Ayam Bakar Biromaru

 Ayam Bakar Biromaru
Paket menu ayam bakar biromaru, resep legendaris Sulawesi Tengah. (foto: jto)

Jayakarta News – Ayam bakar Biromaru adalah resep legendaris Sulawesi Tengah. Belum lengkap kunjungan Anda ke Palu kalau belum singgah di Biromaru untuk menikmati kelezatannya.

Biromaru dulu kota kecamatan. Bisa Dija ngaku 30 menit dari kota Palu atau dari Bandara SIS Al Jufri Mutiara. Di kota kecil itu ada pasar satu-satunya. Di dalam kompleks pasar tradisional itulah berdiri rumah makan ayam bakar yang terkenal tersebut.

Rumah makan itu dulu bernama Madamba. Orang menyebutnya rumah makan Biromaru. Karena hanya satu-satunya di Biromaru. Pendirinya Hajjah Indowansa.

Kalau mau makan ayam bakar Biromaru harus sabar. Menunggunya saja paling cepat dua jam.

Pengunjung yang datang diminta memilih ayam sendiri di kurungan. Biasanya ayam jago. Setelah dipilih, barulah pemilik warung menyembelih dan memasaknya. 

Setelah dipotong-potong, daging ayam diungkep. Setiap beberapa menit sekali diangkat, Kemudian diolesi bumbu lalu diungkep lagi. Semua bumbu harus meresap ke dalam daging.

Setelah daging dirasa empuk, daging ayam dibakar hingga setengah kering. Langkah selanjutnya daging bakar dicemplungkan ke kuali berisi bumbu santan dan dimasak sampai bumbunya meresap.

Suatu kali mertua saya datang ke Palu menengok istri saya yang tengah hamil besar. Menjelang melahirkan anak sulung.

Saat itu bulan Ramadan. Saya berinisiatif mengajak mertua sahur di Biromaru. Agar punya kenangan resep unik yang tidak ada duanya di muka bumi itu.

Tiba di warung masih pukul 01:30. Masih cukup waktu. Saya pesan dua porsi. Seporsi satu ekor ayam jago.

Dasar apes. Antrean ternyata banyak. Waktu tunggu dua jam tidak cukup. Saat adzan subuh berkumandang, menu pesanan baru matang. Gagal sudah rencana saya memamerkan ayam Biromaru.

Warung Biromaru buka hanya malam hari dan tutup menjelang pagi. Dua hari sekali. Saya tidak berhasil memperkenalkan ayam Biromaru kepada mertua karena pagi itu harus kembali ke Jakarta.

Dendam lama itu akhirnya akan berbalas. Hari ini saya punya sedikit waktu mengunjungi warung Biromaru. Setelah melihat lokasi bekas bencana likuifaksi di Petobo.

Tapi saya benar-benar pangling. Pasar Biromaru sudah berubah setelah gempa besar setahun lalu.  Tapi warung makannya masih ada.

Bu Ita, cucu pendiri Madamba. (foto: jto)

Tidak hanya satu. Tapi banyak. Warung Madamba saja sudah ada 5. Saya singgah ke warung makan Madamba 2. Warung ini dikelola Bu Ita. Cucu pendiri Madamba.

Dalam manajemen baru, warung Madamba tidak lagi buka – tutup dua hari sekali. Warung buka setiap hari: siang – malam.

Pembeli juga tidak harus menunggu dua jam. Daging ayam yang sudah diungkep telah disimpan di freezer. Kalau ada pengunjung yang datang, pramusaji tinggal mencomot dan memasaknya dengan bumbu santan.

Membeli ayam bakar Biromaru juga tidak harus satu ekor. Bisa setengah ekor. Bisa seperempat ekor. Lebih fleksibel.

Modernisasi juga terjadi pada sistem pelayanan. Bu Ita sedang memproses pelayanan secara online. Lewat aplikasi Go-Food. Milik Mendiknas baru. (jto)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *