Gurit Wanodya di Sastra Bulan Purnama

 Gurit Wanodya di Sastra Bulan Purnama

Jayakarta News – Bukan untuk yang pertama kali geguritan ditampilkan di Sastra Bulan Purnama.Sudah beberapa edisi Sastra Bulan Purnama, dalam tahun yang berbeda, kumpulam geguritan diberi ruang untuk dibacakan, bahkan dibarengkan dengan buku kumpulan puisi, sehingga dua jenis buku, ialah buku kumpulam geguritan dan kumpulan puisi dibacakan secara bergantian di Sastra Bulan Purnama.

Ini kali ketiga, kumpulan geguritan yang diberi judul ‘Wanodya’, dan sudah terbit dalam tiga edisi dari tahun 2017-2019. Setiap tahun para penggurit perempuan dari kota yang berbeda-beda menerbitkan buku kumpulan geguritan, dan disebut seri geguritan ‘Wanodya’. Para penggurit perempuan itu ialah Alfiah Ariswati Sofyah (Karanganyar), Esti Suryani (Surakarta), Nia Samsihono (Jakarta), Ninuk Retno Raras, Tri Sumarni (Yogya), Puspo Endah (Kediri), Resmiyati (Klaten), Sulis Bambang, Yani S.Sastro (Semarang), Suratmini (Bojonegoro), Tino Jooshe (Surabaya), Trinilya Kinasih (Blitar), Widya Hastuti Ningrum (Kudus).

Widya Hastuti Ningrum (Kudus) dan Sulis Bambang (Semarang). (ist)
Resmiyati dan Ninuk Retno Raras. (ist)

Perempuan penggurit dari kota berbeda ini akan membacakan geguritan karyanya dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi 98, yang akan diselenggarakan jumat, 15 Nopember 2019, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Tajuk dari Sastra Bulan Purnama edisi 98 ‘Geguritan di Tengah Wanodya’.

Selain para perempuan penggurit yang akan tampil membacakan geguritan karyanya, juga akan menampilkan pembaca tamu Sri Surya Widati, Tara Nusantara, Rieta En dan Arieyoko. Penampilan musik, akan diisi Bengkel Sastra Taman Maluku dan Institut Karinding Nusantara. Keduanya akan melakukan kolaborasi. Untuk mengawali pertunjukan, puisi yang ditulis dalam bahasa Cilacap, atau yang dikenal dengan sebutan bahasa panginyongan akan mengawali pertunjukan.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, bahwa perempuan penggurit dari berbagai kota yang memiliki profesi berbeda-beda, seperti guru, dosen, ibu rumah tangga dan profesi lainnya, berusaha menjaga bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, terus digunakan, meskipun logatnya berbeda-beda.

“Saya kira, usaha mereka untuk menjaga bahasa Jawa akan tidak dilupakan, dan mereka menjaga bahasa Jawa dalam bentuk menulis karya sastra dalam hal ini geguritan, perlu untuk diapresaisi dan diberi ruang,” ujar Ons Untoro.

Halim HD., seorang pekerja jaringan kebudayaan yang tinggal di Solo, dalam pengantarnya di buku Wanodya ini, di antaranya mengatakan, “Wanodya ingin menyatakan dan menyampaikan, inilah suara mereka. Suara dari pengalaman keseharian dan dengan bahasa Jawa yang berangkat dari basa keseharian.”

“Dalam konteks bahasa Jawa keseharian inilah, kita bisa mencatat adanya suatu perkembangan sastra Jawa yang tidak berpusat, bahasa Jawa krama hinggil. Sebagaimana anggapan yang selama ini telah membentuk persepsi kita: tentang karya sastra Jawa,” ujar Halim HD.

Arieyoko, dari Komunitas Sastra Etnik, yang menerbitkan kumpulan geguritan ‘Wanodya’ ini mengatakan, buku ini sebagai wujud konkret Sastra Etnik Jawa yang masih terus hidup subur-menyubur, berkembang mewangi, menjadi keragaman dari sekian ratus sastra-sastra etnik lainnya”. (*/rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *