Penelitian: Konsumsi Air Kemasan tak Picu Gangguan Hormon, Risiko Kanker dan Reproduksi

JAYAKARTA NEWS— Mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dari galon polikarbonat (PC) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gangguan sistem hormon, gangguan reproduksi, maupun kanker. Hal tersebut terungkap berdasarkan penelitian Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga (Unair).

Penelitian menganalisis pola konsumsi AMDK, kandungan Bisphenol A (BPA) pada 10 merek air kemasan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, serta kaitannya dengan berbagai keluhan kesehatan yang dialami responden. Hasilnya, tidak ada hubungan antara gangguan hormon dalam bentuk apapun akibat mengonsumsi air dari galon guna ulang PC.

“Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara paparan BPA dari konsumsi air minum dalam kemasan dengan risiko kanker, gangguan reproduksi, maupun gangguan hormon,” bunyi kesimpulan penelitian tersebut dikutip InfoPublik, Jumat (3/7/2026).

Dalam pembahasannya, peneliti menjelaskan rendahnya risiko gangguan hormon akibat BPA yang ditemukan pada seluruh sampel air minum. BPA yang terdeteksi masih berada di bawah nilai ambang aman yang ditetapkan BPOM maupun batas Tolerable Daily Intake (TDI) dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA).

Dalam penelitian tersebut, seluruh sampel AMDK yang diuji mengandung BPA pada kadar yang masih jauh di bawah ambang batas aman. Konsentrasi BPA tertinggi tercatat sebesar 0,099 μg/L, sedangkan yang terendah 0,080 μg/L. Nilai tersebut masih jauh di bawah batas aman yang ditetapkan BPOM, yakni 0,6 mg/kg.

Analisis risiko kesehatan juga menunjukkan seluruh merek AMDK yang diteliti masih berada dalam kategori aman. Baik risiko non karsinogenik, risiko karsinogenik, maupun hasil evaluasi aktivitas estrogenik (EEQ) seluruhnya masih berada dalam batas aman.

“Penelitian juga tidak menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan air minum dalam kemasan dengan riwayat penyakit yang berkaitan dengan paparan BPA pada responden,” bunyi hasil penelitian tersebut.

Artinya, masyarakat perlu khawatir apalagi panik saat menggunakan galon PC karena air di dalamnya terbukti masih aman secara nyata dan ilmiah. Meski demikian, konsumen tetap harus memperhatikan dan lebih bijak dalam menyimpan serta memperlakukan galon PC guna lebih meminimalisir migrasi yang terjadi.

Terkait migrasi BPA, dokter spesialis penyakit dalam Laurentius Aswin Pramono mengungkapkan bahwa BPA akan keluar dari tubuh apabila terkonsumsi. Dia menjelaskan, , tubuh memiliki mekanisme super canggih untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya yang secara tidak sengaja masuk ke dalam badan.

Konsultan subspesialis di bidang endokrinologi, metabolisme, dan diabetes ini melanjutkan bahwa tubuh akan mendetoksifikasi atau mengurai partikel BPA yang masuk melalui liver atau hati, lalu mengeluarkannya melalui urine dan keringat. Detoksifikasi ini membuat paparan BPA tidak sampai terakumulasi dalam tubuh sehingga tidak akan menyebabkan gangguan terhadap kesehatan.

“Dalam berbagai studi tentang BPA, paparan bahan kimia yang tidak kita konsumsi secara sengaja kecil sekali kemungkinan untuk mencapai kadar yang mengganggu kesehatan,” katanya.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) juga mengatakan bahwa semua BPA yang masuk bisa diekskresikan atau dikeluarkan secara alamiah dari dalam tubuh. Hal tersebut disampaikan WHO dalam forum panel yang beranggotakan 30 pakar dari Kanada, Eropa dan Amerika Serikat.

“Kadar BPA di dalam darah teramati sangat rendah. Ini menunjukkan BPA tidak terakumulasi di dalam tubuh dan dengan cepat akan diekskresikan melalui urin,” tulis WHO dalam keterangan resmi. (*/di)

Mengejutkan! Obat-obatan Ini Tercipta Secara Kebetulan Termasuk Viagra, Botox dan Metformin!

JAYAKARTA NEWS— Mengejutkan! Ternyata ada sejumlah obat – beberapa di antaranya sangat dikenal masyarakat—diciptakan untuk pengobatan tertentu namun kenyataannya digunakan untuk hal lain. Penelitian dari tahun 2012 melaporkan bahwa penemuan 6% obat yang disetujui FDA melibatkan kebetulan. Berikut beberapa di antaranya, dikutip dari New York Post

Viagra– Pfizer mengembangkan pil biru kecil (nama ilmiah: sildenafil) pada akhir tahun 1980-an untuk mengatasi nyeri dada dan tekanan darah tinggi. Ternyata malah dikenal sebagai obat untuk menangani disfungsi ereksi.

Obat ini tidak terbukti efektif untuk angina pektoris, tetapi memiliki satu efek samping yang sangat mengejutkan: peningkatan ereksi.

FDA menyetujui Viagra untuk disfungsi ereksi pada tahun 1998. Obat ini juga telah terbukti meningkatkan aliran darah ke paru-paru dan menurunkan tekanan darah.

Botox- Sebelum menjadi andalan dalam perawatan kulit Hollywood, Botox awalnya disetujui oleh FDA pada tahun 1989 untuk mata juling, kedutan kelopak mata yang tidak terkendali, dan gangguan saraf wajah.

OnabotulinumtoxinA kemudian ditemukan dapat membantu mengurangi kerutan kosmetik sekaligus menunjukkan potensi untuk pengobatan migrain kronis, keringat berlebihan di ketiak, dan kandung kemih yang terlalu aktif.

Metformin- Anda mungkin mengenal metformin sebagai obat diabetes. Sebenarnya, obat ini dulunya merupakan agen antimalaria dan pengobatan untuk influenza.

Sekarang obat ini sedang dipelajari untuk potensi khasiat anti-penuaannya.

AZT – Zidovudine dikembangkan sebagai obat kemoterapi pada tahun 1960-an dan segera dihentikan penggunaannya ketika gagal melawan pertumbuhan tumor pada tikus.

Obat ini muncul kembali pada tahun 1980-an sebagai AZT, obat antiretroviral pertama yang disetujui FDA untuk pengobatan HIV/AIDS.

Talidomida – Talidomida telah mengalami beberapa perubahan desain. Sebuah perusahaan farmasi Jerman mensintesisnya pada tahun 1950-an untuk mengatasi insomnia dan mual di pagi hari pada wanita hamil.

Kemudian obat ini dikaitkan dengan cacat lahir parah pada ribuan bayi dan ditarik dari pasaran.

Sejak itu, obat ini muncul sebagai obat untuk komplikasi kusta, dan sekarang digunakan untuk mengobati kanker darah langka multiple myeloma dan lupus.

Minoxidil – Dikembangkan pada tahun 1950-an untuk mengobati tukak lambung tetapi pada akhirnya tidak berhasil.

Kemudian diberi merek dagang sebagai Loniten antihipertensi dan disetujui oleh FDA pada tahun 1979 untuk mengobati tekanan darah tinggi yang parah.

Para ilmuwan memperhatikan bahwa orang yang mengonsumsi obat tersebut mengalami pertumbuhan rambut yang tidak terduga di kepala dan tubuh mereka. Minoxidil kemudian diberi merek dagang ulang sebagai Rogaine topikal pada tahun 1980-an.

GLP-1 –  Dr. Joel Habener dari Massachusetts General Hospital secara tak terduga menemukan GLP-1 pada tahun 1980-an saat menganalisis gen pankreas pada ikan anglerfish.

Tim Habener mengidentifikasi prekursor GLP-1, hormon yang mengatur gula darah dengan meningkatkan insulin dan menekan glukagon setelah makan, meletakkan dasar bagi obat-obatan yang sekarang kita kenal sebagai Ozempic, Zepbound, dan Trulicity.

GLP-1 terbukti bermanfaat di luar perannya dalam mengendalikan diabetes dan memicu penurunan berat badan. Studi menunjukkan manfaat untuk segala hal mulai dari penyakit ginjal kronis dan apnea tidur hingga kecanduan alkohol karena kemampuannya untuk mengurangi peradangan dan meningkatkan kesehatan organ secara independen dari penurunan berat badan.

GLP-1 bukanlah satu-satunya terobosan yang tidak disengaja. Banyak obat inovatif ditemukan secara tidak sengaja atau selama penelitian untuk penggunaan yang sama sekali berbeda — antibiotik penisilin ditemukan melalui bakteri yang terkontaminasi jamur, sementara klorpromazin dikembangkan untuk mencegah syok bedah dan kemudian digunakan kembali sebagai antipsikotik untuk skizofrenia. (Sumber: New York Post)

dr. Saraswati MP.Si: Pionir Penelitian Peluruhan Radikal Bebas dan Terapi Holistik di Indonesia

MALANG, JAYAKARTA NEWS – Di sebuah klinik sederhana di Jalan Surakarta No. 5 Malang, Jawa Timur, beroperasi sebuah lembaga penelitian yang telah menarik perhatian dunia medis internasional. Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas, yang dikenal juga sebagai Rumah Sehat Malang, dipimpin oleh seorang dokter perempuan yang telah mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan terapi alternatif yang kontroversial namun terbukti efektif. Dialah dr. Saraswati MP.Si, FIAS, yang akrab disapa dokter Ati.

Memahami Radikal Bebas: Musuh Tersembunyi dalam Tubuh

Sebelum memahami kedalaman penelitian yang dilakukan dr. Saraswati, penting untuk mengetahui apa sebenarnya radikal bebas. Radikal bebas adalah “pencuri kecil” dalam tubuh yang merusak sel-sel sehat, seperti karat yang menggerogoti logam.

Molekul-molekul tidak stabil ini memiliki elektron tidak berpasangan yang membuatnya sangat reaktif dan cenderung “mencuri” elektron dari sel-sel sehat untuk mencapai kestabilan.

Radikal bebas berasal dari berbagai sumber, termasuk polusi udara, sinar ultraviolet berlebihan, makanan tidak sehat, stres, dan bahkan proses metabolisme normal dalam tubuh. Dampaknya sangat merugikan: menyebabkan penuaan dini, menurunkan daya tahan tubuh, dan berkontribusi pada berbagai penyakit kronis seperti kanker, jantung, dan diabetes.

Untuk melawan radikal bebas, tubuh memerlukan antioksidan yang banyak terdapat dalam buah-buahan, sayuran hijau, dan bahan-bahan alami lainnya. Pemahaman mendalam tentang mekanisme radikal bebas inilah yang menjadi dasar penelitian revolusioner dr. Saraswati.

Perjalanan Hidup Seorang Dokter Visioner

Lahir di Malang pada 25 Juli 1962, dr. Saraswati memulai perjalanan kariernya di bidang medis dengan menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Tidak puas dengan pendidikan formal kedokteran saja, ia melanjutkan studi S2 Psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, sebuah kombinasi keilmuan yang kemudian menjadi fondasi pendekatan holistiknya dalam pengobatan.

Perjalanan akademisnya yang unik ini mencerminkan visi dr. Saraswati tentang kedokteran yang tidak hanya melihat penyakit dari aspek fisik semata, tetapi juga mempertimbangkan dimensi psikologis pasien.

Pendekatan interdisipliner ini menjadi cikal bakal metode terapinya yang revolusioner.

Karier Akademis dan Profesional yang Beragam

Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia penelitian radikal bebas, dr. Saraswati memiliki pengalaman profesional yang sangat beragam. Ia pernah menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Merdeka (UNMER) Malang

dan bahkan pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Tribuana Tunggadewi. Pengalaman akademis ini memberikan fondasi teoritis yang kuat untuk penelitian-penelitiannya di kemudian hari.

Dalam dunia praktik medis, dr. Saraswati juga memiliki pengalaman yang luas. Ia pernah bekerja sebagai dokter di UPTD PMI Cabang Malang, dokter UKS SMAN 8 Malang, relawan di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), dan pernah memimpin unit kesehatan olahraga serta RS Bersalin Pemda Malang. Keragaman pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek kesehatan masyarakat.

Yang menarik, dr. Saraswati juga aktif sebagai komunikator kesehatan. Ia pernah mengisi program seksologi di beberapa radio di Malang seperti Mas FM dan Kosmonita, serta program kesehatan di radio Cakrabuana dan KDS.

Aktivitas ini menunjukkan komitmennya untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan secara luas.

Keahlian dr. Saraswati di bidang seksologi diakui secara profesional melalui gelar FIAS (Fellow Indonesian Association of Sexology) yang disandangnya.

Gelar ini menunjukkan bahwa ia adalah anggota senior atau fellow dari Asosiasi Seksologi Indonesia, yang menandakan kedalaman pengetahuan dan pengalamannya dalam bidang kesehatan seksual dan reproduksi. Kombinasi keahlian medis, psikologi, dan seksologi inilah yang menjadikan pendekatannya dalam terapi sangat komprehensif dan holistik.

Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas: Sebuah Terobosan

Titik balik dalam karier dr. Saraswati terjadi ketika ia mendirikan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Jalan Surakarta No. 5 Malang. Lembaga ini lahir dari pengalaman pribadi yang sangat memilukan.

Suaminya, dr. Subagio, didiagnosis mengidap Lymphoma non-Hodgkin, sejenis kanker kelenjar getah bening yang prognosisnya sangat buruk.

Dalam pencarian alternatif pengobatan, dr. Saraswati bertemu dengan dr. Greta Zahar, yang kemudian menjadi mentornya dalam mengembangkan terapi balur. Keberhasilan terapi ini dalam membantu kesembuhan suaminya menjadi motivasi utama untuk mengembangkan metode ini secara ilmiah dan sistematis.

Lembaga yang bermarkas di Rumah Sehat Malang ini kemudian berkembang menjadi pusat penelitian yang tidak hanya melayani pasien lokal, tetapi juga menarik perhatian internasional. Pasien dari berbagai negara seperti Timur Tengah, Australia, Singapura, Malaysia, Norwegia, Amerika Serikat, dan Jerman datang untuk menjalani terapi di tempat ini.

Terapi Balur: Inovasi Kontroversial yang Terbukti Efektif

dr. Saraswati MP.Si

Metode terapi yang dikembangkan dr. Saraswati memang tidak konvensional.

Terapi balur yang ia kembangkan menggunakan bahan-bahan alami Indonesia seperti kopi, cengkeh, air kelapa, tomat, wortel, belimbing, bawang sabrang, singkong, kelor, tembakau, dan minyak kelapa. Proses terapinya mirip dengan luluran tradisional, tetapi dengan pendekatan ilmiah yang mendalam.

Yang membuat terapi ini kontroversial adalah penggunaan tembakau dalam bentuk “divine kretek” sebagai salah satu komponen terapi. Namun, dr. Saraswati menegaskan bahwa setiap komponen terapi memiliki dasar ilmiah yang kuat dan telah dipublikasi dalam jurnal internasional.

Menurut penelitian yang dilakukan, terapi balur bekerja melalui proses detoksifikasi dan regenerasi sel. Teknik pemijatan yang digunakan mengikuti arah berlawanan jarum jam, yang diklaim dapat mengubah medan magnet dengan membuang elektron berdasarkan hukum fisika.

Kontribusi dalam Dunia Akademis Internasional

Keberhasilan dr. Saraswati tidak hanya diakui secara lokal, tetapi juga internasional. Bersama mentornya dr. Greta Zahar dan Prof. Dr. Sutiman Bambang Sumitro, M.Sc., ia pernah mempresentasikan terapi balur dalam sebuah kongres internasional di Selandia Baru. Presentasi dan demonstrasi yang mereka lakukan mendapat sambutan luar biasa dari peserta kongres yang berasal dari seluruh dunia.

Pencapaian ini sangat membanggakan, mengingat terapi tradisional Indonesia berhasil diakui dalam forum ilmiah internasional. Hal ini juga membuktikan bahwa kearifan lokal Indonesia, jika dikembangkan denganpendekatan ilmiah yang tepat, dapat berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dunia.

Keterlibatan dalam Organisasi Sosial dan Profesional

Selain fokus pada penelitian dan praktik medis, dr. Saraswati juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan profesional. Ia adalah anggota aktif Rotary Club Malang Central (RCMC), Himpunan Wanita Karya (HWK), dan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Malang. Keterlibatan dalam organisasi-organisasi ini menunjukkan komitmennya terhadap pengabdian masyarakat yang lebih luas.

Sebagai anggota Asosiasi Seksolog Indonesia, dr. Saraswati juga berkontribusi dalam bidang edukasi kesehatan seksual, sebuah area yang masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat Indonesia namun sangat penting untuk kesehatan holistik.

Filosofi dan Pendekatan Holistik dalam Pengobatan

Yang membedakan dr. Saraswati dari praktisi medis lainnya adalah pendekatannya yang sangat holistik. Ia tidak hanya melihat penyakit sebagai gangguan fisik semata, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis, spiritual, dan lingkungan pasien. Pendekatan ini tercermin dalam metode terapinya yang menggabungkan pengetahuan medis modern dengan kearifan tradisional Indonesia.

dr. Saraswati percaya bahwa setiap ciptaan Tuhan memiliki tujuan dan manfaat. Filosofi ini mendasari penggunaan bahan-bahan alami dalam terapinya, termasuk penggunaan tembakau yang kontroversial. Menurutnya, dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan ilmiah, bahkan bahan yang dianggap berbahaya dapat dimanfaatkan untuk kesembuhan.

Tantangan dan Kritik

Sebagai pionir dalam bidang terapi alternatif, dr. Saraswati tidak luput dari kritik dan skeptisisme. Metode terapinya yang “out of the box” dari dunia kedokteran konvensional seringkali mendapat pertanyaan dari kalangan medis tradisional. Penggunaan tembakau dalam terapi khususnya menjadi sorotan, mengingat bahaya merokok yang sudah terbukti secara ilmiah.

Namun, dr. Saraswati menghadapi kritik ini dengan menyediakan bukti ilmiah melalui penelitian yang dipublikasi dalam jurnal internasional. Ia juga menunjukkan hasil nyata berupa kesembuhan pasien-pasiennya, yangdatang tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari berbagai negara.

Dampak dan Legacy

Keberhasilan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di bawah pimpinan dr. Saraswati telah memberikan dampak yang signifikan. Pertama, lembaga ini memberikan alternatif pengobatan bagi pasien yang tidak merespons terapi konvensional atau yang tidak mampu secara finansial menjalani pengobatan mahal seperti kemoterapi.

Kedua, penelitian yang dilakukan telah berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang terapi komplementer dan alternatif. Publikasi dalam jurnal internasional menunjukkan bahwa kearifan lokal Indonesia dapat diangkat ke level ilmiah yang diakui dunia.

Ketiga, keberhasilan dr. Saraswati membuka jalan bagi peneliti Indonesia lainnya untuk mengeksplorasi potensi bahan-bahan alami Indonesia untuk pengobatan. Hal ini dapat meningkatkan kemandirian Indonesia dalam

bidang kesehatan dan mengurangi ketergantungan pada obat-obatan impor.

Inovasi Terkini: Terapi Infus Hidrogen dan Nano Bubble

Tidak puas dengan pencapaian dalam terapi balur, dr. Saraswati terus mengembangkan inovasi dalam bidang terapi alternatif. Saat ini, selain mengelola Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Jalan Surakarta No. 5 Malang, ia juga aktif melakukan praktik terapi infus hidrogen dan nano bubble sebagai bagian dari layanan medis yang ditawarkan.

dr. Saraswati juga terlibat sebagai salah satu dokter peneliti senior dalam program penelitian terapi gelembung nano hidrogen yang

dikembangkan oleh Institut Molekul Indonesia (IMI). Penelitian ini merupakan uji klinis fase 3 injeksi intravena gelembung nano hidrogen

untuk pengobatan Parkinsonism, yang merupakan hasil kolaborasi antara IMI, Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), dan RAHO Club.

Terapi infus hidrogen dan nano bubble yang dipraktikkan dr. Saraswati merupakan metode pengobatan inovatif yang menggunakan teknologi molekul hidrogen dalam bentuk gelembung nano yang diinfuskan langsung ke dalam pembuluh darah pasien. Metode ini diklaim dapat membantu berbagai kondisi kesehatan melalui sifat antioksidan hidrogen yang dapat

menetralisir radikal bebas di tingkat seluler.

Dalam praktiknya di Rumah Sehat Malang, terapi infus hidrogen dan nano bubble ini menjadi pelengkap dari terapi balur yang sudah ada. Pasien dapat memperoleh manfaat ganda dari kedua terapi ini, dengan terapi

balur yang bekerja dari luar tubuh dan terapi infus hidrogen yang bekerja dari dalam sistem peredaran darah.

Pesan untuk Perempuan Indonesia

Sebagai perempuan yang berhasil dalam bidang yang didominasi laki-laki, dr. Saraswati memiliki pesan khusus untuk perempuan Indonesia. Ia menekankan bahwa perempuan adalah makhluk luar biasa yang memiliki

fungsi ganda sebagai teman, istri, ibu, nenek, maupun pekerja. Kunci sukses adalah kemampuan untuk mengelola semua fungsi tersebut dengan baik.

dr. Saraswati juga mengingatkan pentingnya nilai-nilai dasar seperti kejujuran, keberanian untuk mengatakan kebenaran, dan kemampuan mengakui kesalahan. Ia mengajak perempuan Indonesia untuk menjadi sosok yang bermartabat dan berkepribadian Indonesia, sembari tetap berkontribusi pada kemajuan bangsa.

Visi Masa Depan

Melihat ke depan, dr. Saraswati memiliki visi besar untuk mengangkat martabat Indonesia melalui pengembangan kekayaan alam dan kearifan lokal. Ia percaya bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam bidang pengobatan tradisional yang, jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang tepat, dapat membuat Indonesia sejajar dengan negara-negara maju lainnya.

Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas yang dipimpinnya diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan riset serupa di berbagai daerah di Indonesia. Dengan demikian, kekayaan tradisi pengobatan Nusantara dapat terjaga sekaligus dikembangkan untuk kepentingan umat manusia.

Catatan Akhir

dr. Saraswati MP.Si, FIAS adalah contoh nyata seorang ilmuwan Indonesia yang berhasil menggabungkan kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah modern. Melalui Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas, ia telah

membuktikan bahwa terapi tradisional Indonesia dapat dikembangkan menjadi alternatif pengobatan yang diakui secara internasional.

Perjalanan hidupnya yang dimulai dari pengalaman pribadi yang menyakitkan telah berkembang menjadi kontribusi besar bagi dunia medis. Keberhasilannya tidak hanya memberikan harapan baru bagi pasien-pasien dengan penyakit kronis, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan terapi komplementer dan alternatif di Indonesia.

Sebagai seorang perempuan, dokter, peneliti, dan aktivis sosial, dr. Saraswati telah menunjukkan bahwa dengan dedikasi, ketekunan, dan pendekatan yang tepat, seseorang dapat memberikan kontribusi yang

bermakna bagi masyarakat luas. Legasinya akan terus menginspirasi generasi peneliti Indonesia untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kekayaan alam dan budaya Indonesia untuk kepentingan umat manusia.

Dalam era di mana masyarakat semakin sadar akan pentingnya pendekatan holistik dalam kesehatan, karya dr. Saraswati menjadi semakin relevan. Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas bukan hanya sekadar tempat pengobatan, tetapi juga simbol kemampuan Indonesia untuk berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dunia melalui kearifan lokalnya. (Heri)

Program Cek Kesehatan Gratis Capai 5,8 Juta Peserta, Menkes Targetkan 40 Juta di Akhir 2025

JAYAKARTA NEWS— Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan pemerintah pada 10 Februari 2025 telah mencatatkan pencapaian signifikan dengan jumlah peserta mencapai 5,8 juta orang per pertengahan Mei 2025.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, program itu terus menunjukkan perkembangan pesat dengan rata-rata 180 ribu orang mengikuti pemeriksaan kesehatan setiap harinya.

“Dalam tiga bulan sejak diluncurkan, program ini telah menjangkau 5,8 juta peserta. Kami menargetkan 40 juta orang hingga akhir tahun 2025,” kata Menkes Budi dalam diskusi publik bertajuk “Bagaimana Visi Kesehatan Era Prabowo?” yang diselenggarakan oleh Kantor Komunikasi Kepresidenan bersama GEMPITA di Jakarta, Sabtu (17/5/2025).

Untuk memperluas jangkauan, pemerintah berencana meluncurkan fase kedua program ini dengan menyasar anak-anak di 200 ribu sekolah mulai Juli 2025. Pemeriksaan kesehatan akan dilakukan melalui 10 ribu puskesmas di seluruh Indonesia, dengan target tambahan 28-35 juta peserta dalam tujuh bulan ke depan.

Menkes Budi menekankan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada deteksi dini penyakit, tetapi juga sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat.

Ia menjelaskan, edukasi kesehatan sederhana seperti pentingnya menjaga lingkar perut menjadi cara efektif untuk mencegah penyakit degeneratif.

“Tugas kami adalah mengedukasi masyarakat agar memahami risiko kelebihan gula dan lemak visceral yang memicu penyakit mematikan. Cek kesehatan gratis ini adalah langkah preventif yang diinisiasi Pak Presiden untuk mendorong hidup sehat,” tegas Budi.

Program CKG merupakan salah satu agenda prioritas Kementerian Kesehatan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dengan sasaran akhir 280 juta penduduk Indonesia, program ini dinilai sebagai upaya terbesar pemerintah dalam mewujudkan masyarakat sehat sekaligus mengurangi beban sistem kesehatan nasional di masa depan.***

Siapa Bilang Down Syndrome Gak Bisa Tampil? Ini Kebolehan Mereka di Peluncuran Produk Batik Baru

SIDOARJO, JAYAKARTA NEWS– Produk batik yang identik dengan penyandang Down Syndrome, diberi nama Batik Kromosom 21 Jumat sore (21/2) di Launching bertempat di Balai Besar Guru Penggerak(BBGP) Jatim Desa Kwangsan, Sidoarjo.

Acara yang diselenggarakan oleh Down Syndrome School bekerjasama dengan BBGP Jatim dan Quali International Surabaya ini juga dipersiapkan untuk menyambut Hari Down Syndrome Internasional yang selalu diperingati setiap tanggal 21 Maret.

Dalam studio televisi BBGP yang luas, berkumpul anak-anak penyandang Down Syndrome bersama orangtua masing-masing.

Di panggung utama, satu demi satu beberapa anak penyandang Down Syndrome unjuk kebolehan.

Penampilan mereka diantaranya adalah membaca surat Al Fatehah, Tari Remo dan peragaan busana produk batik Kromosom 21 yang diiringi oleh grup musik yang kesemuanya tuna netra.

Tentu saja pemandangan yang “tidak biasa” itu membuat para undangan hatinya berkecamuk.

Antara rasa kasihan tetapi bangga dan gembira kepada para penyandang down syndrome yang bisa melakukan unjuk kebolehan.

Oleh karena itu setiap unjuk rasa aplaus dari para undangan diberikan kepada penyandang down synsrome itu.

Dalam sambutannya, Owner Down Syndrome School dan Founder Batik Kromosom 21, Lili Musyafa’ah, S.Pd, M.Pd mengatakan, ide untuk membuat Batik Kromosom 21 ini sudah digagas sejak lima tahun lalu.

Selama kurun waktu tersebut, ia intens berdiskusi dengan para pemerhati masa depan anak Down Syndrome serta berkeliling ke beberapa kota untuk mencari desainer dan perajin batik yang bisa mengejawantahkan corak batik identik Down Syndrome.

Desain corak batik ini dari kromosom 21 terbelah tiga yang merupakan ciri khas penyandang down syndrome. Di seluruh dunia, anak penyandang down syndrome ini wajahnya sama.

“Oleh karena itu sulit membedakan antara anak satu dengan anak lainnya” ujar Lili Musyafa’ah yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya ini.

Sebagai seorang ibu yang juga mempunyai anak penyandang Down Syndrome, Lili tergugah untuk mendirikan Sekolah Down Syndrome yang ia dirikan sejak tahun 2017.

Dari hasil pengamatannya, banyak orangtua yang kesulitan secara ekonomi menyekolahkan anaknya yang penyandang down syndrome.

Oleh karena itu ia mempunyai gagasan untuk mendapatkan sumber finansial. Dan batik Kromosom 21 ini menjadi pilihannya.

“Melalui produksi batik ini, para penyandang Down Syndrome akan berusaha dengan sungguh sungguh menjemput rezeki mereka dengan berjualan bukan dengan belas kasihan sebagai peminta sumbangan. Para orangtua dan keluarga yang memiliki anak down syndrome bisa menjadi reseller batik kromosom 21.” tegasnya.

Lili Musyafa’ah juga menyebut, selain dipasarkan di dalam negeri, batik Kromosom 21 juga dipasarkan di luar negeri. Ia menyebut sudah ada distributor dari Australia yang akan memasarkan produk batik ini.

Bahkan dalam acara launching tersebut juga hadir William, seorang distributor dari Belanda.

“Saya tertarik dengan corak batik Kromosom 21 dan akan saya pasarkan ke Belanda” ujar William yang fasih berbahasa Indonesia tersebut.

Penyandang down syndrome saat memamerkan batik kromoson 21(foto: istimewa)

Dalam sambutannya, Ketua BBGP Jawa Timur, Drs Abu Khaer, M.Pd memberikan apresiasi yang tinggi kepada Down Syndrome School dan Quali International Surabaya yang memberikan inspirasi kepada dunia tentang pendidikan bermutu untuk semua, yang tidak hanya terjadi di sekolah formal saja, namun juga di satuan sekolah-sekolah non formal seperti di Down Syndrome School.

Pendidikan bermutu tidak hanya didapatkan di sekolah, keluarga dan masyarakat namun juga di berbagai media sosial.

Sambil memeluk salah satu anak penyandang Down Syndrome yakni Risang Dwi Ananta, alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) Karya Mulya Surabaya yang sudah bekerja selama 12 tahun di BBGP Jawa Timur, Abu Khaer memperkenalkan portal Rumah Pendidikan yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 21 Januari 2025 lalu.

Portal ini merupakan penyatuan berbagai layanan pendidikan yang sebelumnya tersebar di berbagai platform.

Dari beberapa referensi, Down Sindrom merupakan kelainan genetik atau bawaan lahir yang mengakibatkan penderitanya mempunyai kecerdasan yang rendah serta kelainan fisik yang khas. Mengacu pada data WHO, 3000 hingga 5000 bayi terlahir dengan kondisi Down Sindrom setiap tahunnya.

Namun, jika diberikan dukungan dan penanganan yang tepat serta perhatian yang maksimal, penderitanya dapat hidup dengan sehat dan mampu menjalani aktivitasnya secara mandiri.

Dihubungi terpisah Lili Musyafa’ah menceritakan anak keempatnya lahir dengan kondisi Down Sindrom. Sebagai orangtua, sembilan bulan pertama ia merasa sangat terpukul.

Namun setelah mengikuti Potads (Persatuan Orangtua dengan Anak Down Syndrom), ternyata perkembangan anaknya sangat cepat.

Usia tiga tahun sudah bisa mandiri. Ia mulai mencari tahu cara penanganan yang tepat bagi penyandang Down Syndrom.

Saat ia pergi ke Singapura. Disana ia melihat anak-anak penyandang Down Syndrom bisa dilepas di Mall dan melakukan aktifitas normal. Hal ini karena para orangtua mempunyai mindset yang lebih terbuka.

Hal ini berbeda dengan kebanyakan orangtua anak penyandang Down Syndrom di Indonesia.
Bahkan sering terjadi anak-anak Down Syndrom ini di bully.

Dari berbagai pengalaman itulah pada tahun 2018 ia mendirikan Sekolah khusus untuk Orangtua anak penyandang Down Syndrom.***poedji

Mandalawangi Peduli Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Baduy

JAYAKARTA NEWS – Jelang pergantian tahun, Gerakan Mandalawangi Peduli mengadakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis di Binong Raya, Kecamatan Bojong Manik, Kabupaten Lebak, Banten, pada Selasa (31/12). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat adat, khususnya warga Baduy Dalam dan Baduy Luar, yang memiliki keterbatasan dalam mendapatkan fasilitas kesehatan.

Kegiatan ini dihadiri ratusan masyarakat yang berasal dari Baduy Dalam, Baduy Luar, dan sekitarnya. Mayoritas pasien yang hadir terdeteksi menderita gatal kulit, cacingan, bronkitis nonspesifik dan spesifik, mual, sakit kepala, serta demam.

“Kondisi lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja menjadi penyebab utama terpaparnya berbagai penyakit tersebut ke masyarakat Baduy. Selain itu, aturan bahwa mandi tidak diperbolehkan memakai sabun membuat masyarakat rentan terhadap penyakit kulit,” kata dr. Munang Tampubolon, dokter yang aktif dalam kegiatan bakti sosial di berbagai tempat.

Menurutnya, perlu diadakan kegiatan edukasi mengenai kebersihan dan perawatan tubuh agar penyakit kulit dan lainnya dapat diminimalisasi di masa mendatang. Selanjutnya, gerakan Mandalawangi Peduli yang memotori bakti sosial kesehatan masyarakat adat ini perlu menurunkan tim untuk studi lapangan agar program kesehatan masyarakat dapat lebih tepat guna.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, secara terpisah menyampaikan apresiasi kepada Mandalawangi Peduli atas dedikasinya dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan masyarakat di Baduy Dalam dan Baduy Luar.

“Kemenkes sangat mengapresiasi upaya Mandalawangi Peduli yang terus bergerak membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan di lapangan. Kami mendukung kegiatan seperti ini karena sejalan dengan tujuan bersama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Mandalawangi Peduli, Rahmi Hidayati, menyampaikan bahwa gerakan kesehatan masyarakat menjadi salah satu aktivitas utama organisasi tersebut. Ketika terjadi bencana alam di berbagai lokasi, para aktivis turun ke lapangan untuk membantu masyarakat korban sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan di lapangan. Masyarakat adat menjadi salah satu perhatian karena kondisi kesehatan mereka yang masih tergolong rendah.

“Kami berharap pemerintah turut membantu soal kesehatan ini karena memang kami sulit mengakses fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Pembantu, Puskesmas, apalagi Rumah Sakit,” kata Ayah Mursid, tokoh Baduy Dalam yang selalu aktif bergerak untuk perbaikan kondisi kesehatan di desa adat tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Lebak, Budhi Mulyanto, membenarkan penjelasan Ayah Mursid. Menurutnya, masyarakat Baduy memang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan karena akses ke lokasi Puskesmas dan Pustu yang sulit dijangkau. Secara jarak mungkin tidak jauh, tetapi fasilitas transportasi tidak tersedia atau tidak dapat mereka gunakan karena aturan adat.

Yang perlu diperhatikan ke depan, lanjutnya, adalah penyediaan fasilitas bagi petugas kesehatan yang turun ke lapangan, mengingat mereka harus berusaha keras agar dapat sampai ke Baduy Dalam. Selain harus berjalan kaki naik-turun perbukitan dan menyeberangi sungai, mereka juga memerlukan dukungan agar kunjungan ke masyarakat Baduy Dalam menjadi lebih maksimal.

Hal lain yang membatasi layanan kesehatan masyarakat adat Baduy adalah rendahnya jumlah penerima jaminan kesehatan, yakni hanya 30%. Hal ini dapat dimaklumi karena sampai saat ini dari 13 ribu penduduk, baru 9 ribu orang yang memiliki KTP sehingga Dinkes setempat kesulitan untuk mengusulkan kepemilikan jaminan kesehatan masyarakat.

“Padahal Kemenkes sudah welcome dan siap menjamin warga Baduy, tapi masalahnya adalah data kependudukan,” ujarnya.

Sementara itu, jika membangun sarana kesehatan di Baduy, misalnya di Binong Raya, fasilitas tersebut hanya akan mencakup satu kampung. Secara kemanfaatan, membangun fasilitas baru untuk cakupan kependudukan yang kurang dari 20 ribu dinilai kurang efisien.

“Maka memang perlu program khusus dan fasilitas khusus untuk masyarakat adat seperti di Baduy ini,” ujar Budhi seraya menambahkan bahwa secara umum penyakit yang diderita adalah frambusia atau gatal kulit.

Stunting pun dinilai tinggi di Baduy bila mengacu pada kriteria tinggi badan yang dianggap tidak normal. Namun, secara kecerdasan, penyandang stunting tersebut tergolong normal.***/mel

Pj. Gubernur Jatim Soft Launching Grand Paviliun RSSA Malang

MALANG, JAYAKARTA NEWS – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono menyebut bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) berkomitmen meningkatkan pelayanan rumah-rumah sakit umum daerah bertaraf internasional. Sehingga masyarakat Jawa Timur yang sedang sakit dapat berobat di dalam negeri tanpa harus ke luar negeri.

Hal tersebut disampaikan oleh Pj. Gubernur Adhy saat Soft Launching Gedung Grand Paviliun Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang bersama Direktur RSSA dr. Moch. Bachtiar Budianto.

Soft Launching gedung berlantai 7 itu ditandai dengan penekanan tombol sirine yang dilanjutkan pengguntingan untaian melati, Kamis (31/10). Setelah itu, Pj. Gubernur Jatim meninjau sejumlah fasilitas yang dimiliki Grand Paviliun RSSA seperti Poliklinik, ruang inap.

Pj. Gubernur Adhy mengharapkan Grand Paviliun bisa memberikan pelayanan dan peralatan excellence bertaraf internasional. Bahkan, ketika sudah menjadi Paviliun seluruh layanan harus excellence dan bisa memberikan pelayanan layaknya hotel bintang lima dan bertaraf internasional.

“Hari ini saya berterima kasih dan mengapresiasi atas ikon baru dari RSSA yang terdapat Grand Paviliun sebagai layanan khusus yang excellence sehingga bisa dinikmati seluruh segmentasi masyarakat sekitar kawasan Malang Raya,” ungkapnya.

Pj. Gubernur Adhy mencontohkan, dengan pelayanan dan peralatan excellence akan lebih menarik banyak pasien untuk berobat ke Jawa Timur tanpa harus pergi ke luar negeri.

“Grand Paviliun harus sama hebatnya dengan Hotel Bintang Lima sehingga masyarakat di Malang Raya tidak jauh jauh berobat ke luar negeri,” harapnya.

Menurutnya, pelayanan excellence harus dimulai dengan memberikan perhatian kepada Sumber Daya Manusia (SDM). Para petugas lain yang mendukung tenaga medis yang berada di frontline harus memiliki performance lebih menarik layaknya memberikan pelayanan yang excellence.

Lebih lanjut disampaikan Adhy, dengan adanya Grand Paviliun RSSA ini akan memberi kesan naik kelas dan modern. Maka, SDM harus betul-betul bisa membawa identitas RSSA yang excellence.

“Petugas petugas lain dan pendukung di area RSSA harus memberikan image positif dan mengangkat citra rumah sakit yang mencerminkan kualitas internasional,” tegasnya.

Pj. Gubernur Adhy optimistis, Grand Paviliun RSSA ini akan memperluas jangkauan fasilitas kesehatan di Malang Raya sekaligus menjangkau daerah Selatan dan Timur dari Provinsi Jawa Timur.

“Sebagai rumah sakit pendidikan utama tipe A, RSSA merupakan salah satu rujukan utama rumah sakit selain di RSUD Dr. Soetomo di Surabaya dan dapat melayani masyarakat Jatim bagian selatan dan timur,” terangnya.

Menurutnya, Soft Launching Grand Paviliun ini merupakan salah satu upaya nyata meningkatkan fasilitas layanan kesehatan sehingga bisa meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Juga, berkontribusi dalam penyempurnaan program Universal Health Coverage (UHC).

Di akhir, Adhy mengajak kepada seluruh jajaran RSSA untuk menggali potensi dan mengenali segmentasi seluruh pasien yang ada. Harapannya, ketika ingin mendapatkan layanan dan peralatan excellence mereka otomatis akan memilih RSSA Provinsi Jatim di Malang.

“Kita patut berbangga karena memiliki 14 RSUD dan menjadi terbanyak dari seluruh provinsi di Indonesia dengan dua Rumah Sakit tipe A,” katanya.

Ke depan, Pj. Gubernur Adhy ingin agar seluruh rumah sakit di Jawa Timur khususnya RSUD bisa mengarahkan sekaligus meningkatkan peralatan dan fasilitas internasional.

“Kami ingin semua rumah sakit akan mengarahkan untuk meningkatkan peralatan dan fasilitas internasional,” tutupnya.

Dalam laporannya, Direktur RSSA dr. Moch. Bachtiar Budianto mengatakan, saat ini, RSSA memiliki jumlah SDM sebanyak 3.270. Dari jumlah itu, terdiri dari PPDS 1.000 orang dan Dokter Muda 500 orang jumlah prodi 20 dan fellowship 9 yang bisa melakukan operasi jantung terbuka dan transplantasi ginjal.

Untuk kapasitas tempat tidur, RSSA memiliki sebanyak 993 tempat tidur dengan rincian untuk kelas VIP 70, Kelas I 213, Kelas II 267 dan Kelas III 383 tempat tidur.

Pihaknya optimis bahwa kehadiran Grand Paviliun akan mengangkat citra rumah sakit dalam memberikan pelayanan bermutu, meningkatkan kepuasan masyarakat dengan one stop service.

“Terima kasih atas seluruh dukungan Pemprov Jatim terutama arahan, dukungan hingga terlaksananya seluruh proses pembangunan dari Bapak Pj. Gubernur. Semoga Grand Paviliun ini mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan secara excellence bagi masyarakat Jawa Timur,” pungkasnya.***poedji

Pemda harus Serius Tangani TBC dan Polio

JAYAKARTA NEWS— Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta pemerintah daerah (Pemda) untuk lebih serius menangani tuberkulosis (TBC) dan polio di daerah dengan cara membuat tim atau Satuan Tugas (Satgas) vaksinasi. Pasalnya, TBC dan polio menjadi fenomena gunung es dengan jumlah penderita yang cukup banyak.

“Menteri Kesehatan sudah menyampaikan, dan ini sudah rapat di tingkat Presiden, [terkait] dua masalah penyakit ini. Polio, banyak anak-anak kita yang cacat kakinya karena polio ini, dan [perhatian yang] sama dengan TBC,” kata Mendagri pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi secara hyrbid dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP) Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (15/7/2024).

Mendagri mengungkapkan, saat ini baru 144 Pemda yang menerbitkan Instruksi Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio dan SK Tim/Satgas/Pokja PIN Polio. Beberapa Pemda yang telah menerbitkannya di antaranya Provinsi Banten, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan. Sementara itu, untuk penanganan TBC, Pemda yang sudah melakukan rencana aksi baru sebagian dan masih terus dimonitor oleh Kemendagri.

“Atensi Bapak Menteri Kesehatan kemarin, yang paling penting sekali adalah di daerah Papua khususnya. Ini yang kerja baru Papua Tengah, Papua induk, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Barat Daya belum membuat tim untuk polio ini,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, berbeda dengan kondisi Covid-19 yang saat itu belum diketahui vaksinnya, baik polio maupun TBC sudah tersedia vaksin dan obatnya. Justru, yang menjadi tantangan saat ini adalah memperkuat vaksinasi dan mempercepat pengobatan bagi mereka yang sudah terlanjur sakit.

“Polio ini penyakit lama, vaksinnya ada, obatnya juga ada sebetulnya, tapi kalau sudah sekali cacat tidak bisa, seumur hidup,” tambahnya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Yudhi Pramono menyampaikan capaian dan strategi penanggulangan TBC dan polio di daerah. Dia menegaskan, masih ada Pemda yang belum melaksanakan usaha untuk penanggulangan.

“Masih ada gap, masih ada beberapa daerah yang memang sepertinya effort-nya belum ada. Nanti, kami mohon dukungan Bapak Menteri (Mendagri), karena beberapa daerah juga stagnan begitu ya, terutama tadi yang Bapak sampaikan untuk daerah Papua,” jelasnya.

Dari data Kemenkes per 2 Juli 2024, Yudhi memaparkan ada 10 kabupaten/kota dengan capaian notifikasi TBC tertinggi, yaitu Kota Tegal (108 persen), Kota Cirebon (97 persen), Kota Sukabumi (90 persen), Kota Singkawang (72 persen), Kota Kendari (71 persen), Kota Tangerang (71 persen), Kota Palopo (68 persen), Morowali Utara (66 persen), Kota Banda Aceh (66 persen), dan Halmahera Tengah (66 persen).

“Tetapi juga masih ada sepuluh kabupaten/kota, dari pemantauan kami yang masih rendah, masih belum mencapai target, malah masih ada yang [notifikasi] masih nol. Jadi Kabupaten Puncak, Kabupaten Deiyai, dan Intan Jaya, ini perlu effort yang kuat sekali. Dari Bapak/Ibu [Kepala Daerah] kami mohon dukungannya,” tuturnya.

Berkaitan dengan PIN Polio, Yudhi menyebut, cakupan PIN Polio per 13 Juli 2024 di Tanah Papua (PIN Tahap 1) pada hari ke-48 menunjukkan belum ada provinsi yang mencapai target cakupan 95 persen. Cakupan masih di bawah target, yaitu 49,8 persen untuk dosis 1 dan 20,7 persen untuk dosis 2.

“Untuk dosis 1 yang mencapai target dari 42 kabupaten/kota [seluruh Papua], yaitu Kaimana, Teluk Bintuni, dan Sorong. Sedangkan untuk dosis 2 sampai saat ini belum ada yang mencapai target, kami berupaya untuk melakukan percepatan bersama Bapak/Ibu Gubernur dan Bupati/Wali Kota,” tandasnya.***/din

Kemenkes: Tak Ada Hubungan Antara Nyamuk Wolbachia dan Keganasan Nyamuk Dengue

JAYAKARTA NEWS— Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Maxi Rein Rondonuwu menegaskan tidak ada hubungan antara penyebaran nyamuk ber-wolbachia dengan tingkat keganasan nyamuk Aedes aegypti, penyebab demam berdarah.

Menurutnya, karakteristik nyamuk Aedes aegypti di daerah yang telah disebarkan maupun belum disebarkan nyamuk ber-wolbachia tetap sama. Tanda dan gejala orang yang terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti juga sama, seperti demam tinggi yang diikuti nyeri otot, mual, muntah, sakit kepala, mimisan, dan gusi berdarah.

“Secara keseluruhan karakteristik dan gejalanya sama. Bahkan, tidak ada perbedaan jumlah nyamuk Aedes aegypti sebelum dan setelah wolbachia dilepaskan,” kata Dirjen Maxi di Jakarta, dilansir siaran pers Kemenkes.

Hingga kini, penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah dilaksanakan di 5 kota, yakni Semarang, Kupang, Bontang, Bandung, dan Jakarta Barat. Penetapan kelima wilayah tersebut mempertimbangkan kesiapan stakeholder dan masyarakat setempat.

Semarang menjadi lokasi pertama yang melaksanakan penyebaran nyamuk ber-wolbachia, diikutin Kota Bontang dan Kota Kupang. Sampai saat ini, pelaksanaan tersebut belum menyeluruh di semua wilayah. Di Kota Semarang, penyebaran nyamuk ber-wolbachia dilakukan di 4 kecamatan, Kota Bontang di 3 kecamatan dan Kota Kupang di 1 kecamatan.

Sementara itu, untuk wilayah Bandung, penyebaran nyamuk ber-wolbachia baru dilakukan di 1 kelurahan, yakni Pesanggrahan, Kecamatan Ujung Berung. Di Jakarta Barat, Dirjen Maxi menambahkan, penyebaran nyamuk ber-wolbachia hingga kini belum dilaksanakan.

Hal ini karena masih menunggu kesiapan masyarakat dan penandatangan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Jakarta dengan Kemenkes yang sempat tertunda karena terjadi pergantian pimpinan di DKI Jakarta.

Dirjen Maxi mengungkapkan, hasil monitoring bersama antara Kemenkes dan dinas kesehatan di 5 kota tersebut menunjukkan setelah pelepasan ember nyamuk ber-wolbachia, konsentrasi nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia yang ada di alam berada di kisaran 20 persen.

Angka tersebut, lanjut Dirjen Maxi, masih berada di bawah persentase nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia yang idealnya mencapai 60 persen di alam.

“Setelah populasinya mencapai 60 persen, pelepasan ember nyamuk ber-wolbachia akan ditarik kembali dan hasil penurunan kasus dengue baru akan mulai terlihat setelah 2 tahun, 4 tahun, 10 tahun dan seterusnya seperti implementasi yang dilakukan di Kota Yogyakarta,” ungkap Dirjen Maxi.

Penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah terbukti efektif menurunkan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta. Sejak pertama kali disebar pada tahun 2017, nyamuk ber-wolbachia telah terbukti mampu menurunkan 77 persen angka kejadian dengue dan 86 persen kejadian masuk rumah sakit.

Dirjen Maxi mengatakan penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman karena memanfaatkan bakteri alami wolbachia yang ada pada serangga dan telah melalui proses penelitian yang cukup panjang.

Penelitian teknologi wolbachia dilakukan di Yogyakarta selama 12 tahun, yakni dari 2011 sampai 2023. Penelitian ini melewati 4 tahapan penelitian, mulai dari fase kelayakan dan keamanan (2011-2012), fase pelepasan skala terbatas (2013-2015), fase pelepasan skala luas (2016-2020), dan fase implementasi (2021-2022).

Di dunia, studi pertama Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) dilakukan di Yogyakarta dengan desain Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT) yang merupakan sebuah desain dengan standar tertinggi.

Di Indonesia, analisis risiko diinisiasi oleh Kemenristekdikti dan Balitbangkes Kemenkes dengan melibatkan 20 orang dari berbagai kepakaran. Hasil analisis memperlihatkan bahwa pelepasan nyamuk ber-wolbachia memiliki risiko yang sangat rendah.

“Yang mana dalam 30 tahun ke depan, peluang peningkatan bahaya dari penyebaran aedes aegypti ber-wolbachia dapat diabaikan (negligible),” kata Dirjen Maxi.

WHO selaku selaku Vector Control Advisory Group (VCAG) pada 2023 telah merekomendasikan penggunaan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia. VCAG merupakan badan yang bertugas memberikan nasihat dan panduan terkait pengendalian vektor atau penyebaran penyakit oleh vektor tertentu seperti nyamuk.

Meski telah menyebar nyamuk ber-wolbachia, Dirjen Maxi mengimbau masyarakat untuk melengkapi upaya pencegahan dengan menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus.

Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.***/din

Hindari 4 Suplemen yang tidak Perlu untuk Kesehatan Kekebalan Tubuh

JAYAKARTA NEWS – Ketika kesehatan kekebalan tubuh Anda terganggu, seringkali Anda tergoda untuk mengarah langsung ke rak suplemen di kotak obat. Tetapi apakah yakin suplemen benar-benar membantu menyelesaikan gangguan kesehatan Anda?

Mari kita akui, bahwa kita semua pernah tertipu, setidaknya pada satu titik, dengan membeli suplemen mahal yang kita pikir akan menyembuhkan semua penyakit kita. Mungkin Anda menemukan diri Anda mengais-ngais di rak suplemen, begitu pertanda hidung meler muncul.

Namun, masalah dengan suplemen adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) di Amerika misalnya, bahkan tidak mengatur mereka sebelum mereka beredar di pasaran. Dan memang secara teknis, siapa pun dapat mengisi kapsul dengan hampir materi apa pun, lalu menjualnya. Mengerikan, bukan? Tentu saja, tidak semua suplemen berbahaya, karena banyak perusahaan melakukan segala upaya untuk memastikan produk mereka aman bagi konsumennya dengan label yang akurat dan pengujian pihak ketiga.

Namun, suplemen seharusnya tidak menggantikan pola makan seimbang. Mereka seharusnya digunakan sesuai namanya — sebagai pelengkap untuk pola makan sehat (misalnya, dalam kasus di mana Anda tidak dapat mendapatkan jumlah yang cukup dari pola makan Anda). Mengonsumsi pola makan seimbang akan memberikan Anda vitamin dan mineral yang diperlukan untuk mendukung sistem kekebalan tubuh yang kuat.

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari empat suplemen yang sebaiknya dihindari dan makanan apa yang sebaiknya Anda konsumsi lebih banyak ketika berbicara tentang mendukung kesehatan kekebalan tubuh Anda.

Mengapa Kesehatan Kekebalan Tubuh Penting
Sistem kekebalan tubuh kita dilengkapi untuk mengenali dan melawan invasi berbahaya yang mungkin terjadi. “Bayangkan sistem kekebalan tubuh Anda sebagai pahlawan super internal tubuh Anda — jika sistem kekebalan tubuh kita sehat, lebih mudah bagi kita untuk melawan virus, bakteri, atau apapun yang mencoba membuat kita sakit,” menjelaskan Chelsea LeBlanc, RDN, LD, ahli gizi berbasis di Nashville, Tennessee dan pemilik Chelsea LeBlanc Nutrition.

Namun, jika pahlawan super internal tersebut terganggu, mungkin tidak dapat memberikan perlindungan. “Sistem kekebalan tubuh Anda berperan dalam lebih banyak area daripada yang mungkin Anda sadari, jauh melampaui hanya melindungi Anda dari ‘menangkap’ hal-hal seperti pilek, flu, dan virus,” jelas Bonnie Taub-Dix, RDN, seorang ahli gizi media, pendiri BetterThanDieting.com, dan penulis Read It Before You Eat It: Taking You from Label to Table. “Sistem kekebalan tubuh yang sehat juga dapat membantu Anda pulih lebih cepat dari penyakit dan mengurangi peradangan. Dipercaya juga bahwa sistem kekebalan tubuh Anda berperan dalam umur panjang dan pencegahan penyakit,” katanya.

Mengonsumsi pola makan sehat, mendapatkan cukup tidur, mengatasi stres, dan berolahraga secara teratur adalah cara inti yang dapat membantu mendukung kesehatan kekebalan tubuh Anda, yang membawa kita pada empat suplemen yang sebaiknya tidak Anda konsumsi untuk kesehatan kekebalan tubuh.

Empat Suplemen yang Sebaiknya Dihindari untuk Kesehatan Kekebalan Tubuh

Minyak Oregano
Jika Anda pernah membeli shot kekebalan di toko jus lokal Anda, Anda mungkin terkejut melihat minyak oregano terdaftar sebagai salah satu bahan. Ya, oregano itu, yang biasa kita taburkan di atas pizza dan pasta. Minyak oregano diekstrak dari daunnya dan tersedia dalam bentuk cair dan kapsul. Menurut sebuah artikel tahun 2020 yang diterbitkan dalam Metabolites, minyak oregano telah digunakan secara medis selama bertahun-tahun untuk mengobati berbagai penyakit. Ini juga digunakan sebagai pengawet makanan alami karena sifat antioksidan dan antimikrobanya, menurut artikel tahun 2019 di International Journal of Nutrition.

Namun, uji coba pada manusia masih kurang, mengenai apakah minyak oregano benar-benar efektif dalam mendukung kesehatan. Sebuah meta-analisis tahun 2020 yang diterbitkan dalam Phytotherapy Research yang sebagian besar mengkaji studi pada hewan menunjukkan bahwa minyak oregano efektif mengurangi beberapa penanda inflamasi. Namun, penelitian lain, seperti sebuah studi tahun 2020 di Journal of Virology, tidak menunjukkan efeknya dalam melawan flu. Lebih baik tetap dengan menaburkan rempah kering atau segar pada makanan Anda daripada mengonsumsi suplemen.

Perak Koloidal
Perak koloidal adalah cairan dari partikel perak kecil, yang diklaim sebagai obat mujarab untuk infeksi dan luka. Namun, para ahli kesehatan dan Pusat Kesehatan Komplementer dan Integratif Nasional memperingatkan untuk tidak tergoda dengan klaim tersebut. Kristen Carli, M.S., RD, pemilik Camelback Nutrition & Wellness, menyatakan, “Ada banyak klaim palsu tentang manfaat kesehatan mengonsumsi perak koloidal, terutama bahwa ia memiliki sifat antimikroba. Tidak ada cukup bukti untuk mendukung klaim ini.”

FDA memperingatkan bahwa perak koloidal tidak aman dan belum terbukti efektif atau digunakan untuk tindakan pencegahan. Carli menambahkan, “Saya akan menyarankan siapa pun untuk tidak mengonsumsi perak koloidal, karena bisa berbahaya dalam dosis tinggi dan dapat berinteraksi negatif dengan banyak obat.”

Echinacea
Salah satu bahan paling populer yang mungkin Anda lihat dalam produk-produk untuk pilek dan flu adalah echinacea. Echinacea tersedia dalam berbagai bentuk — sirup, bubuk, permen hisap tenggorokan, teh celup

, kapsul, dan permen karet — yang membuatnya begitu menggoda untuk ditambahkan satu dari produk-produk ini ke keranjang belanja Anda ketika sistem kekebalan tubuh Anda membutuhkan dorongan.

Echinacea berasal dari tanaman dan dihype karena kemampuannya dalam melawan infeksi, menurut NCCIH. Namun, Taub-Dix menjelaskan, “Beberapa orang bergantung pada echinacea, tetapi studi telah menunjukkan hasil yang bervariasi apakah dapat diandalkan. Selain itu, echinacea mungkin berinterferensi dengan beberapa kondisi kesehatan seperti gangguan autoimun.”

Sebuah meta-analisis tahun 2019 dari 29 studi yang diterbitkan dalam Complementary Therapies in Medicine tidak menemukan manfaat signifikan ketika echinacea digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi saluran pernapasan bagian atas. Jadi, ini adalah salah satu suplemen yang sebaiknya dihindari dan disimpan dari penggunaan dolar yang Anda hasilkan dengan susah payah.

Pra-latihan
Latihan dengan intensitas sedang hingga tinggi dapat membantu meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh Anda. Namun, jika Anda tergoda untuk mengonsumsi penguat seperti pra-latihan sebelum melangkah keluar pintu, LeBlanc menyarankan untuk menggunakan dengan hati-hati menuju akhir hari. “Banyak dari mereka mengandung kafein, yang mungkin memberi energi pada latihan Anda, tetapi terlalu banyak dapat mempengaruhi tidur Anda, membuat Anda gelisah dan terjaga pada waktu tidur,” katanya.

LeBlanc lebih lanjut menjelaskan, “Tidur berkualitas penting untuk kesehatan kekebalan tubuh. Ini memungkinkan tubuh Anda istirahat, memperbaiki, dan melawan penyakit. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan tujuh hingga sembilan jam setiap malam, jadi jika Anda mengalami kesulitan tidur saat mengonsumsi suplemen pra-latihan, carilah yang tidak mengandung kafein.” Kurang tidur dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan dapat meningkatkan risiko Anda tidak hanya terkena infeksi tetapi juga gangguan metabolik dan kardiovaskular, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Tips untuk Makan Sehat untuk Kesehatan Kekebalan Tubuh Anda
Jadi, daripada menelan segudang pil ketika Anda merasakan sakit datang menyapa Anda, fokuslah pada mengonsumsi makanan yang kaya akan nutrisi. LeBlanc mengatakan, “Makanan kaya nutrisi, seperti yang tinggi vitamin C dan D, seng, dan antioksidan, bertindak sebagai pembela garis depan dan membantu tubuh Anda melawan penyakit.” Vitamin C dapat ditemukan dalam jeruk, grapefruit, kiwi, stroberi, paprika, dan brokoli. Vitamin D dapat ditemukan dalam makanan seperti salmon, kuning telur, yogurt, dan susu yang diperkaya. Dan lentil, kacang-kacangan, yogurt, dan kacang mede adalah sumber seng yang baik.

Taub-Dix menambahkan, “Anda tidak akan pernah salah dengan menambahkan lebih banyak buah dan sayuran ke dalam diet Anda.” Buah dan sayuran sarat dengan nutrisi yang mendukung kekebalan tubuh dan juga bisa diperlakukan sebagai hidangan utama, bukan hanya sebagai pelengkap. Untuk mendapatkan porsi sayuran Anda, cobalah resep Sheet-Pan Ratatouille kami, Veggistrone, atau Salad Cincang Eat-the-Rainbow. Smoothie juga menjadi cara yang bagus untuk menambahkan baik sayuran maupun buah, seperti Smoothie Mangga & Kale kami, yang mencampurkan kale, mangga, dan pisang. Atau mulailah memanfaatkan buah untuk manis alaminya dan coba alternatif makanan penutup sehat ini, yang sarat dengan nutrisi yang mendukung kekebalan tubuh, seperti: Pineapple Nice Cream, Baked Peaches, atau Brown Sugar Broiled Grapefruit.

“Apa yang kunci adalah jangan menunggu sampai Anda pilek atau merasa lelah untuk mulai menambahkan makanan-makanan ini atau suplemen apa pun ke dalam diet Anda. Membuat kebiasaan makan makanan-makanan ini secara teratur dalam diet harian Anda dapat membantu Anda menjadi lebih kuat sepanjang tahun,” tambah Taub-Dix.

Kesimpulannya
Meskipun menggoda untuk menyimpan “penguat kekebalan” suplemen, terutama selama musim flu dan pilek, ingatlah untuk fokus pada memasukkan makanan yang kaya akan nutrisi dalam diet Anda dan hindari penggunaan berlebihan suplemen. Selain itu, penting untuk selalu waspada saat memilih suplemen, dan Anda harus memastikan untuk memilih merek yang tepercaya dan memeriksa dengan penyedia medis Anda sebelum mengonsumsinya. Mengonsumsi cukup buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan protein akan memberi Anda semua vitamin dan mineral yang diperlukan untuk melawan infeksi.(etw/sm)