Wawancara Jayakartanews dengan Roso Daras (3-Selesai)

 Wawancara Jayakartanews dengan Roso Daras (3-Selesai)
Roso Daras dalam berbicara pada acara “Tribute to Sukarno”, di Bandung. Foto: ist

Tanggung Jawab Saya kepada Bung Karno dan Tuhan

KEBERANIAN seorang Roso Daras menafsir ajaran Sukarno, konon sempat membuat sejumlah seniornya mewanti-wanti agar tidak gegabah. Sebab, tafsir yang salah, bisa membuat pemahaman yang juga keliru. Wawancara lebih jauh, saya coba perdalam tentang masalah itu.

Mengapa Anda berani menafsir ajaran Sukarno?

Tunggu dulu… ini bukan soal berani atau takut. Ini soal seseorang yang memiliki kegelisahan pemikiran. Saya sangat percaya, memahami Sukarno tidak cukup membaca bukunya Cindy Adams. Mendalami Sukarno, tidak cukup dengan membaca buku Lambert Giebels.

Bahkan, buku-buku yang begitu banyak tentang Sukarno, mulai dari tulisan Benhard Dahm, Willem Oltmans, Antony Dake, sampai tulisan-tulisan Bung Peter A Rohi, Peter Kasendha, Aswi Warman Adam, Bagin, H.A. Notosoetardjo, dan masih banyak penulis Bung Karno lain, tidak akan pernah cukup menggambarkan sosok Sukarno seutuhnya.

Bung Karno itu ibarat ensiklopedi, yang dari huruf A sampai Z akan memunculkan profil, pemikiran, dan sejarah panjang tentang dirinya. Jika ditulis, tidak akan cukup, seribu, dua ribu, bahkan sejuta halaman buku. Tidak heran jika kemudian, hampir semua buku tentang Bung Karno, tidak ada satu pun yang bisa menampilkan potret Sukarno secara utuh, baik Sukarno sebagai manusia, maupun Sukarno sebagai pemikir, ideolog, dan negarawan.

Itukah yang menjadi modal keberanian menafsir ajaran Sukarno?

Roso Daras, menafsir kitab-kitab Bung Karno. Foto: Ist

Sekali lagi, bukan soal keberanian. Saya tambahkan begini,  setiap kitab tentang Sukarno, bisa ditafsir. Terlebih jika itu bersumber langsung dari tulisan atau buah pemikiran Sukarno. Mengapa? Karena Bung Karno sudah tidak ada, dan tidak ada lagi yang mampu menerjemahkan pemikiran Bung Karno dalam konteks kekinian.

Konteks kekinian harus saya pertegas, mengingat lebih tiga dasawarsa ajaran Sukarno dihilangkan, maka begitu sekarang bebas mengakses ajaran Sukarno, maka generasi muda sangat mungkin menjadi gagap. Bukan saja pada soal ejaan bahasa, pilihan diksi, tetapi juga dalam konteks zaman.

Bung Karno dalam tulisan-tulisannya banyak sekali merujuk tokoh-tokoh dan pemikir-pemikir dunia. Jadi, belajar tentang ajaran Sukarno, artinya harus mencoba memahami pula semua sumber rujukan yang digunakan Sukarno.

Kalau soal keberanian menafsir, saya lebih suka berdalih sebagai “hak”. Hak bagi siapa pun untuk menafsir kitab Bung Karno. Pertama, kitab DBR atau kitab Bung Karno lainnya, jelas bukan kitab suci semacam Alquran. Sedangkan Alquran saja ditafsir, mengapa ajaran Sukarno tidak boleh ditafsir?

Mengapa Anda ingin membuat tafsir DBR? Ingin menjernihkan bangunan sejarah?

Idealnya gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Dalam Islam dikatakan, sebaik-baik amal ya amal jariah, di antaranya adalah ilmu yang bermanfaat. Kalau bicara ideal, saya ingin menciptakan warisan,  yakni buku tafsir tentang  ajaran Sukarno. Harapan saya tafsir itu bisa menjadi panduan/ penuntun jalan.

Saya tidak mengklaim bahwa tafsir saya paling benar. Saya pernah ditanya teman-teman yang juga menulis buku tentang Sukarno, apa hak kamu menafsir ajaran Sukarno

Saya  jawab, kebutuhan tafsir tentang ajaran Sukarno penting karena orang sekarang tidak mengerti ketika membaca DBR, sehingga ruang kebutuhan menjadi besar, dan saya mencoba mengisi kebutuhan itu. Artinya, hak menafsir tidak hanya pada saya. Bahkan saya berharap, penulis-penulis buku Sukarno kemudian juga berlomba-lomba menafsir ajaran Bung Karno. Makin banyak tafsir makin bagus. Percayalah.

Layak jika orang mempertanyakan  tekad Anda membuat tafsir DBR,  karena DBR karya besar Bung Karno.

Jangankan DBR, Quran saja banyak tafsir. Kalau saya berani buat tafsir seharusnya para akademisi, sejarawan, dan kaum intelektual lain pemerhati ajaran Bung Karno, lebih berani lagi. Setiap tafsir akan dibaca atau tidak, itu hak masyarakat. Setiap tafsir saya tentang Sukarno, setidaknya itu merupakan tekad kontribusi saya agar ajaran Sukarno dipahami oleh anak bangsanya.

Dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adams, tampak tersurat Sukarno  penganut teosofi, dan dalam dunia pemikiran dikatakan bahwa Sukarno bercakap-cakap dengan Perdana Menteri Gladstone dari  Inggris, Mazzini dari Italia, Rousseau dan Jean Jaures dari Prancis. Apa pendapat Anda tentang dimensi tersebut?

Percakapan dengan para tokoh dunia tersebut tentu melalui karyanya. Namun mungkin saja kedua dimensi itu (kebatinan) juga dilakukannya. Sejak kecil, sejak usia 15 tahun di HBS Surabaya, Sukarno sudah membaca kisah-kisah orang besar dunia. Ia juga belajar dan mengambil banyak dari keteladanan para tokoh dunia itu. Ketika ia membaca karya-karya orang besar itulah, secara tidak langsung ia sedang berdialog dengan tokoh penulis buku itu. Sukarno adalah pembaca aktif. Dalam membaca, akan terekam pandangan dan pemikiran tokoh, pada saat bersamaan, dari dalam otak dan hati Sukarno juga muncul pertanyaan-pertanyaan, bahkan mungkin gugatan-gugatan. Menurut saya, itu yang dimaksud dengan konteks pertanyaan Anda.

Melihat perjalanan hidup dan juga beberapa pendapat atau ramalannya, ada pula yang mengatakan Sukarno itu wali.

Saya tidak berpendapat dia wali atau sunan. Tapi saya katakan, Sukarno orang besar. Ciri-ciri orang besar adalah ajarannya everlasting, abadi. Orang yang menjulukinya wali tentunya memiliki catatan panjang tentang ilmu yang diturunkan dan diamalkan oleh penerusnya. Kalau orang bilang dia wali, mungkin karena dia punya level dan kualifikasi seperti wali, di mana ajarannya diamalkan sampai sekarang. Bahkan karya besarnya bernama “persatuan Indonesia” masih utuh hingga hari ini.

Tentang julukan wali mungkin karena beberapa ramalan Sukarno akhirnya terbukti. Sukarno dengan alasan-alasan ilmiahnya pernah mengatakan Indonesia akan merdeka setelah perang Asia Timur Raya, dan itu jadi kenyataan.

Apa mau dikata, Sukarno sendiri tidak terlalu mengggubris orang menilainya apa. Termasuk ketika Cindy Adams menanyakan hal itu. Sukarno bahkan menjawab, ia akan tahu perang Asia Timur Raya itu karena dia penyuka sejarah. Orang yang suka sejarah, tidak akan berdiri dalam vakum. Dari belajar sejarah itu pula, Sukarno tahu, bahwa klimaks politik dunia ketika itu akan berujung pada perang besar.

Di kesempatan lain, Bung Karno bahkan meramal tentang kebesaran Cina. Ini ada kisah ketika Jenderal Ahmad Yani mengingatkan Bung Karno agar tidak terlalu dekat dengan Cina. Alasannya, karena Cina itu komunis. Secara berseloroh Bung Karno mengatakan, “Jenderal bodoh kamu,” tangkis Sukarno. “Lihat nanti. Cina akan menjadi negara kapitalis terbesar di dunia.”. Dan hari ini kita sudah melihat ramalan Sukarno itu terjadi.

Buku biografi Sukarno terkait dengan perjuangan kemerdekaan yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dan banyak dikagumi, namun mengapa di era keterbukaan ini  tidak dieksplor.

Ini perlu kesadaran dan sebuah gerakan. Jadi harus ada yang menggerakkan. Penggerak paling efektif adalah kebijakan pemerintah. Selama pemerintah tidak menggerakkan, ya tidak akan terjadi gerakan untuk uri-uri ajaran Sukarno. Gerakan itu sifatnya masif, dan kesadaran sifatnya individual. Kalau saya sekarang menguri-uri ajaran Sukarno supaya kita kembali menghidupkan ajaran Sukarno.

Kekuatan apa yang mendorong sehingga Anda bisa intens dan penuh semangat?

Dua judul buku tentang Bung Karno, karya Roso Daras. Foto: Ist

Agak susah mengatakannya, biar orang lain yang menilai. Saya kan pelaku. Saya tidak mengerti, cuma bagi saya menulis buku Sukarno itu nikmat. Saking nikmatnya saya bisa lupa waktu. Itu kan di luar nalar. Saya pernah menulis di blog sangat rutin dan bisa mengalir deras, itu kadang sulit dinalar. Tidak pernah ada hambatan dalam mengalirkan kata-kata. Hal ini beda sekali ketika saya menulis buku pesanan tentang pariwisata, profil daerah, atau biografi yang kadang harus berpikir lama.

Namun sebagian buku Anda tentang Sukarno berupa tafsir kan?

Buku-buku Sukarno saya banyak sekali yang sifatnya tafsir, tidak ada di buku mana pun. Saya cuma merangkai kejadian. Saya mencoba menangkap situasi kejadian saat Sukarno menulis/menyampaikan maksud ketika itu dengan menjembatani pada suasana yang ditangkap pembaca saat ini.

Kalau saya tidak berani menafsir dengan cara mendeskripsikan kejadian waktu itu dengan apa yang ada di benak saya, saya kira tidak akan sampai. Kering. Bagamana saya menggambarkan suasana batin Sukarno ketika di pembuangan (di Ende, Flores) kalau saya tidak punya referensi bahwa Sukarno pernah mengatakan, Kekuatan saya adalah massa. Mudah untuk membunuh saya, jauhkan saya dari massa maka saya akan mati. Sukarno sering kali duduk termenung berjam-jam sambil memandangi laut dalam kesepian yang memagut. Saya kira tidak salah kalau saya deskripsikan semacam itu.

Saya pernah menulis pula tentang pertemanan Sukarno dan sopir taksi. Suatu hari Sukarno turun di stasiun Gambir dari Bandung, tidak ada uang, yang dia cari pasti Arif, sopir langganan yang bisa ngutang. Setelah sekian lama berlalu,  Sukarno datang ke rumah Arif. Betapa kagetnya Arif karena yang mengetuk pintu rumahnya adalah Sukarno yang sudah menjadi presiden. Pertama yang disampaikan Sukarno menanyakan keadaan Arif, lalu membayar utang-utangnya  selanjutnya mengangkat Arif sebagai sopir pribadinya.

Semua itu saya deskripsikan dengan gambaran yang bersuasana, bagaimana Sukarno mengetuk pintu, dan bagaimana pula reaksi Arif yang kemudian menjadi sopir pribadinya. Kalau saya tidak berani menafsir dan menginterpretasikan, ya kering. Soal pertanggungjawaban, ini pertanggungjawaban saya pada Sukarno dan kepada Tuhan. Tapi di balik itu semua saya ingin menunjukkan,  ini lho… ada orang yang hatinya begitu mulia, orang besar tidak pernah melupakan jasa orang kecil. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *