Di Balik Kacamata Mualaf Deddy Corbuzier

 Di Balik Kacamata Mualaf Deddy Corbuzier
Oleh Gde Mahesa
Deddy Corbuzier dan penulis. (dok.pri)

Jayakarta News – Mendengar, mengetahui, melihat tayangan viral tentang Deddy Corbuzier menjadi mualaf dituntun oleh Gus Miftah saya tidak heran. Meski tak heran, sebagai sahabat, saya tetap bersyukur. Yang menarik dari mualafnya sosok Deddy Corbuzier yang mentalist, master-nya para pesulap, host keren, dan sekian jargon lainnya, tentu ada sekeping cerita dari masa lalu.

Baiklah saya kilas balik ke kisah dua puluh tahun lalu, tepatnya tahun 1999. Usai gonjang-ganjing reformasi, nama Deddy Corbuzier mulai menanjak lewat program televisi swasta Impresario 008. Deddy yang saya kenal adalah orang yang realistis, selalu berpijak dengan dasar logika atau akal sehat.

Dari sisi spiritualitas, saya menilai saat itu Deddy bukanlah sosok Katolik yang taat. Tidak jauh dengan saya yang masuk kategori muslim tidak taat. Diskusi kami kalau sudah sampai ke ranah agama, akan berakhir dengan guyon ala Gusdurian. Topik pun kembali ke soal-soal ilmu perdukunan, paranormal, supranatural, dan rupa-neka topik. Gema adzan subuh, menjadi tanda kami berangkat tidur.

Gde Mahesa (penulis) dan Deddy Corbuzier. (dok.pri)

Syahdan, tiba pada suatu malam kami melakoni perjalanan menuju Semarang, untuk show perdana. Yang menjadi pengundang tidak main-main, sebuah perusahaan otomotif ternama. Kami pun diinapkan di Hotel Patra. Deddy selalu mendapat satu kamar sendiri. Saya juga.

Ringkas kalimat, usai show yang terbilang sukses kami sempat beramah-tamah sebelum kembali ke hotel untuk istirahat. Mata mulai redup seperti bohlam lima watt, ketika telepon kamar berdering membelalakkan mata, akibat reflek gendang telinga yang terusik bunyi berisik.

“Pasti Deddy,” kataku dalam hati sambil mengangkat gagang telepon. Dugaanku tepat. Deddy di ujung kabel sana. Ia mengaku tidak bisa tidur, makanya “mengganggu” saya, memaksa saya solider untuk menemaninya “tidak bisa tidur”. Meski sejatinya, saya ngantuk bukan kepalang.

Di sela pembicaraan dinihari, tiba-tiba Deddy menyeret ke topik agama Islam. Saya bahkan masih ingat, ketika Deddy yang waktu itu belum pelontos bertanya polos, “Alhamdulillah itu apa? Al Fatihah itu apa?”

Sependek pengetahuan saya, jawaban pun kuluncurkan…. “alhamdulillah itu artinya segala puji bagi Allah. Sedangkan al Fatihah adalah salah satu surat yang pertama dalam Alquran. Ia juga disebut sebagai ibu atau induknya Alquran. Dalam bahasa Arab disebut ummul Quran. Dan banyak keistimewaan lain dari surat al Fatihah.”

Tengah malam, Deddy minta aku menuntun membaca dan mengeja. Aku jawab, “Ah… jangan becanda. Aku nggak mau!” Tapi ia mendesak, serius ingin tahu. Aku pelan-pelan, dan sebisa-bisanya membantu Deddy. Tidak perlu waktu lama, Deddy mulai lancar.

Topik tidak selesai sampai di situ. Ia menelisik lebih dalam, tentang bagaimana menjadi orang Islam. Terus terang, saya tertawa ngakak waktu mendengarnya. Spontan saya bertanya, “Emang lu mau masuk Islam?” Ia menjawab santai, “Ingin tau aja. Serius bagaimana menjadi orang Islam?”

Saya jelaskan ihwal syarat pengucapan dua kalimat syahadat. “Apa itu syahadat?” tanya Deddy. Aku pun mengucapkan syahadat, dan Deddy menirukan.

Keseluruhan perbicangan malam itu ia akhiri dengan kalimat singkat, “Yo wis yooo…..” Krek! Gagang telepon ditutup. Giliran saya yang tidak bisa tidur. “Apa maunya Deddy?”

Tak terasa gema adzan subuh sayup-sayup menerobos dinding kamar hotel. Sebelum beranjak sleeping, saya sempat berdoa dalam hati, “Yaaa…. mudah-mudahan lu jadi Islam beneran Ded.”

Gde Mahesa (penulis) dan Deddy Corbuzier. (dok.pri)
Mendampingi Deddy Corbuzier dalam aksinya. (dok.pri)

Waktu terus bergulir, tahun pun berbilang. Tiba di era tahun 2000-an, usai pergelaran kompetisi The Master, kami memisahkan manajemen. Deddy Corbuzier memiliki manajemen baru. Sementara saya juga membentuk manajemen sendiri yang fokus pada seni-budaya. Selanjutnya, saya tahu Deddy nge-host acara Hitam-Putih.

Sekian tahun kemudian, tahun 2019 terbetik kabar Deddy Corbuzier berencana masuk Islam. Saya menanggapi sebagai berita biasa. Bahkan, sesaat setelah viral video Deddy di-baiat menjadi muslim oleh ustadz Gus Miftah, saya mencoba bersikap biasa. Meski di dalam hati ada getar hati yang spesial, entah bagaimana saya melukiskannya. Saya terpekur dalam doa syukur untuknya.

Setelah menjadi mualaf, mengucapkan dua kalimat syahadat, masih ada yang mesti Deddy lakukan. Inilah moment yang saya tunggu. Entah dia akan mengundang saya atau tidak saat Deddy menggelar acara sunatan…..

Deddy….

Semoga kau lebih beriman dariku

Semoga kau lebih tawakal dariku

Semoga kau lebih beribadah dariku

Semoga kau lebih sabar dariku

Semoga kau lebih beramal dariku

Namun jangan surgamu lebih dari surgaku

Amin

Semoga kau masih ingat Ded. Selamat menempuh dan menjalani keimanan Islammu. Alhamdulillah wa syukurillah. ***

Deddy Corbuzier, pesulap muda potensial. (ist)
Jumpa pers bersama Deddy Corbuzier, tahun 2007. (dok.pri)
Mendampingi Deddy dalam salah satu aksinya. (dok.pri)
Gde Mahesa (penulis), Deddy Corbuzier, dan Ihne. (dok.pri)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *