Film ‘Menari’ Dirilis di Depan Para Raja dan Sultan Nusantara

 Film ‘Menari’ Dirilis di Depan Para Raja dan Sultan Nusantara

JAYAKARTA NEWS – Apa itu kebudayaan ?

Menurut Prof Dr Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan perilaku dari manusia dan hasil yang diperoleh melalui proses pelajaran dan segalanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

Dalam hidup, manusia tak lepas dari kebudayaan. dan adat istiadat. Kebudayaan yang berfungsi sebagai identitas dan ciri khas dan untuk itulah keberadaannya sangat penting.

Memang, kebudayaan adalah hasil dari karya cipta, rasa dan karsa manusia. Meski berujud abstrak, kehadirannya mampu mempengaruhi pengetahuan seseorang, terutama gagasan dan ide-idenya.

Setiap kelompok dan golongan masyarakat tertentu memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Bersifat turun temurun dari generasi ke generasi terus diwariskan.

Hal tersebut jelas terlihat ketika menonton film dokumenter bertajuk ‘Menari : An Indonesian Dance Legacy’ yang disutradarai oleh Natasha Dematra dari Indonesia bersama sineas senior Cheryl Halpern. Film dokumenter ini dibuat oleh HQ Creative (sebuah rumah produksi yang berpusat di AS) yang beberapa kali meraih Emmy Awards.

Yang unik, peluncuran film ‘Menari…’ dihelat di XXI Planet Hollywood Jakarta di hadapan Raja dan Sultan Nusantara (antara lain Raja Pajajaran, Kasepuhan dan Kanoman dari Cirebon, Jogjakarta, Riau dll) yang khusus diundang untuk memperingati Hari Kemanusiaan Internasional (World Humanitarian Day) yang penggagasnya adalah Damien Dematara dari Indonesia.

Pembuatan film ini dilakukan di empat kota di Jawa, yaitu Semarang, Jogjakarta, Bali dan Jakarta. Proses syuting dan paska produksi berlangsung selama setahun.

Dengan durasi 30 menit, kita akan terpukau melihat deretan sinematografi nan apik dan artistik dari film ini. Lihatlah ketika pelaku Rama dan Rahwana dalam cerita Ramayana dan Candi Prambanan.

Pelaku Rama sudah agak sepuh namun dua orang anaknya yang masih berusia dibawah 10 tahun bicara dalam bahasa Inggris bahwa mereka akan menggantikan orang tuanya untuk terus menari. Ini sebagai bukti bahwa kebudayaan bersifat turun temurun dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Bali juga demikian. Di Pulau Dewata ini, banyak anak sejak usia balita sudah diajarkan menari daerah . Setiap hari mereka bersekolah, bekerja dan berkesenian/berkebudayaan. Menari bagi mereka adalah ibadah.

“Saya dan ibu Cheryl Halpern sangat enyoy dan enggak ada kendala apapun ketika membuat film ini. Cuaca juga sangat membantu kita selama syuting di daerah,” cerita Natasha Dematra.

Deretan gambar yang tersaji di depan kita benar-benar satu bentuk kebudayaan yang agung dan sakral di Indonesia. Indonesia bisa mempersatukan hal tersebut sesuai dengan semboyan yang dimiliki oleh negara, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang artinya ‘walau berbeda-beda namun tetap satu’.

“Cultural Diversity sudah jadi keniscayaan yang dimiliki oleh bangsa ini. Dan hal ini tak dapat ditolak lagi keberadaannya,” papar Natasha lagi.

Senada dengan yang dilontarkan oleh Cheryl Halpern. “Semua adalah mungkin dalam berkarya guna memberi tujuan-tujuan sosial melalui suara-suara kemanusiaan yang otentik dan jujur. Tim kami kedepankan suara kemanusiaan yang nyata dalam masyarakat melalui seni film,” ujar Cheryl Halpern.

Puncak-puncak kebudayaan terdiri atas kebudayaan daerah yang mengarah kepada kewilayahan yang menjadi pertemuan antara adat yang satu dengan yang lain. Kebudayaan Indonesia mau tak mau disesuaikan dengan geografi daerahnya, apakah di pegunungan, di tepi pantai atau di suatu daerah dekat pemukiman.

“Sebagai warganegara Amerika, saya merasa iri dengan kebudayaan Indonesia. Di sini kebudayaannya beraneka ragam, Ini merupakan keunggulan tersendiri dibanding negara lain,” sergap Cheryl Halpern.

Dan pernyataan Cheryl Halpern kemudian ditutup oleh Natasha Dematra yang bangga sebagai warganegara Indonesia. “Kebudayaan kita sangat majemuk. Lihatlah budaya gotong royong di daerah-daerah. Ini mencerminkan bahwa budaya Indonesia oleh suatu kelompok tertentu masih hidup dan diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Kita harus menjaganya agar jangan punah atau diakui sebagai budaya bangsa lain,” tandas Natasha Dematra.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia – ada 18.000 pulau dan 6000 pulau tak ada penghuninya – , kita dipersatukan oleh sekitar 700 bahasa (dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan), suku, adat istiadat, agama dan kepercayaan serta kebudayaan daerah. Keragaman budaya dalam NKRI yang didalamnya
dipenuhi kekayaan yang tak ternilai.

“NKRI harga mati. Bhineka Tunggal Ika sudah enggak bisa ditawar lagi,” demikian prinsip Natasha Dematra.

Selain itu, juga diumumkan film terbaik yaitu ‘Remembering : The Story of Maurits Kiek‘, film dokumenter yang mengambil tema pahlawan Belanda, Maurits Kiek yang berjuang bagi kemanusiaan, saat ia melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh Nazi di masa pendudukan Jerman selama Perang Dunia II. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *