Bogor Sarat Rindu

 Bogor Sarat Rindu

DULU beda dengan sekarang. Bogor dulu, adalah kota hujan yang romantis. Sekarang, kota semrawut ketika hujan turun. Bogor dulu, kota hijau pertama di dunia. Sekarang, Bogor kota hijau, tapi hijau-hijau warna angkot.

Masih panjang deretan kontradiksi dulu dan sekarang. Misal, dulu Bogor jadi akses utama ke Puncak. Sekarang, tidak Bogor tidak Gadog, sama macetnya. Masih ada lagi. Dulu, Bogor dikenal dengan pepohonan tinggi nan menjulang. Sekarang, pohon-pohon kalah tinggi dengan bangunan mal dan apartemen.

Beruntung, Walikota Bogor Aria Bima tergolong yang merasakan perubahan Bogor dari waktu ke waktu. Karenanya, ia mencoba mengembalikan keasrian Bogor seperti sedia kala. Dimulai dengan mengatur arus angkot dengan memberlakukan banyak jalan satu arah.

Bukan hanya itu. Walikota Aria Bima juga mulai getol membangun taman. Gerakan cinta lingkungan terus digelorakan dan ditanamkan kepada setiap penduduk kota yang dulunya bernama Buitenzoorg itu.

Pada peringatan hari jadi Kota Bogor 3 Juni 2016, beragam rangkaian acara digelar untuk mencapai target penghijauan. Pemkot Bogor bersama elemen masyarakat, menggelar acara sedari yang berbasis kebudayaan hingga menghijaukan kota. Ada lomba mulung sampah (memungut sampah), dll.

Biar bagaimana pun, Bogor tetap menjadi kota idaman bagi yang mendamba kenyamanan hidup. Tak pelak, Bung Karno memilih kota ini untuk tinggal bersama Hartini, setiap akhir pekan. Wajar bila kemudian Presiden Jokowi mengajak Raja Salman singgah di Istana Bogor dan bukan ke Istana Merdeka.

Diakui atau tidak, kota ini sejak seabad silam, kerap dipilih para pelaku sejarah saat melakoni perjuangan hingga menghabiskan sisa hidupnya. Seperti misalnya penyair Asrul Sani (satu dari tiga serangkai [Chairil Anwar dan Rivai Apin]). Setengah dari hidupnya nyaris ia tuntaskan di Bogor, sampai kemudian ia menelurkan Naga Bonar yang legendaris itu.

Marah Rusli pun begitu. Sedari muda hingga ia menulis roman Siti Nurbaya yang fenomenal, Bogor adalah saksi bisunya. Pun dengan bapak pers Indonesia, RM Jokomono Tirto Adhi Suryo. Tirto dan Marah yang namanya melambung di Bogor, memilih berisitrahat selamanya di kota yang sarat rindu ini.

Dengan pembangunan banyak taman, semoga Bogor kembali menjadi kota yang hijau kembali. Semoga kebersihannya tetap terjaga dan kemacetan berkurang. Meski sejatinya, keanggunan sebuah kota tak melulu berkaitan dengan taman dan penghijauan. Malainkan keberadaban yang memanusiakan manusia. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • bogor memang kota hujan selain kehujan kendaraan dari kota Jakarta, juga kebanyakan Angkutan kota yang marak sehingga kemacetan kota Bogor sama dengan kota Jakarta, pak walikota bogor belum menjamah membenahi trayek angkot dengan baik. selamat membenahi kota bogor Kang Ario Bimo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *