Lepaskan Energi Negatif Lewat “Telaah Rasa”

JAYAKARTA NEWS – SA.TU Kolektif menyelenggarakan pameran lukisan perdananya yang berjudul “Telaah Rasa” di Kopi Macan, Bugisan, Yogyakarta, 14-18 Mei mendatang. Harapannya, “Telaah Rasa” ini mampu menciptakan  ruang gerak bagi para penikmatnya untuk  melepaskan enegi negatif melalui karya seni.  

Pameran ini menjadi bagian dari mata kuliah “Tinjauan Kelola Pameran” di Prodi S-1 Tata Kelola Seni, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta. Pameran akan dibuka oleh Ong Harry Wahyu (14/5) pukul 15.00 WIB. Sementara kurator dipegang oleh Ruhembun Lingkar Hening dan Renata Kalyana Duhita.  Acara “Curator & Artist Talk” akan digelar (16/5) pukul 15.00 WIB.

Kiri: Nama seniman: Susiyo Guntur Judul: Summer Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100×100 cm Tahun: 2022.
Tengah: Nama seniman: Rocka Radipa Judul: Gist Media: Brass etching Ukuran: 40×50 cm Tahun: 2018
Kanan: Nama seniman: Albertus Papiek Judul: Emas Hijau Media: Acrylic on canvas Ukuran: 100×120 cm

Pameran “Telaah Rasa” menggandeng seniman lintas generasi. Sehingga, pameran ini tidak hanya perihal unjuk emosional seniman dan pengunjung, namun juga menjadi tempat untuk saling memahami pergumulan perasaan pada masing-masing generasi yang tanpa disadari telah terpaut jauh oleh waktu.

Ada tiga ruang utama dalam pameran “Telaah Rasa.” Ruang Pertama adalah Ruang Pamer, diisi dengan lukisan yang variatif. Kedua, Ruang Refleksi yang menyajikan  3D Video Mapping. Dan  terakhir adalah Ruang Katarsis. Ruangan ini dibuat untuk melampiaskan emosi negatif manusia ke seni. Pengunjung bebas melukis apapun yang mereka rasakan di media yang disediakan.

Dalam pameran ini, pengunjung diajak untuk berkelana dengan imajinya tanpa ada batas. Karya-karya dalam pameran ini dapat ditelaah sesuai dengan perasaan yang muncul dalam diri, sehingga proses telaah rasa mampu tercapai. Disuguhkan berbagai macam karya seni lukis yang unik dan nyentrik agar mampu membuat pengunjung merasakan relasi pada esensi yang diciptakan seniman dalam karyanya.

Terdapat 14 perupa seni lukis yang akan berpartisipasi dalam pameran ini yakni Rocka Radipa, Krismarlianti, Rona Narendra, G. Prima Puspita Sari, Susiyo Guntur, Setiyoko, Kartiko Prawiro, Rahmad Afandi, Albertus Papiek, Varin Deasyafira, Prakadetto Alansa, dan Alminada Satrio. Selian itu, pameran ini juga akan diisi dengan video mapping oleh 3D designer, Warisdyo Bayu. (Ernaningtyas)

Pameran Seni Rupa We are Still Artists After Pandemic

Waktu: 19 April -10 Mei 2022
Tempat: Bellevue Art Space
Cinere Bellevue Mall
Jl Merawan, Pangkalan Jati. Cinere, Depok

JAYAKARTA NEWS – Melalui pameran ini, sebagai cara untuk memperlihatkan kreativitas sekaligus pernyataan bahwa seniman tetap seniman setelah pandemi, juga seniman masih bekerja di kala pandemi, mewujudkan karya dalam berbagai keterdesakan pribadi. Bahkan mendapat isolasi atau kondisi tertentu. Tetapi berkarya tetap, sebagai proses menghidupkan nilai seni tetap dijalankan.

Mereka menjadikan konstruksi estetis sebagai cara mengungkap tentang warna sebagai ekspresi dalam lukisannya, yang didukung dengan garis. Seperti ekspresi warna pada lukisan: Andra Semesta, Arkantoro, Donald Saluling, Jeffrey Sumampouw, Nurdin Yusuf, dan Sohieb Toyaroja, mewakili bagaimana warna sebagai bagian dari fragmentasi karya.

Bahkan warna yang mendasari bagaimana bentuk-bentuk muncul dalam idiom yang dikerjakan dengan bantuan digital seperti fotografi Ve Dhanito. Kekuatan warna hitam merupakan kekuatan keseluruhan dari cara melihat bentuk yang tersembunyi dalam bahan lentikueler.

Sedangkan seniman-seniman lain terlihat mengadaptasi bagaimana bentuk menjadi sesuatu yang fragmentatif dengan ilia komprehensif dari lukisan yang mereka ciptakan. Kekuatan bentuk menjadi keseluruhan dari karya yang mereka ciptakan. Penyajian ekspresi bentuk yang ditorehkan: Bambang Asrini Wijanarko, Zamrud Satya Negara, Seno Purwanto, Pongky Hary Purnomo, Rindy Atmoko,Saiful Bahri, MS. Untung, Nasya Patrini, Ulil Gama, Hagung Sihag, Afriani, Aidil Usman, Chandra Maulana, Jerry Thunggaltirta, Kana Fuddy Prakoso.

Lain lagi dengan ekspresi yang menampilkan dimensi ala Irawan Karseno dan patung Lenny Ratnasari, apa yang mereka sajikan justru mengambil representasi nyata dari bentuk yang ada dalam pandangan sekejap mata. Lenny lebih memperlihatkan fabric industrial yang dikerjakan dengan resin. Memperlihatkan pangannya nyata dalam bahwa bentuk menjadi kekuatan ekspresif yang meruang.

“Estetika merupakan gubahan personal yang dapat disajikan dalam kenyataan secara luas. Melalui karya seni sebagai representasi dari estitika, memperlihatkan bagaimana pernyataan dapat dilantunkan bersama dalam ruang terbatas,” pungkas Frigidanto Agung, kurator pameran. (pr)

“Warna Cinta”, Warna-warni Budaya

JAYAKARTA NEWS – “Warna Cinta” yang ini bukan judul lagu Via Vallen yang rilis tahun 2017. “Warna Cinta” yang satu ini adalah tema pameran seni rupa di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), yang berlangsung 15 – 21 Januari 2022.

Gelar pameran oleh Sanggar Seni dan Budaya Guyub Tresno Yogyakarta itu dibuka dengan warna-warni kolaborasi seni yang memukau. Rampak alunan Musik (Kendang) Patrol, menyedot atensi hadirin yang memadati lobby TBY sore itu (15/1/2022). Musik Patrol khas Jember (Jawa Timur), dimainkan oleh para mahasiswa asal Jember di Yogyakarta.

Musik Patrol mulanya adalah musik pemecah keheningan dinihari, yang dimainkan anak-anak muda untuk membangunkan masyarakat di malam bulan Puasa. Masyarakat Jember awalnya menyebutnya musik “kothekan”. Sebuah tradisi yang sejatinya ada di hampir semua daerah di Tanah Air. Bedanya, Musik Patrol kemudian dikembangkan.

Penambahan kendang dan alat perkusi lain, termasuk simbal, membuat alunan Musik Patrol tidak lagi monoton. Bahkan di daerah asalnya, Jember, Musik Patrol kini menjadi salah satu musik hiburan masyarakat dan turis. Termasuk menjadi pengisi tetap pada event-event budaya daerah, termasuk pada ajang Jember Carnival.

Penampilan “Musik Patrol” yang dimainkan para mahasiswa Jember yang kuliah di Yogyakarta. (foto: ki mujar sangkerta)

Kehadiran Musik Patrol melengkapi sajian tarian Jember serta fashion show oleh Joran Natural Dye dan Rolling Stone Night Denjag. “Yogyakarta dikenal sebagai Kota Budaya. Kami yang tergabung dalam Guyub Tresno ingin ambil bagian dalam pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di kota ini,” ujar Edy Santoso, Ketua Sanggar Seni dan Budaya Guyub Tresno Yogyakarta.

Nah, keikutsertaan Joran Natural Dye adalah satu bentuk kolaborasi seni yang menarik. Ia bisa menjadi penanda masuknya seni cipta busana pada kolaborasi pameran seni rupa Warna Cinta ini. Joran Natural Dye adalah rumah produksi fashion dan craft. Titik perhatian produk Joran Natural Dye adalah men-support kain batik, tenun dan khas lukisan pada tekstil.

Produk Joran Natural Dye khususnya adalah membuat kebaya dan blouse bergaya casual dan etnik menggunakan wastra. Aksen lukisannya pada bagian tertentu dibuat secara manual dan menggunakan kain goni yang disulam tangan. Trend joran selalu update baik itu fashion kebaya dan kainnya yang dilukis tema seni budaya, dress, blouse, juga kemeja dan kaos pria.

Craft yang dihasilkan berupa tote bag, sling bag, masker, topi dan untuk arah seninya menghasilkan fiber art atau produksi lukisan wall hanging tapestry dan lukisan kain khusus. Produk joran memiliki keragaman ide dan gagasan yang selalu berbeda. Kesan yang ditampilkan dari produk Joran Natural Dye adalah paduan bahan atau oplosan kain dan beragam etnik bahan. Selain itu berupa pakaian ready to wear yang bergaya santai, casual serta etnik.

Fashion Show “Joran Natural Dye” yang ikut memeriahkan pembukaan pameran seni rupa “Warna Cinta”. (foto: joran natural dye)

Iin Kersen adalah nama designer yang menggantungkan idealisme Joran Natural Dye. Seorang pendidik, pelukis sekaligus designer dengan segmentasi fashion pada komunitas perempuan berkebaya. Melalui karya fashion wastra kebaya Indonesia, Iin Kersen ingin menyatakan tentang nilai kebangsaan dan persatuan lewat busana.

Setelah menggeluti seni rupa dalam karya fiber art, Iin berusaha memunculkan seni rupa lukisan kain pada fashion ciptaannya. Baik aksen lukis pada karung goni dengan motif ragam flora, fauna dan juga topeng-topeng dekoratif yang kemudian disulam manual.

Iin Kersen lahir di Pemalang, besar di Jakarta dan sempat berada di Yogyakarta memperdalam kain-kain tradisional untuk mewujudkan lukisan-lukisan cantik pada fashion. Di Yogya, rumah fashion ini beralamat di kawasan Tinjon, Madurejo, Prambahan – Sleman.

Semua sajian lintas seni itu telah dikolaborasikan dengan apik oleh Guyub Tresno. Selaras pula dengan prinsip wadah seniman ini yang tidak memasukkan unsur senioritas dalam keanggotaannya.  “Guyub tanpa sekat senior-yunior. Ini wujud penghargaan dan penghormatan atas keragaman,” tambah Edy Santoso.

“Pameran Seni Rupa Warna Cinta” menyajikan karya para seniman, sebagai ekspresi cinta dan upaya menemukan kebahagiaan hidup di tengah Pandemi Covid-19. Spirit kegiatan adalah semangat bersinergi secara positif dengan realitas sosial. “Kami mengajak teman-teman perupa dan seniman lain untuk berbagi, baik material maupun dukungan semangat hidup kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Maskot Milehnium

Artis lain yang terlibat dalam event tersebut adalah Ki Mujar Sangkerta, penggagas, kreator dan inisiator Wayang Milehnium Wae. Setting artistic seni instalasi Wayang Milehnium Wae karyanya, menjadi maskot pameran, yang sebagian hasilnya didedikasikan bagi kegiatan charity untuk warga terdampak erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

“Dalam pameran ini, kami menampilkan koleksi Sanggar Kesenan Peranserta Institut Sangkerta Indonesia Yogyakarta. Beberapa tokoh legendaris sejarah kerajaan Majapahit kami hadirkan, antara lain Hayam Wuruk, Tribuana Tunggadewi, Gajahmada, dan Kebo Iwa,” ujar seniman kelahiran Jember itu.

Ki Mujar Sangkerta, salah satu artis peserta pameran Warna Cinta di Taman Budaya Yogyakarta.

Karya-karya Wayang Milehnium Wae dipajang di area lobby TBY, tempat pembukaan pameran berlangsung. Selain tokoh-tokoh Majapahit, Ki Mujar juga menampilkan tokoh yang ada pada relief candi-candi zaman keemasan Raja Wangsa Syailendra, termasuk di antaranya pohon kalpataru dengan penjaganya: Kinnara-Kinnari. “Ada juga sosok Roro Jonggrang, Prajna Paramita Ratu Boko, Bandung Bondowoso, serta tokoh-tokoh divabelitas alias Wayang Milehnium Inklusif,” tambahnya.

Wayang-wayang tadi terbuat dari plat logam alumunium, tembaga, dan stenlist. “Di antara semua sosok tadi, saya juga memasang karya wayang milehnium terbesar berupa Garuda Sakti yang berukuran tiga kali tiga meter,” tambah lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain, jurusan Seni Kriya Logam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, itu.

Ki Mujar memang dikenal sebagai penggiat budaya melalui berbagai jalur seni. Wayang Milehnium Wae menjadi terobosan kreasi seni pewayangan kontemporer. “Niat utama saya memperkenalkan wayang yang notabene sudah menjadi warisan budaya dunia (UNESCO), kepada generasi muda milenial dan generasi Z, serta generasi-generasi seterusnya,” ujar Mujar yang pernah nyantrik pada maestro Affandi itu.

Wayang, menurutnya, adalah sebuah warisan adiluhung yang wajib dipelihara, diapresiasi, dan dikembangkan, agar tidak punah di kemudian hari. “Sangat banyak ilmu pengetahuan serta ajaran budi pekerti yang patut kita petik dari seni wayang,” tambah seniman multi-talent itu. (rr)

Setting artistic seni instalasi Wayang Milehnium Wae karya Ki Mujar Sangkerta. (ist)

“Warna Cinta” di Taman Budaya Yogya

JAYAKARTA NEWS – Banyak cara untuk berderma. Itu disadari betul oleh para seniman Yogyakarta yang tergabung dalam Paguyuban Seni dan Budaya “Guyub Tresno” Yogyakarta. Salah satu kegiatan yang mereka selenggarakan adalah Pameran Seni Rupa “Warna Cinta”, tanggal 15 – 21 Januari 2022 di Taman Budaya Yogyakarta.

Pameran itu didedikasikan untuk donasi amal bagi masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. Pameran dibuka Sabtu (15/1) pukul 16.30 oleh dr Oei Hong Djien, kolektor, kurator serta owner OHD Museum, Magelang.

“Warna Cinta” juga dimeriahkan aneka hiburan saat pembukaan. Antara lain, musik Patrol Jember dan Tarian Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Jember (IKPMJ). Penampil lain berupa fashion show Joran Natural Dye Music Rolling Stone Deny Jeger. Serta yang tak kalah menarik, adalah setting artistic seni instalasi Wayang Milehnium Wae karya Ki Mujar Sangkerta di teras depan Taman Budaya Yogyakarta. (rr)

Erick Thohir: Menjadi Negara Maju harus Cintai Karya Seni dan Budayanya

JAYAKARTA NEWS— Menjadi negara maju, setiap warganya harus mencintai karya seni dan budayanya. Demikian sambutan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir ketika membuka pameran lukisan karya Srihadi Soedarsono, di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu (11/3).

“Tahun ini menjadi momen spesial, karena kita bisa menyaksikan 44 lukisan karya maestro dan pejuang kemerdekaan Indonesia, bapak Srihadi Soedarsono (88 tahun) yang sudah lama kita tunggu,” kata Erick Thohir

Lebih jauh, Menteri BUMN juga menegaskan bahwa menjadi Indonesia maju tanpa mengembangkan dua komponen yaitu mencintai seni budaya dan alam, akan sia-sia. “Dua komponen itu harus menjadi bagian jati diri dan budaya kita. Dan kita tak boleh melupakannya,” tegas Erick Thohir.

Karya Srihadi Soedarsono ‘Borobudur’ dan ‘Tanah Lot’–foto ipik

Srihadi kali ini menggelar pameran tunggal bertemakan ‘Srihadi Soedarsono – Man x Universe’ ‘memotret’ keindahan landscape Indonesia sebagai semangat spiritual atas rasa kemerdekaan dan kebanggaan berbangsa. Karena landscape dalam perspektif Srihadi adalah tema yang lebih dalam dari sekedar lukisan pemandangan yang menyihir orang asing datang berkunjung.

Pengamat seni rupa, Rikrik Kusmara menyebut pameran Srihadi kali ini adalah pendekatan barunya yang diekspresikan tak lepas dari kondisi sosial politik Indonesia yang tensinya naik sepanjang 2016-2019, tahun-tahun Srihadi menghasilkan karya untuk pameran ini.

“Srihadi yang memperoleh Bintang Gerilya RI tahun 1958 melukis landscape layaknya mencatat kejadian-kejadian dan merekam perubahan-perubahan sampai hari ini. “Delapan karya di antaranya berukuran di atas 3 meter hingga 6 meter. Sebuah bukti tentang produktivitas, disiplin dan proses yang intens dari seorang seniman yang genap berusia 88 tahun,” urai Rikrik Kusmara.

Menteri BUMN Erick Thohir (no 2 dari kanan) berbincang dengan Srihadi Soedarsono (no 4 dari kanan)–foto lio

Sedangkan kritikus seni rupa, Agus Dermawan T. mengungkapkan hampir semua lukisan Srihadi adalah tenang dan hanyalah sunyi yang menyisakan hening (Borobudur, Tanah Lot, Merapi, Bromo, Papua dll). “Ia menyukai yang hening. Srihadi mengaku bahwa ciptaan-ciptaannya bukan untuk siapa-siapa. Tetapi untuk Sang Empunya Alam. Srihadi selalu meyakini, sang pemilik alam itu ada dalam hening,” timpal Agus Dermawan T. (pik)

Srihadi Gelar Pameran Tunggal

JAYAKARTA NEWS—Maestro lukis Prof Kanjeng Pangeran Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo MA (88 tahun) akan menggelar pameran tunggal tentang bentang alam (landscape) di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 11 Maret – 9 April 2020 mendatang.

Pameran bertajuk ‘Srihadi Soedarsono – Man x Universe’ diagendakan akan dibuka oleh Menteri BUMN, Erick Thohir. Seluruh lukisan yang dipamerkan berjumlah 44  buah, terdiri atas 38 lukisan baru, sisanya adalah lukisan pribadi. Semuanya menggunakan media cat minyak pada kanvas, kecuali Sketsa Borobudur yang dilukis tahun 1948.

‘Universe itu catatan tentang ingatan-ingatan, layaknya seseorang yang mengingat memorinya sebelum menulis. Ini cara saya mencatat perjalanan dari kanak-kanak sampai sekarang usia 88 tahun,” ujar Srihadi kepada penulis di JJ Royal Brasserie.

Patung Pembebasan Banjir –foto Ilo
Prof Kanjeng Pangeran Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo MA –foto Ilo

Tentang bentang alam (landscape) dikatakannya sebagai semangat spiritual atas rasa kemerdekaan dan kebanggaan berbangsa. “Karena bentang alam dalam perspektif saya adalah tema yang lebih dalam dari sekadar lukisan pemandangan yang menghipnotis orang lain datang berkunjung ke pameran,” tutur Srihadi.

Dengan kata lain, imbuhnya, di balik estetika suatu karya ada pergumulan sosial, budaya bahkan politik, dan inilah yang sedang dikedepankan oleh dirinya.

Kurator pameran, Dr A Rikrik Kusmara MSn mengelompokkan 44 karya Srihadi dalam 4 rumpun besar, yaitu, Social Critics, Dynamic, Human & Nature dan Contemplation. Bersamaan dengan pembukaan pameran akan diluncurkan buku berjudul ‘Srihadi Soedarsono – Man x Universe’ yang ditulis oleh Dra Siti Farida Srihadi MHum (isteri Srihadi) dan budayawan Dr Jean Couteau.

Buku ini membedah hubungan spirital manusia berikut siklus hidupnya. Srihadi Soedarsono sejak usia dini suka menggambar dan bergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bagian Pertahanan pada 1945 yang bertugas membuat poster, grafiti, menulis slogan yang mrngobarkan sangat juang di dinding-dinding besar dalam kota dan gerbong kereta api. Kemudian, ia masuk sebagai staf Penerangan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Penerangan  Tentara Divisi IV TNI di Solo.

Kegiatannya membuat brosur militer dan menggambar sketsa peristiwa penting untuk dokumentasi karena saat itu tidak ada kamera. Beberapa penghargaan yang pernah diperolehnya antara lain Tanda Jasa Bintang Gerilys RI (1958), Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II  (1958), Piagam dan Medali Satyalantjana Kebudayaan Kebudayaan RI (2004), Piagam dan Medali Anugerah Sewaka Winayaroha, Penghargaan Pengabdian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (2008) serta penghargaan dari internasional yakni The American Biographical Institute 2005 Commemorative Medal ‘Man of The Year’ 2005. (pik)

UGEMI, Narasi Keseimbangan Kosmik

Pengunjung dan karya Rina Kurniyati. (foto: ist)

Jayakarta News – Dua pelukis perempuan bertemu di satu ruang pamer.  Astuti Kusumo menyajikan pesona ekspresif wanita dalam sapuan warna warni renyah, ringan, lembut, halus, berkarakter.  Rina Kurniati menyuguhkan realitas potongan mobil atau motor klasik dalam goresan rupa tegas, kuat, berani, mencolok. Kreasi feminin Astuti berpadu dengan karya maskulin Rina. Dalam pameran yang dijuduli Ugemi itu, Astuti-Rina kompak bahu-membahu merangkai cerita tentang keseimbangan kosmik.

Sangkring Art Space, galeri yang berada di Kasihan, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi saksi bisu pameran Astuti-Rina mulai 24 Oktober hingga 4 November mendatang. Pemeran duapuluhan karya lukis dengan media kanvas dan kaca ini dibuka oleh Indah Juanita, Direktur Utama Badan Otorita Borobudur. Aminudin TH Siregar, kandidat Doktor dari Leiden Belanda dalam tulisannya pada Katalog Ugemi menyetujui adanya harmoni dalam karya Astuti – Rina itu.  “Perbedaan karya-karya keduanya memadukan maskulinitas dan feminisitas yang pada akhirnya membentuk keseimbangan,” tulis Aminudin.

Konsep Ugemi yang diusung Astuti-Rina memiliki latar belakang filosofi Jawa yang kental. Secara harafiah ugemi (ngugemi) berarti menggenggam erat. Ia simbol pengikatan diri lahir batin manusia dengan tradisi warisan leluhur mereka. Lebih khusus lagi, ngugemi terkait dengan posisi wanita sebagai rekan penyeimbang bagi suami (laki-laki). Wanita adalah ibu yang melahirkan dan mendidik putra putri.  Wanita tak melulu melayani. Ia membawa tongkat estafet penyambung nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang agung kepada para generasi penerus.           

Semua lukisan Astuti dalam wadah Ugemi menampilkan figur wanita, bermedia kanvas, bercat akrilik. “Perempuan dalam lukisan saya ini dimaksudkan sebagai upaya menangkap tema dan memaknai arti ugemi dari sudut pandang dan pikiran saya sendiri,” tutur Astuti. Dalam kerangka Ugemi, wanita jelmaan Astuti tampil sebagai sosok ekspresif yang cenderung abstrak, kabur, samar, remang namun terkesan begitu dalam dan intens.

Sebut saja “Angon Mangsa”. Lukisan karya Astuti ini menampilkan persona wanita yang seakan-akan terbang melayang. Tak jelas detil apa yang sedang ia kerjakan. Yang pasti, dari seluruh gerak gerik tubuhnya, si objek kuat menyatu dengan semesta. Lambaian tangan, olah tubuh dan aura paras cantiknya tampak sealur dengan sapuan warna warni yang renyah dan ringan di sekitarannya. Tampak klop dengan judul “Angon Mangsa” yang berarti merawat musim. Ketika manusia berada pada titik  “merawat”, aura positif tampak mencorong kuat.  Dan tatkala merawat didudukan pada konteks semesta, maka pacaran positif itu tampak oleh kebaikan jagad raya kepada manusia. Panen melimpah, musim berjalan normal, bencana alam setop tak lagi mengoyak. Begitu dalam tak terperikan makna si wanita dalam “Angon Mangsa”. Ia bagaikan soko guru peradaban.             

Astuti Kusumo paling kanan bersama Indah Juanita dan Yani Saptohoedoyo. (foto: ist)

Rina Kurniyati bertolak belakang dengan Astuti yang “bermain” di dunia perempuan yang ekspresif, jujur, spontan, apa adanya. Rina melompat ke belahan dunia yang berbeda. Media yang ia gunakan  tak biasa: kaca yang rapuh, licin juga rentan pecah. Proses melukisnya terbalik. “Saya melukis dari sisi belakang, tetapi karya ini disajikan dari sebelah depan. Ini sangat menantang,” tutur Rina. Diakuinya, melukis di atas kaca membutuhkan konsentrasi tinggi saat menggerakkan kuas karena licin. Tekanan tangan juga harus terjaga. Ini penting agar kaca tidak pecah.  Rina biasa menggunakan kaca dengan ketebalan 3 mm, terkadang pula ia menggunakan kaca berketabalan  5 mm.            

Rina melukis mobil atau motor klasik. Namun tak semuanya ia sorot.  Otomotif jadul itu seperti ia preteli, lalu dicomot sebagian untuk dituangkan ke dalam lukisan. Jadilah lukisan khas Rina dengan penampakan hanya spion saja, cuma sepenggal lampu kiri atau kanan, sebagian roda motor, selingkaran stir mobil, dasbor doang, atau separuh lampu tampil bersama setengah bagian bamper. Ada satu lukisan mobil utuh, namun ia sekadar mobil yang tampak dari sebuah kaca spion, kecil dan terkesan jauh.  Rina memberikan alasan khusus untuk lukisan spionnya itu. “Spion melambangkan cara saya bercermin dan melihat diri sendiri,” tuturnya. Semua lukisan Rina tampak  bersih, berkilau, mengkilat seperti permata tersorot lampu.  

Ada dua lukisan Rina yang terlihat menampakkan bagian kendaraan yang lebih luas.  Pertama, lukisan serombongan mobil sedang parkir berjajar-jajar. “Jeda” judulnya, jadul-jadul penampakan mobilnya.  Namun tak satu pun dari mobil-mobil tua ini yang manampakkan seluruh bodinya, akibat tertutup badan mobil di kiri, kanan, depan dan belakangnya. Kedua, lukisan “Sukarno in Rusia”. Kelihatan presiden pertama RI ini sedang berdiri di atas mobil Roll Royce. Rina mencuplik sebagian mobil buatan Inggris pada belahan depan.  Namun, itu pun tak utuh. Tak tampak roda. Lampu depan kanan hanya setengah.  Penggalan bagian depan yang lumayan besar ini sudah cukup membuat gambar mobil tuanya itu mendukung penampilan figur yang sedang berdiri tegak di atasnya, yang berpayung dan melambaikan sebelah tangan kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dialah Soekarno, orator kelas dunia.   

Kiri ke kanan: Maeva Salmah, Kepala Museum Basoeki Abdullah, Rina Kurniyati
Indah Juanita Direktur Utama Badan Otorita Borobudur dan Yani Saptohoedoyo
di depan karya Rina. (foto: ist)
Pengunjung Pameran Ugemi saat pembukaan Kamis (24/10) di Sangkring Art Space Kasihan Bantul Yogyakarta. (foto: ist)

Pada pembukaan pameran Ugemi itu, seratusan lebih orang menjadi saksi hidup karya Astuti dan Rina. Kedua perupa otodidak ini telah menggoreskan warna khas dalam proses perjalanan seni rupa di tanah air. Aminudin mencatat, baik Astuti Kusumo maupun Rina Kurniyati seperti out of the box. Karya keduanya dikerjakan dengan teknik, gaya dan sudut pandang pemikiran berbeda. Wanita pada lukisan Astuti misalnya,  sama sekali tidak terjebak pada imaji tentang insan  berbetis besar yang kokoh atau wanita pekerja yang menopang berat tubuh dan beban di punggungnya, yang mempersepsikan kemandirian serta terhindar dari subordinasi laki-laki. Sementara lukisan kaca Rina, dalam pandangan Aminudin, membuka wacana terhadap sejarah dan sastra. Rina meletakkan kata-kata yang dirasa mewakili untuk menarasikan karyanya. Ia mencuplik sepenggal tulisan Pramudya Ananta Toer  tentang bagaimana “menjadi orang besar” di salah satu karyanya.         

Astuti dan Rina sangat beruntung. Mereka memiliki keluarga yang seratus persen mendukung aktivitas melukis. “Support dan doa keluarga sangat membantu dalam proses berkarya saya,” kata Astuti. Sementara Rina mengungkapkan bahwa suami dan anak-anak mendukung dirinya.  “Kadang anak-anak bertugas membersihkan rumah dan memasak demi memberi keleluasaan saya dalam berkarya,” tutur Rina. Astuti dan Rina dalam dukungan keluarga adalah sebuah keseimbangan kosmik yang cantik dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari. (Ernaningtyas)

PSROO “Bebas Gaya Santun Dalam Rupa” dan Dalem Jayaningratan

Suasana di seputar panggung pembukaan PSROO.

Jayakarta News – Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu kata pepatah yang tampaknya klop untuk menggambarkan Pameran Seni Rupa Offline-Online (PSROO) yang bertema “Bebas Gaya Santun Dalam Rupa” di Dalem Jayaningratan Yogyakarta. Eksibisi ini menyasar dua manfaat sekaligus. Pertama, kegiatan pameran sebagai bentuk tanggung jawab seniman untuk mengkomunikasikan karyanya kepada masyarakat luas dan, kedua, menghidupkan Dalem Jayaningratan sebagai pusat seni budaya baru yang layak diperhitungkan. Pameran dibuka  Sabtu malam (5/10), diramaikan 150 perupa berasal dari rupa-rupa daerah di Indonesia.  

Presiden Original Rekor Indonesia (ORI) Guruh Susanto didaulat membuka PSROO yang dibanjiri ratusan pengunjung. Pejabat teras di lingkungan Kecamatan Gedong Tengen dari camat hingga ketua RT/RW, anggota Paguyuban Jayaningratan, masyarakat sekitar, wisatawan di seputaran Jalan Dagen/Malioboro, pengisi acara dan tentu saja para perupa yang terlibat beserta kerabat dan para sahabat mereka, tampak memenuhi halaman Dalem Jayaningratan yang menyatu dengan pelataran SD Netral itu.

Pimpinan Sanggar Sedulur Nyeni penyelenggara pameran ini, Sukoco Hayat DP, menuturkan bahwa Dalem Jayaningratan dipilih karena dua sebab. Pertama, tempat ini menarik secara visual, ada satu pendapa besar yang kuno namun artistik dan beberapa bangunan terpisah di belakang pendapa yang pernah digunakan sebagai ruang kuliah Universitas Proklamasi. Kedua, areal seluas lima ribuan meter persegi itu terkoneksi dengan aktivitas masyarakat di sekelilingnya. Ada sekolah, banyak hotel, toko-toko suvenir, rupa-rupa tempat kulineran, perkampungan dan hanya berjarak seratusan meter dari Malioboro. “Tempat ini sangat strategis dan potensial karena itu kami bersinergi dengan Paguyuban Dalem Jayaningratan untuk menyelenggarakan pameran seni rupa di sini,” papar Sukoco.

Suasana pembukaan pameran PSROO.

Untuk menyambut perhelatan PSROO, beberapa bagian gedung yang rusak diperbaiki. Tembok dicat ulang, dinding teras bangunan di sebelah barat pendapa dimuralkan, plafon diperbarui, debu dibersihkan, lampu-lampu ber-watt tinggi digantung-gantungkan. Tampaknya, semua upaya itu belum sampai pada tahapan final. Masih tampak beberapa bagian yang belum sempurna pengerjaannya, utamanya plafon. Sebuah lukisan bergambar kuda berada persis di bawah plafon pendapa yang bolong dan semplak. Plafon di tempat lain mengalami nasib serupa. Yang paling parah lubangnya adalah langit-langit  bangunan pendapa sebelah belakang. Sebagian atap ruang yang berisi patung-patung semut raksasa itu bolong besar. Bagian itu tak lagi bergenteng. Ia seperti memberi jalan pada sorot mata para penghuni di bawahnya untuk menyapu pandang taburan bintang di langit malam atau sehamparan luas angkasa terang di kala siang. Beruntung, saat pembukaan PSROO berlangsung, belum tiba musim penghujan. Pada hari kedua pameran, Minggu (6/10) hanya ada gumpalan mendung tipis di atas langit di sisi barat Malioboro. Untunglah, kumpulan awan itu tak sampai meraksasa dan menjadi hujan berkaliber lebat. Jika itu terjadi, dampaknya akan serius pada beberapa titik di dalam bangunan Dalem Jayaningratan yang sampai tanggal 14 Oktober nanti menjadi tempat berlindung karya-karya seni rupa.                

Rully Permana, Ketua Paguyuban Jayaningratan, menceritakan bahwa Dalem Jayaningratan dibangun pada jaman Hamengku Buwono VII. Pangeran Jayaningrat, putra HB VII, membangun areal ini pada tahun 1880. “Kami ingin Dalem Jayaningratan menjadi pusat seni budaya,” mimpi Rully yang ia ungkapkan pada acara pembukaan PSROO. Ia memberi info,  paguyuban yang dipimpinnya ini berdiri pada tahun 2018, beranggotakan masyarakat sekitar yang peduli pada Warisan Budaya ini. 

Sisi samping pendapa Dalem Jayaningratan.
Ada lubang besar Di langit-langit ruang bagian belakang pendapa Dalem Jayaningratan. Patung-pating semut raksasa turut memeriahkan PSROO.

Rully menceritakan, sudah ada empat event yang telah dan sedang berlangsung di Dalem Jayaningratan sejak Desember 2018: Gelar Budaya, Kembang Adas, Jogja Art dan PSROO (tiga terakhir adalah pameran seni rupa). “Setelah penyelenggaraan Gelar Budaya pada 22 Desember tahun lalu, kami membentuk Paguyuban Dalem Jayaningratan,” jelas Rully. Diakuinya, semua yang duduk di kepengurusan paguyuban adalah orang awam yang berasal dari komunitas di sekitar Dalem Jayaningratan. Langkah pertama yang dilakukan Rully dan pasukannya adalah melacak status Kekancingan Dalem Jayaningratan.

Kekancingan adalah surat yang dikeluarkan Kraton Yogyakarta untuk mengatur penggunaan Sultan Ground (SG). SG populer digunakan untuk menyebut tanah milik Kraton Yogyakarta yang digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Kraton memberikan ijin pemanfaatan  SG  dengan  Surat Kekancingan. Rully mengakui pihaknya tak paham liku-liku birokrasi yang berkaitan dengan langkah-langkah legal formal untuk menghidupkan Dalem Jayaningratan sebagai pusat seni budaya.  Namun ia percaya bahwa langkah awal yang mesti ditempuhnya adalah mencari si pemegang Surat Kekancingan itu.

“Kami melacak keberadaan Surat Kekancingan Dalem Jayaningratan, dan sampai detik ini usaha pencarian baru sampai ke Universitas Proklamasi. Info yang kami dapatkan, perguruan tinggi ini disinyalir sebagai pemegang Surat Kekancingan itu,” jelas Rully.  Dengan memegang Surat itu, nantinya Rully bersama Paguyuban Dalem Jayaningratan akan memberdayakan Warisan Budaya ini menjadi pusat seni budaya. Upaya ini diharapkan bisa menghidupkan kembali bangunan yang ngangkrak sejak tahun 1998 setelah ditinggalkan Universitas Proklamasi yang menempati gedung baru di lain tempat. “Semoga dari Warisan Budaya, Dalem Jayaningratan bisa naik peringkat menjadi Cagar Budaya,” tambahnya. 

Suasana di ruang pameran.
Suasana pameran offline.

Keseriusan Rully tampak pada acara pembukaan PSROO akhir pekan silam. Bersama Sanggar Sedulur Nyeni, Paguyuban Dalem Jayaningratan yang didukung masyarakat Sosromenduran bahu membahu meramaikan panggung hiburan.  Aneka tari dipersembahkan. Ada tari Ingkling Jangget dan tari Kepyar. Pelukis asal Bandung,Teddy Suchyar, beraksi menggoreskan  kuwas di atas kanvas raksasa diiringi penari tengkorak yang diperankan pelukis Agus S disambung penari tunggal,  lelaki separuh baya, memerankan seorang raja yang gandrung pada seorang dewi. Gumpalan asap dupa membubung tinggi ke angkasa, menambah kesan magis suasana panggung. Jumlah kursi yang tak sebanding dengan cacah penonton, membuat seputaran panggung tampak dikerumuni orang-orang. 

Tak hanya di tempat itu, pengunjung di bagian belakang pun tak beranjak dari tempatnya kendati mereka  berdiri selama sekitar dua jam penuh.  Pada saat ibu-ibu muda Sosromenduran tampil membawakan tarian Maumere, pengunjung menyambutnya dengan tepuk tangan dan teriakan meriah. “Tarian Maumere ibu-ibu Sosromendran ini baru saja memenangkan juara dua dalam  sebuah lomba tari,” teriak pembawa acara.  Suara itu seperti menyemprotkan bahan bakar untuk memperbesar sorak sorai pengunjung yang melihat aksi penari berkostum warna hitam ketat dan bermahkota bulu-bulu.

Pada pembukaan acara PSROO itu, ORI memberikan beberapa penghargaan. Antara lain menobatkan dua perupa sebagai Duta Seni Lukis ORI: Sukoco Hayat (Duta Seni Lukis Regional DIY) dan Teddy Suchyar (Duta Seni Lukis Nasional). Sementara Ketua Paguyuban Dalem Jayaningratan dan pelukis senior Totok Buchori mendapatkan Piagam ORI sebagai pendukung penyelenggara acara. Guruh tak mengatakan apa tugas selanjutnya dari pada duta dan pemegang piagam ORI itu. Ia hanya menekankan bahwa ORI mendukung sepenuhnya Sukoco Hayat yang telah mewujudkan pameran Offline dan Online dalam satu waktu yang sama. “Semua orang bisa mengapresiasi karya para pelukis dan semua pelukis tak terkendala ruang dan waktu untuk berperan dalam pameran ini, dimana pun mereka berada,“ tutur Guruh. 

Pelukis wajah kawakan, Totok Buchori, menyatakan bahwa pameran seni rupa adalah sebuah tanggung jawab yang mesti diemban para seniman untuk menunjukkan karyanya.  Sementara di tempat pemeran itu pula masyarakat pecinta seni bisa mengapresiasinya. “Syukur-syukur, masyarakat mengkoleksi karya-karya itu,” tutur Totok yang pada event PSROO kemarin memamerkan sebuah lukisan manusia utuh berwajah badut dengan tangan kanan memegang buntut tikus. Wajah si badut berada pada ekspresi antara jijik campur mengejek ke arah si tikus yang lazim menjadi binatang lambang koruptor itu.   

Sadikin Part, pelukis difabel asal Malang melukis on the spot Di atas panggung. Ia beraksi dengan jari kaki dan tubuh tanpa tangannya.

Pada pembukaan PSROO itu, seorang pelukis difabel asal Malang, Sadikin Part, melukis on the spot di atas panggung bersamaan dengan penampilan empat putri penari Kepyar.  Dalam tempo menitan, pelukis tanpa tangan ini merampungkan gambar seorang penari wanita bergaya ekspresionis,  dengan tubuh dan jari jemari kakinya. Seorang fotografer, Ahid, memenangkan acara lelang lukisan tersebut dengan harga  satu setengah juta rupiah. “Lukisan ini langka,” tutur Ahid memberikan alasannya. Uang hasil pameran itu disumbangkan untuk kegiatan sosial. “Kita rembug nanti saja, kepada siapa uang itu akan disumbangkan,” tutur Sukoco.        

Ahid, paling kanan mencanglong kamera, memenangkan lelang lukisan Sadikin seharga 1,5 juta.

Sukoco menyatakan bahwa versi online akan diluncurkan para Rabu sore (9/10) di media sosial baik IG, FB maupun Youtube dengan alamat Sukoco Hayat. Sekitar sepuluh dari artis PSROO adalah pelukis anak-anak. Selain kegiatan utama pameran karya seni rupa, event PSROO juga diisi dengan acara berkesenian secara on the spot. Sebelum pameran berlangsung, anak-anak sekitar kompleks Dalem Jayaningratan mengikuti kegiatan menggores clay di bawah asuhan pelukis En Iskandar. Selanjutnya pelukis N. Rinaldy akan menularkan ketrampilan membuat origami pada Kamis (10/10) mendatang pukul 15.00. Siapa pun boleh mengikuti acara ini tanpa dipungut biaya. (Ernaningtyas)

Agam, pelukus yg datang langsung dari Aceh, berfoto bersama perupa di depan karyanya “Selendang Kopi Gayo”
Lukisan bunga karya maestro Kartika Affandi, turut meramaikan PSROO
Cinta, siswa TK/Pelukis PSROO terkecil, menampilkan lukisan Yang langsung dibuat di tembok Dalem Jayaningratan.
Tampilan pameran lukisan secara online.

Bebas Gaya, Santun dalam Rupa Digelar Oktober 2019

Pameran Seni Rupa Offline-Online (PSROO)

Jayakarta News – Pameran seni rupa offline-online (PSROO) bertema “Bebas Gaya, Santun Dalam Rupa” akan digelar di Yogyakarta pada 5-14 Oktober 2019. Pameran dikemas dalam dua versi yakni online dan offline. Versi online bisa diakses pengunjung lewat media sosial (IG, FB, Youtube, Website) sedangkan versi offline akan berlangsung di nDalem Djayaningratan, sebuah bangunan kuno peninggalan zaman Hamengku Buwono VII yang terletak di sisi barat Malioboro, tepatnya di Jalan Dagen, Sosrodipuran, Gedong Tengen, Yogyakarta.

“Pameran akan dibuka oleh Presiden Original Rekor Indonesia Guruh Susanto,” kata Sukoco Hayat DP, ketua panitia penyelenggara. Sukoco menyatakan PSROO terlaksana berkat kerja bareng PSRO (Pameran Seni Rupa Online) dan komunitas perupa Jogja yang tergabung dalam Sedulur Nyeni. “Kolaborasi pameran online-offline ini dipilih sebagai tindak lanjut Pameran Seni Rupa Online (PSRO) yang telah diselenggarakan selama dua kali. Para perupa PSRO menginginkan jumpa darat, karena itu pameran PSROO menjadi ajang yang tepat untuk meresponnya,” tambahnya. Sejumlah 150 perupa dari seluruh Indonesia, diantaranya anak-anak ikut ambil bagian dalam PSROO ini.  Beberapa pelukis papan atas rencananya juga akan ambil bagian.          

Sukoco Hayat bersama Tim panitya PSROO mempersiapkan Pameran Di nDalem Djayaningratan. (foto: nina)
Panitia pameran bersama manajemen nDalem Djayaningratan merembug soal teknis pelaksanaan PSROO.

Dua versi pameran yang akan digelar, online-offline ini, dimaksudkan agar ruang pamer menjadi lebih luas, di gedung dan di media sosial. Dengan demikian jangkauan publikasinya pun akan kian lebar. Waktu dan tempat untuk menikmati karya perupa menjadi lebih leluasa karena lewat dunia maya, kapan pun dan di mana pun pameran PSROO ini bisa diakses dengan bantuan hape cerdas. Para penikmat yang kebetulan berada di Jogja dan sekitarnya bisa menyaksikan karya para perupa secara langsung.  “Para kolektor atau penikmat seni yang menyaksikan secara online dan berniat melihat karya aslinya, bisa dengan mudah menjumpainya di nDalem Djayaningratan,” papar Sukoco.

Tema “Bebas Gaya Santun Dalam Rupa” ini diambil karena dua alasan. Pertama, “Bebas Gaya” memberi keleluasaan perupa untuk berkreasi sebebas-bebasnya. Perupa dari seluruh tanah air  dipersilahkan mengeksplorasi diri sejauh dan seluas mungkin. Kedua, “Santun Dalam Rupa” menyampaikan pesan bahwa karya visual yang tercipta tetap mengedepankan unsur etika, santun dan tidak berpotensi  menimbulkan konflik. “Unsur kebebasan yang tidak lepas dari etika dan budaya santun itu mencerminkan jati diri kita sebagai manusia Indonesia,“ kata Sukoco. (Ernaningtyas)

Sukoco Hayat dan Zen pelukis remaja yang ikut ambil bagian dalam PSROO. (foto: nina)

Pameran Lukisan Online, Membangun Galeri Milenial

JAYAKARTA NEWS – Minggu 10 Februari 2019, pukul 19.30 wib, pameran  lukisan online “Ini Karyaku” resmi dibuka. Pameran ini diprakarsai pelukis, pebisnis, sekaligus jurnalis, Sokoco Hayat DP.  “Melalui pameran online ini, saya ingin membangun sebuah galeri milenial. Galeri yang  dengan mudah dan murah bisa menjadi wadah perupa untuk memamerkan karya, sekaligus bisa dengan gampang diakses penikmat atau kolektor kapanpun dan di manapun mereka berada, cukup dengan menggunakan hape cerdas dan jaringan internet,” kata Sukoco, sesaat sebelum acara pembukaan.

Selama ini, sebuah pameran seni rupa selalu bertempat di sebuah gedung, di sebuah kota.  Perupa dan pengunjung memiliki keterbatasan waktu dan tempat untuk mengapresiasinya.   Hanya mereka yang dekat dengan lokasi pameran yang bisa dengan mudah mengaksesnya.Sementara beayanya pun lumayan besar.  Sukoco Hayat mencoba sebuah terobosan baru dengan mengadakan pameran online. Ia beri  judul “Ini Karyaku”.  Judul ini dipilih karena informasi yang diberikan sangat lengkap.

Jika pada pameran seni rupa biasa hanya mencantumkan nama, judul karya, ukuran dan media, maka pameran seni rupa online “Ini Karyaku” melengkapi informasi perupa  dengan alamat rumah, no hape, alamat email, cv lengkap sekaligus rekam jejak si perupa. “Dengan informasi lengkap, para kolektor atau penikmat seni bisa dengan mudah menghubungi si perupa,” kata Sukoco. Pameran ini diikuti oleh 80-an perupa, baik dewasa maupun anak-anak. Mereka berasal dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

Untuk pameran online pertama ini, Sukoco memanfaatkan media sosial facebook (fb) dengan alamat: sukocohayat, Youtube dengan judul: Pameran seni rupa online dan Instagram (ig)  dengan pintu masuk: pameransenirupaonline.

“Yang akan datang, saya akan membuat website untuk mewadahi pameran seni rupa online seperti ini,” tambah Sukoco. Ia menyatakan  bahwa pihakya sudah membuka pendaftaran untuk pameran seni rupa Online kedua yang diberi judul “Salam Kenal”. Pameran ini akan digelar tanggal 3 hingga 15 Maret 2019. Saat ini, pendaftaran pameran online kedua “Salam Kenal” sudah mulai dibuka. Para peminat bisa menghubungi Sukoco Hayat di nomor wa 085701798344. Sejak dibuka Minggu malam pukul 19.30, Pameran senirupa Online “Ini Karyaku” sudah dikunjungi oleh 500-an orang lewat akun FB Sukoco Hayat.

Guruh Susanto, Ketua Original Rekor Indonesia (ORI) mendukung penuh acara pameran seni rupa online yang baru pertama kali diadakan di Indonesia ini. “Saya mengapresiasi  penuh acara pameran yang menyatukan seniman khususnya perupa tanpa terkendala umur, jarak atau tempat para seniman berkarya. Mereka semua bisa unjuk karya melalui pameran online ini,” kata guruh.  Ditambahkan, pameran seni rupa online ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki pelukis-pelukis hebat di sekuruh daerah. Guruh berharap, para perupa bisa dikenal luas di Ondonesia dan macanegara. (nina) 

Renate, peserta terkecil “Ini Karyaku”

Karya perupa di pameran online “Ini Karyaku”

Torres, pemilik 600 an piala dari Lomba lukis, ikut meramaikan pameran online “Ini Karyaku”.