Drama & Teater
“Rumah Sakit Jiwa”: Kritik atau Ramalan?
Seno Gumira Ajidarma
________________________________________________
Bukan ramalan melainkan penggambaran evolusi sosial yang menjadi pencapaian teater kritis. Jika Rumah Sakit Jiwa menjadi ramalan yang gagal pada 1991, karena Reformasi 1998 berhasil, bagaimana dengan RSJ pada 2026?
_________________________________________________

Teater: Kini dan Di Sini
Sebagai kritikus teater, Wiratmo Soekito (1929-2001) selalu memaknai pementasan dalam kondisi hic et nunc, bahasa Latin yang berarti “di sini dan kini”. Dalam bukunya, Drama Berakhir dengan Diskusi: 63 Esai Teater (IKJ Press, 2020), terdapat sejumlah tafsiran hic et nunc, seperti: (1) kekinian abadi; (2) setiap drama yang dipentaskan dari naskah drama yang sama selalu baru; (3) pementasan karya drama modern tidaklah diukur dengan apakah ceritanya terjadi di dalam ataukah di luar negeri, di zaman sekarang ataukah di zaman dulu, melainkan dari yang terjadi hic et nunc (di tempat ini dan sekarang juga), yaitu di atas pentas; (4) mencerminkan kenyataan; (5) di depan penonton tertentu; (6) menciptakan kembali situasi–situasi manusia.
Lebih rinci lagi: (7) apa yang saya lakukan sekarang adalah bercerita tentang apa yang telah saya lihat. Suatu peristiwa yang diceritakan adalah suatu peristiwa yang sudah selesai, tetapi suatu peristiwa yang dilihat adalah suatu peristiwa yang sedang terjadi. Itulah sebabnya pementasan drama, yang terjadi hic et nunc, adalah suatu eternal present (kekinian yang abadi) yang hakikatnya adalah survival (hidup lebih lama) (h. 327-8).
Maka apakah kiranya yang dapat disaksikan dari pementasan Teater Koma, Rumah Sakit Jiwa, pada 30 Juli—2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, itu? Dari naskah gubahan Norbertus Riantiarno (1949-2023) pada 1991, yang dipentaskan dan disutradarai tahun itu juga, beralih 35 tahun kemudian ke penyutradaraan Rangga Riantiarno, adakah keberuntutan pembermaknaan yang bisa ditarik?
Konstruksi Sosial Kegilaan
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) berkisah tentang Rogusta, dokter jiwa idealis yang diterima bekerja di sebuah RSJ kelas atas yang korup, tempat Prof. Sidarita, kepala RSJ, yang berkolusi dengan janda pendirinya, Ny. Marlinah, menjadikan para pasien keluarga kaya di situ sebagai sapi perah. Pada masa-kini cerita, para pasien sakit jiwa yang sengaja tidak disembuhkan itu sudah berada di sana selama 20 tahun.

Melalui peran Mak Beo, dapat diketahui betapa pasien yang sebetulnya sudah sembuh pun tiada sanggup hidup di luar RSJ, sehingga kembali sebagai pekerja, yang bertingkah kegila-gilaan. Normalitas baginya berada di dalam RSJ, bukan di luarnya. Tentu sakit jiwa sebagai tontonan tidak perlu dicerap secara klinis, melainkan sebagai metafor—ketika justru normalitas itulah yang bermasalah, karena sama sekali tidak alamiah.
Dalam disertasinya, Sejarah Kegilaan, Michel Foucault (1926-1984) melakukan denaturalisasi kegilaan dengan menyejarahkannya: kegilaan adalah variabel konstruksi sosial, bukan keilmuan terberi yang ahistoris. ‘Kegilaan hanya eksis dalam suatu masyarakat, tidak eksis di luar bentuk-bentuk kepekaan (baca: tanggapan – sga) yang mengisolasi, serta bentuk-bentuk penolakan yang mengusir atau menangkapnya’.
Kegilaan dipahami sebagai penyakit mental yang secara historis adalah kontinjen (tergantung konteks), konstruksi sosial yang berasal dari abad ke-19. Meskipun Foucault mempelajari berbagai praktik dalam sejarah perlakuan terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)—seperti pengucilan, pengurungan, penyembuhan—yang diupayakannya dengan penggambaran melalui kajian seperti itu, adalah bagaimana pengalaman budaya dan sikap terhadap kegilaan terbangkitkan, dan bagaimana sejumlah elemen esensial masih hadir dalam pengalaman bersama (Oksala 2007, 19, 21-2).
Foucault juga mencatat, semasa Renaisans (abad ke-14 sampai ke-17) kegilaan diterima sebagai bagian integral kehidupan sehari-hari. ODGJ dikeluarkan dari kota-kota, tetapi tiada usaha menghapus kegilaan dari keberadaan manusia dan masyarakat. ODGJ mengalami eksklusi, tetapi secara sosial tidak ditakuti atau dianiaya.
Sebaliknya, diakui bahwa kegilaan menjadi wujud kearifan istimewa tentang kondisi manusia. Foucault merujuk penerapan Cervantes dan Shakespeare atas peran-peran ODGJ mereka: pahlawan-pahlawan ODGJ mereka berbicara dalam suara tragik dari hati nurani, keterbatasan manusia, dan hasrat menyala yang sangat berkehendak (Foucault 2006, 35-8).
Menjadi lebih jelas sekarang, mengapa ODGJ dalam susastra, sebagaimana dalam naskah drama Rumah Sakit Jiwa gubahan Norbertus, dapat dilepaskan dari ke-ODGJ-annya sebagai eufemisme “orang gila”, karena digambarkan dalam konteks non-klinis, yakni kegilaan sebagai metafor pembebasan dari konstruksi sosio-politis yang terus menerus memojokkan, mengurung, dan membiusnya sebagai “sakit jiwa” atawa “yang lain”.
Ramalan Post-Factum
Dalam pemanggungan Rangga, fungsi kritik Rumah Sakit Jiwa terpampang dari terbentuknya oposisi biner: pengurus RSJ versus para pasien, yang dengan segala tingkahnya mampu berkomunikasi dan mengorganisasikan diri secara bebas serta demokratis. Namun Rogusta, yang melihatnya sebagai metode penyembuhan terbaik, segera difitnah, dipecat, dan dibungkam—tepatnya dimatikan. Dengan tubuh hangus dan lengket di kursi listrik, Rogusta bicara kepada penonton tentang apa yang telah terjadi: bahwa telah berlangsung penindasan yang lemah, demi kepentingan lancung segelintir penguasa.
Dengan kondisi hic et nunc teater, apakah ke-kini-dan-di-sini-an Rumah Sakit Jiwa mengarah kepada “perbaikan rumah sakit jiwa”? Tentu saja ini pandangan naif. Merunut kelahiran naskah dan pemanggungannya pada 1991, siapa penguasa dan siapa tertindasnya mengarah kepada situasi semasa Orde Baru. Berjarak tujuh tahun dari Reformasi 1998, kegentingan ke arah pemberontakan dalam Rumah Sakit Jiwa dapat terbaca sebagai ramalan.

di Ruang Kekuasaan
Faktor ramalan dalam repertoar teater merupakan ciri analisis Wiratmo Soekito, yang selalu cenderung menghubungkan seni dan politik. Disebutkannya bahwa drama Kebun Ceri gubahan Anton Chekov (1860-1904) adalah ramalan tentang Revolusi Rusia 1917; Perkawinan Figaro gubahan Pierre-Augustin Caron de Beaumarchais (1732-1799) adalah ramalan akan terjadinya kejatuhan Monarki Prancis; Rumah Keruntuhan gubahan Bernard Shaw (1856-1950) meramalkan bahwa akan berlangsung Perang Dunia II.
Dalam pengantar buku Soekito tersebut, Ignas Kleden (1948-2024) justru meragukannya, sekaligus membahas faktor yang membuat Soekito menganggapnya ramalan, yakni bahwa Chekov dan Bernard Shaw menerapkan realisme: dalam teori Émile Zola (1840-1902), realisme dan penguatannya sebagai naturalisme menggambarkan kenyataan masyarakat apa adanya—artinya deskripsi rinci suatu evolusi sosial; bukan petunjuk preskriptif, atau prediksi impresionistis yang sulit dibuktikan secara ilmiah (Kleden dalam Soekito 2020, h. ci).
Tahapan evolusi sosial memang bukan ramalan revolusi. Kleden mengingatkan perkara post-factum, bahwa analisis Soekito berlangsung setelah revolusinya berlangsung—jadi tidak membuktikan tuah teater sebagai “porkas” (kata ganti forecast sebelum lotere resmi ditutup), yang dalam ilmu ekonomi merupakan prediksi berdasarkan suatu sistem. Betapa pun, Kleden tidak menamatkan konstatasi Soekito, melainkan membiarkannya “terbuka untuk diskusi oleh penonton dan pembaca” (Kleden dalam Soekito 2020, h. xcvi, ci, cii).
RSJ 2026: Pembalikan Imminent
Apakah Soekito, dengan begitu, memang tidak punya sistem? Analisis pertunjukan teater, tentu tidak menggunakan sistem yang ketat-akurat-algoritmik seperti dalam analisis ekonomi, mungkin juga tidak perlu (kecuali dalam pendidikan seni yang keliru). Namun mempunyai konsep dan menguasainya tentu penting, sebagaimana ideologi menjadi identitas dan sikap seorang analis.
Dalam hal Soekito, konsep berkonteks hic et nunc itu masih bisa diteruskan, bahwa dalam kondisi tersebut: (8) latar belakang sosial yang membantu pementasannya imminent (akan segera terjadi dalam kenyataan); (9) setiap kali bersifat imminent (diharapkan akan segera terjadi, meskipun tidak diharuskan secara mutlak) (ibid., 364, 452).
Konsep semacam ini memang dimungkinkan setelah peristiwa sejarah yang terandaikan diramalkan itu terjadi. Tidak teringkari, arti imminent ini pun bermakna harapan, walau sudah tidak diperlukan, karena yang diramalkan telah berlangsung. Namun Soekito dapat menampik ramalan politik berdasarkan pementasan teater sebagai nujum, dengan kata kunci ‘evolusi sosial’ yang diberikan Kleden, bahwa penggambaran kerinciannya terungkap dalam realisme dan naturalisme.
Apakah Rumah Sakit Jiwa merupakan pertunjukan teater realis? Peralihan dari sakit jiwa klinis ke kegilaan metaforis jelas menafikannya. Bahkan disertasi 725 halaman buku cetak Foucault yang sastrawi, akhirnya diuji sebagai kajian sejarah, dan disebut antipsikiatri. Adapun yang historis pada Rumah Sakit Jiwa adalah penggubahannya yang berlangsung setelah pelarangan Sampek Engtay (1989), Suksesi (1990), dan Opera Kecoa (1990), dengan antisipasi agar tidak dilarang lagi.
Jejak-jejak kritis pementasan sebelumnya, alih-alih dihindari dapat dikatakan berakumulasi dalam Rumah Sakit Jiwa pada 1991, ketika normalitas gugur dalam kebenaran dari kegilaan para pasien, sementara abnormalitas tidak dikenali lagi dalam bentuk kebenaran yang dipaksakan oleh kekuasaan. Dalam perspektif kejatuhan Orde Baru pada 1998, tanpa harus menjadi ramalan, penggambaran evolusi sosialnya tampak jelas dalam kronologi empat lakon dari 1989 ke 1991.
Bagaimana dengan Rumah Sakit Jiwa pada 2026? Dalam kondisi hic et nunc, yang menurut Soekito (9) merupakan prinsip utama bagi pementasan suatu drama modern (ibid., 314); jika tidak terhubung kepada rumah sakit jiwa masa kini, kepada situasi apakah kiranya rumah sakit jiwa yang terhadirkan karikatural itu terhubungkan?
Mengikuti kecenderungan Soekito, untuk melihat situasi manusia dalam repertoar teater sebagai ramalan sosial politik, terandaikan bahwa revolusi orang-orang yang jiwanya murni karena tak mampu berpikir jahat ini gagal—dan Rogusta sebagai pendorongnya mati di kursi listrik. Jika pada 1991 tontonan ini luput sebagai ramalan, karena gerakan Reformasi 1998 berhasil, apakah yang akan terjadi setelah pementasan tahun 2026, ketika penggambaran evolusi sosialnya, peralihan kegilaan menjadi normalitas dan sebaliknya, sungguh jelas?
Dalam pandangan Soekito, (10) pementasan drama modern, yang berpegang teguh pada prinsip hic et nunc bukan saja harus mendekatkan tempat, tetapi juga mendekatkan waktu pada publik. Memang antara pentas dan publik, antara aktor dan penonton, harus ada jarak, sebagaimana antara cermin dalam kaca dan orang yang bercermin di luar kaca. Akan tetapi jarak itu jangan terlalu jauh, baik dilihat dari sudut tempat maupun dari sudut waktu (ibid., 436).
Ini mengingatkan kepada konsep efek-pengasingan (verfremdungseffekt) Bertolt Brecht (1898-1956), bahwa dalam teater-epik bukanlah keterserapan penonton yang selayaknya menjadi tujuan, melainkan peng-asing-annya—menjadikannya berjarak—agar tetap sadar dan kritis.

Saat para penonton Rumah Sakit Jiwa sepanjang pertunjukan terus membandingkan situasi teater dengan situasi politik, hic et nunc, ketika melihat kegagalan revolusi kaum ODGJ yang demokratis, akan terjadi pembalikan imminent: bahwa penonton (tertentu) ingin melihat revolusi itu berhasil, di luar panggung.
SENO GUMIRA AJIDARMA,
partikelir.
Foto-foto: © 2026 SGA
