Kerjasama Palestina – Israel Cegah ‘Ledakan’ di Timur Tengah

 Kerjasama Palestina – Israel Cegah ‘Ledakan’ di Timur Tengah

SENIN siang, dua tentara Israel, yang berpakaian sipil, tersesat dan secara tidak sengaja mengendarai kendaraannya memasuki Jenin, kota Palestina di utara Tepi Barat. Belasan orang Palestina langsung mengepung mobil tersebut, melemparkan batu-batu dan kursi ke jendela dan kaca depan mobil.

Sesaat kemudian, ditengah teriakan dan hancurnya kaca, seorang polisi Otoritas Palestina menarik senjata keluar dan mengusir para perusuh dan dia dia juga meminta bantuan lewat telepon. Pasukan Keamanan Otoritas Palestina langsung diterjunkan, menyelamatkan tentara Israel dan dengan selamat menyerahkan mereka kepada pihak keamanan Israel. Sebuah tragedy besar — atau krisis politik — berhasil dihindari.

Kejadian di Jenin bukanlah satu-satunya insiden. Awal bulan Februari 2018 ini, seorang warga sipil Israel secara tidak sengaja memasuki sebuah desa Palestina di luar Yerusalam dan kehadirannya memicu 200 orang mendatanginya. Mobilnya dibahar, dan disini juga, Pasukan Keamanan Otoritas Palestina (PASF) bergerak dan menyelamatkannya. Berdasarkan catatan pejabat Palestina, pada tahun 2017 saja, lebih dari 500 orang Israel memasuki wilayah Palestina di Tepi Barat, mereka semua berhasil diselamatkan oleh PASF dan dikembalikan ke Israel.

Langkah-langkah ini merupakan bagian dari ‘koordinasi keamanan’ antara Israel – Palestina. Koordinasi juga termasuk beberapa hal yang belum diungkap ke publik, seperti dialog dan berbagi informasi intelejen, kontra-terorisme, menghindari konflik saat militer Isreael melakukan penyergapan di wilayah, yang dikontrol oleh Otoritas Palestina, di Tepi Barat, dan pengamanan atas kerusuhan. Selain itu, ada keputusan strategis yang diusung oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas berupa menghindari tindakan kekerasan.

Jadi para perwira keamanan Israel dan Palestina selalu melakukan kontak, setiap hari dan pertemuan mingguan, menurut seorang perwira senior Otoritas Palestina. Mereka membahas ancaman-ancaman di Tepi Barat yang bisa berdampak pada situasi keamanan di sisi kedua belah pihak. Pertemuan-pertemuan ini sering menghasilkan operasi kontra-terorisme terhadap musuh bersama, Hamas. Selama rangkaian serangan teror ‘lone wolf’ 2015 – 2016, PASF bekerja mencegah serangan, yang kebanyakan dilakukan oleh pemuda Palestina. Pada akhir 2016, PASF berhasil menahan sepertiga tersangka teroris, yang berencana menyerang Israel.

Ketika Israel melakukan penyergapan sel teroris, biasanya pada malam hari, di kota-kota Palestina, maka dilaksanakan dengan berkoordinasi dengan PASF. Menteri pertahanan Israel menyatakan sebelumnya mereka membutuhkan satu devisi pasukan untuk melakukan operasi di kota Jenin. “Dua hari lalu kami melakukannya dengan tim kecil.” Hal ini bisa dilaksanakan dengan koordinasi bersama PASF. Minggu lalu, pasukan Israel melakukan beberapa penyergapan di kawasan Jenin dengan target beberapa sel Hamas, yang bertanggung jawab atas pembunuhan seorang pemukim Yahudi. Operasi ini berlangsung selama lima belas jam di dalam kamp pengungsi Jenin. Menurut sejumlah laporan, pihak intelejen Palestina ikut membantu pasukan Israel.

Selain itu, Otoritas Palestina juga berupaya mencegah demonstrasi besar berubah jadi kerusuhan besar, terutama di kawasan sensitif, seperti jalan raya, pos penjagaan Israel dan wilayah pemukiman Yahudi atau kawasan perbatasan antara Israel dengan Palestina. Bukan sebuah kebetulan dua bulan setelah pernyataan Presiden AS DonaldTrump, yang mengakui Yerusalam sebagai ibukota Israel, tingkat kerusuhan sudah jauh mendingin. PASF dilaporkan berupaya menghentikan para pemrotes bersenjata mengambil posisi di depan para demonstran lainnya. Sementara Otoritas Palestina juga tidak memobilisasi para pendukungnya.
Pejabat senior Angkatan Bersenjata Israel (IDF), kepada harian Daily Beast, menjelaskan koordinasi keamanan dengan PSAF sebenarnya semakin dekat sejak pernyataan Trump. Kendati pihak Palestina telah menyatakan akan meninjau kembali hubungan keamannnya dengan Israel, langkah yang beberapa saat sempat menghentikan koordinasi di tingkat tinggi.

Bahkan Trump, pada Mei 2017, mengakui peranan vital PASF. “Kita harus terus membangun kemitraan dengan PASF untuk mengalahkan terorisme.” Dia menyatakan ini ketika berdiri disamping Abbas di Gedung Putih. “Saya juga sangat menghargai Otoritas Palestina yang terus melakukan koordinasi keamanan bersama Israel. Mereka sangat baik bekerjasama, saya sangat terkesan dan bagaimanapun terkejut atas kerjasama mulus diantara mereka. Mereka bekerjasama dengan sangat indah.”

Namun kerjasama baik ini mendapat tantangan besar, justru dari sekutu terbesar Israel, Amerika. Trump menyatakan dengan keras ketidak-senangannya kepada Palestina, dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Januari lalu. Dia mengatakan AS merasa ‘tidak dihormati’ karena menolak bertemu dengan Wapres Mike Pence. Trump juga mengancam akan menghentikan bantuan AS kepada Palestina. “Uang itu sudah diatas meja. Kami memberi mereka ratusan juga dolar setahun. Karena kenapa kami perlu melakukan itu kepada sebuah negara jika mereka tidak melakukan apapun untuk kami?” tukas Trump.

AS, Januari lalu, menunda pengiriman dana untuk Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UN Relief and Works Agency for Palestine Refugees – UNRWA). Trump menghendaki Palestina kembali ke meja perundingan dengan Israel. Namun presiden bisa saja salah terutama dalam upaya stabilisasi Tepi Barat dan keamanan Israel. Trump sendiri berkali-kali menyatakan keamanan Israel adalah tujuan utama kebijakan luar negerinya.

Bantuan langsung AS kepada Palestina jumlahnya lebih dari 400 juta dolar setahun. Bantuan ini digunakan untuk membiayai banyak operasi Otoritas Palestina. Namun ada juga uang yang mengalir ke rumah sakit Israel untuk membayari pelayanan kesehatan yang diterima warga Palestina, kemudian ke perusahaan listrik Israel yang mengalirkan listrik ke kawasan Palestina. Selain itu, dana dari USAID juga digunakan untuk membangun infrastruktur dan proyek pembangunan lainnya. Dana ini memberi ruang fiskal bagi Otoritas Palestina sehingga bisa membiayai hal – hal lain termasuk keamanan. Diperkirakan setiap tahun PASF menghabiskan dana sekitar 1 miliar dolar AS per tahun.
Amerika juga selama lebih dari satu dekade mengirim misi kecil, yang dipimpin seorang letnan jenderal, berkedudukan di konsulat di Yerusalem. Tim ini melatih, memberi perlengkapan, dan memberi berbagai dukungan kepada PASF.
Jika Trump memtong bantuan ke Palestina maka akan ada banyak kerugian dengan menurunnya tingkat keamanan dan kestabilan kawasan itu. Taruhannya amatlah besar dibandingkan dengan beberapa ratus juga dolar.
Sumber: thedailybeast.com

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.