Bagaimana Sampah Bisa Jadi Uang

 Bagaimana Sampah  Bisa Jadi Uang

Hasanudin menyampaikan materi PKM tentang sampah. {foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Denyut perguruan tinggi tidak semata ditentukan oleh kesuksesan lembaga pendidikan dalam menjalankan pendidikan dan pengajaran, tetapi juga dalam bangaimana mereka mengabdikan diri kepada masyarakat dan melaksanakan penelitian.

“Trisula “ tersebut lebih dikenal sebagai tri darma perguruan tinggi. Seorang dosen di perguruan tinggi, bukan hanya dituntut cakap dalam mengajar, tetapi juga harus melaksanakan dua darma lainnya: penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (PKM).

Sepak terjang itulah yang juga dilakukan oleh dosen-dosen di Univeritas Bhayangkara Jakarta Raya. Pada aspek pengabdian masyarakat, pada dosen –biasanya tergabung dalam kelompok kecil—terjun langsung ke masyarakat.

Dalam sebuah bincang santai mengenai Abdimas ini, Hasanudin S.I.P, M.AP berkisah tentang bagaimana melaksanakan Abdimas. “Itu kami lakukan awal tahun ini, tepatnya 30 Januari 2020,” katanya.

Hasanudin yang dosen Fakultas Ekonomi tersebut, bersama dosen Ubhara Jaya lainnya, Mugiarso, S.Kom., M.Kom dari Fakultas Teknik, menceritakan bagaimana mereka menjalankan program PKM. Dalam kegiatan itu, kedia dosen tersebut memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang diselenggarakan di balai Desa Sukabudi, Kabupaten Bekasi.

Kegiatan tersebut melibatkan 50 peserta yang terdiri dari unsur pamong desa, tokoh masyarakat dan tokoh agama, perwakilan RT/RW, pemuda, dan kelompok perempuan. Narasumber pertama menyampaikan beberapa poin mengenai sampah yang dapat menyebabkan banjir, penyakit, dan sampah memiliki nilai ekonomi.

Isu sampah diangkat dalam kegiatan tersebut. Hal itu penting, karenya pada kenyataannya Kali Bahagia, Kali Pisang Batu, Kali Cibalok, Kali Jambe yang melewati wilayah Kabupaten Bakasi, telah tertutup oleh sampah yang mengakibatkan meluapnya air kali sehingga menggenangi jalan-jalan bahkan masuk ke rumah-rumah masyarakat.

Hasanudin mengingatkan kepada masyarakat, bahwa sampah yang memenuhi sungai, akan menimbulkan penyakit seperti Infeksi cacing (cacing tambang, cacing gelang). Selain itu, sampah juga menjadi tempat berkembang biaknya parasit toxoplasma gondii karena terkontaminasi kotoran hewan Infeksi bakteri yang dapat menyebabkan diare, kolera, tetanus, demam tifoid,shigellosisi (penyebab diare). Selain itu sampah salah satu tempat berkembang biaknya virus yang menyebabkan penyakit hepatitis A dan gatroenteritis (muntaber).

Namun demikian, sampah yang sebagaian orang dianggap tidak bermanfaat, jika dikelola dengan diberi sentuhan kreativitas dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Misalnya sampah dapat dibuat kerajinan (sampah plastik), dan juga dapat dikelola menjadi pupuk. dengan demikian dapat memberi nilai tambah bagi ekonomi rumah tangga.

Selanjutnya oleh narasumber kedua, dijelaskan bahwa sampah dapat mencemari lingkungan, yang dalam jangka panjang tanah menjadi tidak subur. Sebab sampah mengandung bahan beracun (B3) yang tentunya akan mengganggu lingkungan sekitar.

Pada kegiatan tersebut, jelas Hasanudin, suasana dialogis antara narasumber dan peserta begitu hidup, berbagai pertanyaan muncul misalnya, bagaimana cara menyadarkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan perlu diadakan pertemuan lanjutan, perlu ada tempat-tempat sampah, bagaimana mengubah sampah agar dapat bernilai ekonomi, dan siapa yang akan melatih masyarakat. Beragam pertanyaan tersebut, menjelaskan masyarakat Desa Sukabudi butuh pendampingan berkesinambungan agar tujuan PKM dapat tercapai. (*/sm)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *