Tersebutlah SD Murung di Cigadung

 Tersebutlah SD Murung di Cigadung
Kelas 1, 2, 3, dan 4 ada kalanya digabung. Itu pun jumlah muridnya hanya sepasang jari tangan. Kondisi yang memprihatinkan di SD Negeri 1 Cigadung, Pandeglang. Foto: Andang S

ENTAH karena sukses Keluarga Berencana (KB), entah lantaran miskin peminat. Yang jelas, ada satu di sekolah dasar (SD) negeri di Kabupaten Pandeglang yang sepi murid. Kondisinya, hidup segan, mati tak mau. Sehari-hari tampak murung, tidak seceria kebanyakan sekolah dasar yang pikuk dengan gelak canda, dan sesekali jerit-tangis bocah.

SD Negeri 1 Cigadung, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Karang Tanjung tampak mengenaskan. Satu lokal kelas terkadang bermurid tak genap sepasang jari di tangan. Total siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, tidak lebih dari 52 anak saja.

Kondisi itu menjadi ironis karena sesungguhnya lokasi sekolah itu bukanlah di pedalaman suku Baduy… melainkan di Jalan Raya Serang-Pandeglang Km 3,5. Di sekitar lokasi SD itu berada, relatif padat penduduk. Tidak jauh dari sana, ada pom bensin, ada dua rumah makan lumayan besar, ada jasa laundry, bahkan ada perusahaan swasta, PT Prima Land dan minimarket.

Padahal, SD ini terbilang SD “Kenangan”. Sebab, hampir semua penduduk setempat yang relatif berusia lanjut, adalah lulusan SD Negeri 1 Cigadung. Maklum, dia adalah sekolah pertama di desa itu. Karenanya, tak sedikit warga yang mengelus dada prihatin melihat kondisi SD Negeri 1 Cigadung.

SD Cigadung !, Karang Tanjung, Pandeglang, sepi murid, miskin sarana. Foto: Andang S

Jauh berbeda dengan kondisi “yunior”-nya, SD Negeri 2 Cigadung. Meski lahir belakangan, muridnya jauh lebih banyak dan kondisi bangunan sekolahnya cukup baik. Ya, di desa itu memang terdapat dua SD negeri. Sedangkan untuk satu kecamatan, yakni Kecamatan Karang Tanjung, terdapat sedikitnya 21 SD Negeri dan 1 SD Swasta. Sekali lagi, di antara ke-22 SD tadi, maka kondisi SD Negeri 1 Cigadung-lah yang paling memprihatinkan.

Hasil pantauan Jayakartanews di lapangan menengarai, penyebab sepinya siswa lantaran sekolah tersebut memiliki banyak keterbatasan. Terbatas ruang kelas, terbatas ruang belajar, dan terbatas pula fasilitas penunjangnya.

Salah seorang dewan guru, Herli Marliani S.Pd saat ditemui beberapa waktu lalu mengaku, sekolah tempatnya mengabdi memang sudah lama sepi murid. “Setiap tahun ajaran baru, tidak banyak siswa yang mendaftar ke SD kami,” ujar Herli pelan.

Saat ditanya penyebab, sejenak Herli merenung. Ia tidak menjawab secara pasti, mengingat penyebab sepinya sekolah bisa datang dari banyak faktor. Herli hanya menyebut beberapa kemungkinan, di antaranya lokasi sekolah yang persis berada di pinggir Jalan Raya Serang – Pandeglang. “Beberapa warga pernah mengatakan kepada saya, mereka khawatir menyekolahkan anaknya di sini karena letaknya yang berada di pinggir jalan. Rawan kecelakaan,” tuturnya.

Bisa jadi alasan warga yang dikutip Herli adalah benar. Tetapi realistis, sekolah itu memang cukup menyedihkan keadaannya. Disebut menyedihkan karena berada di –katakanlah—“pusat peradaban”. SD dengan 52 siswa itu, memiliki tujuh orang dewan guru, dan hanya empat ruang kelas plus satu ruang guru sekaligus menyatu dengan ruang kepala sekolah.

Kondisi itu menyebabkan ruang belajar murid kelas 1, 2, 3, dan 4 digabung. Hanya kelas 5 dan kelas 6 saja yang ruang kelasnya sendiri-sendiri. Pelan Herli berkata, “mungkin ini SD dengan murid paling sedikit di Indonesia.”

Pernyataan yang mungkin terlalu “baper”. Mungkin benar, jika yang dimaksud Herli adalah “sekolah dengan murid paling sedikit” di antara 1.033 SD lain yang ada di 35 kecamatan se-Kabupaten Pandeglang, ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.