Dunia Sulap Indonesia Krisis Karakter

 Dunia Sulap Indonesia Krisis Karakter
Deddy Corbuzier dan Rommy Rafael.
Oleh Gde Mahesa

JIKA mau jujur, generasi persulapan di Indonesia belakangan ini, setelah ter-explore lewat kompetisi di salah satu stasiun TV para pesulap muda boleh dibilang krisis karakter. Kenapa bisa demikian? Era keemasan dimulai sekitar tahun 1997 dimana muncul seorang Deddy Corbuzier dengan identitas sebagai mentalist dengan penampilan serba hitam dan dandanan yang super unik. Ia berhasil menyejajarkan hiburan sulap dengan acara musik, hingga sebuah acara yang digelar tak akan lengkap jika tanpa ada keajaiban sulap.

Hal ini berdampak panen rezeki dengan adanya tanggapan manggung pada semua orang yang berprofesi sebagai pesulap. Bahkan banyak anak-anak muda dadakan pingin jadi dan bisa sulap. Toko perlengkapan sulap, sampai kursus kilat menjamur. Sungguh sebuah fenomena yang luar biasa dalam dunia pertunjukan, hingga puncaknya digelar kompetisi besar yang ditayangkan langsung lewat salah satu stasiun televisi yang melahirkan sosok Limbad, Jhoe Shandi, Rizuki, dan banyak lagi.

Setelah ingar-bingar pergelaran kompetisi, alhasil banyak muncul pesulap generasi baru, tentunya dengan harapan ingin tenar dan bisa bertanding dalam acara tersebut. Hal ini tentulah sangat positif bagi dunia hiburan, namun tentu dampak ekonominya selalu ada. Semakin banyak dagangan yang ditawarkan maka akan semakin kecil harga yang ditawarkan, sangat logis bahkan penulis masih bisa dengar seorang pesulap mau dibayar sekadar pengganti transportasi, yang penting bisa tampil.

Dalam kurun lima tahun belakangan terasa seni pertunjukan sulap terasa melemah, walaupun ada beberapa pertunjukan besar atau kompetisi tingkat asia namun hasilnya seperti tak berdampak. Pesulap generasi baru tak ada yang muncul, dunia pertunjukan keajaiban hanya nampak ramai di media sosial. Kenapa bisa terjadi ?

Seseorang yang dianggap Bapak Sulap Indonesia mengatakan kepada penulis, bahwa rata-rata generasi baru inginnya instan. Mereka merasa mampu. Sebuah sikap yang justru menjebak dan menghambat keberhasilan.

Sebetulnya para pesulap harus lebih banyak membekali diri dengan ilmu panggung. Kalau orang teater menyebut dengan acting. Tidak hanya itu, pesulap harus mengerti benar tentang dirinya dan panggung itu sendiri. Semenrara yang tampak di permukaan, generasi sekarang hanya meniru karakter, atau mengubah sedikit dari karakter yang diidolakan, hingga terasa datar.

Karakter sulap Indonesia sudah warna-warni, butuh sosok baru lagi. Sebab sekarang masih bertahan karakter yang lama. Harus lebih kreatif dan tidak takut dikritik, tentunya juga berani membuat terobosan dalam bermain di atas panggung, berani melawan arus. Ini yang ditunggu sehingga muncul seseorang yang mampu membuat semarak dunia hiburan khususnya sulap.

Tantangan bagi generasi penerus sulap Indonesia, akankah lahir sosok baru dalam dunia hiburan persulapan? Semoga. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *