Feature
Hatur Tirta Wening, Ketika Air Suci Brantas Menyapa Tujuh Kampung Malang
Oleh : Heri Mulyono, Malang
Festival Kali Brantas #5 menautkan mata air di Kota Batu dengan tujuh kampung tematik di Kota Malang melalui prosesi budaya yang mengajak masyarakat kembali pada kejernihan hati dan pikiran.
Sabtu pagi, 25 Juli 2026, di Arboretum Titik Nol Sumber Brantas, Kota Batu, doa dipanjatkan di tepi mata air. Dari sanalah Festival Kali Brantas #5 memulai perjalanan panjangnya menuju tujuh kampung tematik di Kota Malang.
Air yang diambil pagi itu bukan air biasa. Bagi masyarakat yang tumbuh di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, ia adalah denyut yang menghidupi ladang, menghidupi kampung, dan menghidupi ingatan kolektif tentang asal-muasal peradaban di lembah sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa itu. Sungai Brantas mengalir sejauh lebih dari 320 kilometer, bermula dari lereng Gunung Arjuno-Welirang, melingkar mengelilingi Malang Raya, sebelum akhirnya bermuara di Selat Madura melalui Kabupaten Sidoarjo dan Gresik. Di sepanjang alirannya, sungai ini telah menjadi saksi tumbuh dan runtuhnya berbagai peradaban, dari kerajaan-kerajaan kuno di Jawa Timur hingga permukiman modern yang kini berdiri di bantarannya.
Prosesi bernama Petik Tirta Amerta itu bukan sekadar seremoni pengambilan air. Ia menjadi pembuka bagi sebuah perjalanan simbolis yang menghubungkan hulu sungai di Kota Batu dengan tujuh kampung di hilir, di Kota Malang, melalui rute yang ditempuh selama dua hari berturut-turut.
Festival Kali Brantas digelar setiap tahun oleh Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kota Malang, bertepatan dengan peringatan Hari Sungai Nasional. Tahun ini, penyelenggaraan memasuki tahun kelima dengan mengusung tema besar “Petik Tirta Amerta dan Hatur Tirta Wening Kali Brantas”, sebuah rangkaian ritual yang menyatukan hulu dan hilir sungai melalui simbol air yang dijemput, didoakan, lalu dibagikan kembali kepada masyarakat.
Ketua Pokdarwis Kota Malang sekaligus penggagas festival, Isa Wahyudi yang akrab disapa Ki Demang, mengatakan bahwa tema tahun ini lahir dari keresahan atas situasi zaman yang serba tidak menentu. Di tengah gejolak sosial, ekonomi, dan politik yang terus bergulir, festival ini ingin mengingatkan masyarakat untuk kembali pada kejernihan.
“Tahun ini Festival Kali Brantas mengusung satu tema besar, yaitu Petik Tirta Amerta dan Hatur Tirta Wening. Maknanya, di tengah situasi sosial, ekonomi, dan politik yang penuh ketidakpastian, masyarakat diajak untuk tetap wening ing rasa lan penggalih, jernih dalam rasa dan pikiran. Tirta Wening menjadi simbol sekaligus pengingat agar kita selalu berpikir jernih sebelum bertindak,” kata Ki Demang.
Filosofi itu tidak berhenti sebagai ucapan di atas panggung. Ia diterjemahkan menjadi laku, menjadi perjalanan fisik air dari sumbernya di lereng pegunungan Kota Batu hingga ke jantung Kota Malang, melewati kampung demi kampung yang masing-masing menyimpan wajah kebudayaan yang berbeda.
Ungkapan “wening ing rasa lan penggalih” yang disebut Ki Demang sesungguhnya berakar dari falsafah Jawa lama, yang memandang kejernihan batin sebagai syarat utama sebelum seseorang mengambil keputusan atau bertindak. Dalam tradisi masyarakat agraris di lembah Brantas, air jernih dari sumber pegunungan kerap dijadikan metafora bagi pikiran yang bening, tidak keruh oleh nafsu maupun kepentingan sesaat. Ketika Ki Demang menghadirkan kembali falsafah itu di tengah festival budaya kontemporer, ia sesungguhnya sedang menautkan masa lalu dan masa kini, menjadikan ritual leluhur sebagai cermin bagi persoalan zaman yang jauh berbeda konteksnya.
Festival Kali Brantas juga sengaja diselenggarakan berdekatan dengan peringatan Hari Sungai Nasional. Pemilihan momentum ini bukan kebetulan. Forkom Pokdarwis Kota Malang ingin memastikan bahwa perayaan budaya ini sekaligus menjadi pengingat tahunan bagi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga sungai, di tengah berbagai persoalan lingkungan yang kerap luput dari perhatian publik sepanjang tahun.
Sehari setelah prosesi pengambilan air, tepatnya Minggu, 26 Juli 2026, air yang telah didoakan di Titik Nol Sumber Brantas dibawa turun menuju Kota Malang dalam rangkaian yang disebut Hatur Tirta Wening Kali Brantas. Air itu bukan lagi sekadar cairan, melainkan telah menjelma menjadi tirta suci yang membawa pesan tentang pentingnya menjaga kejernihan, baik kejernihan air maupun kejernihan hati dan pikiran manusia yang hidup di sepanjang alirannya.
Perjalanan tirta wening ini dikawal oleh sekitar 30 penari dari Kampung Budaya Polowijen dan Gong Pro Singosari, dua kelompok kesenian yang selama ini dikenal aktif merawat tradisi tari dan musik khas Malang Raya. Mereka bergerak dari satu kampung tematik ke kampung lainnya, menempuh rute yang menyusuri wajah-wajah Kota Malang yang beragam, dari kampung perajin keramik hingga kampung berhias lampion warna-warni.

Rute prosesi dimulai di Kampung Keramik Dinoyo pukul 09.00 WIB, kampung yang dikenal sebagai sentra kerajinan keramik legendaris Malang, tempat para perajin telah membentuk tanah liat menjadi guci dan hiasan rumah tangga selama puluhan tahun. Dari sana, rombongan bergerak ke Kampung Gerabah Penanggungan pukul 11.00 WIB, kampung yang menyimpan tradisi tembikar tanah liat dengan corak yang berbeda dari Dinoyo, namun sama-sama lahir dari tangan warga yang menjadikan lempung sungai sebagai sumber penghidupan.
Air suci itu kemudian dihaturkan ke Kampung Putih Klojen pukul 14.00 WIB, kampung yang menyeragamkan warna bangunannya sebagai identitas visual, dilanjutkan ke Kampung Biru Arema Kiduldalem pukul 15.00 WIB yang identik dengan warna kebanggaan suporter sepak bola Malang dan menjelma menjadi ruang ekspresi fanatisme yang bersanding dengan kehidupan sehari-hari warganya.
Perjalanan berlanjut ke Kampung Tridi Kesatrian pukul 16.00 WIB, kampung dengan mural tiga dimensi yang menjadi daya tarik wisata visual dan kerap dipenuhi wisatawan yang berburu swafoto di antara lukisan-lukisan optik pada dinding rumah warga. Rombongan lalu bergerak ke Kampung Warna-Warni Jodipan pukul 17.00 WIB, salah satu ikon wisata kampung tematik paling dikenal di Malang yang mengubah wajah permukiman padat di bantaran sungai menjadi lanskap warna-warni yang mendunia sejak diresmikan bertahun-tahun silam. Prosesi akhirnya ditutup di Kampung Lampion Jodipan pada pukul 18.00 WIB, tepat ketika senja mulai turun dan lampion-lampion di kampung itu bersiap menyala, menutup perjalanan sehari penuh dengan cahaya yang berpendar di atas aliran Brantas.

Rute yang menyusuri tujuh kampung ini secara tidak langsung juga menjadi peta kecil tentang bagaimana warga di bantaran Sungai Brantas mengubah keterbatasan menjadi daya tarik. Sebagian besar kampung tematik ini semula adalah permukiman padat yang kurang tertata, bahkan sempat identik dengan citra kumuh di bantaran sungai. Melalui inisiatif warga dan dukungan pemerintah kota, kampung-kampung tersebut disulap menjadi destinasi wisata dengan identitas visual yang khas, tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai tempat tinggal.
Di setiap titik pemberhentian, air dari Titik Nol Sumber Brantas diserahkan secara simbolis kepada para Ketua Pokdarwis setempat. Penyerahan itu bukan sekadar seremoni administratif, melainkan pengingat bahwa setiap kampung, betapapun kecil dan berbeda karakternya, tersambung oleh satu aliran sungai yang sama, satu nasib ekologis yang sama.
Festival tahun ini turut diramaikan oleh kehadiran Duta Budaya Cilik Jawa Timur 2026, Michiko Safirah Mazaya dari Kota Malang dan Aruna Alfazilla Kanaya dari Kabupaten Malang. Keduanya tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi ikut menari di sepanjang rute dan menyerahkan kendi berisi air dari Titik Nol Sumber Brantas kepada para Ketua Pokdarwis di masing-masing kampung tematik.
Bagi Michiko, pengalaman menari di tujuh titik sepanjang hari bukan perkara ringan. Namun ia mengaku bangga bisa mengemban tugas tersebut bersama Aruna.
“Saya senang bisa terlibat sebagai penari di tujuh titik. Meski seharian berjalan naik turun dan cukup melelahkan, saya bangga dapat menjalankan tugas sebagai Duta Budaya bersama Aruna dalam kegiatan yang sangat bermakna ini,” ungkap Michiko.
Antusiasme serupa juga datang dari kalangan pemerintah kota. Abdul Kodir, staf Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Malang, yang hadir menyaksikan langsung prosesi di Kampung Warna-Warni Jodipan, menilai festival ini sebagai atraksi budaya yang layak terus dikembangkan.
“Festival Kali Brantas merupakan atraksi budaya yang unik dan menarik. Terbukti banyak wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, yang antusias menyaksikan prosesi di tujuh kampung tematik. Kegiatan seperti ini dapat menjadi atraksi wisata budaya yang dapat terus dikembangkan dengan berbagai tema sesuai momentum,” ujarnya.
Pandangan Abdul Kodir bukan tanpa alasan. Kampung-kampung tematik yang dilalui prosesi selama ini memang telah menjadi destinasi kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, berkat keunikan visual dan cerita di baliknya. Ketika prosesi budaya seperti Hatur Tirta Wening hadir di tengah kampung-kampung tersebut, daya tarik wisata itu berlipat menjadi daya tarik spiritual dan edukatif sekaligus.
Sejak pertama kali digelar lima tahun lalu, Festival Kali Brantas tumbuh menjadi agenda budaya tahunan yang melampaui sekadar hiburan. Festival ini menjadi ruang bertemunya nilai spiritual, kearifan lokal, dan kesadaran ekologis masyarakat yang hidup di sepanjang Sungai Brantas. Melalui ritual yang berulang setiap tahun, generasi muda diperkenalkan pada cara pandang leluhur yang memperlakukan sungai bukan sebagai saluran air belaka, melainkan sebagai entitas yang harus dihormati.
Kesadaran ekologis itu semakin relevan mengingat kondisi Sungai Brantas yang menghadapi berbagai tekanan lingkungan, mulai dari pencemaran limbah domestik dan industri, alih fungsi lahan di kawasan hulu, hingga ancaman terhadap kelestarian mata air. Festival yang membungkus pesan konservasi dalam balutan ritual budaya dinilai lebih mudah diterima masyarakat luas dibandingkan sekadar kampanye lingkungan yang bersifat teknokratis.
Pendekatan berbasis kebudayaan semacam ini juga dinilai lebih tahan lama dalam menanamkan kesadaran lingkungan, sebab ia tidak berhenti pada imbauan satu arah, melainkan melibatkan warga sebagai pelaku utama. Penari-penari muda dari Kampung Budaya Polowijen, misalnya, tumbuh dengan pemahaman bahwa merawat tradisi dan merawat sungai adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula anak-anak yang menyaksikan prosesi di kampung masing-masing, yang secara tidak langsung diperkenalkan pada gagasan bahwa sungai bukan sekadar latar belakang kehidupan mereka, melainkan bagian dari identitas yang harus dijaga.
Melalui Festival Kali Brantas #5 ini, Forkom Pokdarwis Kota Malang mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari komunitas, pelaku pariwisata, hingga generasi muda, untuk bersama-sama menjaga Sungai Brantas sebagai sumber kehidupan, warisan budaya, sekaligus aset pariwisata yang harus dilestarikan secara berkelanjutan. Ajakan itu tidak hanya ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, tetapi juga kepada siapa pun yang menikmati manfaat air Brantas tanpa pernah menyadari dari mana air itu berasal.
Perjalanan air dari Titik Nol Sumber Brantas hingga ke tujuh kampung tematik di Kota Malang, pada akhirnya, adalah metafora tentang bagaimana sebuah sungai menghubungkan banyak kehidupan yang tampak terpisah. Kampung perajin keramik, kampung bermural tiga dimensi, kampung berhias lampion, semuanya berbeda wajah, namun disatukan oleh aliran air yang sama, air yang bermula dari satu sumber di lereng pegunungan dan mengalir hingga jauh ke hilir.
Festival ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara pelestarian budaya, konservasi lingkungan, dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Dengan begitu, nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tentang penghormatan terhadap air dan sungai tetap hidup, relevan, dan mampu menginspirasi kehidupan masyarakat di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
Tahun depan, dan tahun-tahun setelahnya, prosesi serupa kemungkinan besar akan kembali digelar, dengan tema yang mungkin berbeda namun akar yang sama: penghormatan terhadap air sebagai sumber kehidupan. Bagi Forkom Pokdarwis Kota Malang, keberlanjutan festival ini bukan sekadar soal mempertahankan agenda pariwisata tahunan, melainkan soal memastikan bahwa generasi mendatang tidak kehilangan kaitan emosional dengan sungai yang telah menghidupi leluhur mereka selama berabad-abad.
Di penghujung hari, ketika lampion-lampion di Kampung Lampion Jodipan mulai menyala satu demi satu, prosesi Hatur Tirta Wening pun usai. Namun pesan yang dibawanya, tentang perlunya menjaga kejernihan air sekaligus kejernihan hati dan pikiran, akan terus mengalir, sebagaimana Sungai Brantas yang tak pernah berhenti mengalir dari masa ke masa. (*)
