CEGAH GAIB

 CEGAH GAIB

Di kompleks peternakan domba di Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. (jto)

JAYAKARTA NEWS – Meski Idul Adha masih lama, persiapan menyambut qurban harus dimulai dari sekarang. Khususnya penyiapan hewan qurban seperti sapi atau kerbau dan kambing atau domba.

Satu jam menjelang waktu azan zuhur, saya dan Pak Lambang tiba di kompleks peternakan domba di Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Inilah lokasi penggemukan 380 ekor domba untuk hari raya qurban tahun depan.

Lahan peternakan itu sebenarnya terlalu sempit. Hanya cukup untuk kandang saja. Lahan penanaman rumput odot terpisah. Agak jauh. Berjarak beberapa ratus meter.

Kandang itu menampung sekitar 100 ekor domba. Sebagian besar kambing perah jenis etawa. Bisnis utama peternakan itu memang susu kambing.

Pengadaan domba untuk qurban belum dimulai. Saat ini baru mulai tahap penanaman rumput odot. Bibit kambing akan didatangkan saat puasa Ramadan.

Selain rumput odot, sumber pakan utama di peternakan ini adalah limbah kulit kedelai dari pabrik tahu dan pabrik tempe. Dua pabrik itu berada di satu lokasi. Hanya terpisah bangunan beberapa meter saja.

Dari peternakan Cijeruk, kami menyempatkan dulu mampir ke salah satu pusat penjualan durian. Namanya Belah Duren. Milik Raditya Dika. Di sini kami hanya sanggup menghabiskan setengah durian bawor. Harap maklum, ukurannya memang raksasa.

Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke peternakan di Parung, Bogor Barat. Di peternakan ini akan digemukkan 120 ekor kambing untuk qurban.

Lahan peternakan yang ini lebih luas. Selain kandang kambing, ternyata ada banyak kolam pembibitan ikan lele dan nila. Juga ada pabrik pakan ikan. Pabrik itu menyuplai kebutuhan untuk ikan di kolam itu.

Sebenarnya kami ingin melihat juga peternakan ketiga. Sayang lokasinya di Jonggol, Bogor timur. Posisinya tidak cocok dengan rute pulang ke Jakarta. Di peternakan ini ada 300 ekor kambing. Januari nanti kami akan jadwalkan untuk meninjau peternakan milik Mas Imam Prihandiyoko, mantan wakil pemimpin redaksi Kompas TV itu.

Peninjauan kandang merupakan agenda wajib. Kunjungan lapangan itu untuk memastikan bahwa mitra penyedia kambing qurban benar-benar memiliki fasilitas kandang, sumber pakan dan mampu menyediakan ternaknya. Jangan sampai kami memasarkan program qurban dengan mitra bisnis ‘makhluk gaib’.

Setelah mitranya nyata, kandangnya nyata, fasilitasnya nyata, barulah kami akan kontrak pengadaan ternak qurban.

Ada dua model kontrak yang lazim.

Pertama, kontrak pengadaan berdasarkan jenis kelamin hewan qurbannya. Dalam kontrak ini, peternak wajib menyediakan hewan qurban sesuai jenis kelamin yang ditentukan pembeli. Kalau sudah ditentukan domba jantan, peternak tidak boleh mengirimkan domba betina.

Kedua kontrak pengadaan berdasarkan berat hidup hewan qurbannya. Dalam kontrak ini, peternak akan mengirimkan hewan qurban yang berat hidupnya sesuai permintaan pembeli. Tidak peduli jantan atau betina.

Bolehkah hewan betina digunakan untuk berqurban? Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah, hewan yang memenuhi ketentuan qurban adalah sapi, kerbau, onta, kambing dan domba, baik jantan maupun betina.

Perdebatan tentang hewan betina untuk qurban lebih pada aspek sustainability terhadap program swasembada daging nasional. Pemotongan hewan betina bisa menghambat kemampuan swasembada daging karena berkurangnya jumlah indukan betina.

Sulitnya mendapat bakalan atau pedet sudah dialami para peternak sapi. Impor daging akhirnya menjadi solusi yang berujung bunuh diri.

Produksi daging kambing saat ini memang masih lebih tinggi dibanding konsumsi. Entah beberapa tahun lagi, kalau pemotongan kambing betina tidak diatur dengan regulasi. (joko intarto)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *