Getar Ponsel Tengah Malam

Logo Harian Umum Jayakarta periode Jl Arus, Cawang, Jakarta Timur.

JAYAKARTA NEWS – Malam sudah larut, saat Commuterline yang saya tumpangi tiba di Stasiun Bekasi. Mendadak ponsel di saku celana bergetar. Bikin selangkangan geli-geli kaget. Satu nomor di layar muncul. Tak saya kenal.

Heran juga. Siapa tengah malam begini telepon. Pasti penting, pikir saya. Jadilah saya pun menjawab panggilan di ponsel. Padahal setengah mengantuk. Tadi malah sempat tertidur di Commuterline. Untung dibangunin petugas pengawal kereta yang sebenarnya juga ngantuk.

Di ujung sana, terdengar suara Laksmi. Senior di Koran Jayakarta dulu. Dia minta izin memasukkan nomor ponsel saya di grup WA Jayakarta. Saya iyakan saja. Saya pikir, pasti bakal seperti grup WA kebanyakan. Seru-seruan sesaat doang.

Tak sampai lima menit, ada juga yang say hello. Wah, ternyata ada juga ya yang ingat saya. Surprise….. Padahal saya hanya sekelebatan hadir di Jayakarta. Waktu itu sudah di Gang Arus, Cawang, Jakarta Timur.

Di parkiran motor di bekas jalur kereta batubara di Stasiun Bekasi. Ingatan saya seakan berputar, pada saat menjadi bagian dari Koran Jayakarta. Saya adalah rekrutan dari PPWP Yogyakarta. Angkatan VII. Bersama Ari Hidayat dan Nina (Ernaningtyas). (Sekalian kenalan dengan senior yang belum sempat kenal waktu itu).

Kumandan saya di Gang Arus waktu itu ada dua. “Ibu Walikota” Diana Runtu dan “Kapolres” Timbo Siahaan. Saya sebut begitu karena tugas saya di Pemkot Jaktim dan Polres Jaktim.

Juragan lapak gedenya, Sam Roso Daras. Seingat saya, meja beliau waktu itu memang selalu penuh kertas editan. Mirip lapak kertas bekas.

Saya tak sempat berhadapan dengan suhu-suhu lain, seperti Albert Kuhon. Entah saya harus bersyukur atau berduka, karena cerita dari para senior, seru dan saru banget saat ada suhu Albert Kuhon di Jayakarta.

Menjelang akhir tahun kedua di Jayakarta, saya dipinang ke tempat lain. Jadilah saya tinggalkan Gang Arus, bersama seluruh kenangan. Kesibukan nunggu order kerjaan, menjadikan saya tak sempat merajut silaturahim.

Sampai kemudian memori itu terpanggil kembali. Namun saya tak mau berharap banyak. Saya masih berpikir, WAG Jayakarta bakal seperti yang lain.

Tapi saya salah. Dari WAG, saya jadi tahu Jayakarta lahir kembali. Meski bentuk lain. Dari komunikasi yang terjalin di WAG pula, saya tahu ada banyak kegiatan. Seakan menegaskan umur emang masalah buat lo…, bukan kami.

Terakhir waktu rame-rame ke Yogyess, eh Yogya. Ternyata para senior tak hanya sekadar hepi-hepi melepas kangen. Dan yang saya bikin geleng kepala adalah, pulang dari Yogya tiba-tiba semua menuangkan pengalaman mereka dalam tulisan.

Bagi saya, ini luar biasa. Amazing kalau kata Tukul. Meski sekelebatan saja di Gang Arus, saya tahulah, tidak semua yang ikut ke Yogya adalah awak redaksi. Ada senior-senior di bidang usaha, yang dulu tak pernah kebayang bisa nulis. Nyatanya, empat jempol tak cukup buat menyatakan kagum.

Asiknya lagi, mereka terus bikin kelas menulis. Features lagi. Wow, saya makin angkat topi. Walau pinjam topi teman di seberang meja kantor. Semoga nanti akan ada banyak tulisan-tulisan indah. Tulisan yang bisa dibaca dan di-share (pinjam istilah milenial) ke banyak orang.

Mungkin belum akan menjadi inspiransi. Tapi setidaknya, bisa meneduhkan batin yang sekarang lebih banyak dicekokin tulisan tanpa makna. Hanya penuh prasangka dan amarah membuncah.

Semoga…

Tepukan tangan penjaga parkir menghentikan putaran memori saya.

“Ini kembalinya, bang,” katanya sembari memberikan uang 8.000 perak ke saya.

“Kok kembali 8.000, uangnya kan tadi 20.000. Ongkos parkir kan 6.000”.

“Sampe jam 12 malam, bang. Sekarang dah lewat 5 menit, jadi itungannya nginep, kena 12.000”.

Buset dah…, keasikan ngelamun. Rugi bandar, jadinya. Buru-buru dah motos saya starter. Meluncur pulang, sembari teriring salam hormat saya untuk para senior. ***

Iwang De Noegroho

Jayakarta 1996-1997

Kenangan  Bersama CZ

Chaeruddin Zaman (paling kanan), bersama jajaran redaktur Harian Jayakarta saat mengikuti kelas “Bahasa Jurnalistik” di Fakultas Sastra UI. Tampak jajaran redaktur lain: Yashinto Sembiring, Roso Daras, Heri Mulyono, dan Abbas Prabowo. Foto: Dok. Jayakarta

Oleh Iswati

SATU demi satu kawan kita pergi. Santhy Sibarani, Novi Nuryanti, dan kini Chaeruddin Zaman (CZ). Sabtu (19/5) lalu CZ menghadap Sang Pencipta. Dia menjadi kawan sekantor cukup lama. Sebagaimana pertemanan, apalagi dalam profesi jurnalistik, kawan sekantor ya…, teman diskusi, sekaligus lawan debat. Juga teman bercanda, dan kadang saling ejek, maka ketika menerima kabar berpulangnya, kita tentulah tersentak dan merayap rasa kehilangan.

“Begitu cepatnya waktu berlalu,”  igau Dini dalam komentarnya di whats app di grup mantan karyawan Jayakarta. Segalanya memang terasa cepat berlalu, Dini,  setelah sampai di ujung waktu, apalagi sudah tiada.

Berita duka ini kita terima dari kawan kita Kris Kaban, tapi dikatakan pula CZ sudah dimakamkan. Terlambat kita terima duka cita itu, sehingga tak punya  kesempatan mengantarnya ke rumah terakhir, menuju alam keabadian. Tempat dimana setiap yang bernyawa akan ke sana. Tinggal menunggu jadwal batas saja.

Mengenang almarhum CZ dengan ciri kumis baplang, sekilas memang tampak garang dan kasar. Namun kita tahu, dia tidak seperti itu. Di sisi lain ada beberapa  hal yang bisa dipetik dari sosok CZ yang “garang” ini. Setidaknya bagi saya yang mulai kenal CZ sejak di Kantor Jayakarta manajemen lama di Jl. Otista III, Jakarta Timur. Dia disiplin dalam beribadah, selalu ingin menyegerakan sholat. Sesibuk apa pun jangan tinggalkan sholat, katanya.

Ketika Jayakarta berkantor di Jalan Dewi Sartika, lalu pindah ke Jl. Arus (komplek Suara Pembaruan), saya makin tahu CZ, terutama ketika Redpelnya dijabat Albert Kuhon yang mana naskah yang diserahkan padanya kudu clean dan sesuai dengan style  bahasanya. Yang baru jadi reporter maupun yang sudah beberapa tahun pun, setelah diperiksa Kuhon selalu ada coretan lalu diberi catatan di sana-sini, termasuk naskah saya dan CZ.

Dari situasi seperti itu, menulis seolah-olah sangat susah, dan berbicara pun tidak  mudah –entah topik apa yang dibahas saat itu, tapi bincang-bincang kami para wartawan di ruang depan di Jl Dewi Sartika membahas tentang kemampuan seseorang dalam menulis dan berbicara/pidato atau ceramah – CZ  berkomentar begini, “Di Indonesia ini cuma ada satu orang yang bisa menulis dan bicaranya pun bagus yaitu Sukarno (Presiden RI pertama).”

Saya coba menyanggah dengan menyebut beberapa nama yang berkelebat di kepala yakni Bung Tomo, Pramudya Ananta Tur dan lainnya. CZ bergeming. Teman lain ada yang tetap asyik mengetik (sebagian besar masih pakai mesin ketik), yang lain lagi hanya senyum saja, mungkin maklum CZ suka “bombas” kalau bicara.

Namun omongan CZ itu tidak terlupakan hingga kini. Boleh jadi pendapatnya itu tepat, atau mendekati kebenaran. Karena dia mematok dengan kriteria puncak. Bahwa karya-karya atau tulisan Bung Karno seakan terus beresonansi sesuai nafas zaman. Dan orasinya punya daya pukau kuat. Acap menggetarkan dan sanggup membangkitkan semangat nasionalisme bangsanya.

Meski saya tidak pernah mendengar CZ bicara tentang Sukarno tapi seiring perjalanan saya mencoba tahu lebih jauh tentang Sukarno, tampaknya omongan CZ itu tidak berlebihan. Bahkan sampai kini belum muncul sosok yang bakatnya mirip Sukarno, yang karya tulisnya monumental, dan orasi-orasinya mengagumkan.

Tapi kita tentu harus optimis, di zaman milenia ini, akan hadir generasi yang handal. Tidak hanya cerdas, tapi juga berwawasan luas, punya pemikiran dalam, sepenuh hati cinta tanah air dan luhur pula kepribadiannya. Insya  Allah!

Jadi nanti bukan hanya satu, atau Sukarno saja di Indonesia ini, seperti yang dikatakan CZ. Mudah-mudahsan! Kita semua tak pernah henti berharap. Selamat jalan, kawan. Semoga husnul khotimah dan pintu-pintu jannah terbuka untukmu. ***