Halal bi Halal Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru

 Halal bi Halal Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru

Ahmad Mahendra sebagai Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru–foto instagram

JAYAKARTA NEWS— Sejak Januari 2020, ada Direktorat baru di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yaitu Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru. Lembaga Kebudayaan baru ini kini dipimpin Ahmad Mahendra sebagai Direktur Perfilman, Musik dan Media baru.

“Kami fokus kepada sisi pendidikan dan industrinya,” kata Mahendra dalam acara halal bi halal secara aplikasi, Senin (25/5). Dipandu oleh Yan Widjaya dan co-host Arul Muchsen dan Benny Benke, halal bi halal ini berjalan lancar dan gayeng. Tak terasa 2 jam berjalan tanpa jeda.

Dikatakan Mahendra, sisi pendidikan mencakup SDMnya. Kita bisa meniru orang Korea yang telah menyebarkan KPop ke seluruh dunia. “Kita bisa meniru kelebihan dan kedisiplinan orang Korea. Film Korea sudah berhasil menyabet Oscar, kita belum apa-apa,” ungkapnya.

Di industri, belakangan karya film anak Indonesia sudah dihargai di luar negeri. Kita kaya tenaga kerja. Sineas dari Jakarta bisa kerja sama dengan Pemda. Kita siapkan skenario yang menarik untuk kearifan lokal. “Literasi dan apresiasi di sekolah-sekolah terus ditingkatkan,” timpal Mahendra.

Noorca Marendra, budayawan yang juga Anggota LSF–foto instagram

Sedangkan budayawan dan anggota LSF periode 2020-2024, Noorca Marendra Massardi mengemukakan, LSF terbantu dengan kerja Direktorat Perfilman yang mengkampanyekan sensor mandiri.

“Ini swa sensor. LSF  enggak lagi potong film secara enggak semena-mena. Tapi kita adakan diskusi dengan produser dan sutradaranya,” papar Noorca yang novel karyanya ‘Sekuntum Duri’ diangkat ke film.

Putri Ayudya, artis–foto instagram

Menanggapi akan dibukanya kembali bioskop di mal, Noorca mengatakan, bioskop wajib mengurangi kursi separuhnya dengan jarak 2 meter. Sementara Putri Ayudya, aktris, mengaku di saat pandemi C19, ada protokol syuting dan seluruh krunya harus menjalani rapid test.

“Film dan seni pertunjukan paling terdampak. Sudah 3 bulan banyak pekerja film nganggur enggak bekerja,” keluh Putri Ayudya. Ia ingat pengalaman beberapa minggu lalu saat ia syuting film pendek sehari penuh sebanyak 6 episode di Jakarta. “Kita syuting 6 pemain saja.

Protokol kesehatan sangat ketat. Usai syuting, enggak bisa peluk-pelukan. Kita harus bisa menjaga kualitas filmnya maupun aktornya,” imbuhnya. “Untuk bisa bertahan dan survive, kita harus happy. Tetap kreatif dan bekerja di rumah saja,” tandas Putri Ayudya yang pernah aktif di Kementerian Sosial beberapa tahun lalu. Selain tiga tokoh di atas, ikut bicara juga Djony Syafrudin ( Ketua GPBSI, gabungan perusahaan bioskop ), Anggy Umbara ( sutradara ) dan H Firman Bintang (produser). (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *