‘Ramuan Nenek’, Perawatan Kesehatan Pasca Persalinan Suku Banggai

 ‘Ramuan Nenek’, Perawatan Kesehatan Pasca Persalinan Suku Banggai

 

Erni Aaladjai, bersama pendiri Pustaka Bergerak Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka dan peneliti di Koperasi Riset Purusha, Cecil Mariani, saat bedah buku “Ramuan Nenek” di Perpustakaan Nasional, Jl. Merdeka Selatan, Jakarta. [Foto: Jayakartanews/sm]

KHASANAH pengetahuan dan praktek perawatan kesehatan yang dimiliki suku-suku yang ada  di Indonesia masih banyak yang belum tercatat, dipihak lain pendekatan tradisional yang sudah berjalan ratusan tahun dianggap sebagai pendekatan kelas dua karena ditempatkan sebagai pengobatan alternatif.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi buku “Ramuan Nenek” yang ditulis oleh Erni Aladjai. Buku tersebut merupakan hasil riset tentang praktek perawatan kesehatan bagi bu-ibu pasca melahirkan yang berjalan turun-temurun di Suku Banggai, di Pulau Labobo, Sulawesi Tengah.

“Di kampung saya, orang yang mengetahui perawatan tradisional pasca melahirkan tinggal dua orang, yaitu ibu saya dan teman nenek saya,” kata Erni. Buku yang ditulisnya bersumber dari penjelasan ibu dan teman nenek.    Erni masih cukup beruntung, karena dari pengetahuan ibunya yang diperoleh dari neneknya, kemudian dia praktekkan saat pasca persalinan.

Pengetahuan tradisional ini, dan praktek perawatan tradisional lainnya yang ada di Suku Banggai, kini sudah tidak banyak yang melaksanakannya. Orang menganggap pendekatan dengan pengobatan farmasi yang bersifat kimiawi, lebih praktis. “Untuk mengakses ke apotek terdekat dari kampung kami perlu perjalanan 2,5 jam menggunakan kapal. Jadi, masyarakat umumnya titip ke orang yang berlayar untuk membelikan beberapa obat sebagai persediaan,” ujar Erni.

Erni Aladjai, penulis buku Ramuan Nenek. [foto: jayakartanews/sm]
Masyarakat kurang menyadari betapa penggunaan obat farmasi itu tidak menyelesaikan masalah kesehatan mereka. Erni memberi contoh bagaimana penggunaan obat-obatan kimia berdampak negatif. Seorang wanita yang melakukan persalinan dengan bedah cesar, menggunakan obat yang mempercepat keringnya luka operasi. “Lukanya cepat kering, tetapi bersamaan dengan itu air susunya juga kering, berhenti produksi,” katanya.

Mungkin hal itu  terjadi hanya pada satu orang tersebut, tetapi artinya pendekatan obat seperti itu bukan segala-galanya. Sedangkan perawatan tradisional yang sudah berjalan berabad-abad, tidak ada risiko seperti itu, sebagaimana Erni jalankan.

Pendiri Pustaka Berjalan Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka angkat topi atas terbitnya buku ini. “Bayangkan, kalau tiap suku di tanah air memiliki pendekatan perawatan kesehatan seperti ini, dan ditulis menjadi sebuah buku, paling tidak akan ada 500 judul buku. Itu sudah satu rak sendiri,” katanya.

Peneliti di Koperasi Purusha, Cecil Mariani berpendapat, proyek yang dikerjakan Erni atas dukungan Ford Foundation bersama Cipta Media ini memberi gambaran tentang pentingnya otomomi kesehatan dalam masyarakat kita. “Sekarang ini kita seperti mensubkontrakkan kesehatan kita kepada institusi kesehatan,” katanya.

Dalam situasi seperti itu, kadang kita kehilangan keingintahuan atau mengkritisi soal kesehatan.  “Paling-paling kemudian bertanya pada Google, yang jawabannya juga tidak selalu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” katanya.

Buku Ramuan Nenek ini, patut diacungi jempol karena menggali dari sumber-sumber otentik yang ada di masyarakat Suku Banggai.  Tradisi yang didup di masyarakat, termasuk dalam perawatan kesehatan, perlu sekaku dicatat dalam sebuah buku seperti apa yang dilakukan Erni.

“Semakin banyak catatan seperti yang dilakukan dalam  proyek ini maka akan makin banyak karena kita bisa makin berpikir kritis dalam mengembangkan pengetahuan kesehatan,” kata Cicil.

“Buku kecil ini punya efek besar,” kata Nirwan.  Ketika memasuki halaman pertama, pembaca sudah mendapatkan peta masalah, bagaimana kesehatan dieksploitasi melalui iklan-iklan produk industri farmasi.

Tulisan Erni ini menjawab bagaimana mengatasi ketergantungam metode berobat dengan produk-produk kimiawi sintesis yang mahal dan memiliki efek samping bagi tubuh. Buku ini hadir untuk berbagi pengetahuan perawatan perempuan pasca melahirkan. Ramuan dan tahap perawatan yang ditulis dalam buku ini tidak banyak yang mengetahuinya, terutama generasi muda. Padahal, perawatan alami seperti yang disampaikan dalam buku ini lebih ramah ke tubuh perempuan pasca melahirkan (ibu yang menyusui). [sm] ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *