JAYAKARTA NEWS— Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan, untuk membuka opsi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari negara mana pun guna menjamin ketersediaan pasokan energi nasional. Langkah itu diambil sebagai strategi menghadapi ketatnya persaingan pengadaan energi di pasar global yang semakin dinamis.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak akan bersikap terlalu selektif terhadap negara asal pemasok di tengah tingginya kebutuhan domestik.
Menurutnya, prioritas utama saat ini memastikan ketersediaan fisik BBM untuk masyarakat dan industri tetap terjaga. “Kalau sudah jadi saya akan kabari ya. Tapi sekarang adalah kita dalam posisi seperti ini selalu membuka opsi dari negara mana saja. Jadi jangan kita milih-milih sekarang. Kita dari negara mana aja yang penting ada,” ujar Bahlil Lahadalia melalui keterangan resmi, dilansir InfoPublik.
Untuk itu, Menteri Bahlil menegaskan, bahwa kondisi pasar energi internasional saat ini menuntut fleksibilitas tinggi.
Ia mengungkapkan, kontrak atau tender pembelian tidak selalu menjamin pengiriman barang jika ada pihak lain di pasar global yang sanggup memberikan penawaran harga lebih tinggi.
Oleh karena itu, diversifikasi sumber pasokan energi menjadi kunci agar distribusi nasional tidak terganggu.
Selain BBM, pemerintah juga melakukan penyesuaian signifikan pada sumber impor LPG dan minyak mentah. Untuk pasokan LPG, Indonesia mulai mengalihkan sebagian sumber dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dan Australia.
Sementara untuk minyak mentah, pemerintah mulai melirik negara-negara di kawasan Afrika seperti Angola dan Nigeria sebagai alternatif. “Strategi itu dinilai penting agar distribusi BBM nasional tidak terganggu di tengah kompetisi pembelian antarnegara,” tambah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor, Menteri ESDM juga memastikan bahwa program Biodiesel 50 persen (B50) akan segera diimplementasikan secara resmi.
Setelah melalui masa uji coba selama hampir enam bulan pada berbagai moda transportasi dan alat berat, program itudijadwalkan mulai berlaku pada pertengahan tahun ini. “Dan 1 Juli mulai diterapkan implementasi B50,” tegas Bahlil Lahadalia. (*)
BERDASARKAN data terakhir dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan batubara Indonesia mencapai 26,2 miliar ton. Dengan produksi batubara sebesar 461 juta ton tahun lalu, maka umur cadangan batubara masih 56 tahun apabila diasumsikan tidak ada temuan cadangan baru.
Pada tahun 2017, produksi batubara nasional tahun mencapai 461 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 97 juta ton dimanfaatkan untuk kepentingan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO). Tren pemanfaatan dalam negeri selalu meningkat dari tahun ke tahun. Terhitung sejak 2013 hanya 72 juta ton kemudian menjadi 97 juta ton pada 2017 dengan rincian yaitu 2014 (76 juta ton), 2015 (86 juta ton) dan 2016 (91 juta ton).

“Dulu datangnya PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) ini ke Tungkup, seperti aku (mendapat) bayi baru lahir”, begitu kata Hairil Anwar, Kepala Dusun Tungkup, Desa Nyuruk, Kecamatan Dendang, Kabupaten Belitung Timur, ketika menggambarkan perasaannya sewaktu kampungnya menerima PLTS komunal berkapasitas 15 kilo Watt peak (kWp) dari Pemerintah di tahun 2013 silam.

Dalam surat yang disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan kepada Sekretaris Jenderal OPEC bulan lalu, Indonesia menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas undangan OPEC kepada Indonesia. Bagi Indonesia, OPEC memainkan peran penting dalam perekonomian dan kebijakan energi Nasional. Namun, dengan memperhatikan berbagai pertimbangan, sepanjang kebijakan pemangkasan produksi minyak mentah (restriksi) dilakukan, Indonesia mengambil sikap untuk tidak menjadi anggota penuh OPEC.