Kibas Selendang tak Terlupakan

 Kibas Selendang tak Terlupakan
Endang Caturwati (paling kanan), dalam pose menari. (foto: istI

JAYAKARTA NEWS – Menyebut bidadari saja identik dengan kecantikan. Bagaimana jika yang kita bicarakan adalah ratunya para bidadari?

Namanya Dewi Supraba. Dalam ephos Mahabharata, nama Dewi Supraba dominan dalam sekuel “Arjuna Wiwaha”. Wiwaha artinya pernikahan suci. Mengapa tidak menggunakan istilah “Palakrama” yang artinya juga pernikahan? Jawabnya, karena Dewi Supraba adalah seorang bidadari.

Supraba tidak menikah dengan bidadara atau dewa dari khayangan. Supraba menikah dengan Arjuna, seorang ksatria sempurna dambaan wanita bumi maupun bidadari khayangan. Pernikahan terjadi melalui drama panjang.

Epik “Arjuna Wiwaha” tidak saja menjadi sajian lakon dalam dunia pewayangan –wayang kulit, wayang golek, atau wayang orang– tetapi juga digubah menjadi sendratari. Sekalipun tokoh “Arjuna” yang menjadi tema lakon, tetapi pemeran Dewi Supraba sejatinya adalah sentral cerita.

Endang Caturwati di Rranca Upas, Bandung. (foto: ist)

Nah, mari kita jumpai “Dewi Supraba” dari Bandung. Mojang geulis pemeran Supraba ini bernama Endang Caturwati. Namanya beraroma Jawa, tetapi dikenal sebagai penari asal Bandung. Jangan heran, sebab, meski bapaknya asal Jawa, tetapi Endang memang lahir dan tumbuh di Bandung bersama kedua orang tuanya.

Sejatinya, Endang bukan sembarang penari. Ia adalah intelektual perempuan yang menyandang seabrek prestasi lokal, nasional, maupun internasional. Ia adalah Guru Besar Seni Pertunjukan, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Sebagai birokrat, pernah menjabat Direktur Kesenian dan Perfilman, Kemendikbud. Masih berderet panjang, jabatan dan posisi yang pernah dan masih disandang Profesor Cantik yang satu ini.

Kembali ke “laptop”, kembali ke Endang Caturwati pemeran Dewi Supraba. Sebagai penari, memainkan peran Supraba dalam lakon “Arjuna Wiwaha” adalah moment tak terlupakan. Ada begitu banyak karakter yang harus ia ekspresikan dalam gerak tari.

Sepanjang peran, ia mematri peran sebagai bidadari yang anggun. Di sisi lain, ia harus melakukan tarian menggoda demi membangunkan Arjuna yang tengah bertapa. Sejurus kemudian, gerak tari menjadi romantis saat adegan memadu-kasih dengan Arjuna. Pada bagian lain lagi, Supraba harus menolak cinta raja raksasa sakti bernama Niwatakawaca, dan dituntut ekspresi marah meradang manakala raksasa itu menggoda bahkan melecehkanya.

“Benar. Itu peran tak terlupakan. Sepanjang pertunjukan harus berkonsentrasi akting dan menari multi karakter,” ujar Endang Caturwati kepada Jayakarta News.

Endang Caturwati dalam salah satu lawatan ke luar negeri. (foto: ist)

Peran-peran lain, setali-tiga-uang. Ia selalu saja di-casting sebagai putri yang anggun, mempesona, dan acap menjadi sentral cerita. Dalam dramatari “Lutung Kasarung” yang legendaris, misalnya, Endang memerankan Purbasari. Seorang putri raja yang lembut, baik hati, dan suka menolong. Ia dibuat celaka oleh kakaknya Purbararang hingga menjelma menjadi gadis buruk rupa, dan karenanya dibuang ke hutan.

Di tempat berbeda, di khayangan, seorang bidadara tampan bernama Gumindra enggan menikahi bidadari yang dijodohkan untuknya. Gumindra ingin menikahi perempuan rupawan, secantik ibundanya. Sang ibu menunjukkan, gadis secantik dirinya hanya ada di bumi. Akan tetapi, untuk mendapatkannya ia harus mau berubah wujud menjadi lutung (kera).

Pertemuan Purbasari yang buruk rupa karena mantra jahat, dengan pangeran tampan Gumindra yang berwujud lutung pun terjadi di tengah hutan. Cerita happy ending ini adalah kembalinya kecantikan Purbasari, dan berubah wujudnya Gumindra dari seekor lutung menjadi pangeran tampan. Purbasari menjadi raja menyingkirkan Purbararang, dan hidup bahagia dengan Gumindra.

“Kekuatan cerita Lutung Kasarung adalah beban tersendiri. Cerita ini tidak akan punya ruh kalau tidak dibawakan dengan sungguh-sungguh serta konsentrasi yang penuh,” komentar Endang ihwal peran Purbasari yang pernah dimainkannya.

Endang Caturwati dalam salah satu lawatan ke luar negeri. (foto: istO

Ada satu lagi peran yang begitu mengesankan Endang Caturwati. Lagi-lagi peran sebagai seorang dewi, bernama Dewi Asri dalam drama tari Mundinglaya Dikusumah. Cerita Sunda yang sangat familiar.

Mundinglaya adalah penerus Prabu Siliwangi, penguasa Pajajaran. Dalam cerita itu, muncul sosok antagonis bernama Sunten Jaya yang mencoba merayu dan merebut Dewi Asri yang notabene sudah bertunangan dengan Mundinglaya.

Salah satu adegan yang menggambarkan perbuatan pelecehan Sunten Jaya kepada Dewi Asri, melahirkan satu moment tak terlupakan bagi Endang Caturwati. “Karena begitu menghayati peran, saya benar-benar marah saat dikejar-kejar Sunten Jaya di atas panggung. Karena saya tolak cintanya, ia coba menggoda dan melecehkan saya. Di adegan itu, ia terus menguber ke mana pun saya berlari. Nah, dalam salah satu adegan, saya melakukan gerakan kebyak, melempar sampur atau selendang ke arah lawan main. Rupanya karena amarah, kibasan selendang itu sangat keras, sehingga lawan main benar-benar merasa kesakitan. Duh… saya ingat terus peristiwa itu,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 25 Desember 1956 itu.

Begitulah. Membincang hal-ihwal dunia tari dengan Endang Caturwati, seperti tak menemui garis tepi. Betapa tidak. Sekalipun ia juga dikenal sebagai komposer, pelukis, penulis dan banyak kebisaan lain, tetapi darah tari memang mengalir kental di tubuh perempuan awet muda ini.

Prof Endang Caturwati. (foto: ist)

Dunia tari sudah ditekuni sejak kecil. Kebetulan, sang ayah, Bardjo Herman adalah seniman karawitan Jawa. Di rumahnya di Bandung, Bardjo Herman memiliki dua set gamelan, pelog dan slendro. Hampir tiap hari, di rumahnya meriah dengan alunan gamelan dan liak-liuk penari. “Ayah mendatangkan guru tari ke rumah,” kata Endang.

Sejak usia TK, Endang sudah bisa menari. Sesekali pentas di sekolah. Kelas 4 SD, saat usia genap sepuluh, Endang sudah menguasai tarian Jawa. Selanjutnya, Endang belajar tari Sunda. “Tari sunda utuh, tari Sunda klasik saya kuasai kelas dua SMA. Di banyak panggung, saya menarikan tarian sunda,” tuturnya.

Melalui seni tari pula, Endang Caturwati menimba banyak pengalaman dalam hidupnya. Ia tercatat menjadi penari di berbagai kegiatan penting seperti Konferensi Non Blok di Gedung Asia Afrika Bandung, menari di Istana Negara, bahkan menari di berbagai negara. Bahkan dalam posisi sebagai seniman, Endang sudah melawat ke sekitar 20 negara.

Kini, Endang yang telah menguasai beberapa genre tari sunda. Endang telah menciptakan sejumlah tarian. Beberapa tari karyanya, sudah dipertunjukkan di manca negara, bahkan menjadi materi ajar di beberapa sekolah tari dan sanggar tari.

Selain aktivitanya mengajar serta sibuk di berbagai organisasi seni dan organisasi kemasyarakatan, Endang Caturwati menyempatkan diri untuk terus berkreasi di sanggar Hapsari Citra Indonesia yang ia dirikan tahun 1980. Di sanggar itu, Endang tidak hanya mencipta tari, tetapi juga mengeksplor potensi lain, di antaranya menggubah lagu. “Karya tari saya sekitar 30 lebih, tapi karya lagu saya lebih banyak, sekitar 40,” katanya.

Endang Caturwati: Cantik, pintar, dan berkarya. Salah satu “Kartini” tangguh era milenial. Karya tarinya begitu indah. Gubahan lagunya sangat menginspirasi. Sapuan kuasnya begitu mempesona. Kibasan selendangnya… bisa membuat merah wajah….. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *