Pertashop, Mendekatkan Energi dan Meratakan Rezeki Minyak

 Pertashop, Mendekatkan Energi dan Meratakan Rezeki Minyak

Pelanggan Pertashop sedang mengisi BBM, Agus Deni beserta istri dan anaknya. (foto: ernaningtyas)

JAYAKARTA NEWS – Tahun 2021, Pertamina menargetkan berdirinya 1.647 Pertashop di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pertashop adalah penyalur BBM (Bahan Bakar Minyak) resmi Pertamina. Ia serupa SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang mini ukurannya, berlokasi di pedesaan. Siapa saja berkesempatan memilikinya dan jauh lebih murah dibanding SPBU untuk biaya investasinya.

Salah satu Pertashop yang berada di Kabupaten Sleman DIY berlokasi di Pedukuhan Kencuran, Kelurahan Sukoharjo, Kepanewon Ngaglik. Pertashop milik swasta pertama di Sleman ini menjadi contoh bagaimana ia berperan mendekatkan energi kepada masyarakat dengan jaminan kualitas, kuantitas dan harga sesuai patokan Pertamina. Murah dan mudahnya berinvestasi, membuat bisnis ini menjadi peluang bagi siapa saja untuk ikut menikmati rezeki minyak.    

Pertashop Kencuran 

Sabtu pagi (18/9/2021) pukul 09.00 WIB, langit cerah nyaris tanpa awan.Gatot Subroto merapat ke Pertashop di Dusun Kencuran, Desa Sukoharjo, Kecamatan  Ngaglik, Kabupaten  Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di dekat pompa bensin telah tersedia empat jerigen isi Pertamax @ 30 liter. Dua di antaranya ia naikkan di atas motor matik bagian depan, dibantu Rizky Fauzan, petugas Pertashop.

Gatot, demikian nama panggilannya, adalah pelanggan tetap Pertashop Kencuran. Ia pemasok bensin ke pengecer. Setiap tiga sampai lima hari sekali ia mengambil lima jerigen yang diusung secara bertahap. Per jerigen Gatot membayar Rp 270 ribu. 

Sebelum Pertashop Kencuran beroperasi dua bulan silam, Gatot mengambil dagangan ke SPBU Pokoh, di kawasan Pakem, Kabupaten Sleman. “Saya pindah ke sini karena jarak lebih dekat dan jerigen dipinjami, tinggal ditukar saja,” ujarnya sembari berlalu ke utara ke arah kaki Gunung Merapi.

Sepeninggal Gatot si pelanggan yang tergolong kakap, Rizky melayani para pembeli bensin eceran yang datang satu-dua silih berganti. Kadang berurutan, kadang berjeda. Para konsumen mengakui bahwa jarak yang dekat dan jaminan logo Pertamina menjadi alasan mereka membeli Pertamax di Pertashop Kencuran.

Gatot Subroto mengusung jerigen Pertamax pesanannya yang berisi @ 30 liter. (foto: ernaningtyas)
Nurholik, pelanggan Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)

Nurholik misalnya. Pria muda yang tinggal di dusun Punthuk di sisi utara itu selalu melewati Pertashop Kencuran saat beraktivitas sehari-hari. Pom bensin mini itu sangat membantunya mendapatkan energi untuk mengisi tangki  sepeda motor tunganggannya. “Ini (Pertashop-red) membantu banget, ada jaminan stok bensin dan harganya sama dengan pom,” tuturnya.

Sebelumnya, bila kehabisan bensin Nurholik membelinya di pengecer dengan harga seribu rupiah di atas harga resmi. Ia yakin, Pertashop menjamin kualitas bensin dan ketepatan ukuran seperti di SPBU.

Agus Deni pun memberikan alasan sama. Faktor kedekatan menjadi pertimbangannya mengisi BBM di Pertashop Kencuran. Sore itu, Senin (20/20/2021) ia mengisi tangki sepeda motornya. “Dekat, itu rumah saya dan harganya lebih murah dibanding eceran,” katanya memberikan alasan memilih belanja bensin di Pertashop Kencuran, sambil menudingkan telunjuknya ke rumahnya, arah barat laut. Saat itu, Agus bersama istri dan anaknya bermotor tanpa mengenakan helm. Sebuah pelanggaran yang lazim dilakukan para pengendara motor jarak dekat.  

Sementara Andriyanto, yang bertempat tinggal persis di seberang Pertashop Kencuran mengatakan sangat terbantu dengan pembukaan Pertashop itu. “Beli bensin tinggal menyeberang saja,” timpalnya. Ia bercerita bahwa sebelum ada Pertashop Kencuran, pembelian bahan bakar minyak ia lakukan di pengecer atau SPBU. SPBU terdekat berjarak dua kilo meter lebih dari rumahnya.

Namun, Andriyanto mengeluhkan bahwa pom bensin tipe mini itu hanya beroperasi sampai dengan pukul 19.00 WIB. “Malam hari kalau kehabisan bensin saya beli di warung yang kadang-kadang kosong karena stok sedikit,” paparnya. Andriyanto menuturkan, untungnya jumlah kios bensin di dekat rumahnya ada beberapa. Tak semuanya kosong bersamaan. 

Namun, tak hanya persoalan kedekatan jarak dari rumah menjadi alasan konsumen berbelanja bensin di Pertashop Kencuran. Kiki, pengendara mobil yang pada Minggu (26/9/2021) mengisi BBM di tempat itu memberikan alasan berbeda. Saat itu, ukuran bensin di mobilnya menipis dan ia berada di perjalanan dari Pakem menuju Yogyakarta melewati Kencuran. Kencuran berada di jalur alternatif Yogya-Kaliurang. Para pengendara yang paham jalur alternatif bisa memilih lewat Kencuran untuk menghindari jalan Kaliurang yang macet di akhir pekan.

“Kebetulan ada Pertashop di sini, saya belok saja buat isi bensin,” kata Kiki memberikan alasannya.  Kiki mengisi BBM sejumlah Rp 100 ribu rupiah. Tatkala datang, ia sendirian, tak ada konsumen lain. “Cepat ya, tak usah menunggu lama seperti di SPBU yang biasanya ramai pada hari Minggu,” pungkasnya sambil meninggalkan Pertashop Kencuran. 

Jayakarta News mengamati dinamika di Pertashop Kencuran selama beberapa hari. Selain para konsumen yang tinggal di sekitaran lokasi, pengendara sepeda motor jarak jauh yang terlihat dari profilnya mengenakan jaket tebal, helm tertutup dan melaju dengan kecepatan tinggi pun menjadi pelanggannya. Ini berarti Pertashop Kencuran yang berada di lokasi yang relatif tidak ramai karena menjorok sekitar empat kilometer di perkampungan ke arah timur dari Jalan Kaliurang itu tak hanya dekat bagi yang bertempat tinggal di kawasan itu. Lokasi Pertashop ini juga “dekat” bagi para pengendara yang melewati jalur alternatif itu.

Dari jarak puluhan meter, umbul-umbul warna biru, papan nama dan bangunan pompa bensin khas SPBU berwarna merah menyala tampak dari kejauhan. Semua pengendara paham bahwa tempat itu adalah SPBU. Dengan demikian, jika mereka membutuhkan BBM, bisa langsung berbelok merapat ke Pertashop Kencuran, sebuah SPBU mini dengan harga, jaminan ketepatan ukuran dan kualitas langsung dari Pertamina.

Pemilik Pertashop Kencuran Fredy Febrison (kanan) bersama Yosy Putra Ardian (kiri), karyawan Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)

Swasta Pertama

Pertashop Kencuran adalah Pertashop yang dimiliki swasta pertama di wilayah Kabupaten Sleman. Fredy Febrison (37) si empunya, mengakui perjalanannya mendirikan Pertashop Kencuran berlangsung mengalir.   

Suatu malam di bulan Maret 2021, ponselnya berdering. Di seberang sana seorang kawannya mengabarkan bahwa Pertamina membuka peluang usaha penjualan BBM skala kecil. “Masih ingat obrolan kita lima tahun lalu tentang Pertamini?” tanya si kawan. 

Fredy, demikian ia akrab disapa, bercerita bahwa lima tahun lalu bersama kawannya itu ia pernah berdiskusi soal Pertamini. Keduanya menamai Pertamini untuk menyebut usaha penjualan BBM skala kecil. Mereka terpesona pada kasus di India. Di negeri anak benua Asia itu ada pedagang bensin keliling mengendarai motor besar roda tiga. Tangki bensin dibonceng di bagian belakang.  Penjualnya berhenti di pinggir jalan, duduk di kursi lipat, membaca koran sambil menunggu pembeli. 

Dari kawannya itu Fredy tahu bahwa Pertamina sedang membuka peluang usaha penjualan BBM skala kecil dengan konsep Pertashop. Kala itu, di provinsi Yogya istimewa ini, Pertashop baru saja dimulai pemasarannya dan yang bisa dijual adalah dua jenis BBM non subsidi yakni Pertamax dan Dexlite. Siapa saja boleh mengajukan proposal asalkan memiliki badan usaha resmi seperti PT atau CV. Badan Usaha milik Desa (Bumdes) dan Usaha Dagang pun boleh berbisnis BBM lewat Pertashop.  Kebetulan Fredy memiliki badan usaha berbentuk CV yang selama ini ia gunakan untuk membuka jasa desain grafis. 

“Punya dana 250 juta?” tanya si kawan. Fredy mengaku memiliki. Tetapi itu adalah dana tabungan dan operasional untuk usahanya. Bersama istri tercinta, ia menjalankan usaha desain grafis tersebut. Rupa-rupa klien pelanggannya: perorangan, swasta sampai instansi pemerintah. Bagi Fredy, menggunakan dana miliknya itu untuk modal membuka Pertashop adalah sebuah kemustahilan.        

Belum genap mata Fredy terbuka di pagi pada keesokan harinya pada pukul 06.30 WIB, ponselnya kembali berdering. Kali ini yang berbicara di seberang sana adalah koleganya dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mengurusi KUR (Kredit Usaha Rakyat). Ia menawarkan pinjaman dan Fredy pun menyinggung soal Pertashop. “Belum genap rasanya mata ini terbuka karena itu kami tidak berbicara banyak, saya mengakhiri kontak telepon, langsung mandi dan siangnya ketemuan dengan kawan dari BRI itu,” kata Fredy.

Saat berjumpa dengan si bankir itu, Fredy diyakinkan soal Pertashop sebagai peluang bisnis menjanjikan. Keesokan harinya Fredy langsung menemui sales brand manager Pertamina Sleman yang ia panggil Pak Bastian. “Saya tidak pernah berpikir memiliki usaha ini (Pertashop-red) tetapi semua langkah saya mengarah ke sana,” kata Fredy.          

Perjalanan selanjutnya berlangsung mengalir. Bulan Mei 2021 Fredy mulai mencari lokasi, setelah menemukan, ia lantas mengirimkan denahnya ke Pertamina. Pertama, ia mendapatkan sebuah tempat di depan Stasiun Kereta Api Srowot, Kabupaten Klaten. Tempat itu strategis untuk berjualan bensin tetapi sayang tidak masuk dalam kriteria Pertamina karena letaknya berdekatan dengan jalur SUTET. 

Kedua ada dua alternatif tempat, di kawasan Jembatan Tulung Prambanan dan di Pedukuhan Kencuran. Kedua lokasi itu dia sodorkan ke Pertamina dan semuanya masuk ke dalam kriteria yang utamanya diukur dari jumlah kendaraan yang melintas, akses jalan yang bisa dilalui truk tanki pengangkut BBM dengan bobot ribuan ton dan jauh dari jalur SUTET. “Lantas saya melihat plus minus pada kedua tempat itu,” kata Fredy.

Jembatan Tulung memiliki prospek bagus. Lalu lintas yang melewatinya lumayan ramai, karena itu prospek pasarnya bagus. Sementara di Kencuran, kondisi lalu lintas kendaraan yang melewatinya berada di bawah Jembatan Tulung Prambanan. Dengan demikian tingkat penjualannya diprediksi lebih rendah. Sementara jarak masing-masing dari tempat tinggal Fredy di kawasan Kalasan sebelas-dua belas jauhnya, hanya saja arahnya berlawanan. Jembatan Tulung Prambanan ke arah timur, Kencuran ke arah barat dari rumahnya.  

Fredy menuturkan bahwa Pertamina memberi saran agar pilihan Fredy jatuh ke lokasi di Jembatan Tulung yang lebih prospektif dari segi pasar. “Tapi orang berbisnis tidak harus selalu terpaku pada hitungan matematis,” kata Fredy.

Ia menjelaskan, seharusnya lokasi Jembatan Tulung yang ia ambil. Tetapi, hati nuraninya berkata lain. Pilihannya jatuh ke lokasi di dusun Kencuran itu. “Feeling saya mengatakan Kencuran pun prospektif karena dekat dengan perkampungan, berada di jalur alternatif dan rasa di hati lebih enak,” tutur Fredy, si pengagum tokoh Mahatma Gandhi ini. Baginya, Gandhi memberikan teladan tentang bagaimana melihat masalah dari cara pandang yang lebih menentramkan hati.

Sebagai mitra Pertamina, Fredy memiliki Pertashop Kencuran lewat badan usaha CV Karya Untuk Nusantara (Kuntara) yang sebelumnya telah ia gunakan untuk menegakkan bisnis desain grafis.   Usahanya ini masuk katagori “Dodo”, dealer owner, dealer operate. “Ini Pertashop swasta pertama di Sleman,” tuturnya.

Pelanggan Pertashop tidak hanya sepeda motor, tetapi juga mobil. Salah satunya Kiki yang sedang mengisi BBM di Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)

Optimis

Rabu, 21 Juli 2021 adalah hari bersejarah bagi Pertashop Kencuran. Siang itu, untuk pertama kalinya ada truk tanki BBM Pertamina merapat ke wilayah yang berada di tengah perkampungan yang berjarak sekitar empat kilometer dari jalan raya Yogya-Kaliurang itu. Sejumlah 2.000 liter BBM jenis Pertamax berpindah dari perut truk ke modular atau wadah penampungan di stasiun pengisian bahan bakar mini berkapasitas 3.000 liter itu.

Sepeninggal truk tanki, Pertashop Kencuran langsung beroperasi. “Penjualan di hari pertama itu tak sampai mencapai angka seratus ribu rupiah, karena kami buka sudah selepas tengah hari, waktunya pendek sekali dan tempat ini masih baru,” tutur Fredy.

Fredy tak melihat secara langsung detik-detik awal operasional Pertashopnya sampai dengan tujuh hari ke depan. Sebab, bertepatan dengan hari pertama usahanya itu, mertua tercinta wafat. Rumah duka berada di luar kota. “Seminggu saya tinggal ke rumah mertua,” kata Fredy.

Seiring perjalanan waktu, angka penjualan merambat naik. Untuk posisi saat ini, penjualan Pertamax di Pertashop Kencuran berada di kisaran rata-rata 200 hingga 300 liter per hari. “Ya, saat ini kami sedang menuju ke angka penjualan tertinggi 500-an liter per hari,” tambahnya. Fredy berharap angka penjualannya berada stabil pada 500 liter per hari. Dan ia memiliki keyakinan.

Fredy optimis bahwa angka penjualan itu akan meningkat signifikan oleh perjalanan waktu. Saat itu, di kala Yogyakarta masih berada di level 4 PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), Pertashopnya telah mampu mencatat angka penjualan tertinggi menuju 500-an liter dalam sehari. 

Seiring dengan penurunan level PPKM, geliat warga untuk berkendara akan semakin tinggi. Pertashop Kencuran berada di kawasan hunian pedesaan yang telah ramai oleh hadirnya kompleks-kompleks perumahan. Tumpuan terbesarnya pada anak-anak sekolah, sebab menurut pengamatan Fredy, jumlah kelompok ini banyak berada di sekitaran Kencuran dan mereka memiliki potensi tinggi untuk bepergian dengan moda sepeda motor. “Anak sekolah itu tidak sebatas pergi dan pulang sekolah, mereka pasti memiliki acara lain yang membutuhkan belanja bensin lebih banyak,” kata Fredy mantap. 

Selain itu, Fredy memperhitungkan bahwa Pertashopnya berada di jalur alternatif yang berpotensi dilewati para pengendara jarak menengah rute Kaliurang-Yogya, Klaten-Kaliurang, Klaten-Sleman-Magelang. Para pengendara yang suka blusukan dan membutuhkan pengisian Pertamax bisa mampir ke Pertashop Kencuran ini.    

Fredy menceritakan bahwa di Sleman, angka penjualan Pertashop tertinggi mencapai rata-rata 800-an liter per hari. Info itu ia dapatkan dari grup WhatsApp yang anggotanya rekan sejawat pemilik Pertashop. Fredy pun terinspirasi. Namun, untuk lokasi Pertashopnya yang tidak berada di jalur ramai, ia mentargetkan penjualan stabil di angka 500 liter per hari.

Meratakan Rezeki Minyak

Fredy tak pernah membayangkan akan memiliki usaha penjualan BBM skala kecil dengan logo Pertamina. Menurut informasi yang sampai kepadanya, untuk membuka sebuah SPBU dibutuhkan investasi sekitar Rp 8 miliar. Untunglah, info soal Pertashop sampai kepadanya dan ia memutuskan untuk mengambil kesempatan berbisnis BBM tipe mini ini dengan modal yang tidak sampai pada hitungan miliar, cukup ratusan juta saja. 

Usaha penjualan BBM mini sekelas Pertashop menjadi pintu pembuka keran rezeki minyak bagi siapa saja. “Hanya dengan Rp 500 juta saya bisa memiliki Pertashop,” kata Fredy berseri. Menurutnya, konsep Pertashop itu memiliki banyak kelebihan. Pertama, modal yang dibutuhkan relatif lebih kecil dibanding dengan pendirian SPBU. 

Kedua, bisnis BBM sangat menguntungkan. Keuntungan bersih yang didapatnya berada pada kisaran tujuh sampai delapan persen. “Dengan angka penjualan sekitar 400 liter per hari, BEP bisa dicapai dalam tempo maksimal lima tahun,” jelasnya. Untuk angka penjualan 500 liter per hari seperti yang ditargetkan Fredy, waktu pencapaian BEP akan lebih pendek lagi, di bawah lima tahun.

Selain bagus dari segi penjualan, bisnis minyak dengan jaminan logo Pertamina membuat perizinan tak sulit ia dapatkan. “Masyarakat setuju, perizinan mudah dan bisa nego,” tuturnya.    

Fredy menunjukkan hitung-hitungannya. Ia menyewa tanah selama sepuluh tahun atau sesuai masa kontraknya dengan Pertamina sebesar Rp 50 juta. Perizinan Rp 15 sampai Rp 20 juta. Peralatan seperti modular, dll Rp 245 juta. Perlengkapan Rp 10 juta. Pembangunan Rp 35 sampai Rp 50 juta untuk tanah seluas 225 meter2 seperti syarat minimal luas tanah yang dipatok Pertamina. Total investasi itu berjumlah sekitar Rp 350 jutaan. 

Untuk mewujudkan Pertashopnya, Fredy mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp 500 juta. Sisanya, setelah dikurangi beaya investasi, adalah uang kas yang ia pegang untuk operasional sehari-hari, dll.

“Sekitar dua kali seminggu, saya mengisi modular dengan 2.000 liter Pertamax,” tuturnya. Modular miliknya berkapasitas 3.000 liter. Tetapi ia mengisinya dengan 2.000 liter saja mengingat angka penjualan belum stabil. 

“Kadang-kadang kami kehabisan stok,” cerita Fredy mengenang detik-detik bila tanki modularnya kosong. Ia menuturkan, bila hari itu stok tinggal untuk persediaan sehari dan ia tahu bahwa besok suplai belum tentu datang di pagi hari, maka otomatis Pertashopnya akan ditutup sementara. Pada saat-saat seperti ini ia akan mengontak para pedagang eceran, agar menyediakan stok lebih. Ini penting untuk mengantisipasi agar konsumen tidak kecewa. Salah satu pedagang Pertamax eceran yang dikontaknnya adalah Wijono.

Wijono, pengecer Pertamax, tetangga Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)

Wijono pemilik kios bensin yang rumahnya sekitar 10-an meter di utara Pertashop Kencuran. “Dulu saya kulakan bensin di SPBU Dusun Mindi jalan raya Besi Jangkang sekitar dua kilomter dari sini. Sekarang beli Pertamax di Pertashop yang sangat dekat,” tuturnya. 

Wijono menuturkan bahwa penjualan bensin di kiosnya menurun setelah ada Pertashop yang berjarak beberapa langkah saja dari warungnya. Baginya ini wajar. Untungnya, ia memiliki pembeli royal yakni para anggota keluarga besarnya. Ia diuntungkan pula oleh jam buka Pertashop yang tidak penuh. Kalau malam hari dan Pertashop tutup, para pembeli bensin menyerbu kiosnya. Untung selanjutnya adalah, berjualan bensin hanya sampingan. Usaha utamanya adalah berdagang kelontong dan warung minuman.  

Alat pemadam kebakaran di samping modular Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)

Pagi itu, Senin (27/9/2021) stok Pertamaxnya kosong. “Saya belum kulakan, tadi malam dua liter terakhir diambil saudara saya,” tutur Supraptinah, istri Wijono. Ia menceritakan sebelum ada Pertashop, belanja bensin 200 ribu habis dalam satu dua hari. Setelah ada Pertashop penjualannya menurun. “Seratus ribu habis dalam satu atau dua hari,” ujarnya. 

Namun, baik Wijono maupun Supraptinah merasa senang sebab, bila Pertashop akan kehabisan bensin mereka pasti mendapatkan kabar dari utusan Fredy agar menambah stok. “Sesuk bensin entek lik, wis dingengehi karo Pak Fredy (besok bensin habis Lik, sudah disisihkan sama Pak Fredy),” kata utusan Fredy seperti yang ditirukan Supraptinah.

Fredy membenarkan, bahwa Wijono adalah prioritas bila Pertashopnya akan kehabisan stok. “Penjualan belum stabil, saya sering kehabisan stok ketika menunggu pasokan truk tanki, karena itu tutup sementara,” kata Fredy. Saat Pertashop tutup menunggu pasokan truk tanki itu, pembeli bensin di kios Wijono meningkat.

Wijono dan pengecer Pertamax rumahan lainnya tetap diperhitungkan Fredy. Ia tak ingin mematikan usaha tersebut. Untungnya, Wijono tak sekadar berjualan bensin. Ia juga memiliki warung kelontong dan kedai minum untuk menopang hidup sehari-hari.  

Fredy memutuskan membuka Pertashop miliknya itu hanya sampai pukul 19.00 WIB. Padahal, aturan dari Pertamina membolehkannya membuka gerai BBM mini itu selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. “Supaya pengecer bensin di sekitar tempat ini tetap hidup,” katanya memberikan alasan jam buka Pertashopnya yang tidak penuh tersebut. Khusus malam Sabtu dan malam Minggu ia tutup pada pukul 21.00 WIB.

Rizky Fauzan menunjukkan alat pengukur ketepatan ukuran bensin. (foto: ernaningtyas)

Selain konsisten pada jam buka yang memperhitungkan pengecer bensin, Fredy juga menjunjung tinggi kesepakatan agar Pertashopnya tidak curang dalam takaran. “Sekali ada komplain soal ukuran bensin yang kurang, maka seketika itu juga Pertamina menyetop kerjasama ini,” tegasnya.

Tak hanya Fredy dan para pengecer bensin atau suplaier seperti Gatot yang mendapatkan kucuran rezeki minyak dari Pertashop yang berada di pedesaan. Dua karyawan Fredy, Rizky Fauzan dan Yosi Putra Ardian juga kebagian rezeki. Dua petugas garda depan itu merasakan bahwa di era pandemi, mereka masih bisa mendapatkan pekerjaan. Keduanya baru lulus dari SMK dan SMA. “Alhamdulillah saya langsung bisa kerja,” tutur Rizky.

Sementara Yosi menunjukkan rasa bahagia karena sebagai lulusan SMA, ia bisa bekerja di tempat yang dekat dengan rumahnya dan digaji sesuai UMR (Upah Minimum Regional). “Saya senang kerja di sini,” kata Yosi.

Untuk memaksimalkan tempat usahanya yang memiliki luas 600-an meter persegi itu, Fredy tidak hanya membuka Pertashop. Di tempat yang sama ada juga usaha lain yang ia jalankan. Rumah makan Sego Megono, kedai kopi dan agen BRI Link. Fasilitas toilet dan parkir yang luas menjadi daya dukung usahanya. Dan demi keamanan, sebuah alat pemadam kebakaran siaga di samping pompa.

Fredy tak pernah membayangkan akan memiliki Pertashop yang prospektif dari segi bisnis. Namun demikian, ia tak ingin memilikinya lebih dari satu. “Ada yang punya sampai empat buah,” kata Fredy.  Ia merasa satu Pertashop sudah memberikan rezeki lebih bagi bapak satu anak usia 5,5 tahun ini. 

Kompleks Pertashop Kencuran dengan fasilitas toilet, kulineran Sego Megono dan tempat parkir luas. (foto: ernaningtyas)
Yosy Putra Ardian, karyawan Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)

Terbuka Peluang

Pertamina masih membuka peluang bagi warga Sleman dan kabupaten lainnya untuk mendirikan Pertashop seperti Fredy dan delapan pemilik Pertashop yang tersebar di delapan desa di Kabupaten Sleman, yakni di desa Umbulharjo, Sumbersari, Sendangrejo, Sukoharjo, Margo Agung, Moyudan, Sindumartani dan desa Bangunkerto. Pertashop pertama berdiri di desa Umbulharjo pada Juni 2020.

Brasto Galih Nugroho, Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), menyatakan bahwa pihaknya membuka kesempatan luas bagi siapa saja yang ingin berinvestasi untuk mendirikan Pertashop. Ini sejalan dengan program Pertamina OVOO (One Village One Outlet).  

“Pertamina saat ini sedang mencari investor sebanyak-banyaknya untuk menjadi mitra Pertashop. Jumlah Pertashop di Kabupaten Sleman diharapkan bisa bertambah seiring perkembangan waktu sehingga BBM dapat disalurkan kepada masyarakat melalui Pertashop,” kata Brasto Galih Nugroho saat dihubungi Jayakarta News Rabu (13/10/2021).

Brasto memaparkan, calon investor Pertashop diberi kemudahan. Mereka bisa mendirikan Pertashop melalui badan usaha seperti BUMDes, PT, CV hingga UD. “Pertashop rata-rata hanya menjual BBM nonsubsidi Pertamax. Ada satu Pertashop yang menjual BBM nonsubsidi Dexlite di Regional Jawa Bagian Tengah, yaitu di Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. 

Pertamina terus menggali potensi yang ada di setiap wilayah dalam rangka kemitraan di bidang penyaluran BBM non subsidi melalui Pertashop. Ini penting untuk mendekatkan sumber energi sekaligus meratakan rezeki minyak kepada masyarakat luas. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *