Yuk, Ajarkan Anak Belajar Dari Kesulitan

 Yuk, Ajarkan Anak Belajar Dari Kesulitan

ilustrasi anak belajar kreatif–foto creativeqt.net

ilustrasi anak belajar kreatif–foto creativeqt.net

Menyayangi anak adalah hal yang wajar. Tetapi terlalu menyanyangi anak, sampai-sampai selalu menuruti segala keinginannya juga dapat berakibat buruk. Berikut ini adalah tips dari Monaratuliu, artis yang juga pengelola web ‘ParenThink’, tentang mengajarkan anak belajar dari kesulitan.

***

Hampir semua orang tua bahagia apabila melihat anaknya senang. Bahkan, sebagian besar dari mereka punya prinsip: “Aku nggak mau anakku susah kayak aku dulu.”, karena ingin anak-anaknya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Kalau dulu waktu kecil pergi ke sekolah harus jalan kaki atau naik angkot, sekarang orang tua berusaha agar anak-anak pergi sekolah dengan nyaman naik kendaraan pribadi. Kalau dulu mau minta dibeliin mainan sama orang tua susah banget, sekarang kalau ada uang kenapa nggak kita beliin anak-anak mainan baru.

Wajar saja kalau orang tua ingin anak-anaknya hidup aman dan nyaman. Tapi, sebenarnya nggak papa juga lho kalau sesekali anak-anak menghadapi kesulitan atau merasa nggak nyaman. Karena disaat anak menghadapi kesulitan, ia akan belajar mencari solusi. Di saat anak merasa nggak nyaman juga begitu, ia akan mencari cara agar kembali nyaman.

Orang tua saya bukan tipe yang sering membelikan mainan, karena saat itu memang kondisi dan situasinya membuat mereka mau nggak mau melakukan hal itu. Tapi, kondisi ini membuat saya berpikir setiap hari agar tetap bermain menggunakan benda-benda di sekitar.

Saya ingat kakak saya setiap hari bermain drum menggunakan kaleng biskuit yang dipukul, sementara saya bermain origami menggunakan kertas koran, juga bermain sayur-sayuran menggunakan sampah masakan ibu saya. Hal ini mengasah kreativitas kami setiap hari. Saya juga ingat sering menyisihkan uang jajan untuk membeli mainan murah meriah yang dijual di sekitar sekolah demi mendapatkan mainan baru. Ternyata, kondisi ini yang membuat saya jadi kreatif dan juga belajar memanage keuangan saya demi mencari solusi dari masalah saya sendiri.

Berbeda dengan anak sekarang yang punya koleksi sepatu, saya ingat dulu hanya dibelikan sepatu baru saat naik kelas. Baju baru juga dibelikan ketika lebaran saja. Tapi, hal sesederhana ini membuat saya belajar bersabar karena harus menunggu dalam waktu yang cukup panjang apabila ingin mendapatkan yang saya inginkan. Belajar menunggu diperlukan agar anak menjadi tahu bahwa ada proses yang perlu dilalui untuk mendapatkan apa yang diinginkan, terutama untuk anak-anak yang hidup di era digital dengan perangkat serba canggih dan memudahkan. Hampir segala hal bisa didapatkan dengan mudah dan instan. Sehingga belajar menunggu dan melewati proses jadi barang langka untuk anak-anak sekarang.

Nah, ketika kita dengan mudah sering memberikan segala fasilitas yang anak minta tanpa membuat anak berusaha, ternyata kesempatan anak melalui situasi-situasi sulit yang membuatnya berpikir untuk mencari solusi pun hilang.  Jadi jangan takut ketika melihat anak menghadapi kesulitan. Biarkan anak punya waktu yang cukup untuk berpikir mencari solusinya sendiri. Walaupun kadang kasihan dan nggak tega melihatnya, tapi dari sebuah kesulitan mengandung materi belajar yang sangat berlimpah untuk anak-anak kita.***

sumber: http://monaratuliu.com/index.php/kids-health/271-yuk-ajarkan-anak-belajar-dari-kesulitan

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *