Secercah Cahaya di Tengah Belantara Kebun Sawit

 Secercah Cahaya di Tengah Belantara Kebun Sawit
Pembangkit Listrik Tenaga Surya di tengah belantara kelapa sawit.

“Dulu datangnya PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) ini ke Tungkup, seperti aku (mendapat) bayi baru lahir”, begitu kata Hairil Anwar, Kepala Dusun Tungkup, Desa Nyuruk, Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur, ketika menggambarkan perasaannya sewaktu kampungnya menerima PLTS komunal berkapasitas 15 kilo Watt peak (kWp) dari Pemerintah di tahun 2013 silam.

Rasa syukur tak terkira itu datang, tambah Hairil, karena dirinya merasa tidak mudah bagi Pemerintah Pusat untuk memberikan fasilitas kelistrikan bagi masyarakat di daerah yang cukup terisolir tersebut. Rumah-rumah di tengah ribuan hektar kebun sawit ini, kini tidak gelap lagi di waktu malam, secercah cahaya telah terbit di tengah hamparan kebun sawit.

Dusun Tungkup terletak di tengah-tengah perkebunan sawit. Jaraknya sekitar 39 kilometer dari Tanjung Pandan, ibukota Belitung. Untuk mencapai Dusun Tungkup, harus melewati perkebunan sawit dan jalanan berliku, sebagian tanah, sebagian telah beraspal. Perjalanan menuju dusun Tungkup bagaikan melintas di sebuah labirin raksasa. Hadirnya listrik dari Pemerintah kini, menjadi kebanggaan bagi warga Dusun Tungkup.

“Kami ini kan (tinggal di) dusun terpencil, ini kan kalau dibilang paling susah (keterjangkauan listriknya), pakainya lampu pelita. Dengan adanya ini, kami karena dipilih jadi ketua, senangnya lak mane (seperti apa), senangnya bangga begitu, yang dulunya gelap jadi terang,” papar Hairil.

Saking sayangnya dengan PLTS di dusunnya itu, Hairil sampai menginap di ruang kontrol PLTS selama lebih kurang 1,5 bulan. “Aku sebagai kepala dusun tinggal di sini, tinggal di PLTS, tidur. Lebih kurang 1,5 bulan aku tidur (di PLTS). Kenapa? Sebenarnya aku saking sayang dengan ini, makanya tidur, nanti kalo alarmnya berbunyi berarti kan itu tandanya baterainya berkurang. Sebenarnya boleh kita tinggal ke rumah, itu kan otomatis. Tapi karena sakingnya kita sayang, kita matikan sendiri,” kenang Hairil.

Warga Dusun Tungkup telah menikmati listrik dari PLTS komunal ini sejak tahun 2013 lalu. Ketika itu, 80 rumah tangga tersambung dengan PLTS. Dengan iuran sebesar Rp 30.000 per bulan tiap rumah tangga, warga bisa menikmati listrik dengan kapasitas 370 Wp. Iuran tersebut digunakan untuk membiayai pemeliharaan PLTS tersebut.

Seiring berjalannya waktu, penduduk Dusun Tungkup pun bertambah, begitu pula dengan kebutuhan listriknya. Oleh karena itu, tahun 2015, warga Dusun meminta kepada PT PLN (Persero) untuk menambah jaringan listrik ke wilayah tempat tinggal mereka. Sejak saat itu, sebagian besar warga beralih menggunakan listrik dari jaringan PLN. Saat ini, hanya 14 KK yang masih menggunakan listrik dari PLTS. “14 KK itu pun tetap masih dipungut iuran, cuma Rp 10.000, memang tidak pantas itu, itu hanya untuk mengelap modul 4 bulan sekali (di musim hujan), kalau musim kemarau 3 bulan sekali,” kata Hairil lagi.

PLTS Dusun Tungkup dibangun oleh Kementerian ESDM menggunakan dana APBN dan asetnya telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Belitung Timur sejak 30 November 2015 silam. Hingga kini, PLTS Tungkup dikelola oleh masyarakat setempat. Kehadiran PLTS Dusun Tungkup menjadi bukti kehadiran Pemerintah di tengah desa terpencil, memberikan akses listrik demi mewujudkan energi berkeadilan bagi seluruh rakyat indonesia. ***

Rombongan Kementerian ESDM ketika meninjau PLTS di pedalaman perkebunan kelapa sawit.
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *