Dihantam Badai Corona, Tempe Kahla Tetap Bertahan Jadi Energi Kehidupan

 Dihantam Badai Corona, Tempe Kahla Tetap Bertahan Jadi Energi Kehidupan

Vivi Hervianty dengan produknya, Keripik Tempe Kahla yang dijual di warung-warung kecil (foto:istimewa)

JAYAKARTA NEWS – “Mental tempe!” Penggabungan kata ini menyiratkan sesuatu yang negatif. Kata ‘tempe’ seolah dikonotasikan lembek dan mudah hancur. Sehingga mental tempe bisa menjadi mental yang mudah hancur dan tidak kuat. Orang bemental tempe dimaknai sebagai orang yang tidak berani bersaing. Makanya Bung Karno pernah menyerukan kepada Rakyat Indonesia, “Jangan Bermental Tempe!”

Tapi, sesungguhnya, sebagai makanan, tempe adalah makanan rakyat yang berprotein tinggi. Sangat dibutuhkan tubuh. Kenyataannya, tempe tetap ada dalam peradaban manusia, sejak dahulu hingga saat ini.

Dan, bagi Vivi Hervianty, perempuan bertubuh mungil dari Kampung Nagrak, Sukabumi,  Jawa Barat, bicara tentang tempe adalah bicara tentang kisah hidupnya. Sejarahnya.

Maka, ‘Nyali tempe’ tidak berlaku bagi Vivi Hervianty, perempuan berusia 47 tahun itu. Tubuh kecilnya yang terlihat ringkih, justru menyimpan energi besar, semangat pantang menyerah menjalankan usaha tempenya di masa pandemi ini.

Vivi di tempat produksi Keripik Tempe Kahla (foto:istimewa)

Hampir dua tahun Pandemi COVID-19 ‘menyerang’ dunia, selama itu pula, Vivi terus  berjuang menjalankan usahanya, Keripik Tempe Kahla. Tak kenal lelah, Vivi memasarkan ‘tempe’-nya tanpa memilih-milih tempat. Warung kecil maupun besar dijalaninya.  Desa dan kota, ditelusurinya. Bahkan ke Cina pun dicobanya.

Hasilnya? Keripik Tempe Kahla yang diproduksi sejak awal 2015,  tetap beredar hingga saat ini. “Walaupun produksi merosot banget, tapi Alhamdulilah, saya bisa kirim ke Cina baru-baru ini,” papar Vivi kepada Jayakarta News (17/10/2021).

Bulan September, baru lalu, Vivi bisa mengirim produknya ke Cina. “Tidak banyak sih, hanya 2000 pieces. Tapi saya bersyukur bisa kirim ke Cina, semoga bisa repeat order.”

Tapi sebelumnya, yaitu di bulan Juli, Vivi juga sudah mengirim tempenya ke Jepang sebagai contoh untuk tes pasar. “Ada yang  mau pesan, tapi kami harus kirim contoh dulu sebagai tes pasar disana.” Selain Jepang, kata Vivi, masih ada yang sedang diprospek, yaitu Jedah. “Yang ini lagi kirim penawaran, Mbak,” ujar Vivi bersemangat.   

Mengelola usahanya, Vivi tidak fokus memasarkan tempenya ke luar negeri. Apalagi masa pandemi seperti ini. Sudah ada yang pesan 15.000 pieces tapi belum bisa terpenuhi karena terkendala pandemi COVID-19. “Semoga dalam waktu dekat, bisa terealisasi,” harapnya.

Karena itu, strategi penjualan yang diterapkan Vivi adalah tetap ‘menggandeng’ warung-warung kecil. “Saya kan awalnya memasarkan melalui mereka. Jadi, walaupun saya bisa menjual ke luar negeri, warung kecil tetap saya pertahankan,” katanya bersemengat.

Berharap ‘Dikenal’ Melalui Warung Kecil  

Ada kerinduan Vivi bermitra dengan warung-warung kecil.  Dengan menjual produknya di warung-warung kecil, dia ingin agar Keripik Tempe Kahla bisa  ‘dikenal’ bagaikan makanan ringan lainnya dari pabrik-pabrik besar yang juga beredar di warung-warung kecil.

Keripik Tempe Kahla ada di Warung Kecil (foto:istimewa)

Vivi menyebutkan beberapa contoh merek makanan ringan yang populer. “Saya ingin agar usaha-usaha kecil menengah seperti saya ini bisa juga besar namanya, seperti produk jajanan lainnya yang namanya terkenal walau di warung-warung kecil.”

Karena itu, warung kecil bagi Vivi bagaikan penyulut semangatnya untuk terus berkembang dan bahkan bisa dikenal secara luas. Sehingga jika orang menyebut keripik tempe, yang teringat adalah Keripik Tempe Kahla dan tersedia di warung kecil. Tentu dengah harga yang murah, sebagaimana jajanan lainnya. Dengan begitu, dia juga bisa menjadi energi bagi warung-warung kecil di sekitarannnya yaitu di Kampung Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat.

Mengubah Tampilan Harga 2000-an  

Untuk  menopang cita-citanya itu,  Vivi pun mengubah tampilan ‘sang tempe’. Semula hanya dibungkus plastik dengan tempelan kertas berisi nama produk, ‘Keripik Tempe Kahla’.  Kini telah berubah jauh lebih bagus dan lebih hiegienis.   “Saya ubah seperti produk terkenal lainnya. Jadi lebih bagus tampilannya, walaupun harganya 2000 per bungkusnya.”

Mengubah tampilan produknya, tentu saja akan mengubah jumlah keuntungannya. “Memang jadi lebih sedikit keuntungannya. Tapi tidak apa-apa demi cita-cita saya tercapai,” ujarnya sambil tertawa.

Bandrol yang ditetapkan pun, sangat terjangkau, yaitu Rp 2000 satunya. “Murah dan sehat, Mbak tempe saya ini,” ujar Vivi ‘mempromosikan’ produk warungan-nya itu.

Patut diacungi jempol semangat Vivi. Sebagai Mitra Binaan Pertamina, Vivi mengaku memang harus tetap semangat berusaha. Karena harus bertanggung jawab terhadap bantuan yang dipercayakan kepadanya dari Pertamina.

Kahla Dari Kampungan Jadi Modern

Bersama suaminya, Handry Wahyudi (49), Vivi mulai mencoba membangun usaha tempe sejak akhir 2014. Rumahnya yang berada di Kampung Nagrak Lebak RT 01/02, Desa Balekambang, Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat dijadikan sebagai  Rumah Produksi Keripik Tempe Kahla.  

Tempe Kahla di antara jajanan lainnya (foto:istimewa)

Pasangan suami istri ini mulai serius memproduksi Keripik Tempe saat memasuki tahun 2015. Dengan memakai nama anak semata wayangnya, Kahla. Nama ini adalah singkatan dari ‘Berkah Langit’.  Vivi berharap itulah yang akan terjadi melalui usahanya ini, penuh berkah bagi dirinya dan orang lain.

Karena itu, Vivi semangat memasarkan produknya. Mulai dari sekitar rumah, merambah ke luar dari kampungnya, sampai ke Jakarta, dan bahkan bisa mencapai luar Jawa.

Tampilan semula plastik, perlahan menjadi lebih menarik dengan bungkusan berlapis alumunium foil. Vivi merancang sendiri tampilan tempenya. Dari yang kelihatan kampungan, menjadi tampilan modern.

Dengan usaha yang serius tempenya pun merambah hingga ke manca negara. Vivi tidak sendiri dalam menjalankan usahanya. Dia dibantu oleh Pertamina.  

Bantuan Pertamina di Masa Pandemi

Awal tahun 2020, Pertamina melirik usaha Vivi. “Bagi saya, ini berkah, saya bisa menjadi mitra binaan Pertamina, apalagi waktu itu baru mulai masa pandemi,” kisah Vivi.

Sebagai Mitra Binaan Pertamina, Vivi mendapatkan pinjaman lunak dan berbagai kesempatan pameran untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat luas. Seperti ikut dalam Pameran Pertamina SMEXPO 2020 yang dilakukan secara virtual.

Bantuan Pertamina semakin lengkap dengan pelatihan-pelatihan yang diberikan. Misalnya, pelatihan foto produk. Serta kesempatan memasarkan Keripik Tempe Kahla melalui market yang disediakan dan katalog Pertamina.

Seperti yang dikatakan Unit Manager Communication, Relations & CSR Pemasaran Regional Jawa Bagian Barat, Eko Kristiawan, Pertamina terus mendukung para pelaku Usaha Kecil Menengah (UMK) agar bisa terus bertahan di tengah pandemi COVID-19 dan bisa berpartisipasi dalam pameran offline/online yang diadakan perusahaan. “Karena pameran menjadi salah satu ajang promosi untuk mendapatkan pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujar Eko, sebagaimana dikutip dari Laman Resmi Pertamina, Juli 2021.

Tampilan Keripik Tempe Kahla di warung-warung kecil (foto:istimewa)

Menurut Eko, melalui Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil, Pertamina terus berupaya menggerakan ekonomi masyarakat melalui pembinaan usaha mikro kecil, agar dapat berkembang dan mandiri. Serta turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8. “Yaitu menyediakan pekerjaan yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi.”

Dukungan Pertamina di tengah terpaan badai Corona, energi bagi Vivi jadikan tempe populer di warung kecil dan layak mendunia. Keripik Tempe Kahla, tetap ada dengan berbagai varian, ada rasa original atau lainnya seperti keju dan balado atau jagung bakar. Dengan harga, ada yang hanya 2000 rupiah, ada juga 15.000 rupiah.***(Melva Tobing)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *