupkan ajaran Sukarno.

Kekuatan apa yang mendorong sehingga Anda bisa intens dan penuh semangat?

Dua judul buku tentang Bung Karno, karya Roso Daras. Foto: Ist

Agak susah mengatakannya, biar orang lain yang menilai. Saya kan pelaku. Saya tidak mengerti, cuma bagi saya menulis buku Sukarno itu nikmat. Saking nikmatnya saya bisa lupa waktu. Itu kan di luar nalar. Saya pernah menulis di blog sangat rutin dan bisa mengalir deras, itu kadang sulit dinalar. Tidak pernah ada hambatan dalam mengalirkan kata-kata. Hal ini beda sekali ketika saya menulis buku pesanan tentang pariwisata, profil daerah, atau biografi yang kadang harus berpikir lama.

Namun sebagian buku Anda tentang Sukarno berupa tafsir kan?

Buku-buku Sukarno saya banyak sekali yang sifatnya tafsir, tidak ada di buku mana pun. Saya cuma merangkai kejadian. Saya mencoba menangkap situasi kejadian saat Sukarno menulis/menyampaikan maksud ketika itu dengan menjembatani pada suasana yang ditangkap pembaca saat ini.

Kalau saya tidak berani menafsir dengan cara mendeskripsikan kejadian waktu itu dengan apa yang ada di benak saya, saya kira tidak akan sampai. Kering. Bagamana saya menggambarkan suasana batin Sukarno ketika di pembuangan (di Ende, Flores) kalau saya tidak punya referensi bahwa Sukarno pernah mengatakan, Kekuatan saya adalah massa. Mudah untuk membunuh saya, jauhkan saya dari massa maka saya akan mati. Sukarno sering kali duduk termenung berjam-jam sambil memandangi laut dalam kesepian yang memagut. Saya kira tidak salah kalau saya deskripsikan semacam itu.

Saya pernah menulis pula tentang pertemanan Sukarno dan sopir taksi. Suatu hari Sukarno turun di stasiun Gambir dari Bandung, tidak ada uang, yang dia cari pasti Arif, sopir langganan yang bisa ngutang. Setelah sekian lama berlalu,  Sukarno datang ke rumah Arif. Betapa kagetnya Arif karena yang mengetuk pintu rumahnya adalah Sukarno yang sudah menjadi presiden. Pertama yang disampaikan Sukarno menanyakan keadaan Arif, lalu membayar utang-utangnya  selanjutnya mengangkat Arif sebagai sopir pribadinya.

Semua itu saya deskripsikan dengan gambaran yang bersuasana, bagaimana Sukarno mengetuk pintu, dan bagaimana pula reaksi Arif yang kemudian menjadi sopir pribadinya. Kalau saya tidak berani menafsir dan menginterpretasikan, ya kering. Soal pertanggungjawaban, ini pertanggungjawaban saya pada Sukarno dan kepada Tuhan. Tapi di balik itu semua saya ingin menunjukkan,  ini lho… ada orang yang hatinya begitu mulia, orang besar tidak pernah melupakan jasa orang kecil. ***