Dynamix Park, Ide Besar Hermawan Sulistyo

 Dynamix Park, Ide Besar Hermawan Sulistyo

Panorama alam yang indah di lokasi Dynamix Park, Cibadak, Sukabumi. (foto: renzo)

Jayakarta News – Diam-diam, Prof (Ris) Hermawan Sulistyo tengah mendesain sekaligus melaksankan sebuah ide besar. Yakni konsep “one stop tourism” berbasis pertanian dan penghijauan. Dynamix Park (Taman Dynamix) namanya. Lokasinya di Desa Sekarwangi, Cibadak, Sukabumi – Jawa Barat.

“Total luas area keseluruhan hampir 200 hektare, cukup menampung gagasan one stop tourism berbasis pertanian dan penghijauan. Ini sekaligus akan menjadi taman rekreasi terbesar di Indonesia,” ujar profesor riset yang akrab disapa Kikiek itu.

Bermula dari kejadian minggu lalu, saat Presiden Direktur PT Solusi Bangun Indonesia, Aulia Mulki Oemar menghubungi Prof Kikiek dan menawarkan lahan eks tambang pasir silika PT SBI di Cibadak. Sesuai undang-undang, pasca penambangan sebuah lahan harus direklamasi atau dipulihkan. Program itu sudah dilakukan.

Seperti diketahui, usai bergabung ke Semen Indonesia dua tahun lalu, Holcim berganti nama menjadi Solusi Bangun Indonesia (SBI). Produk semen Holcim pun berganti merek menjadi Dynamix.

Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo (ketiga dari kiri) bersama Tim Renzo saat meninjau lokasi Dynamix Park, di CIbadak – Sukabumi. (foto: Renzo)

“Tugas” Hermawan Sulistyo selanjutnya adalah menjadikan area bekas tambang tadi agar memiliki nilai tambah secara maksimal. Bisa memberi manfaat, tidak saja bagi masyarakat sekitar, tetapi juga bagi Pemkab Sukabumi dan dunia pariwisata Indonesia.

“Makanya, idenya harus ‘gila’, out of the box. Amanah PT SBI melalui Presdir Aulia, harus saya jawab dengan gerak cepat. Kita berkejaran dengan waktu,” ujar peneliti senior LIPI itu.

Untuk wadah kerjasama pengelolaan lahan tadi, dikedepankanlah Yayasan Renzo. “Kami sinergikan dengan Kementerian Pertanian dan stakeholder lain. Kebetulan, Yayasan Renzo dan Kementan juga bekerjasama dalam program sabuk pengaman pangan (food green belt). Jadi kami lanjutkan di Dynamix Park,” ujar Hermawan Sulistyo, patron Yayasan Renzo.

Selain menggandeng Kementerian Pertanian, Kikiek juga merintis kerjasama dengan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Stake holder lain dalam proyek ini adalah Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Dojo Renzo ‘Home of the Champion’, Koperasi Karyawan Solusi Bangun Indonesia, Kelompok Tani Sekarwangi, dan Jayakarta News.

Stake holder SBI “Dynamix Park”.

“Tentu saja kami tidak menutup kemungkinan bersinergi dengan pihak lain yang seide. Lahan 200 hektare adalah lahan yang sangat luas. Semua ide kreatif bisa diwujudkan di Dynamix Park,” tambahnya.

Muara dari gagasan Hermawan Sulistyo adalah membangun resort sekaligus sentra produksi pangan terbesar di Indonesia. Sebagian lahan akan disulap menjadi wisata agro berupa perkebunan tanaman pangan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian. Sejumlah klaster tanaman sudah disiapkan. Antara lain tanaman sagu, pisang, duren, matoa, mangga meksiko, dan lain-lain.

Sarana outbound juga sudah digodog oleh Tim Renzo. Antara lain giant swing, flying fox, paintball, ATV, labyrinth, dan camping ground. “Untuk seni panggung dan berbagai event, kami akan membangun amphitheatre. Background-nya tebing-tebing, dijamin spektakuler,” kata Kikiek.

Spot-spot menarik lain adalah Café & Villa di Batu dan Danau, Peternakan, Mini Zoo, Scholar Corner, Karate Corner, dan Kids Corner. “Perlu kerja spartan untuk mewujudkannya. Selagi pandemi, kami harus berlari. Targetnya, pertengahan tahun depan Dynamix Park sudah beroperasi,” pungkas Hermawan “Kikiek” Sulistyo. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

2 Comments

  • Semoga lancar dan sukses ide besarnya Prof. Hermawan Sulistyo, dan memberikan manfaat dan nilai tambah khususnya bagi masy Sukabumi. Aamiin.

  • Alhamdulillah, Renzo telah mengepakkan sayap-sayapnya menjangkau lahan reklamasi menjadi sabuk pengaman pangan Indonesia dan eco tourism
    hulu hilir berkualitas. Selamat dan sukses Dady, terus jaga kesehatan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *