• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Merawat Akar Budaya di Hari Anak Nasional

Merawat Akar Budaya di Hari Anak Nasional

July 24, 2026
Kasus Pembunuhan Ibu-Anak Terungkap, Pelaku yang Kabur ke Jombang Berhasil Diringkus

Kasus Pembunuhan Ibu-Anak Terungkap, Pelaku yang Kabur ke Jombang Berhasil Diringkus

October 27, 2026
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel

Gerakan Pangan Murah Disambut Antusias Warga Tuban: Disediakan 1 Ton Beras SPHP Harga Terjangkau

October 26, 2026
DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

October 25, 2026
“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

October 25, 2026
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

October 25, 2026
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

October 23, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Tuesday, October 27, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Feature

Merawat Akar Budaya di Hari Anak Nasional

by admin
July 24, 2026
in Feature
0
Merawat Akar Budaya di Hari Anak Nasional
491
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Heri Mulyono

DEPOK — Kamis pagi, 23 Juli 2026, halaman TK Siti Maryam di Kelurahan Curug, Kota Depok, berubah warna oleh kebaya Jawa, baju Betawi, dan tenun Nusa Tenggara Timur yang dikenakan puluhan anak untuk merayakan Hari Anak Nasional.

Bukan sekadar lomba busana, hari itu setiap anak membawa cerita. Di balik kain dan corak yang mereka kenakan, tersimpan kisah tentang dari mana ayah dan ibu mereka berasal, bahasa apa yang dituturkan kakek-nenek, dan tradisi apa yang diam-diam mengalir dalam keluarga masing-masing. Di ruang kelas yang mungil, riwayat panjang nusantara sedang ditulis ulang oleh tangan-tangan kecil yang baru belajar mengeja nama kampung halamannya sendiri.

Sejak pagi, para guru sudah bersiap menyambut kedatangan anak-anak yang datang bergandengan tangan dengan orang tua, sebagian masih terlihat malu-malu dengan balutan kain yang tak biasa mereka kenakan sehari-hari. Namun begitu memasuki gerbang sekolah dan disambut riuh teman-teman sebaya, rasa canggung itu perlahan luruh, berganti dengan semangat untuk saling menunjukkan busana masing-masing.

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 ini mengusung tema nasional “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Tema itu setiap tahun diterjemahkan secara berbeda-beda oleh masing-masing lembaga pendidikan di seluruh Indonesia, dan TK Siti Maryam memilih jalan yang tidak biasa: bukan lewat panggung seremoni atau pawai singkat, melainkan lewat rangkaian kegiatan edukatif yang menuntut keterlibatan orang tua secara langsung, jauh sebelum hari-H tiba.

Pilihan itu tidak lahir dari ruang hampa. Di tengah derasnya budaya pop global — demam musik Korea, drama Cina, hingga animasi Jepang yang akrab di layar gawai anak-anak sejak usia dini — sekolah ini mengambil langkah yang terkesan sederhana namun mendasar: memastikan generasi kecil ini tidak kehilangan jejak identitas dan tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Fenomena itu bukan sekadar kekhawatiran di atas kertas. Anak-anak generasi digital saat ini tumbuh dengan lagu, tokoh, dan cerita dari berbagai belahan dunia yang datang lewat layar ponsel dan tablet, jauh sebelum mereka mengenal lagu daerah atau dongeng rakyat dari kampung halaman orang tuanya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, sekolah memandang penting untuk menghadirkan kembali ruang bagi anak mengenali akar budayanya sejak usia paling dini, ketika rasa ingin tahu mereka justru sedang berada di puncaknya.

Menemukan Identitas dari Rumah

Beberapa hari sebelum puncak acara, wali kelas TK Siti Maryam memberikan tugas yang terdengar sederhana, namun menuntut keterlibatan penuh dari rumah. Setiap siswa diminta aktif bertanya kepada orang tua mengenai suku, daerah asal, dan keunikan budaya yang melekat pada keluarga masing-masing.

Tugas itu membuka kotak yang selama ini mungkin jarang dibuka. Di tengah rutinitas sehari-hari, tidak banyak keluarga muda yang secara sengaja duduk bersama anak dan bercerita panjang lebar soal dari mana leluhur mereka berasal. Tugas sekolah inilah yang akhirnya memberi alasan sekaligus ruang bagi percakapan semacam itu untuk terjadi di meja makan atau sebelum tidur malam.

Hasilnya, keragaman asal-usul keluarga siswa di TK ini ternyata jauh lebih kaya dari yang terlihat sehari-hari di ruang kelas. Orang tua murid berasal dari berbagai penjuru nusantara: Sidoarjo, Makassar, Tuban, Jakarta dengan darah Betawi, Solok di Sumatera Barat, Gresik, Ngawi, Jepara, Depok sendiri, Tegal, Yogyakarta, Serang, Surabaya, hingga tanah Sunda secara umum. Dalam satu ruang kelas yang sama, tersimpan miniatur keberagaman Indonesia yang sesungguhnya.

Para orang tua kemudian mengambil peran sebagai pendongeng bagi anak-anaknya sendiri, menceritakan latar belakang keluarga sembari mengajarkan beberapa kalimat sederhana dalam bahasa daerah masing-masing — ucapan “selamat pagi”, “permisi”, hingga “terima kasih” dalam logat yang berbeda-beda. Bagi sebagian anak, itu menjadi pertama kalinya mereka mendengar bahasa yang sama sekali berbeda dari yang biasa dipakai di rumah maupun di sekolah, sebuah pengalaman kecil yang diam-diam menanamkan rasa ingin tahu terhadap keberagaman.

Ruang Kelas Berubah Jadi Pameran Budaya

Pada hari pelaksanaan, ruang kelas yang biasanya diisi meja dan papan tulis berubah menjadi semacam pameran budaya interaktif yang penuh warna. Anak-anak membawa serta benda-benda yang merepresentasikan daerah asal orang tua mereka: mulai dari anyaman khas Jepara, tatakan tempat makan tradisional, keranjang anyaman, hingga topeng ondel-ondel dari Betawi.

Sebagian lain membawa alat permainan tradisional yang mulai jarang ditemui di keseharian anak-anak kota, seperti selepetan atau ketapel, kelereng, dan congklak. Ada pula yang datang dengan kliping informasi daerah, foto Monumen Nasional, foto Abang None, foto mengenakan baju daerah, hingga album foto keluarga yang baru saja diabadikan dengan balutan pakaian adat.

Satu per satu, dengan percaya diri yang tumbuh dari persiapan di rumah, anak-anak maju ke depan kelas menceritakan barang bawaan mereka dan pengetahuan baru yang mereka dapatkan dari orang tua. Ada yang bercerita dengan lancar, ada pula yang masih terbata-bata sambil menoleh ke arah orang tua mereka. Namun di situlah letak nilai sesungguhnya dari kegiatan ini: bukan pada kesempurnaan presentasi, melainkan pada keberanian anak untuk berbicara tentang siapa dirinya dan dari mana ia berasal.

Wali Kelas TK A, Ratna Hidayati, mengatakan pendekatan ini dirancang agar proses belajar terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, bukan sekadar materi di atas kertas. Sekolah, kata dia, ingin menanamkan rasa bangga atas asal-usul sejak usia dini.

“Pembelajaran terbaik dimulai dari rumah. Ketika anak-anak membagikan cerita tentang suku atau daerah asal orang tuanya di depan teman-temannya, timbul rasa saling menghargai keberagaman sejak usia dini,” ujar Ratna.

Ketika Sidoarjo dan Yogyakarta Bertemu di Meja Makan

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari para orang tua murid, yang mayoritas masih berusia relatif muda. Bagi mereka, tugas tematik ini menjadi momen berharga untuk menjalin komunikasi yang lebih dalam dengan anak soal warisan budaya keluarga, sesuatu yang barangkali jarang punya ruang khusus di tengah kesibukan sehari-hari.

Candra Satriavi Putri, yang akrab disapa Mama Asta, menceritakan antusiasme keluarganya saat menyiapkan bahan cerita untuk anaknya. Karena ia dan suami berasal dari daerah yang berbeda, momen tugas sekolah ini justru dimanfaatkan untuk mengenalkan kekayaan tradisi dari dua sisi sekaligus: Sidoarjo, Jawa Timur, tempat asal Candra, dan daerah asal sang suami.

Melalui proses itu, Asta menjadi lebih antusias mengenal makna suku, mendengarkan lagu daerah seperti Gundul-Gundul Pacul, hingga mengenal boneka wayang yang selama ini mungkin hanya sekilas ia lihat.

“Alhamdulillah Asta jadi mau lebih mengenal tentang kota kelahiran saya dan suami,” ungkap Candra.

Hal senada dirasakan Ayu Wulan, yang disapa Mama Elrumi. Dengan latar belakang keluarga dari Yogyakarta dan Tegal, ia memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan kepada putrinya perbedaan logat bahasa Jawa antara dua daerah tersebut, sekaligus fungsi kain khas Yogyakarta dalam keseharian.

“Elrumi sangat antusias bisa belajar mengenal bahasa Jawa dengan logat yang berbeda dari Yogyakarta dan Tegal,” tutur Ayu.

Ia menambahkan, Elrumi juga jadi tahu kegunaan kain khas Yogyakarta itu bukan sekadar untuk berpakaian, melainkan juga dipakai untuk menggendong bayi, bahkan lazim digunakan bakul jamu keliling untuk menggendong dagangannya.

Kisah Candra dan Ayu hanyalah dua dari puluhan cerita serupa yang mengalir hari itu. Di balik setiap kostum dan benda bawaan, ada percakapan yang mungkin baru pertama kali terjadi antara orang tua dan anak — percakapan tentang kampung halaman, tentang bahasa yang nyaris terlupakan, dan tentang jejak yang selama ini berjalan diam-diam di dalam keluarga tanpa pernah benar-benar diucapkan.

Tak Lupa pada Bumi Tempat Berpijak

Di tengah riuhnya perayaan budaya, TK Siti Maryam tidak mengesampingkan rutinitas harian yang membentuk karakter anak. Di sela-sela kegiatan, para siswa tetap menjalankan aktivitas rutin mereka: memberi makan puluhan burung merpati, memberi pakan kambing, memberi makan ikan, serta menyiram tanaman di lingkungan sekolah.

Rutinitas kecil ini sengaja dipertahankan agar anak-anak senantiasa menghargai bumi tempat mereka berpijak, sekaligus belajar hidup selaras dengan makhluk hidup lain di sekitarnya — sebuah pelajaran yang berjalan beriringan dengan pengenalan identitas budaya hari itu.

Rangkaian peringatan Hari Anak Nasional di sekolah ini pun belum usai. Esok harinya, anak-anak mendapat tugas lanjutan: membawa makanan tradisional khas daerah orang tua mereka, atau setidaknya fotonya, lalu menceritakan bahan dan asal-usul kuliner nusantara tersebut secara sederhana di depan kelas.

Benteng Pertahanan yang Dibangun Sejak Dini

Kepala TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto, SE., menegaskan pentingnya memaknai tema Hari Anak Nasional 2026 dalam konteks pendidikan karakter di sekolahnya. Menurutnya, melindungi anak tidak hanya soal aspek fisik, tetapi juga menjaga mental dan identitas mereka dari ancaman keterasingan budaya.

Sekolah menerjemahkan tema nasional itu dengan melibatkan orang tua secara aktif, bukan menjadikan mereka penonton. Kolaborasi semacam ini, kata Sigit, krusial agar anak-anak memiliki benteng pertahanan mental di tengah pesatnya arus modernisasi yang terus mengalir lewat layar gawai.

“Orang tua harus ‘melindungi’ anaknya agar tidak tercerabut dari akarnya di era modern ini. Pendidikan anak merupakan kolaborasi antara orang tua dan sekolah, dan dari akar yang kuat itulah si anak akan membangun masa depannya,” tegas Sigit.

Dari sebuah taman kanak-kanak di Depok, sebuah pesan sederhana pun mengemuka: bahwa benteng pertahanan karakter bangsa tidak selalu perlu dibangun dengan cara-cara besar dan rumit. Ia bisa tumbuh dari ruang kelas yang riuh oleh kain adat, dari cerita orang tua tentang kampung halaman, dan dari kesadaran kecil bahwa setiap anak punya akar yang layak mereka kenali sebelum melangkah jauh ke masa depan. (*)

Tags: hari anak nasionalmerawat akar budayatk siti maryam
Share196Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Kasus Pembunuhan Ibu-Anak Terungkap, Pelaku yang Kabur ke Jombang Berhasil Diringkus

Kasus Pembunuhan Ibu-Anak Terungkap, Pelaku yang Kabur ke Jombang Berhasil Diringkus

October 27, 2026
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version