“Warna Cinta”, Warna-warni Budaya

 “Warna Cinta”, Warna-warni Budaya

Suasana pembukaan pemeran seni rupa “Warna Cinta” di Taman Budaya Yogyakarta, kemarin (15/1/2022). (foto: ki mujar sangkerta_

JAYAKARTA NEWS – “Warna Cinta” yang ini bukan judul lagu Via Vallen yang rilis tahun 2017. “Warna Cinta” yang satu ini adalah tema pameran seni rupa di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), yang berlangsung 15 – 21 Januari 2022.

Gelar pameran oleh Sanggar Seni dan Budaya Guyub Tresno Yogyakarta itu dibuka dengan warna-warni kolaborasi seni yang memukau. Rampak alunan Musik (Kendang) Patrol, menyedot atensi hadirin yang memadati lobby TBY sore itu (15/1/2022). Musik Patrol khas Jember (Jawa Timur), dimainkan oleh para mahasiswa asal Jember di Yogyakarta.

Musik Patrol mulanya adalah musik pemecah keheningan dinihari, yang dimainkan anak-anak muda untuk membangunkan masyarakat di malam bulan Puasa. Masyarakat Jember awalnya menyebutnya musik “kothekan”. Sebuah tradisi yang sejatinya ada di hampir semua daerah di Tanah Air. Bedanya, Musik Patrol kemudian dikembangkan.

Penambahan kendang dan alat perkusi lain, termasuk simbal, membuat alunan Musik Patrol tidak lagi monoton. Bahkan di daerah asalnya, Jember, Musik Patrol kini menjadi salah satu musik hiburan masyarakat dan turis. Termasuk menjadi pengisi tetap pada event-event budaya daerah, termasuk pada ajang Jember Carnival.

Penampilan “Musik Patrol” yang dimainkan para mahasiswa Jember yang kuliah di Yogyakarta. (foto: ki mujar sangkerta)

Kehadiran Musik Patrol melengkapi sajian tarian Jember serta fashion show oleh Joran Natural Dye dan Rolling Stone Night Denjag. “Yogyakarta dikenal sebagai Kota Budaya. Kami yang tergabung dalam Guyub Tresno ingin ambil bagian dalam pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di kota ini,” ujar Edy Santoso, Ketua Sanggar Seni dan Budaya Guyub Tresno Yogyakarta.

Nah, keikutsertaan Joran Natural Dye adalah satu bentuk kolaborasi seni yang menarik. Ia bisa menjadi penanda masuknya seni cipta busana pada kolaborasi pameran seni rupa Warna Cinta ini. Joran Natural Dye adalah rumah produksi fashion dan craft. Titik perhatian produk Joran Natural Dye adalah men-support kain batik, tenun dan khas lukisan pada tekstil.

Produk Joran Natural Dye khususnya adalah membuat kebaya dan blouse bergaya casual dan etnik menggunakan wastra. Aksen lukisannya pada bagian tertentu dibuat secara manual dan menggunakan kain goni yang disulam tangan. Trend joran selalu update baik itu fashion kebaya dan kainnya yang dilukis tema seni budaya, dress, blouse, juga kemeja dan kaos pria.

Craft yang dihasilkan berupa tote bag, sling bag, masker, topi dan untuk arah seninya menghasilkan fiber art atau produksi lukisan wall hanging tapestry dan lukisan kain khusus. Produk joran memiliki keragaman ide dan gagasan yang selalu berbeda. Kesan yang ditampilkan dari produk Joran Natural Dye adalah paduan bahan atau oplosan kain dan beragam etnik bahan. Selain itu berupa pakaian ready to wear yang bergaya santai, casual serta etnik.

Fashion Show “Joran Natural Dye” yang ikut memeriahkan pembukaan pameran seni rupa “Warna Cinta”. (foto: joran natural dye)

Iin Kersen adalah nama designer yang menggantungkan idealisme Joran Natural Dye. Seorang pendidik, pelukis sekaligus designer dengan segmentasi fashion pada komunitas perempuan berkebaya. Melalui karya fashion wastra kebaya Indonesia, Iin Kersen ingin menyatakan tentang nilai kebangsaan dan persatuan lewat busana.

Setelah menggeluti seni rupa dalam karya fiber art, Iin berusaha memunculkan seni rupa lukisan kain pada fashion ciptaannya. Baik aksen lukis pada karung goni dengan motif ragam flora, fauna dan juga topeng-topeng dekoratif yang kemudian disulam manual.

Iin Kersen lahir di Pemalang, besar di Jakarta dan sempat berada di Yogyakarta memperdalam kain-kain tradisional untuk mewujudkan lukisan-lukisan cantik pada fashion. Di Yogya, rumah fashion ini beralamat di kawasan Tinjon, Madurejo, Prambahan – Sleman.

Semua sajian lintas seni itu telah dikolaborasikan dengan apik oleh Guyub Tresno. Selaras pula dengan prinsip wadah seniman ini yang tidak memasukkan unsur senioritas dalam keanggotaannya.  “Guyub tanpa sekat senior-yunior. Ini wujud penghargaan dan penghormatan atas keragaman,” tambah Edy Santoso.

“Pameran Seni Rupa Warna Cinta” menyajikan karya para seniman, sebagai ekspresi cinta dan upaya menemukan kebahagiaan hidup di tengah Pandemi Covid-19. Spirit kegiatan adalah semangat bersinergi secara positif dengan realitas sosial. “Kami mengajak teman-teman perupa dan seniman lain untuk berbagi, baik material maupun dukungan semangat hidup kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Maskot Milehnium

Artis lain yang terlibat dalam event tersebut adalah Ki Mujar Sangkerta, penggagas, kreator dan inisiator Wayang Milehnium Wae. Setting artistic seni instalasi Wayang Milehnium Wae karyanya, menjadi maskot pameran, yang sebagian hasilnya didedikasikan bagi kegiatan charity untuk warga terdampak erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

“Dalam pameran ini, kami menampilkan koleksi Sanggar Kesenan Peranserta Institut Sangkerta Indonesia Yogyakarta. Beberapa tokoh legendaris sejarah kerajaan Majapahit kami hadirkan, antara lain Hayam Wuruk, Tribuana Tunggadewi, Gajahmada, dan Kebo Iwa,” ujar seniman kelahiran Jember itu.

Ki Mujar Sangkerta, salah satu artis peserta pameran Warna Cinta di Taman Budaya Yogyakarta.

Karya-karya Wayang Milehnium Wae dipajang di area lobby TBY, tempat pembukaan pameran berlangsung. Selain tokoh-tokoh Majapahit, Ki Mujar juga menampilkan tokoh yang ada pada relief candi-candi zaman keemasan Raja Wangsa Syailendra, termasuk di antaranya pohon kalpataru dengan penjaganya: Kinnara-Kinnari. “Ada juga sosok Roro Jonggrang, Prajna Paramita Ratu Boko, Bandung Bondowoso, serta tokoh-tokoh divabelitas alias Wayang Milehnium Inklusif,” tambahnya.

Wayang-wayang tadi terbuat dari plat logam alumunium, tembaga, dan stenlist. “Di antara semua sosok tadi, saya juga memasang karya wayang milehnium terbesar berupa Garuda Sakti yang berukuran tiga kali tiga meter,” tambah lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain, jurusan Seni Kriya Logam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, itu.

Ki Mujar memang dikenal sebagai penggiat budaya melalui berbagai jalur seni. Wayang Milehnium Wae menjadi terobosan kreasi seni pewayangan kontemporer. “Niat utama saya memperkenalkan wayang yang notabene sudah menjadi warisan budaya dunia (UNESCO), kepada generasi muda milenial dan generasi Z, serta generasi-generasi seterusnya,” ujar Mujar yang pernah nyantrik pada maestro Affandi itu.

Wayang, menurutnya, adalah sebuah warisan adiluhung yang wajib dipelihara, diapresiasi, dan dikembangkan, agar tidak punah di kemudian hari. “Sangat banyak ilmu pengetahuan serta ajaran budi pekerti yang patut kita petik dari seni wayang,” tambah seniman multi-talent itu. (rr)

Setting artistic seni instalasi Wayang Milehnium Wae karya Ki Mujar Sangkerta. (ist)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.