Sunyaragi Mati Suri

 Sunyaragi Mati Suri

EMPAT buah topeng khas Cirebon berukuran raksasa, tergeletak di antara tribun panggung Taman Gua Sunyaragi, Cirebon. Tidak satu pun yang tidak cacat. Mengelupas cat di sana, rompal di sisi yang sini, pendek kata tak terawat. Tak heran jika taman yang satu ini seperti mati suri.

Memasuki gerbang Taman Gua Sunyaragi, kesan janggal sudah muncul. Sebuah bangunan tinggu, berbahan beton dan besi, kokoh berdiri setengah melingkar. Sekilas, mirip bangunan stadion dari luar. “Bukan… ini tadinya untuk wisata kuliner. Pesan makan di bawah, makannya di tribun atas sambil memandangi taman Sunyarangi,” ujar seorang penjaga.

Konsepnya bagus. Niatnya baik. Gara-gara tidak ada sentuhan arsitektur yang paham seni dan budaya, jadilah bangunan itu kontras dengan nuansa batu alam di areal taman gua berukuran 15 hektare itu. Ditambah, sejak berdiri hingga kini, tak satu pun pedagang kuliner berjualan di situ. Alhasil, mangkrak.

Apalagi, keberadaan bangunan tadi, menutup pandangan pelalu-lintas di Jl Brigjen Dharsono, yang ramai. Sekalipun, sangat banyak mitos dan legenda menarik di Taman Gua Sunyaragi, tetap saja sulit menggaet wisatawan datang.

Bagaimana keadaan di dalam sana? Tidak lebih baik daripada keadaan di luar. Di belakang altar, yang biasa digunakan untuk pementasaan sendratari Cirebon, dipasang huruf warna-warni bertuliskan “GOA SUNYARAGI”. Guruf G warna merah, huruf O warna oranye, huruf A warna biru… amboi… sakit nian mata ini memandangnya.

Masuk lebih dalam ke area gua, makin blank, karena tidak ada bantuan pemandu. Sedikitnya ada sembilan gua di area Sunyaragi, dengan Gua Peteng sebagai pintu utama. Masih ada gua padang ati, gua lawa, gua pawon, dan lain sebagainya. Tanpa pemandu, pengunjung tidak akan mendapatkan informasi bersejarah apa pun. Persoalannya, pemandu adanya di pintu masuk. Untuk memakai jasanya, pengujung harus merogoh uang ekstra. Olala…. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *