Kenangan  Bersama CZ

 Kenangan  Bersama CZ
Chaeruddin Zaman (paling kanan), bersama jajaran redaktur Harian Jayakarta saat mengikuti kelas “Bahasa Jurnalistik” di Fakultas Sastra UI. Tampak jajaran redaktur lain: Yashinto Sembiring, Roso Daras, Heri Mulyono, dan Abbas Prabowo. Foto: Dok. Jayakarta

Oleh Iswati

SATU demi satu kawan kita pergi. Santhy Sibarani, Novi Nuryanti, dan kini Chaeruddin Zaman (CZ). Sabtu (19/5) lalu CZ menghadap Sang Pencipta. Dia menjadi kawan sekantor cukup lama. Sebagaimana pertemanan, apalagi dalam profesi jurnalistik, kawan sekantor ya…, teman diskusi, sekaligus lawan debat. Juga teman bercanda, dan kadang saling ejek, maka ketika menerima kabar berpulangnya, kita tentulah tersentak dan merayap rasa kehilangan.

“Begitu cepatnya waktu berlalu,”  igau Dini dalam komentarnya di whats app di grup mantan karyawan Jayakarta. Segalanya memang terasa cepat berlalu, Dini,  setelah sampai di ujung waktu, apalagi sudah tiada.

Berita duka ini kita terima dari kawan kita Kris Kaban, tapi dikatakan pula CZ sudah dimakamkan. Terlambat kita terima duka cita itu, sehingga tak punya  kesempatan mengantarnya ke rumah terakhir, menuju alam keabadian. Tempat dimana setiap yang bernyawa akan ke sana. Tinggal menunggu jadwal batas saja.

Mengenang almarhum CZ dengan ciri kumis baplang, sekilas memang tampak garang dan kasar. Namun kita tahu, dia tidak seperti itu. Di sisi lain ada beberapa  hal yang bisa dipetik dari sosok CZ yang “garang” ini. Setidaknya bagi saya yang mulai kenal CZ sejak di Kantor Jayakarta manajemen lama di Jl. Otista III, Jakarta Timur. Dia disiplin dalam beribadah, selalu ingin menyegerakan sholat. Sesibuk apa pun jangan tinggalkan sholat, katanya.

Ketika Jayakarta berkantor di Jalan Dewi Sartika, lalu pindah ke Jl. Arus (komplek Suara Pembaruan), saya makin tahu CZ, terutama ketika Redpelnya dijabat Albert Kuhon yang mana naskah yang diserahkan padanya kudu clean dan sesuai dengan style  bahasanya. Yang baru jadi reporter maupun yang sudah beberapa tahun pun, setelah diperiksa Kuhon selalu ada coretan lalu diberi catatan di sana-sini, termasuk naskah saya dan CZ.

Dari situasi seperti itu, menulis seolah-olah sangat susah, dan berbicara pun tidak  mudah –entah topik apa yang dibahas saat itu, tapi bincang-bincang kami para wartawan di ruang depan di Jl Dewi Sartika membahas tentang kemampuan seseorang dalam menulis dan berbicara/pidato atau ceramah – CZ  berkomentar begini, “Di Indonesia ini cuma ada satu orang yang bisa menulis dan bicaranya pun bagus yaitu Sukarno (Presiden RI pertama).”

Saya coba menyanggah dengan menyebut beberapa nama yang berkelebat di kepala yakni Bung Tomo, Pramudya Ananta Tur dan lainnya. CZ bergeming. Teman lain ada yang tetap asyik mengetik (sebagian besar masih pakai mesin ketik), yang lain lagi hanya senyum saja, mungkin maklum CZ suka “bombas” kalau bicara.

Namun omongan CZ itu tidak terlupakan hingga kini. Boleh jadi pendapatnya itu tepat, atau mendekati kebenaran. Karena dia mematok dengan kriteria puncak. Bahwa karya-karya atau tulisan Bung Karno seakan terus beresonansi sesuai nafas zaman. Dan orasinya punya daya pukau kuat. Acap menggetarkan dan sanggup membangkitkan semangat nasionalisme bangsanya.

Meski saya tidak pernah mendengar CZ bicara tentang Sukarno tapi seiring perjalanan saya mencoba tahu lebih jauh tentang Sukarno, tampaknya omongan CZ itu tidak berlebihan. Bahkan sampai kini belum muncul sosok yang bakatnya mirip Sukarno, yang karya tulisnya monumental, dan orasi-orasinya mengagumkan.

Tapi kita tentu harus optimis, di zaman milenia ini, akan hadir generasi yang handal. Tidak hanya cerdas, tapi juga berwawasan luas, punya pemikiran dalam, sepenuh hati cinta tanah air dan luhur pula kepribadiannya. Insya  Allah!

Jadi nanti bukan hanya satu, atau Sukarno saja di Indonesia ini, seperti yang dikatakan CZ. Mudah-mudahsan! Kita semua tak pernah henti berharap. Selamat jalan, kawan. Semoga husnul khotimah dan pintu-pintu jannah terbuka untukmu. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *