Orangtua Vs Gorilla: Bagaimana Adiksi Mengalahkan Keluarga (Bag 1)

 Orangtua Vs Gorilla: Bagaimana Adiksi Mengalahkan Keluarga (Bag 1)
Ilustrasi–foto istimewa

Oleh: Joyce Djaelani Gordon

JAYAKARTA NEWS— Bayangkan saja cerita keluarga yang kita namakan saja Bapak dan Ibu Dirga. Banyak anggota keluarga Dirga, paman/tante dan teman-teman keluarga Dirga sebetulnya sudah melihat gejala masalah drugs ini pada anak Bapak dan Ibu Dirga, si Dino. Tapi mereka diam.

Mereka diam karena takut salah bila menyampaikan kecurigaan mereka ini kepada Bapak atau ibu Dirga. Mereka menghargai persahabatan, juga tak ingin dianggap ‘kepo’ atau ikut ngerusuhi urusan dalam negeri keluarga Dirga dan membuat marah.

Teman-teman anak Bapak/Ibu Dirga sebenarnya sudah sangat ingin menyampaikan kepada Bapak/Ibu Dirga, tapi takut diterima secara salah. Mereka juga tidak mau disemprot oleh Bapak dan Ibu Dirga. Budaya tidak enakan ini seringkali menjadi masalah juga. Mereka hanya bisa berharap orangtua Si Dino tahu perilaku anaknya. Namun sebagian lainnya berpikir, mana mungkin sih orangtua Si Dino tidak tahu prilaku anaknya. Pasti, mereka melindungi kerusakan anaknya dari orang lain dan hanya berlagak bodoh.

Ujung-ujungnya, Si Dino masuk rumah sakit. Masuk RS, karena kejang-kejang sehingga terjadi  kecelakaan bermotor. Dan ganja sintetik adalah penyebabnya di baliknya. Bayangkan betapa kagetnya orangtua ketika diberitahu teman-teman anaknya bahwa anaknya memakai ganja sintetik atau Sinte alias Gorilla. Ujungnya, marah juga kepada semua teman-temannya itu.

Bapak/Ibu Dirga tidak pernah tahu urusan drugs. Mereka tidak pernah mencoba narkoba apapun. Tidak terbayang oleh mereka bahwa anak mereka akan bermasalah dengan drugs. Bukankah mereka sudah memberikan segalanya? Bukankah mereka sudah melindungi anak mereka? Bukankah mereka sudah bekerja keras memastikan bahwa semua kebutuhan anak terpenuhi? Dan, sejuta ‘bukankah’ yang lain.

Menengok ke belakang, mereka mulai melihat, itukah mengapa nilai-nilai sekolahnya mulai turun? Itukah mengapa ia jarang mau makan di rumah bersama keluarga? Itukah mengapa ia pergi dengan teman-temannya dengan dalih belajar bersama? Itukah mengapa barang-barang pemberian orangtua satu per satu hilang? Itukah mengapa ia selalu bokek dan minta uang?

Itukah mengapa ia kadang kurang ajar? Itukah mengapa ia banyak menuntut? Itukah mengapa jawaban terhadap SMS orangtuanya selalu aneh dan tak menjawab pertanyaan dengan langsung? Itukah mengapa kebanyakan teman-teman lamanya tak pernah muncul ke rumah lagi? Itukah mengapa kalau di rumah ia selalu menghindari keluarga? Itukah mengapa ia lebih sering di kamar, kalau di rumah dan menghindari orangtuanya? Dan beribu ‘itukah mengapa’ lainnya. 

Ini adalah kisah fiktif, mencampur kisah dari beberapa keluarga, beberapa pecandu, beberapa kisah, namun satu penyebab ….. drugs!

MENGENAI KAUM MUDA

Kebanyakan pecandu menggunakan narkoba pada masa remaja, sekitar usia SMP atau SMA. Bermula dari mencoba miras dan ganja, mereka yang kecanduan berlanjut ke zat lain yang lebih keras, seperti heroin (putaw) atau methampethamine (shabu). Di tahun 2019 ini, beberapa pusat perawatan narkoba mulai melihat peningkatan anak-anak di bawah 20 tahun yang sudah kecanduan. Membuat miris.

Obat daftar ‘G’ dijual bebas secara online—gambar istimewa

Saat ini gorilla atau ganja sintetik marak. Kebanyakan anak yang terkena adalah anak-anak di bawah 20 tahun. Mereka bisa mencari online, dapat kiriman dari belanja online. Obat-obatan yang entah asli atau tidak, bahkan termasuk obat yang di bawah pengawasan bisa dibeli dengan penamaan yang dirubah sedikit atau dijual sebagai herbal. Pengawasan longgar, namun masyarakat umum kerap tidak pernah tahu harus melapor kemana soal pelanggaran ini.

Simak juga kisah Rino, pemuda berusia 16 tahun yang sudah mengkonsumsi ganja dan beragam pil dokter untuk dikonsumsi bersama miras sejak ia berusia 13-14 tahun. Orangtua awalnya membawanya ke dokter ketika ia mengaku memakai ganja. Karena itu, ia diberikan obat oleh dokter untuk rawat jalan.

Namun, bukan berhenti, ia malah menyalahgunakan obat dokter, dan mencampurnya dengan miras dan ganja. Terakhir, ketahuan menggunakan shabu dan tertangkap polisi. Ia dimasukkan ke rehabilitasi.

Sumber informasi Rino tentang narkoba, hanyalah dari teman-temannya. Ia mengaku atau berdalih bahwa ia tidak nyaman menolak dorongan teman-temannya untuk menggunakan. Awalnya ia tidak suka, namun pemakaian kedua ia mulai menikmatinya.

Tetapi itu sama seperti mengaku ketabrak sekali tidak enak, namun sengaja menabrakkan diri kedua kalinya. Dalam waktu mingguan, ia sudah menjadi pemakai rutin dan akhirnya kecanduan dan meningkat ke pemakaian narkoba lainnya.

Mungkin, bila ia mendengar informasi pencegahan sebelum ia mencobanya, ia akan lebih terlindung. Kalau saja di sekolahnya ia memperoleh informasi yang mumpuni mengenai bahaya narkoba, dan strategi untuk menolaknya, ia mungkin bisa terhindar dari narkoba.

Klise memang. Namun usia remaja memang merupakan masa terpenting dalam hidup, namun kerap bukan masa dimana semua informasi sudah dikuasai dan tersedia. Padahal, narkoba merusak semua masa depannya bila tidak berhati-hati.

Doni ( 40 tahun), masuk rehabilitasi kembali karena menggunakan shabu. Dia sudah berulangkali masuk rehabilitasi dan sudah berulangkali pakai-berhenti narkoba. Ia menggunakan sejak saat masih usia 18 tahun, ketika ia masuk kuliah.

Jauh dari orangtua. Orangtua tidak tahu kalau anaknya ternyata tidak menyelesaikan kuliahnya. Si anak mengaku sudah menyandang gelar sarjana. Belakangan, orangtua Doni menemukan kalau ternyata anaknya sudah lama tidak kuliah. Bahkan sejak tingkat kedua, ia tidak pernah masuk kuliah sama sekali. Sementara, orangtuanya selama ini rajin membayar kuliahan ke Doni dan memenuhi semua permintaannya yang terkait dengan kuliahnya.

Bayangkan kekagetan kedua orangtuanya saat itu. Namun Doni hanyalah satu dari sekian banyak ‘cerita’ soal pecandu. Pada usianya yang memasuki 40 tahun, kedua orangtua masih terus menyokongnya. Doni tidak pernah berhasil bekerja lama. Pada usianya yang ke 40 tahun ini, ia masih banyak bermain, seperti layaknya anak usia 18 tahun. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *