JAYAKARTA NEWS – Energi itu milik semua. Setiap warga negara semestinya diberi kemudahan untuk memperolehnya. Dan Pertamina, sebagai BUMN yang bertanggung jawab sangat menyadari fungsinya. Maka program Pertashop pun diluncurkan, guna memudahkan masyarakat mendapat pelayanan prima.
Kehadiran Pertashop di seluruh pelosok Indonesia diharapkan mampu menjangkau semua konsumen. Jika selama ini konsumen kesulitan mendapatkan bahan bakar, terutama karena jarak SPBU dengan pemukiman relatif jauh, Pertashop hadir untuk mengatasinya. Bisa disebut, Pertashop merupakan strategi jitu Pertamina untuk merangkul konsumen di seluruh wilayah terpercil Indonesia.
“Sekarang kalau mau beli BBM, nggak usah repot lagi. Tinggal keluar gang rumah, sudah ada Pertashop. Enak kan?” Demikian celetukan Joanito Ruddy Hamenda kepada Jayakarta News di kantornya, Beji, Depok, Senin (19/10).
Di kantornya ini, pria yang akrab dipanggil Ruddy itu memang telah membuka SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) ukuran kecil, populer dengan nama Pertashop.
Pertashop adalah penyalur BBM resmi Pertamina. Serupa dengan SPBU Reguler tetapi dengan ukuran jauh lebih kecil atau mini. Pertashop boleh dimiliki perorangan dengan lokasi yang mudah dihampiri. Dekat dengan masyarakat.
Seperti milik Ruddy ini, Pertashop 3P.16404 di Jl. M Ridwan Rais Blok O No.1, Kavling Pupuk Kujang RW.07 Beji Timur, Beji – Depok. Mulai beroperasi 19 Juli 2021. Baru berjalan tiga bulan, tetapi telah menjadi langganan para tetangga sekitar. Pertashop ini lebih dikenal dengan nama Pertashop Beji Timur sesuai alamatnya. “Walaupun sudah tiga bulan berjalan tetapi kami belum peresmian ini,” kata Ruddy tertawa.
Setiap hari, 1000 liter lebih BBM Peramax terjual di Pertashop ini (melva tobing)
Apa yang dikatakan Ruddy benar. Mengisi BBM kini bagi warga Beji, Depok bukan hal yang merepotkan lagi. Tidak perlu harus ke Margonda Raya tempat SPBU besar atau Beji Raya yang jaraknya cukup jauh. “Ibu-ibu cukup dasteran, udah bisa isi bensin kesini,” kata Ruddy lagi sambil tertawa.
Bukan hanya warga setempat yang mudah mengisi BBM di tempat Ruddy ini. Pengguna jalan lintasan ini pun ikut menikmati kemudahan mengisi BBM di Pertashop ini. Seperti Angkutan Kota (Angkot) dengan trayek sekitar Beji Timur, juga Gojek Online yang kerap mangkal dekat Kampus Universitas Indonesia (UI).
Wilayah Pertashop Beji Timur memang cukup ramai karena berdekatan dengan Kampus UI. Di sekitarnya juga banyak tempat kost mahasiswa dan karyawan, selain tentunya tempat tinggal warga dan masyarakat. Belum lagi pedagang-pedagang kecil dan menengah serta sekolah yang ada di seputaran Beji Timur, Depok.
Banyak Tetangga Jadi Pelanggan
Siang itu saat menyambangi Pertashop milik Ruddy ini, Jayakarta News sempat bincang-bincang dengan beberapa warga yang hendak mengisi BBM. Mereka semua pengendara motor. Ada yang rapih berpakaian lengkap dengan helm-nya. Ada juga beberapa tanpa helm dengan tampilan seadanya.
Sang operator terlihat rapih, layaknya operator di SPBU besar. Lengkap dengan seragamnya. Ramah melayani para pengendara. Sesekali terlihat ada candaan di antara mereka. Seolah memang mereka sudah saling mengenal.
Diana, warga setempat, tidak panik lagi jika mendadak butuh BBM (melva tobing)
“Rumah saya di sekitar sini,” ujar Diana, setelah selesai mengisi BBM motornya. Bersama dengan seorang anak kecil di depannya, Diana mengaku biasa mengisi BBM di Pertashop ini. “Sejak buka, saya suka isi disini. Deket dan nggak repot,” ujar Diana yang datang tanpa helm.
Bagi Diana, kehadiran Pertashop ini sangat membantunya sebagai ibu rumah tangga, tidak repot lagi mencari bahan bakar. “Biasanya kalau mau isi bensin harus ke Margonda atau ke Beji. Agak jauh. Apalagi kalau harus buru-buru. Repot. Sekarang enak, sudah dekat. Harganya juga sama. Nggak perlu panik lagi kalau mendadak butuh BBM,” ujar Diana lagi.
Sementara itu, Kusnadi sangat bersyukur ada pengisian BBM dekat rumahnya. Pria berusia 50 tahun itu tinggal di sekitar Beji Timur. Ia telah menjadi pelanggan setia di Pertashop ini. “Saya sudah biasa disini isi bensin. Dekat dan nggak perlu antri seperti di SPBU. Harganya juga sama,” katanya lagi.
Bagi Muhammad Khadafi pun demikian. Ia tinggal di sekitar Kemiri, Depok. Tidak jauh dari Pertashop ini. “Sering banget saya isi bensin disini,” katanya.
Ia mengaku tidak ragu sama sekali untuk mengisi BBM di tempat Ruddy. Selain itu, yang terpenting katanya, tidak perlu antri panjang. “Disini sepi. Tidak usah antri. Harga juga sama dengan SPBU,” katanya lagi.
Semakin dekat dengan Pertashop, warga pun menjadi lebih nyaman. Tidak perlu panik mencari SPBU jika mendadak butuh BBM.
Sejak beroperasi pun, kata Ruddy, tidak pernah ada pelanggan yang komplain. Semua berjalan lancar. Bahkan dia merasa bangga hanya dalam tempo 3 bulan, jumlah BBM yang terjual meningkat terus.
Bangga Punya SPBU Mini
Ruddy mengaku bangga bisa memiliki Pertashop. Apalagi ketika hari pertama beroperasi. Melihat deretan motor datang mengisi BBM di tempatnya, dia merasa bangga bisa bermitra dengan Pertamina. “Bangga sekali rasanya. Dalam hati saya nih, Waah… saya sudah punya SPBU. Walaupun mini tapi kan ini murni dilayani langsung oleh Pertamina, ya bangga lah saya bisa bermitra dengan Pertamina,” kisah pria berusia 59 ini sambil tertawa lepas.
Ruddy bangga punya SPBU sendiri (melva tobing)
Pertashop Beji Timur mulai dibangun Maret 2021. Kemudian, minggu pertama Mei sudah bisa pasang modular. Setelah pasang modular, pengisian perdana BBM jenis Pertamax pada 30 Mei sebanyak 2 KL (kilo liter) atau setara dengan 2000 liter. “Setiap kali pengisian Pertamax memang ukurannya 2 KL atau 2000 liter. Dan, waktu Mobil Tangki datang pertama kali, saya senang banget,” kata Ruddy.
Hari pertama beroperasi (19/7) terjual 68 liter Pertamax. Satu minggu berjalan, bisa terjual 450 liter setiap harinya. Jumlah semakin meningkat di tanggal 31 Juli, sudah bisa terjual 700 liter per hari. Puncaknya di tanggal 20 Agustus mulai terjual 1000 liter lebih perhari, sampai saat ini. “Setiap hari, jumlah penjualan meningkat. Sekarang ini stabil di angka 1000 sampai 1300 liter per hari.”
Jadwal pengisian atau unloading pun semakin cepat. Dari pengisian pertama ke pengisian kedua berjarak enam hari, yaitu pada 25 Juli. Kemudian menjadi empat hari di pengisian ketiga, 29 Juli. Dan, pengisian keempat pada 31 Juli, hanya berjarak 2 hari.
Berbeda dengan SPBU Regular, Pertashop menggunakan upperground tank yaitu tangki tempat pengisian BBM ada di atas, dekat dengan modular. “Jadi kalau kita mau pindah lokasi, semuanya bisa kita bawa juga, gampang buka pasangnya,” ujar Ruddy.
Untuk mengoperasikan SPBU Mininya, Ruddy mempekerjakan dua operator dan satu petugas untuk bongkar muat atau pengisian Pertamax. Mereka adalah warga setempat juga. Pengisian BBM di Pertashop ini, sekarang bisa 5 kali dalam satu minggu dengan kapasitas 2 KL tiap kali pengisian. Sementara kapasitas tangki bisa memuat hingga 3500 liter BBM.
Untuk memiliki Pertashop jenis Gold ini, Ruddy harus mengeluarkan dana hampir Rp 250 juta. Itu tidak termasuk biaya untuk lahan. “Murni hanya untuk pertashop satu modular saja. Sedangkan lahan milik sendiri.”
Fauzan Zibran Ibrahim, warga Beji Timur, sebagai operator di Pertashop ini. Di belakang Fauzan tanda merah dilarang merokok adalah tempat tangki BBM Pertamax (foto:istimewa)
Syarat utama lahan untuk Pertashop kata Ruddy, lebar depan minimal 15 meter. “Yang penting bisa untuk manufer Mobil Tangki.”
Energi Semakin Dekat
Kehadiran Pertashop di lingkungan masyarakat, sebagaimana di Beji Timur, tentu dapat membantu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Apalagi untuk masyarakat di pedesaan.
Seperti yang dikatakan Pjs. Senior Vice President Pertamina Fajriyah Usman dalam Laman Resmi Pertamina, Agustus lalu, “Masyarakat di pedesaan yang mayoritas profesinya adalah petani, nelayan, pedagang dan lainnya kini tidak perlu menempuh perjalanan jauh keluar desa untuk mengisi BBM di SPBU, karena kualitas dan harga bahan bakar yang dihadirkan di Pertashop dijamin setara dengan SPBU.”
Menurut Fajriyah, Pertamina dengan program One Village One Outlet (OVOO), di mana setiap desa atau kecamatan akan memiliki setidaknya 1 lembaga penyalur BBM maupun LPG. Maka Pertamina membuka peluang investasi bagi para pengusaha untuk mengelola Pertashop. “Tentu nilai investasinya lebih rendah dari SPBU reguler dan bisnisnya sangat menjanjikan,” kata Fajriyah.
Kusnadi, warga setempat, merasakan makin mudah mengisi BBM (melva tobing)
Hingga saat ini, jumlah kecamatan yang memiliki lembaga penyalur resmi BBM sudah mencapai 4.400 kecamatan di seluruh Indonesia. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, Pertashop telah mendorong peningkatan jumlah kecamatan yang memiliki lembaga penyalur resmi BBM dari 3.300 kecamatan, saat ini sudah 4.400 kecamatan. “Artinya jika sebelumnya baru 47% kecamatan yang sudah memiliki penyalur sendiri, saat ini meningkat menjadi 62% kecamatan di seluruh Indonesia,” ujar Nicke dalam Siaran Pers Pertamina (27/10).
Menurut Nicke, Pertamina mengemban amanah menjalankan UU Energi No 30 tahun 2007 sehingga bukan hanya menjaga kecukupan pasokan secara nasional, tapi juga memberikan kemudahan akses yang sama untuk seluruh masyarakat Indonesia.
Sebab itu, imbuh Nicke, Pertashop perlu terus didorong karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat di desa-desa. Selain aksesibilitas yang memberikan kemudahan untuk masyarakat, Pertashop juga bersifat affordability, karena harganya terjangkau oleh masyarakat.
“Rata-rata penyaluan BBM berkualitas melalui Pertashop terus meningkat, bahkan di beberapa lokasi ada yang mencapai 2.000 liter per hari,” ujar Nicke lagi.
Kehadiran Pertashop di pelosok desa, imbuh Nicke, menjadi salah satu solusi membangun ketahanan energi sekaligus menjadi lokomotif baru pengembangan ekonomi desa serta pembukaan lapangan kerja.
“Jika Pertashop sudah terbangun akan menumbuhkan sentra ekonomi desa. Hal ini sesuai dengan Nawacita Presiden, bahwa pertumbuhan ekonomi dimulai dari titik terjauh yaitu di desa,” tandas Nicke.
Siapapun bisa memiliki Pertashop. Pertamina membuka tawaran ini sejak 2018. Syaratnya pun mudah, hanya terdiri dari 2 kriteria, yaitu kriteria administrasi persyaratan dan kriteria lokasi. Lokasi pembangunan Pertashop diutamakan lokasi yang belum terdapat lembaga penyalur resmi dan dapat dilalui oleh Mobil Tangki Pertamina. Jika kriteria ini sudah terpenuhi, seluruh operasional Pertashop juga akan dipastikan sudah sesuai dengan standar keselamatan serta standar kualitas produknya akan terjamin serta disuplai langsung dari terminal BBM terdekat.
Ada tiga tipe Pertashop yang ditawarkan. Yaitu Pertashop Gold (luas minimum lahan 210m², kapasitas tangki 3 KL), Platinum (luas minimum lahan 300m², kapasitas tangki 10 KL), dan Diamond (luas minimum lahan 500m² kapasitas tangki 10 KL). Perbedaan besaran lahan akan berpengaruh terhadap layanan bisnis nonfuel retail (NFR) yang dapat beroperasi, misalkan mini market, bengkel, dan bisnis turunan lainnya.
Pertashop, siapapun bisa memilikinya. SPBU Mini ini makin mendekatkan energi minyak kepada masyarakat (melva tobing)
Pertashop memiliki banyak harapan ke depannya. Dengan harga dan kualitas yang sama dengan BBM yang dijual di SPBU, Pertamina berharap Pertashop dapat menjadi jawaban untuk pemerataan distribusi energi yang akan memberikan multiplier effect bagi perkembangan ekonomi di pedesaan.
Tidak hanya menjual BBM saja, Pertashop juga dapat menjual Bright Gas 5,5 Kg, Pelumas Pertamina dan produk barang/jasa lainnya.
Seluruh informasi seputar persyaratan dan pendaftaran kemitraan Pertashop selaku lembaga penyalur resmi berskala kecil Pertamina bisa diakses melalui website https://kemitraan.pertamina.com/. ***(Melva Tobing)
JAYAKARTA NEWS – Tahun 2021, Pertamina menargetkan berdirinya 1.647 Pertashop di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pertashop adalah penyalur BBM (Bahan Bakar Minyak) resmi Pertamina. Ia serupa SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang mini ukurannya, berlokasi di pedesaan. Siapa saja berkesempatan memilikinya dan jauh lebih murah dibanding SPBU untuk biaya investasinya.
Salah satu Pertashop yang berada di Kabupaten Sleman DIY berlokasi di Pedukuhan Kencuran, Kelurahan Sukoharjo, Kepanewon Ngaglik. Pertashop milik swasta pertama di Sleman ini menjadi contoh bagaimana ia berperan mendekatkan energi kepada masyarakat dengan jaminan kualitas, kuantitas dan harga sesuai patokan Pertamina. Murah dan mudahnya berinvestasi, membuat bisnis ini menjadi peluang bagi siapa saja untuk ikut menikmati rezeki minyak.
Pertashop Kencuran
Sabtu pagi (18/9/2021) pukul 09.00 WIB, langit cerah nyaris tanpa awan.Gatot Subroto merapat ke Pertashop di Dusun Kencuran, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di dekat pompa bensin telah tersedia empat jerigen isi Pertamax @ 30 liter. Dua di antaranya ia naikkan di atas motor matik bagian depan, dibantu Rizky Fauzan, petugas Pertashop.
Gatot, demikian nama panggilannya, adalah pelanggan tetap Pertashop Kencuran. Ia pemasok bensin ke pengecer. Setiap tiga sampai lima hari sekali ia mengambil lima jerigen yang diusung secara bertahap. Per jerigen Gatot membayar Rp 270 ribu.
Sebelum Pertashop Kencuran beroperasi dua bulan silam, Gatot mengambil dagangan ke SPBU Pokoh, di kawasan Pakem, Kabupaten Sleman. “Saya pindah ke sini karena jarak lebih dekat dan jerigen dipinjami, tinggal ditukar saja,” ujarnya sembari berlalu ke utara ke arah kaki Gunung Merapi.
Sepeninggal Gatot si pelanggan yang tergolong kakap, Rizky melayani para pembeli bensin eceran yang datang satu-dua silih berganti. Kadang berurutan, kadang berjeda. Para konsumen mengakui bahwa jarak yang dekat dan jaminan logo Pertamina menjadi alasan mereka membeli Pertamax di Pertashop Kencuran.
Gatot Subroto mengusung jerigen Pertamax pesanannya yang berisi @ 30 liter. (foto: ernaningtyas)
Nurholik misalnya. Pria muda yang tinggal di dusun Punthuk di sisi utara itu selalu melewati Pertashop Kencuran saat beraktivitas sehari-hari. Pom bensin mini itu sangat membantunya mendapatkan energi untuk mengisi tangki sepeda motor tunganggannya. “Ini (Pertashop-red) membantu banget, ada jaminan stok bensin dan harganya sama dengan pom,” tuturnya.
Sebelumnya, bila kehabisan bensin Nurholik membelinya di pengecer dengan harga seribu rupiah di atas harga resmi. Ia yakin, Pertashop menjamin kualitas bensin dan ketepatan ukuran seperti di SPBU.
Agus Deni pun memberikan alasan sama. Faktor kedekatan menjadi pertimbangannya mengisi BBM di Pertashop Kencuran. Sore itu, Senin (20/20/2021) ia mengisi tangki sepeda motornya. “Dekat, itu rumah saya dan harganya lebih murah dibanding eceran,” katanya memberikan alasan memilih belanja bensin di Pertashop Kencuran, sambil menudingkan telunjuknya ke rumahnya, arah barat laut. Saat itu, Agus bersama istri dan anaknya bermotor tanpa mengenakan helm. Sebuah pelanggaran yang lazim dilakukan para pengendara motor jarak dekat.
Sementara Andriyanto, yang bertempat tinggal persis di seberang Pertashop Kencuran mengatakan sangat terbantu dengan pembukaan Pertashop itu. “Beli bensin tinggal menyeberang saja,” timpalnya. Ia bercerita bahwa sebelum ada Pertashop Kencuran, pembelian bahan bakar minyak ia lakukan di pengecer atau SPBU. SPBU terdekat berjarak dua kilo meter lebih dari rumahnya.
Namun, Andriyanto mengeluhkan bahwa pom bensin tipe mini itu hanya beroperasi sampai dengan pukul 19.00 WIB. “Malam hari kalau kehabisan bensin saya beli di warung yang kadang-kadang kosong karena stok sedikit,” paparnya. Andriyanto menuturkan, untungnya jumlah kios bensin di dekat rumahnya ada beberapa. Tak semuanya kosong bersamaan.
Namun, tak hanya persoalan kedekatan jarak dari rumah menjadi alasan konsumen berbelanja bensin di Pertashop Kencuran. Kiki, pengendara mobil yang pada Minggu (26/9/2021) mengisi BBM di tempat itu memberikan alasan berbeda. Saat itu, ukuran bensin di mobilnya menipis dan ia berada di perjalanan dari Pakem menuju Yogyakarta melewati Kencuran. Kencuran berada di jalur alternatif Yogya-Kaliurang. Para pengendara yang paham jalur alternatif bisa memilih lewat Kencuran untuk menghindari jalan Kaliurang yang macet di akhir pekan.
“Kebetulan ada Pertashop di sini, saya belok saja buat isi bensin,” kata Kiki memberikan alasannya. Kiki mengisi BBM sejumlah Rp 100 ribu rupiah. Tatkala datang, ia sendirian, tak ada konsumen lain. “Cepat ya, tak usah menunggu lama seperti di SPBU yang biasanya ramai pada hari Minggu,” pungkasnya sambil meninggalkan Pertashop Kencuran.
Jayakarta News mengamati dinamika di Pertashop Kencuran selama beberapa hari. Selain para konsumen yang tinggal di sekitaran lokasi, pengendara sepeda motor jarak jauh yang terlihat dari profilnya mengenakan jaket tebal, helm tertutup dan melaju dengan kecepatan tinggi pun menjadi pelanggannya. Ini berarti Pertashop Kencuran yang berada di lokasi yang relatif tidak ramai karena menjorok sekitar empat kilometer di perkampungan ke arah timur dari Jalan Kaliurang itu tak hanya dekat bagi yang bertempat tinggal di kawasan itu. Lokasi Pertashop ini juga “dekat” bagi para pengendara yang melewati jalur alternatif itu.
Dari jarak puluhan meter, umbul-umbul warna biru, papan nama dan bangunan pompa bensin khas SPBU berwarna merah menyala tampak dari kejauhan. Semua pengendara paham bahwa tempat itu adalah SPBU. Dengan demikian, jika mereka membutuhkan BBM, bisa langsung berbelok merapat ke Pertashop Kencuran, sebuah SPBU mini dengan harga, jaminan ketepatan ukuran dan kualitas langsung dari Pertamina.
Pemilik Pertashop Kencuran Fredy Febrison (kanan) bersama Yosy Putra Ardian (kiri), karyawan Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)
Swasta Pertama
Pertashop Kencuran adalah Pertashop yang dimiliki swasta pertama di wilayah Kabupaten Sleman. Fredy Febrison (37) si empunya, mengakui perjalanannya mendirikan Pertashop Kencuran berlangsung mengalir.
Suatu malam di bulan Maret 2021, ponselnya berdering. Di seberang sana seorang kawannya mengabarkan bahwa Pertamina membuka peluang usaha penjualan BBM skala kecil. “Masih ingat obrolan kita lima tahun lalu tentang Pertamini?” tanya si kawan.
Fredy, demikian ia akrab disapa, bercerita bahwa lima tahun lalu bersama kawannya itu ia pernah berdiskusi soal Pertamini. Keduanya menamai Pertamini untuk menyebut usaha penjualan BBM skala kecil. Mereka terpesona pada kasus di India. Di negeri anak benua Asia itu ada pedagang bensin keliling mengendarai motor besar roda tiga. Tangki bensin dibonceng di bagian belakang. Penjualnya berhenti di pinggir jalan, duduk di kursi lipat, membaca koran sambil menunggu pembeli.
Dari kawannya itu Fredy tahu bahwa Pertamina sedang membuka peluang usaha penjualan BBM skala kecil dengan konsep Pertashop. Kala itu, di provinsi Yogya istimewa ini, Pertashop baru saja dimulai pemasarannya dan yang bisa dijual adalah dua jenis BBM non subsidi yakni Pertamax dan Dexlite. Siapa saja boleh mengajukan proposal asalkan memiliki badan usaha resmi seperti PT atau CV. Badan Usaha milik Desa (Bumdes) dan Usaha Dagang pun boleh berbisnis BBM lewat Pertashop. Kebetulan Fredy memiliki badan usaha berbentuk CV yang selama ini ia gunakan untuk membuka jasa desain grafis.
“Punya dana 250 juta?” tanya si kawan. Fredy mengaku memiliki. Tetapi itu adalah dana tabungan dan operasional untuk usahanya. Bersama istri tercinta, ia menjalankan usaha desain grafis tersebut. Rupa-rupa klien pelanggannya: perorangan, swasta sampai instansi pemerintah. Bagi Fredy, menggunakan dana miliknya itu untuk modal membuka Pertashop adalah sebuah kemustahilan.
Belum genap mata Fredy terbuka di pagi pada keesokan harinya pada pukul 06.30 WIB, ponselnya kembali berdering. Kali ini yang berbicara di seberang sana adalah koleganya dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mengurusi KUR (Kredit Usaha Rakyat). Ia menawarkan pinjaman dan Fredy pun menyinggung soal Pertashop. “Belum genap rasanya mata ini terbuka karena itu kami tidak berbicara banyak, saya mengakhiri kontak telepon, langsung mandi dan siangnya ketemuan dengan kawan dari BRI itu,” kata Fredy.
Saat berjumpa dengan si bankir itu, Fredy diyakinkan soal Pertashop sebagai peluang bisnis menjanjikan. Keesokan harinya Fredy langsung menemui sales brandmanager Pertamina Sleman yang ia panggil Pak Bastian. “Saya tidak pernah berpikir memiliki usaha ini (Pertashop-red) tetapi semua langkah saya mengarah ke sana,” kata Fredy.
Perjalanan selanjutnya berlangsung mengalir. Bulan Mei 2021 Fredy mulai mencari lokasi, setelah menemukan, ia lantas mengirimkan denahnya ke Pertamina. Pertama, ia mendapatkan sebuah tempat di depan Stasiun Kereta Api Srowot, Kabupaten Klaten. Tempat itu strategis untuk berjualan bensin tetapi sayang tidak masuk dalam kriteria Pertamina karena letaknya berdekatan dengan jalur SUTET.
Kedua ada dua alternatif tempat, di kawasan Jembatan Tulung Prambanan dan di Pedukuhan Kencuran. Kedua lokasi itu dia sodorkan ke Pertamina dan semuanya masuk ke dalam kriteria yang utamanya diukur dari jumlah kendaraan yang melintas, akses jalan yang bisa dilalui truk tanki pengangkut BBM dengan bobot ribuan ton dan jauh dari jalur SUTET. “Lantas saya melihat plus minus pada kedua tempat itu,” kata Fredy.
Jembatan Tulung memiliki prospek bagus. Lalu lintas yang melewatinya lumayan ramai, karena itu prospek pasarnya bagus. Sementara di Kencuran, kondisi lalu lintas kendaraan yang melewatinya berada di bawah Jembatan Tulung Prambanan. Dengan demikian tingkat penjualannya diprediksi lebih rendah. Sementara jarak masing-masing dari tempat tinggal Fredy di kawasan Kalasan sebelas-dua belas jauhnya, hanya saja arahnya berlawanan. Jembatan Tulung Prambanan ke arah timur, Kencuran ke arah barat dari rumahnya.
Fredy menuturkan bahwa Pertamina memberi saran agar pilihan Fredy jatuh ke lokasi di Jembatan Tulung yang lebih prospektif dari segi pasar. “Tapi orang berbisnis tidak harus selalu terpaku pada hitungan matematis,” kata Fredy.
Ia menjelaskan, seharusnya lokasi Jembatan Tulung yang ia ambil. Tetapi, hati nuraninya berkata lain. Pilihannya jatuh ke lokasi di dusun Kencuran itu. “Feeling saya mengatakan Kencuran pun prospektif karena dekat dengan perkampungan, berada di jalur alternatif dan rasa di hati lebih enak,” tutur Fredy, si pengagum tokoh Mahatma Gandhi ini. Baginya, Gandhi memberikan teladan tentang bagaimana melihat masalah dari cara pandang yang lebih menentramkan hati.
Sebagai mitra Pertamina, Fredy memiliki Pertashop Kencuran lewat badan usaha CV Karya Untuk Nusantara (Kuntara) yang sebelumnya telah ia gunakan untuk menegakkan bisnis desain grafis. Usahanya ini masuk katagori “Dodo”, dealer owner, dealer operate. “Ini Pertashop swasta pertama di Sleman,” tuturnya.
Pelanggan Pertashop tidak hanya sepeda motor, tetapi juga mobil. Salah satunya Kiki yang sedang mengisi BBM di Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)
Optimis
Rabu, 21 Juli 2021 adalah hari bersejarah bagi Pertashop Kencuran. Siang itu, untuk pertama kalinya ada truk tanki BBM Pertamina merapat ke wilayah yang berada di tengah perkampungan yang berjarak sekitar empat kilometer dari jalan raya Yogya-Kaliurang itu. Sejumlah 2.000 liter BBM jenis Pertamax berpindah dari perut truk ke modular atau wadah penampungan di stasiun pengisian bahan bakar mini berkapasitas 3.000 liter itu.
Sepeninggal truk tanki, Pertashop Kencuran langsung beroperasi. “Penjualan di hari pertama itu tak sampai mencapai angka seratus ribu rupiah, karena kami buka sudah selepas tengah hari, waktunya pendek sekali dan tempat ini masih baru,” tutur Fredy.
Fredy tak melihat secara langsung detik-detik awal operasional Pertashopnya sampai dengan tujuh hari ke depan. Sebab, bertepatan dengan hari pertama usahanya itu, mertua tercinta wafat. Rumah duka berada di luar kota. “Seminggu saya tinggal ke rumah mertua,” kata Fredy.
Seiring perjalanan waktu, angka penjualan merambat naik. Untuk posisi saat ini, penjualan Pertamax di Pertashop Kencuran berada di kisaran rata-rata 200 hingga 300 liter per hari. “Ya, saat ini kami sedang menuju ke angka penjualan tertinggi 500-an liter per hari,” tambahnya. Fredy berharap angka penjualannya berada stabil pada 500 liter per hari. Dan ia memiliki keyakinan.
Fredy optimis bahwa angka penjualan itu akan meningkat signifikan oleh perjalanan waktu. Saat itu, di kala Yogyakarta masih berada di level 4 PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), Pertashopnya telah mampu mencatat angka penjualan tertinggi menuju 500-an liter dalam sehari.
Seiring dengan penurunan level PPKM, geliat warga untuk berkendara akan semakin tinggi. Pertashop Kencuran berada di kawasan hunian pedesaan yang telah ramai oleh hadirnya kompleks-kompleks perumahan. Tumpuan terbesarnya pada anak-anak sekolah, sebab menurut pengamatan Fredy, jumlah kelompok ini banyak berada di sekitaran Kencuran dan mereka memiliki potensi tinggi untuk bepergian dengan moda sepeda motor. “Anak sekolah itu tidak sebatas pergi dan pulang sekolah, mereka pasti memiliki acara lain yang membutuhkan belanja bensin lebih banyak,” kata Fredy mantap.
Selain itu, Fredy memperhitungkan bahwa Pertashopnya berada di jalur alternatif yang berpotensi dilewati para pengendara jarak menengah rute Kaliurang-Yogya, Klaten-Kaliurang, Klaten-Sleman-Magelang. Para pengendara yang suka blusukan dan membutuhkan pengisian Pertamax bisa mampir ke Pertashop Kencuran ini.
Fredy menceritakan bahwa di Sleman, angka penjualan Pertashop tertinggi mencapai rata-rata 800-an liter per hari. Info itu ia dapatkan dari grup WhatsApp yang anggotanya rekan sejawat pemilik Pertashop. Fredy pun terinspirasi. Namun, untuk lokasi Pertashopnya yang tidak berada di jalur ramai, ia mentargetkan penjualan stabil di angka 500 liter per hari.
Meratakan Rezeki Minyak
Fredy tak pernah membayangkan akan memiliki usaha penjualan BBM skala kecil dengan logo Pertamina. Menurut informasi yang sampai kepadanya, untuk membuka sebuah SPBU dibutuhkan investasi sekitar Rp 8 miliar. Untunglah, info soal Pertashop sampai kepadanya dan ia memutuskan untuk mengambil kesempatan berbisnis BBM tipe mini ini dengan modal yang tidak sampai pada hitungan miliar, cukup ratusan juta saja.
Usaha penjualan BBM mini sekelas Pertashop menjadi pintu pembuka keran rezeki minyak bagi siapa saja. “Hanya dengan Rp 500 juta saya bisa memiliki Pertashop,” kata Fredy berseri. Menurutnya, konsep Pertashop itu memiliki banyak kelebihan. Pertama, modal yang dibutuhkan relatif lebih kecil dibanding dengan pendirian SPBU.
Kedua, bisnis BBM sangat menguntungkan. Keuntungan bersih yang didapatnya berada pada kisaran tujuh sampai delapan persen. “Dengan angka penjualan sekitar 400 liter per hari, BEP bisa dicapai dalam tempo maksimal lima tahun,” jelasnya. Untuk angka penjualan 500 liter per hari seperti yang ditargetkan Fredy, waktu pencapaian BEP akan lebih pendek lagi, di bawah lima tahun.
Selain bagus dari segi penjualan, bisnis minyak dengan jaminan logo Pertamina membuat perizinan tak sulit ia dapatkan. “Masyarakat setuju, perizinan mudah dan bisa nego,” tuturnya.
Fredy menunjukkan hitung-hitungannya. Ia menyewa tanah selama sepuluh tahun atau sesuai masa kontraknya dengan Pertamina sebesar Rp 50 juta. Perizinan Rp 15 sampai Rp 20 juta. Peralatan seperti modular, dll Rp 245 juta. Perlengkapan Rp 10 juta. Pembangunan Rp 35 sampai Rp 50 juta untuk tanah seluas 225 meter2 seperti syarat minimal luas tanah yang dipatok Pertamina. Total investasi itu berjumlah sekitar Rp 350 jutaan.
Untuk mewujudkan Pertashopnya, Fredy mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp 500 juta. Sisanya, setelah dikurangi beaya investasi, adalah uang kas yang ia pegang untuk operasional sehari-hari, dll.
“Sekitar dua kali seminggu, saya mengisi modular dengan 2.000 liter Pertamax,” tuturnya. Modular miliknya berkapasitas 3.000 liter. Tetapi ia mengisinya dengan 2.000 liter saja mengingat angka penjualan belum stabil.
“Kadang-kadang kami kehabisan stok,” cerita Fredy mengenang detik-detik bila tanki modularnya kosong. Ia menuturkan, bila hari itu stok tinggal untuk persediaan sehari dan ia tahu bahwa besok suplai belum tentu datang di pagi hari, maka otomatis Pertashopnya akan ditutup sementara. Pada saat-saat seperti ini ia akan mengontak para pedagang eceran, agar menyediakan stok lebih. Ini penting untuk mengantisipasi agar konsumen tidak kecewa. Salah satu pedagang Pertamax eceran yang dikontaknnya adalah Wijono.
Wijono pemilik kios bensin yang rumahnya sekitar 10-an meter di utara Pertashop Kencuran. “Dulu saya kulakan bensin di SPBU Dusun Mindi jalan raya Besi Jangkang sekitar dua kilomter dari sini. Sekarang beli Pertamax di Pertashop yang sangat dekat,” tuturnya.
Wijono menuturkan bahwa penjualan bensin di kiosnya menurun setelah ada Pertashop yang berjarak beberapa langkah saja dari warungnya. Baginya ini wajar. Untungnya, ia memiliki pembeli royal yakni para anggota keluarga besarnya. Ia diuntungkan pula oleh jam buka Pertashop yang tidak penuh. Kalau malam hari dan Pertashop tutup, para pembeli bensin menyerbu kiosnya. Untung selanjutnya adalah, berjualan bensin hanya sampingan. Usaha utamanya adalah berdagang kelontong dan warung minuman.
Alat pemadam kebakaran di samping modular Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)
Pagi itu, Senin (27/9/2021) stok Pertamaxnya kosong. “Saya belum kulakan, tadi malam dua liter terakhir diambil saudara saya,” tutur Supraptinah, istri Wijono. Ia menceritakan sebelum ada Pertashop, belanja bensin 200 ribu habis dalam satu dua hari. Setelah ada Pertashop penjualannya menurun. “Seratus ribu habis dalam satu atau dua hari,” ujarnya.
Namun, baik Wijono maupun Supraptinah merasa senang sebab, bila Pertashop akan kehabisan bensin mereka pasti mendapatkan kabar dari utusan Fredy agar menambah stok. “Sesuk bensin entek lik, wis dingengehi karo Pak Fredy (besok bensin habis Lik, sudah disisihkan sama Pak Fredy),” kata utusan Fredy seperti yang ditirukan Supraptinah.
Fredy membenarkan, bahwa Wijono adalah prioritas bila Pertashopnya akan kehabisan stok. “Penjualan belum stabil, saya sering kehabisan stok ketika menunggu pasokan truk tanki, karena itu tutup sementara,” kata Fredy. Saat Pertashop tutup menunggu pasokan truk tanki itu, pembeli bensin di kios Wijono meningkat.
Wijono dan pengecer Pertamax rumahan lainnya tetap diperhitungkan Fredy. Ia tak ingin mematikan usaha tersebut. Untungnya, Wijono tak sekadar berjualan bensin. Ia juga memiliki warung kelontong dan kedai minum untuk menopang hidup sehari-hari.
Fredy memutuskan membuka Pertashop miliknya itu hanya sampai pukul 19.00 WIB. Padahal, aturan dari Pertamina membolehkannya membuka gerai BBM mini itu selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. “Supaya pengecer bensin di sekitar tempat ini tetap hidup,” katanya memberikan alasan jam buka Pertashopnya yang tidak penuh tersebut. Khusus malam Sabtu dan malam Minggu ia tutup pada pukul 21.00 WIB.
Rizky Fauzan menunjukkan alat pengukur ketepatan ukuran bensin. (foto: ernaningtyas)
Selain konsisten pada jam buka yang memperhitungkan pengecer bensin, Fredy juga menjunjung tinggi kesepakatan agar Pertashopnya tidak curang dalam takaran. “Sekali ada komplain soal ukuran bensin yang kurang, maka seketika itu juga Pertamina menyetop kerjasama ini,” tegasnya.
Tak hanya Fredy dan para pengecer bensin atau suplaier seperti Gatot yang mendapatkan kucuran rezeki minyak dari Pertashop yang berada di pedesaan. Dua karyawan Fredy, Rizky Fauzan dan Yosi Putra Ardian juga kebagian rezeki. Dua petugas garda depan itu merasakan bahwa di era pandemi, mereka masih bisa mendapatkan pekerjaan. Keduanya baru lulus dari SMK dan SMA. “Alhamdulillah saya langsung bisa kerja,” tutur Rizky.
Sementara Yosi menunjukkan rasa bahagia karena sebagai lulusan SMA, ia bisa bekerja di tempat yang dekat dengan rumahnya dan digaji sesuai UMR (Upah Minimum Regional). “Saya senang kerja di sini,” kata Yosi.
Untuk memaksimalkan tempat usahanya yang memiliki luas 600-an meter persegi itu, Fredy tidak hanya membuka Pertashop. Di tempat yang sama ada juga usaha lain yang ia jalankan. Rumah makan Sego Megono, kedai kopi dan agen BRI Link. Fasilitas toilet dan parkir yang luas menjadi daya dukung usahanya. Dan demi keamanan, sebuah alat pemadam kebakaran siaga di samping pompa.
Fredy tak pernah membayangkan akan memiliki Pertashop yang prospektif dari segi bisnis. Namun demikian, ia tak ingin memilikinya lebih dari satu. “Ada yang punya sampai empat buah,” kata Fredy. Ia merasa satu Pertashop sudah memberikan rezeki lebih bagi bapak satu anak usia 5,5 tahun ini.
Kompleks Pertashop Kencuran dengan fasilitas toilet, kulineran Sego Megono dan tempat parkir luas. (foto: ernaningtyas)
Yosy Putra Ardian, karyawan Pertashop Kencuran. (foto: ernaningtyas)
Terbuka Peluang
Pertamina masih membuka peluang bagi warga Sleman dan kabupaten lainnya untuk mendirikan Pertashop seperti Fredy dan delapan pemilik Pertashop yang tersebar di delapan desa di Kabupaten Sleman, yakni di desa Umbulharjo, Sumbersari, Sendangrejo, Sukoharjo, Margo Agung, Moyudan, Sindumartani dan desa Bangunkerto. Pertashop pertama berdiri di desa Umbulharjo pada Juni 2020.
Brasto Galih Nugroho, Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), menyatakan bahwa pihaknya membuka kesempatan luas bagi siapa saja yang ingin berinvestasi untuk mendirikan Pertashop. Ini sejalan dengan program Pertamina OVOO (One Village One Outlet).
“Pertamina saat ini sedang mencari investor sebanyak-banyaknya untuk menjadi mitra Pertashop. Jumlah Pertashop di Kabupaten Sleman diharapkan bisa bertambah seiring perkembangan waktu sehingga BBM dapat disalurkan kepada masyarakat melalui Pertashop,” kata Brasto Galih Nugroho saat dihubungi Jayakarta News Rabu (13/10/2021).
Brasto memaparkan, calon investor Pertashop diberi kemudahan. Mereka bisa mendirikan Pertashop melalui badan usaha seperti BUMDes, PT, CV hingga UD. “Pertashop rata-rata hanya menjual BBM nonsubsidi Pertamax. Ada satu Pertashop yang menjual BBM nonsubsidi Dexlite di Regional Jawa Bagian Tengah, yaitu di Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen.
Pertamina terus menggali potensi yang ada di setiap wilayah dalam rangka kemitraan di bidang penyaluran BBM non subsidi melalui Pertashop. Ini penting untuk mendekatkan sumber energi sekaligus meratakan rezeki minyak kepada masyarakat luas. (Ernaningtyas)