Pameran Seni Rupa Online “Ini Karyaku” Digelar 10 – 28 Februari 2019

Sebuah ajang pameran seni rupa online segera hadir di media sosial.  Penggagasnya perupa pebisnis sekaligus jurnalis, Sokoco Hayat DP.  Pendaftaran peserta dibuka tanggal 21 Januari dan ditutup 5 Februari 2019.  “Pameran seni rupa online yang diberi judul “Ini Karyaku” hadir menjawab kebutuhan perupa pada ajang pameran  yang menjadi media agar karya mereka dikenal publik,” kata Sukoco di Yogyakarta, Selasa (22/1).

Nama “Ini Karyaku” dipilih karena pameran ini akan memberikan informasi lengkap tentang perupa dan karyanya.  Selama ini, pada ajang pameran offline, di sebelah karya si perupa hanya tercatum nama, judul karya, ukuran dan tahun pembuatan.  “Selain informasi seperti pada pameran offline, pameran seni rupa online ini akan memberikan juga informasi berupa alamat rumah, nomor kontak telepon/hape,  alamat email, CV lengkap dengan rekam jejak perupa,” papar Sukoco.  Berdasarkan informasi tersebut, para pecinta seni rupa termasuk para kolektor dapat dengan mudah menghubungi si perupa.

Sokoco Hayat DP

Pameran seni rupa online ini memberikan banyak keuntungan dibanding pameran yang biasa  dilakukan di gedung atau galeri.  Waktu persiapan lebih pendek, biaya lebih murah, tidak terbatas jarak, usia atau domisili si perupa.   Di belahan bumi manapun tempat tinggal si perupa, ia bisa dengan mudah mendapatkan media untuk memamerkan karyanya.  “Tanggungjawab moral  sebagai perupa untuk unjuk karya tetap bisa dilakukan dengan efektif dan efisien,” tambahnya.  Sementara penikmat seni rupa bisa mengakses pameran kapan saja, di mana saja mereka berada, cukup dengan sebuah smartphone dan jaringan internet.   Dengan demikian ada kedekatan antara perupa dan penikmat karyanya.

Pendaftaran peserta dibuka mulai tanggal 21 Januari dan ditutup 5 Februari 2019.  Setiap peserta menyerahkan dua foto karya beserta semua data yang terpapar di atas  dan membayar uang pendaftaran sebesar Rp 50.000.  Pameran akan berlangsung pada tanggal 10 – 28 Februari dan  ditayangkan melalui media sosial Youtube, IG, FB dan Majalah Online.

“Sambutan seniman pada pameran seni rupa online ini lumayan besar,” tambah Sukoco. Data peserta yang masuk sampai dengan 22 Januari sudah mencapai 50-an orang, baik perupa dua dimensi maupun tiga dimensi.  Para perupa yang ingin mendaftarkan diri bisa langsung menghubungi Sukoco di nomor wa 085701798144. ***nina

 

 

Fleksibel Collaboration, Tiga Perupa Pamer Karya

Tiga perupa: Edi Markas, Revoluta S, dan Sohieb Toyaroja gelar pameran bersama “Refleksi Collaboration” di Tugu Kunstkring Paleis, Jl Teuku Umar 1, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, 21 Februari – 21 Maret 2018.

TUGU Kunstkring Paleis yang terletak di Jl. Teuku Umar No. 1, Menteng Jakarta Pusat relatif tidak terlalu sering dijadikan ajang pameran lukisan. Akan tetapi, hampir semua pameran lukisan yang diadakan di gedung tua peninggalan Belanda itu selalu berkualitas.

Nah, selama sebulan, dimulai tanggal 21 Februari dan berakhir 21 Maret 2018, Kunstkring kembali mengadakan pameran bertajuk “Fleksibal Collaboration”. Tiga perupa sudah selesai menjalani proses kurasi, dan siap memamerkan karya-karya terbaiknya. Mereka adalah: Edi Markas, Revoluta S, dan Sohieb Toyaroja.

Edi Markas adalah pelukis kelahiran Surabaya, 12 April 1968. Ia pernah studi di Institut Kesenian Jakarta. Melukis sejak kecil dan sering menjuarai lomba lukis semasa sekolah. Sejak tahun 1990 aktif berpameran di berbagai tempat.

Sejak 1986, berturut-turut Edi pernah menggelar pameran di TIM, Galeri Nasional, Gallery Millenium, Ancol, Hotel Indonesia, Hotel Sahid, WTC, dan lain-lain. Sejumlah pameran tunggal pernah ia gelar di Siadja Gallery Ubud – Bali, Museum of Sampoerna, dan Arma Museum Ubud Bali, dan beberapa tempat lain. Tahun 2014, ia mendirikan komunitas “Lintas Rupa”.

Karya Edi Markas

Sementara, Revoluta S adalah pelukis yang lahir di Jakarta 30 April 1975. Ia belajar melukis dari ayah yang juga seorang pelukis bernama Syafri. Selebihnya ia belajar melukis secara otodidak. Ibarat pepatah, buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.

Sejumlah pameran bersama pernah dilakukan Revoluta. Antara lain pameran bersama di Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah, Heritage BI, Museum Indonsia, Balai Budaya, Koi Gallery Kemang, Ubud, TIM, dan lain-lain. Selain ikut mendirikan “Seniman Indonesia Baru”, Revoluta juga aktif mengajar melukis.

Karya Revoluta

Sedangkan, Sohieb Toyaroja adalah pelukis beraura maestro. Pria gondrong kelahiran Kediri tahun 1968 itu, bukan “pelukis sekolahan”. Teknik melukis ia dapat dari seorang gurunya sewaktu duduk di bangku SMP. Setelah itu, ia mengembara dan mencari jati diri. Pernah tinggal di Bali, Jakarta, Batam… kemudian memutuskan menetap di Jakarta dengan membuka Sanggar Galih sebagai workshop sekaligus galeri mininya, di bilangan Cinere, Jakarta Selatan, bersma beberapa perupa, di antaranya Sahyo, Pamuji, Afrizal, dll.

Karya Sohieb Toyaroja

Sejumlah pameran bersama dilakoni sejak tahun 1999 di Sari Pan Pacific, Jakarta. Berturut-turut kemudian di Batam, Hotel Sahid Jakarta, Hotel Millenium Jakarat, Hotel Crown Jakarta, Smesco Jakarta, Gandaria City Jakarta, Galeri Cipta II TIM, Museum Basuki Abdullah, Gallery Yulian Kemang, Grand Kemang, dan lain-lain. Ia bahkan pernah juga pameran bersama di Kunstkring tahun 2014.

Tiga kali pameran tunggal, dilakukan pertama tahun 2010 dalam titel “The Name of Flowers” di Galeri Tembi, Yogyakarta. Kemudian tahun 2016, Sohieb kembali pameran tunggal di Kunstkring Paleis Jakarta dengan titel “The Spiritual Journey”. Terakhir, tahun 2017, menggelar pameran tunggal akbar, “72 Tokoh dan 7 Presiden” di Epicentrum, Jakarta.

Kini, tahun 2018, Sohieb Toyaroja bersama Revoluta dan Edi Markas terpilih oleh Kunstkring Paleis untuk memamerkan karya-karya terbaiknya. Pameran ini sedianya akan dibuka oleh aktris, presenter, politisi sekaligus sosialita, Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo. ***

Dwitunggal Pameran “Tetesan Darah untuk Negeriku”

Pameran lukisan dwitunggal “Tetes Darah untuk Negeriku” di Galeri Dewan Kesenian Surabaya. Foto: Toga S.

DUA perupa, Jupri Abdullah dan Didik Sasono Setyadi menggelar pameran “dwitunggal” dengan tagline “Tetesan Darah untuk Negeriku”. Pameran dibuka oleh Walikota Surabaya Dr (HC) Ir. Tri Rismaharini di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, Komplek Balai Pemuda, Jl Gubernur Suryo No. 15 Surabaya, Senin 5 Februari 2018.

Dalam kesempatan itu, juga dilakukan tasyakuran ruang merah putih DKS (Dewan Kesenian Surabaya) dengan ritual pemotongan tujuh tumpeng. Pada pembukaan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu, juga dimeriahkan penampilan Halim HD yang membawakan pidato kebudayaan politik kebudayaan kota. Di samping, puisi humor oleh Jose Rizal Manua, pembacaan puisi oleh Mistari HS, dan performance Rio Saxophone.

Pameran lukisan dwi tunggal Tetesan Darah untuk Negeriku dibuka setiap hari hingga tanggal 9 Februari, mulai pukul 10.00 – 20.00 WIB.

Jupri Abdullah, selama ini dikenal sebagai pelukis mini asal Dusun Sejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pria 55 tahun berambut gondrong ini, dikenal juga sebagai pelukis para tokoh nasional dan dunia. Termasuk membuat lukisan wajah terkecil Raja Salman, saat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Melukis detail wajah dalam dimensi mini, memang menjadi ciri Jupri.

Sementara, Didik Sasono Setyadi banyak menampilkan karya lukis alam. Di balik objek yang indah, ia juga menyelipkan satir kehidupan. Contoh, lukisan hijaunya alam di satu sisi, dan penembakan burung-burung langka, di sisi yang lain. Ada gugatan atas ironi yang terjadi di tengah kita.

Pelukis kelahiran Nganjuk, 19 Januari 1967 ini terbilang “aneh”. Bercita-cita menjadi insinyur, tetapi akhirnya kuliah di Fakultas Hukum Unair Surabaya. Sebagai “orang hukum” ia banyak berkutat dengan soal-soal ketidakadilan dan ketimpangan hukum di Indonesia.

Perjalanan hidup akhirnya mendamparkannya menjadi Goverment and Stake Holder Relations Advisor dari Hess Indonesia (Perusahan Eksplorasi dan Produksi Minyak dan Gas Bumi Amerika Serikat) yang menjadi Operator Wilayah Kerja Migas Blok Pangkah di Gresik. Itu terjadi tahun 2002. Namun di sela kesibukannya menjalani pekerjaan, Didik tetap meluangkan waktu untuk mencurahkan hasrat keindahan melalui puisi dan lukisan. Ia bahkan sempat dua kali pameran tunggal: Di Yogyakarta dan Malang. ***

Rest Area Perupa Indonesia

PAMERAN Seni Rupa Nusantara 2017 kembali digelar. Tahun ini, mengusung tema “Rest Area” Perupa Membaca Indonesia, Galeri Nasional Indonesia (GNI) yang menjadi tempat penyelenggaraan ajang biennial (dua tahunan) ini akan menampilkan berbagai karya dari perupa yang berasal dari seluruh nusantara.

“Saya sangat mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang sangat luar biasa ini, sebagai wadah yang memungkinkan para perupa, pelukis, dan seniman lain dari berbagai provinsi di Indonesia untuk menampilkan kebolehannya,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat membuka pameran di GNI, Jakarta beberapa waktu lalu.

Mendikbud Muhadjir Effendy, melihat-lihat lukisan pasca pembukaan.

Ia pun menyampaikan pameran seperti ini merupakan salah satu penanda kebangkitan pendidikan di Indonesia. Di mana dalam pendidikan, kita perlu memperhatikan tiga aspek, yaitu etik, estetik, dan kinestetik.

“Ini amat sangat bermakna bagi kami karena ini menandai kebangkitan pendidikan kita yang memberikan ruangan yang cukup di tiga bidang yang selama ini terabaikan di dalam kehidupan kita, meliputi etik, berkaitan dengan norma baik dan buruk; estetik, berkaitan dengan norma indah dan tak indah; dan kinestetik, berkaitan dengan norma mampu dan tidak mampu.” tutur Muhadjir. “Padahal mestinya (ketiga hal tersebut) seperti kedua sisi mata uang yang saling melengkapi dan memberi makna dalam sistem pendidikan kita,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus Andre Sukmana menuturkan bahwa dalam setiap penyelenggaraan telah mampu merangsang pertumbuhan minat berkesenian atau berkarya seni rupa dan memacu kompetisi para perupa di seluruh tanah air. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah karya yang masuk pada saat masa seleksi.

Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 digelar pada 8 – 27 Maret 2017 pukul 10.00 – 19.00 WIB. Di sini dipamerkan 100 karya seni rupa dari 100 perupa yang berasal dari 26 provinsi. Jumlah tersebut adalah hasil seleksi dari hampir 1.000 karya dari 729 perupa. ***